
Siang ini, Mas Dani katanya akan ke kantor. Hari ini memang dia mulai kerja di kantor papa. Beruntung ada papa juga, biar saja nanti papa yang mengajari Mas Dani. Hari ini aku benar-benar sibuk dengan proyek baru yang baru saja dibicarakan papa. Sedang sibuk-sibuknya ponselku berdering, Mas Dani menelefonku, aku biarkan saja, toh sudah kujawab tadi saat kirim pesan, masih saja menelefonku?
Aku mode diam saja ponselku, biar saja, aku tidak ingin diganggu. Sudah aku jelaskan semuanya masih saja tanya dan telefon terus. pintu ruanganku diketuk seseorang, terdengar asistenku yang bernama Tantri memaggilku. “Bu, bisa saya masuk?”
“Iya, Tan. Masuk saja!” jawabku.
“Bu, ada Pak Dani, dan ibu disuruh ke ruangan Pak Barata,” ucapnya.
“Oke, sebentar lagi saya ke ruangan Pak Barata,” jawabku.
Pasti akan membahas jabatan untuk Mas Dani? Jujur Mas Dani memang cerdas. Dia cepat sekali menyerap ilmu yang aku ajarkan, meski baru kemarin. Pertanyaan-pertanyaan dia seputar perusahaan juga kadang terdengar kritis. Tapi, salut sih dia semangat untuk memperdalam semua ini. Ya jelas semangat lah, kan untuk kekasihnya?
Aku keluar dari ruanganku, aku lihat arlojiku, sudah pukul dua siang lebih dua puluh menit, Mas Dani baru ke sini? Oh iya dia memang absen pulangnya jam dua, aku lupa itu.
Aku mengetuk ruangan papa, setelah mendengar papa menyuruhku masuk, aku masuk dan duduk di depan papa. Aku duduk di samping Mas Dani.
“Kamu aku telfonin gak diangat, Vit?”
“Aku sibuk sekali, dengan beberapa proyek baru, jadi ponsel aku langsung taruh laci, setelah balas chat kamu, Mas,” jawabku.
“Sudah sekarang Vita sudah ada di sini, jadi kita mulai pembicaraan kita,” ucap Papa.
Papa menatap lekat Mas Dani penuh arti. Aku yakin papa benar-benar berharap Mas Dani bisa memimpin perusahaan menggantikan papa.
“Bagaimana, Dan? Sudah siap gantiin papa di sini? Papa sudah lelah, Dan. Sekarang tugasmu dan Vita yang memegang kendali perusahaan,” ucap papa.
“Dani siap, Pa. Tapi papa tahu Dani baru bisa ke kantor jam segini, Dani masih bertanggung jawab dengan pekerjaan Dani di sekolahan, dan papa tahu, peraturan sekarang kan PNS, guru SD pulang absen pukul dua siang?” ucap Dani.
“Kamu dari dulu disuruh papa gak mau, nyelewengnya malah jadi guru, PNS pula?”
“Papa ... tugas Mas Dani mulia lho, mencetak generasi emas yang cerdas dan berkompeten. Pa, guru pertama anak memang kedua orang tuanya, tapi setelah sudah cukup umur untuk sekolah, orang tua membutuhkan seorang pengajar yang andal, guru yang baik untuk anaknya. Dan, betapa mulianya Mas Dani, banyak generasi penerus bangsa yang menjadi cerdas atas kerja keras Mas Dani dan guru-guru lainnya, jadi papa jangan menyepelkan pekerjaan Mas Dani. Papa sendiri juga butuh seoran guru untuk menjadi hebat seperti sekarang, kan? Sama halnya dengan murid-murid Mas Dani, mereka juga butuh Mas Dani?” cetusku penuh semangat. Entah kenapa aku bisa-bisanya membela Mas Dani di depan papa.
“Ya ... ya ... ya ... papa tahu, dan kamu memang perempuan cerdas, kamu pintar sekali berpendapat. Memang kita semua butuh seorang guru. Dan, di sini pun Dani butuh seorang guru, untuk mengajarinya menjadi direktur. Kamu ajari dia, apa yang dia butuhkan, kamu bisa, kan? Sebelum kamu memegang jabatasn sekarang juga kamu pernah menjabat direktu bukan?” ucap papa.
__ADS_1
“Lalu papa?” tanyaku.
“Papa akan memantau saja. Ruangan papa ini, sekarang menjadi milikmu, Dan. Selamat bergabung di perusahaan kami. Papa yakin kamu bisa. Oke, papa maklumi kamu yang bisanya ke kantor hanya jam segini, tapi kalau misal ada rapat, bisa kan sisihkan waktu sebentar?”
“Bisa, Pa. Kalau itu bisa diatur,” jawab Mas Dani tegas.
