Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Kenangan Terindah


__ADS_3

Aku bersiap untuk makan malam dengan Mas Dani. Tapi sekarang aku tidak tahu di mana Mas Dani, keluar kamar sudah lebih dari satu jam. Mungkin sedang telefonan sama pacaranya, dari kemarin sampai malam ini memang Mas Dani fokus ke pekerjaannya. Aku akui dia pantas menjadi Direktur Utama, menggantikan peranku nanti saat aku sudah selesai dengan Mas Dani.


Aku sudah rapi, dandan dengan cukup cantik menurutku, karena aku tidak pernah sesemangat ini untuk dandan. Bagaimana tidak semangat, Mas Dani memintaku dandan yang cantik? Ya oke aku turuti apa maunya Mas Dani. Aku memakai gaun berwarna maroon, lengan pendek, dengan model V neck. Untung saja aku membawa gaun ini, entah kenapa aku asal memasukkan baju ke dalam koper, dan aku membawa gaun pesta yang belum pernah aku pakai ini. Aku poles wajahku dengan make up tipis dan natural. Aku memang tidak terlalu suka yang menor, kadang bedak saja aku sampai mau kadaluarsa, karena aku hanya memakai tipis-tipis saja.


Aku sudah selesai dandan, tapi Mas Dani belum juga kembali ke kamar. Entah di mana dia, mungkin dia masih berbincang dengan Nadira sampai dia lupa kalau mau makan malam denganku. Aku membuka laci, karena aku ingin mengambil charger, dan aku melihat ponsel milik Mas Dani di dalam laci, dengan keadaan menyala, dan menampakkan nama Nadira muncul di layar ponselnya. Nadira menelefon Mas Dani. Mas Dani sepertinya sengaja mengatus mode silent pada ponselnya, karena hanya menyala saja saat ada panggilan masuk dari Nadira. Hanya menyala tanpa getar, dan nada dering. Aku biarkan saja dia terus menelfon Mas Dani.


Aku cukup kaget setelah Nadira selesai menelefon Mas Dani, ternyata panggilan tak terjawab dari Nadira sampai ratusan kali, dan ada pesan juga mungkin sampai ratusan kali juga. Mungkin Mas Dani tidak memberikan kabar padanya dari kemarin, jadi wajar sampai ratusan kali dia menghubungi Mas Dani. Aku pura-pura tidak tahu saja, aku beralih duduk di Sofa, menunggu Mas Dani dengan membuka email yang masuk, dan mengecek perkembangan perusahaan papa.


Dua puluh menit menunggu Mas Dani setelah selesai dandan membuatku khawatir dengannya. Dia pergi tanpa membawa ponselnya. Aku mau menghubunginya bagaimana, agar aku tahu dia di mana? Aku sudah mulai khawatir dia terlalu lama meninggalkanku. Mas Dani di mana aku tidak tahu, ponselnya juga ditinggal begitu saja.


Aku mendengar suara ketukan pintu, aku langsung mendekati pintu, melihat dari lubang intip yang ada di pintu, siapa yang datang. Lega sekali rasanya aku melihat siapa yang datang. Mas Dani datang, dan aku langsung membukakan pintu.


“Mas ... ke mana saja sih? Hampir dua jam lho?” tanyaku dengan cemas.


“Keluar sebentar, beli ini. Ini buat kamu.” Aku terkejut Mas Dani memberikan satu buket mawar putih yang cukup besar padaku.


“I—ini untuk aku?” tanyaku gugup dengan mata yang mungkin sudah mengembun, karena aku merasa mataku perih, ingin menjatuhkan air mata. Aku terharu, bahagai, karena baru pertama kalinya orang sedingin, seangkuh, seperti Mas Dani memberikan bunga untukku, dengan tersenyum dan tanpa paksaan dia memberikannya padaku.


“Kok malah nangis? Kenapa? Jangan nangis, sudah dandan cantik, nanti  bedakmu luntur.” Ucapnya dengan mengusap air mataku yang sudah lolos dari sudut mata, dan membasahi pipi.


“Ah ... aku bingung, kaget, terharu, dan tidak tahu lagi perasaannku saat ini. Melihat mas tiba-tiba begini,” ucapku.


“Sudah jangan nangis, yuk kita makan malam. Pasti kamu sudah lapar karena nunggu aku kelamaan,” ajaknya.


“Ah iya sebentar, aku taruh bunga ini, sama mau lihat dandananku kali saja berantakan,” jawabku.


Mas Dani mengekoriku masuk ke dalam kamar yang ingin menaruh bunga. Aku berniat mengambil ponselku juga, tapi Mas Dani memintaku meninggalkan ponselnya, dengan alasan malam ini, tidak ingin ada yang mengganggu.


“Mas yakin gak bawa hape?”


“Yakin, dari tadi pagi aku taruh di laci,” jawabnya.


“Kalau Nadira telefon?”


“Kan aku sudah bilang sedang ada pekerjaan, Vit?” jawab Mas Dani.


“Kalau dia marah?”


“Ish kamu itu cerewet, ya? Ayo buruan, aku sudah lapar juga soalnya. Dari tadi kena macet pas beli ini. Padahal gak terlalu jauh toko bunganya,” ucap Mas Dani.


Aku turuti saja, mungkin dia memang sedang ingin denganku. Biar saja. Toh Mas Dani masih suamiku, meski berdasarkan hukum agama, dia sudah bukan suamiku, karena sudah menalakku.


“Jalannya cepat sekali kamu, Vit? Gak takut kesleo apa pakai hak tinggi jalan cepat gitu?” ucap Mas Dani dengan suara yang sedikt terengah-engah,  sepertinya sulit mengimbangi jalanku yang memang terlalu cepat. Mungkin karena sudah terbiasa jalan cepat pakai hak tinggi jadi jalan sama Mas Dani saja aku cepat.


“Maaf, aku sudah terbiasa mungkin,” ucapku.


Mas Dani meraih tanganku, dia menggamit tanganku, kami berjalan bersisian menelusuri lorong hotel. Aku kira Mas Dani akan mengajakku ke restoran di luar dari resort yang kami sewa, ternyata Mas Dani mempersiapkan makan malam di tepi pantai dengan begitu romantis menurutku. Ya romantis, karena aku tidak menyangka Mas Dani mempersiapkan seperti ini.


“Ayo duduk, kenapa malah bengong?” tanya Mas Dani.


“Bingung saja, mas lagi kerasukan setan apa, ya? Kok bisa begini?” jawabku.


“Gak usah bingung-bingung. Ini aku siapkan khusus untuk kamu, spesial di hari ulang tahunmu,” ucap Mas Dani.


“Terima kasih, Mas,” ucapku dengan terharu.


Aku duduk berhadapan dengan Mas Dani. Dia juga terlihat tampan, dandanannya terlihat rapi tidak seperti biasanya. Pelayan membawakan makanan yang mungkin sudah Mas Dani pesan. Aku nikmati saja malam bersejarah ini. Ya, bersejarah, karena malam ini tidak akan mungkin lagi terjadi dalam hidupku. Makan malam romantis, dan diberi bunga dari laki-laki yang sudah aku cintai setelah menjadi suamiku.


“Bagaimana masakannya, enak?” tanya Mas Dani.

__ADS_1


“Enak, ini enak sekali,” jawabku. “Beda dengan yang tadi pagi,” imbuhku.


“Kan spesial buat kamu,” ucapnya.


“Kayaknya dari tadi spesial mulu ya, Mas?” ucapku.


“Kan hari ini, hari spesial kamu, Vit?”


Aku hanya tersenyum dengan mengangguk-anggukkan kepalaku. “Sayangnya dispesialin Cuma semalam saja,” ucapku lirih.


“Maunya berapa malam?” tanya Mas Dani.


“Eh, kok dengar?” ucapku malu, karena mendengar ucapanku tadi.


“Kamu ngomongnya agak keras, jadi aku dengar. Mau dispesialin berapa malam?”


“Ah sudah jangan dibahas soal ini, Mas,” ucapku malu.


Mas Dani sesekali menyuapi aku, untuk mencicipi makanan pesanannya. Memang makanan yang Mas Dani pesan beda menunya. Aku pun menyuapi Mas Dani, supaya mencicipi makanan milikku.