“Baik, selamat bergabung Danial!” papa menjabat tanga Mas Dani dengan penuh semangat, pun Mas Dani, dia juga terlihat begitu antusias.
“Terima kasih, Pa,” ucap Mas Dani.
“Iya, sama-sama. Papa harap kalian bisa bekerja sama dengan baik,” ucap papa. “Vit, jam tiga kita meeting sebentar. Papa akan umumkan direktur baru perusahaan ini,” ucap papa.
“Baik, Pa. Nanti Vita bilang dengan Tantri, biar Tantri hubungi divisi lainnya,” jawabku.
“Papa tinggal dulu,” pamit papa.
Kami menganggu. Aku memandangi Mas Dani yang masih memakai Pakaian Dinasnya. Sungguh tidak cocok sekali, jadi Direktur, tapi masih pakai pakaian khaki.
“Aku lupa gak bawa pakaian lagi, Vit,” jawabnya.
“Ya sudah kamu siap-siap, aku mau kembali ke ruanganku, mau bicara dengan asistenku dulu,” pamitku.
Aku meninggalkan Mas Dani di ruangannya. Padahal aku akan mengambil pakaian untuk dirinya yang aku bawakan dari rumah. Setelan jas untuknya, aku belikan kemarin sekalian membeli bajuku. Aku kembali ke ruangan Mas Dani, dengan membawakan setelan jas untuknya.
“Apa itu, Vit?” tanya Mas Dani.
“Pakai ini, masa iya Pak Direktur pakai seragam guru?” jawab Vita.
“Kamu bawa dari rumah? Tapi sepertinya aku gak punya stelan jas dengan kemeja yang seperti ini, Vit?” tanya Mas Dani.
“Aku baru membelinya kemarin, ya aku kepikiran saja, pasti kamu gak akan mikir sampai ke sini, untuk memakai baju yang cocok layaknya Pak Direktur?” jelas Vita.
“Makasih ya, Vit,” ucapnya terdengar sedikit tulus.
__ADS_1
“Ya sudah sana ganti pakaianmu,” ucapku.
Aku menunggu Mas Dani yang sedang di toilet untuk ganti bajunya. Aku tidak tahu kenapa, aku bisa kepikiran Mas Dani pasti hari ini ke sini masih mengenakan seragam guru, dan ternyata benar, kan? Tebakanku pas. Gak mungkin Mas Dani pulang lalu ganti baju dulu.
Aku mendengar pintu toilet terbuka, dan kulihat Mas Dani sudah memakai setelan baju yang aku belikan untuknya.
“Bagaimana, Vit?” tanyanya.
“Bagus, tampan,” jawabku.
“Tampan?” Mas Dani mengulangi kata-kataku. Mungkin karena aku jarang memujinya seperti itu, jadi Mas Dani sedikit terkejut akan pujianku.
“Iya, tampan. Masa cantik? Kamu laki-laki, kan? Bukan perempuan?” jawabku.
“Oh begitu? Aku kira?”
“Aku kira apa?” tukasku. “Mas kira aku mengagumi mas? Memuji mas gitu? Mau ngagumin, atau memuji, kan memang dasarnya tampan, bukan? Semua orang tahulah pasti?” lanjutku ketus, padahal hatiku berdebar, karena aku benar-benar keceplosan bilang kalau dirinya tampan.
“Dasinya di pakai, Mas.” Aku memeberikan kotak yang berisi dasi, yang juga aku belikan kemarin.
“Kau bawa dasi juga?” tanya Mas Dani.
“Iya. Bisa kan pakainya?”
“Bisalah, kan kalau pakai kemeja putih aku seringnya pakai dasi juga?” jawab Mas Dani.
Aku melihat Mas Dani sedang memakai dasinya. Dia begitu tampan dan gagah sekali. Ya Tuhan ... dialah suamiku? Yang aku cintai, tapi dia sama sekali tidak mencintaiku. Jangankan mencintaiku, mengharapkanku juga dia tidak? Dia melakukan semua ini juga karena dia ingin membuktikan pada papanya kalau dia bisa, dan tentunya supaya dia bisa bebas dariku, lalu menikahi Nadira. Sekejam itu dia padaku? Jikalau masih diberi kesalamatan dalam pernikahanku, selamatakanlah pernikahan kami, Tuhan ... beri kebahagiaan, dan bukalah pintu hati Mas Dani untukku. Luluhkan dan lembutkan hatinya agar bisa mencintaiku, dan menerimaku sebagai istrinya.
“Sudah? Ayo ke ruangan meeting, kata Tantri semua sudah siap. Papa juga sudah ada di sana,” ajakku.
“Ayo,” jawab nya.
Kami berjalan bersisian menuju ruangan meeting. Banyak staf dan karyawan yang memandangi kami, menyambut kami dengan senyuman sopas, karena tahu di sampingku ada anak tunggal dari Barata.
__ADS_1