Selesai makan Mas Dani mengajakku berdansa.


“Dansa?” tanyaku memastikan lagi.


“Ya, dansa. Mau dansa denganku, Vit?”


“Ehm ... kamu bisa?” tanyaku.


“Sedikit.” Jawabnya. “Ayo.” Mas Dani menjulurkan tangannya, lalu aku mau berdansa dengannya. Musik klasik mengiringi kita berdansa.


Sesekali aku tatap wajah Mas Dani yang sangat tampan malam ini. Wajahnya bersih, hidungya mancung, bibirnya begitu indah. Tuhan benar-benar sempurna menciptakan manusia yang ada di depanku.


Mungkin jika malam ini aku belum mengantongi surat gugatan, aku akan curahkan semua isi hatiku, bahwa aku mencintaimu, Mas Dani. Tapi, aku sadar aku hanya istri figuran. Aku bukan perempuan yang Mas Dani mau, bukan perempuan yang Mas Dani cintai. Aku hanya istrinya saja, tapi tidak ada aku di dalam hatinya.


“Iya, gimana, Vit?” tanya Mas Dani.


“Terima kasih banyak untuk malam ini. Setidaknya, sebelum kita berpisah aku memiliki kenangan terindah dengan suamiku, meski aku masih utuh, dan belum kamu sentuh. Aku bahagia malam ini. Melihat sosok Mas Dani yang dari awal menikah denganku dia bersikap angkuh, dingin, pemarah, dan sikap yang lainnya, yang kadang membuatku takut sendiri untuk bertatap muka denganmu. Malam ini, mungkin mas melakukan ini hanya untuk kenang-kenangan saja bersamaku. Ya, hanya sebatas menguntai kenangan indah sebagai hadiah ulang tahunku, dan hadiah perpisahan,” ucapku dengan menahan air mata. “Sekali lagi terima kasih, Mas.” Aku mengurai senyuman dengan menelan salivaku, karena tenggorokkanku kering menahan tangis.


“Iya, sama-sama, Vita. Maafkan aku, Vit. Cinta memang tidak dapat dipaksakan. Aku hanya tidak mau menyentuh kamu tanpa rasa cinta. Aku mencoba belajar, dan terus belajar, tapi aku tetap tidak bisa. Iya, mungkin malam ini adalah malam yang sangat langka dalam hidupku. Aku berani mengajak kamu seperti ini, dekat dengan kamu, tapi sekali lagi, perasaanku belum bisa untuk mencintaimu, Vit. Jadi untuk apa kita tetap bersama? Malah akan menambah luka di hati kita masing-masing,” ucap Mas Dani.


Ya benar, untuk apa terus melanjutkan hubungan tanpa cinta? Mungkin malam ini Mas Dani hanya ingin membahagiakan aku, di penghujung waktu kita untuk bersama. Mungkin setelah malam ini, kami akan sibuk dengan urusan kami lagi.  Mas Dani sibuk dengan Nadira, dan aku sibuk untuk melupakan Mas Dani, menghilangkan jejak Mas Dani yang sudah ada di hatiku.


“Benar apa katamu, Mas. Untuk apa kita bersama, kalau tidak ada rasa cinta? Bertahan pun akan percuma. Jadi lebih baik memang berpisah saja. Biar nanti aku bisa jelaskan pada orang tuaku, mungkin juga pada orang tuamu. Satu yang aku pinta, aku ingin mas membuat papa dan mama bangga. Mas bisa menurti papa dan mama untuk mengurus perusahaannya, kan? Aku pinta mas mau menerima itu. Mas sudah mengecewakan mereka karena pernikahan kita gagal, tolong jangan kecewakan mereka dalam hal itu,” pintaku.


“Iya, Vit. Aku janji, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menghandel perusahaan papa. Aku juga tahu, dengan aku menceraikan kamu, mereka pasti akan kecewa. Jadi, aku akan berusaha, demi membuat papa dan mama bangga karena aku mau memegang perusahaannya, dan mungkin jika pensiun diniku tidak diterima, aku akan keluar meninggalkan profesiku menjadi guru,” ucap Mas Dani.


“Dan satu lagi yang aku pinta, Mas.” Ucapanku terhenti, aku menarik napasku dengan berat, aku sebetulnya tidak rela dia bersama Nadira, aku hanya ingin Mas Dani menjadi milikku satu-satunya.


“Apa yang kamu pinta lagi, Vit?”


“Aku minta, jangan lakukan apa pun dengan Nadira sebelum kami benar-benar berpisah. Tolong, jangan perbudak dirimu karena cinta, Mas. Jangan membuat aib di kehidupanmu, Mas. Mas ini seorang guru, dia pun guru. Seorang guru itu digugu dan ditiru oleh muridnya. Mas gak mau kan, kalau suatu saat nanti anak didik mas ada yang seperti itu? Tolong jaga diri kalian dari godaan yang membuat kalian menyesal di kemudian hari. Cinta memang bisa menyesatkan segalanya, Mas? Apalagi cinta dunia, dan cinta sesama manusia. Kadang karena cinta, yang salah jadi benar, dan yang benar jadi salah. Yang gak enak jadi enak juga bisa,” ucapku.


Mas Dani diam menatapku. Lekat dan semakin dekat. Aku tidak menjauhkan wajahku, biar saja kening kami saling menempel. Dan, aku lihat Mas Dani menangis, entah kenapa dia menangis setelah aku bicara seperti itu.


“Kenapa?” tanyaku.


“Maafkan aku, Vit. Selama ini aku selalu menyakitimu. Benar kata kamu, karena cinta yang benar bisa menjadi salah. Iya aku salah, sudah melakukannya dengan Nadira, yang bukan siapa-siapaku, dan aku menyentuhnya, meski tidak sampai mendalam, aku tahu itu salah. Tapi, karena cintaku yang begitu menggebu, kami lakukan itu, hingga Nadira memasrahkan semuanya agar aku sentuh,” ucapnya.


“Lalu kamu menyentuhnya?” tanyaku, dan Mas Dani hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Tidak Vit, karena .....”


“Karena apa?”


“Aku ingat kamu. Kamu yang menyelamatkanku malam itu, entah kenapa yang aku ingat dan aku lihat hanya wajahmu malam itu. Hingga Nadira marah, sampai sekarang dia marah padaku karena aku menolaknya,” ucap Mas Dani.


“Kenapa bisa kamu mengingatku?” tanyaku.


“Aku tidak tahu, bayanganmu tiba-tiba hadir malam itu.”


Aku tersenyum, menatap Mas Dani, dan mengusap air matanya. “Ternyata aku menjadi penyelamat kamu saat kamu mau berbuat yang tidak baik. Untung belum kejadian. Sabar, nunggu nanti kalau kita sudah selesai urusan di pengadilan. Jangan persulit hidupmu hanya karena rasa nikmat yang sesaat, Mas,” ucapku.


“Kamu memang perempuan yang terbaik, Vit. Perempuan yang bisa menjaga dirimu dengan baik, perempuan yang sudah jarang ada di  dunia ini,” ucap Mas Dani.


“Jangan terlalu memuji, Mas. Sudah yuh, sudah malam,” ucapku.


“Sebentar, aku mau kasih hadiah buat kamu,” ucapnya lalu dia merogoh saku celananya. “Ini untuk kamu.” Mas Dani memberikan kotak merah, seperti kotak cincin tapi lebih besar. Entah itu kotak berisi apa.


“I—ini apa, Mas?” tanyaku.


“Buka saja,” jawabnya.


Aku membukanya perlahan. Sebuh kalung dengan liontin inisial namaku, yang Mas Dani berikan untukku.


“Maaf hanya itu yang bisa aku berikan, Vit. Aku tidak bisa memberikan liontin yang bertahtakan berlian, aku belum mampu,” ucapnya.


“Mas, ini untukku?”


“Iya, untukmu. Untuk siapa lagi kalau bukan untukmu?” jawab Mas Dani.


“Gak salah ini, Mas? Kamu ngasih kalung aku?” tanyaku lagi, memastikan. Meski sudah pasti, karena kalung itu ada inisial V.


“Ya untuk kamu, Vit. Untuk siapa lagi kan itu inisial namamu?” jawab Mas Dani.


“Makasih ya, Mas?” ucapku.


“Iya, maaf Cuma bisa ngasih seperti itu,” ucapnya.


“Tidak apa-apa, aku pakai, ya?”


“Sini aku pakaikan.” Aku membalikka tubuhku, membelakangi Mas Dani, dan Mas Dani memakaikan kalung itu padaku.


“Bagus kalungnya, terima kasih, Mas,” ucapku dengan menatap wajah Mas Dani.


“Ya, sama-sama.” Jawabnya dengan menatapku, lalu mengangkat daguku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku tahu dia mau mengecup bibirku, tapi aku menghindarinya, dan aku kecup pipi Mas Dani.


“Jangan seperti itu. Jangan tinggalkan sesuatu yang tidak pernah bisa aku lupakan di sepanjang hidupku. Mungkin hal seperti ini pun aku akan sulit melupakannya ketika berpisah nanti, apalagi dengan mas mengecup bibirku? Apa aku sanggup melupakan hal yang baru pernah aku rasakan dalam hidupku? Sedangkan hal sederhana yang kamu berikan ini saja, aku baru pernah merasakannya. Jangan menambahkan kenangan yang nantinya sulit untuk kulupakan, Mas,” ucapku.


“Kamu bicara seperti itu, apa kamu mencintaiku, Vit?” tanya Mas Dani.


Aku hanya terdiam, menatap wajah Mas Dani. Ingin aku menjawabnya iya, tapi mana bisa aku jawab jujur, sedangkan Mas Dani tidak mencintaiku? Aku tidak boleh mengemis cintanya. Lagian sebentar lagi hubungan ini akan segera berakhir.


“Vit, kok gak jawab? Apa akmu mencintaiku, Vita?” tanya Mas Dani.


“Cinta. Mungkin orang bisa mencintai karena terbiasa bersama. Namun, mencintai tapi tidak dicintai, adalah seni sederhana untuk melukis luka. Ya, mungkin hanya luka yang akan aku dapatkan, jika aku mencintaimu. Tidak ada balasan, dan sudah dari awal, kamu selalu bilang, kamu tidak mencintaiku,” jawabku. “Ayo balik ke kamar, sudah malam. Aku lelah,  ngantuk sekali,” ajakku.


“Iya, ayo balik ke kamar,” jawab Mas Dani.


Aku membalikkan tubuhku, dan aku pergi meninggalkan Mas Dani. Aku tidak mau, aku terlalu larut berdua malam ini dengan Mas Dani. Aku berjalan mendahuluinya. Wangi parfum Mas Dani masih menempel di gaunku, wangi, menenangkan. Aku berjalan dengan sesekali menyeka air mataku. Malam ini berakhir, dan akan berakhir pula pernikahan ini dengan Mas Dani.

__ADS_1


Terima kasih untuk malam ini, malam yang mungkin akan menjadi kenangan indah dan bersejarah dalam hidupku. Malam di mana aku bersama dengan pria yang sangat aku cintai. Mendapatkan bunga, makan malam romantis, berdansa bersamanya, dan kalung ini, hadiah dari Mas Dani, mungkin ini adalah kenangan-kenangan darinya sebelum kita benar-benar berpisah.


Setelah malam ini usai, aku akan menjalani hidupku seperti biasanya lagi. Menyaksikan Mas Dani yang kembali dengan Nadira. Dan, untuk tiket bulan madu itu, entah aku akan berangkat atau tidak. Aku bingung sendiri. Kalau pun aku berangkat ke Paris. Aku takut, taku semakin tidak bisa melupakan Mas Dani, takut terlalu dekat dengannya, tanpa bersekat, dan membuatku luluh lantak karena dirinya. Membuat aku hanyut akan buaian dan belaiannya yang mungkin ia lakukan karena memang terpaksa. Tidak aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak mau melakukannya dengan orang yang tidak mencintaiku. Apalagi jelas-jelas dia sudah menalakku.


__ADS_2