Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Sidang Pertama


__ADS_3

Aku sudah kembali berangkat mengajar. Sudah lima hari aku izin. Vita bilang, aku juga harus bertanggung jawab dengan pekerjaanku sebagai pengajar. Pagi ini aku sudah berada di sekolahan, setelah absen aku langsung masuk ke ruang guru, berjalan ke arah meja kerjaku. Aku duduk di depan mejaku, menyiapkan materi pagi ini, tanpa aku sadari meja di sebelahku masih ada rak buku, tapi berbeda, bukan rak milik Nadira, warnanya sudah berbeda. Sepertinya buku-bukunya, dan penanya juga bukan punya Nadira.


Aku mencoba melihat, memastikan itu buku-buku milik Nadira atau bukan. Iya, sudah bukan milik Nadira lagi, karena Nadira sudah tiga hari yang lalu pindah. Di grup guru, dia sudah pamitan kalau sudah mulai pindah dan mengajar di sekolahan barunya. Setelah pamit, dia langsung left dari grup.


“Ini barang-barang siapa? Sepertinya ada guru baru, tapi aku sudah lama tidak buka hape, grup juga aku arsipkan, jadi aku tidak tahu kabar terbaru di sekolahan. Tapi, sepertinya ini barang bukan milik perempuan, penanya saja simple.” Aku melihat-lihat meja sebelahku yang sudah berubah, meja bekas Nadira dulu.


Ruang guru masih sepi, mungkin aku kepagian berangkatnya, hanya ada staf TU, OB, dan Tukang Kebun, yang sudah mulai dengan pekerjaannya.


“Eh tumben pagi sekali nih Pak Dani? Gimana sudah sembuh?” tanya Pak Isya.


“Ya sudah lumayan sembuh,” jawabku.


”Kenapa? Pangling ya sama tatanan meja di samping kamu?” tanya Heru.


“Ya sedikit sih, ada guru barukah?” tanyaku.


“Iya, namanya Pak Eric. Dia memang ditugaskan di sini, bukan pengganti Bu Nadira. Kalau di kelas Bu Nadira, sudah diisi Sama Bu Siwi,” jelas Heru. “Tenang bukan perempuan, nanti kamu baper lagi?” selorohnya.


“Gak lah, Pak!” jawabku.


“Bagaimana urusanmu dengan Vita? Gak jadi cerai, kan?” tanya Pak Irsya.


“Iya, Vita sudah mengajukan gugatan cerai, dan mungkin empat hari lagi sidang pertama kami,” jawabku. “Doakan ya, Pak?”


“Biar cepat selesai lalu Pak Dani akan menyusul Bu Nadira begitu?”


“Bukan, ih! Doakan semoga Vita mencabut gugatannya,” ucapku.


“Saya kira Pak Dani mau menyusul Bu Nadira, karena sudah terlambat sih, Bu Nadira sudah menyebar undangan, satu minggu lagi Bu Nadira mau menikah,” ucap Pak Irsya,


“Ya bagus dong kalau begitu,” jawabku.


Syukurlah dia menikahnya dipercepat. Semoga saja hubunganku dengan Vita ada kabar baik juga. Semoga Nadira juga bahagia dengan suaminya.


“Gak galau nih mantan terindah dan tericinta mau menikah?” tanya Pak Irsya.


“Galau kayak remaja,” jawabku.


“Biasanya juga bucin kamu ini.”


“Yang ada aku lagi dibikin galau sama Vita, dia makin ke sini makin tidak karuan.”


“Tidak karuan gimana?”


“Ya buat aku gak karuan? Mana ada mau cerai masih bareng-bareng setiap hari. Masih sekantor bareng, meeting bareng sampai malam, masih ngobrol biasa kayak gak ada masalah, padahal yang kita mau hadapi itu perceraian. Dia tinggal di rumahku lagi, masih seperti biasa, tapi mau cerai. Gak karuan banget, kan? Aku setiap hari lihat dia, sarapan bareng, masih perhatian sama aku, tapi mau cerai? Aku minta dia cabut gugatannya dia tetap tidak mau. Aku bingung dengan dia, baiknya gak ketulungan, sudah aku sakiti dia masih baik sama aku, sudah mau pisah dia juga masih peduli sama aku?”

__ADS_1


“Kamunya kurang peka! Dia itu masih cinta sama kamu, Dan!”


“Kalau cinta kenapa gak mempertahankannya? Malah mau cerai?”


“Kerna dia sudah berkali-kali dikecewakan kamu, jadi ya begitu, sudah mau cerai masih biasa saja!” ujar Pak Irsya. Benar yang dikatakan Pak Irsya, itu semua karena Vita sudah biasa aku kecewakan. Jadi Vita anggap semuanya biasa saja.


Vita memang kembali tinggal di rumahku, masih sama tidur di kamar berbeda. Itu semua karena permintaanku. Aku yang minta, selama menjalani proses cerai aku mau Vita tetap tinggal bersamaku. Dan, Vita memenuhi permintaanku itu. Dia mau tinggal di rumahku lagi.


“Pagi ....” Terdengar suara laki-laki dari balik pintu, lalu masuk ke dalam.


“Pagi, Pak Eric,” jawab Pak Irsya. “Ini Pak Dani, yang menempati meja kerja Bu Nadira, ini orangnya,” ucap Pak Irsya.


“Danial ....” Aku memperkenalkan diri dengan guru baru yang bernama Eric.


“Salam kena, saya Eric ....” Kami saling berjabat tangan.


“Salam kenal juga, Pak Eric, semoga betah mengajar di sini,” ucapku.


Beruntung tempat Nadira sudah ada penghuninya, tidak kosong, jadi aku tidak mengingat Nadira. Tapi, aku memang sudah sedikit melupakannya, yang sedang aku pikirkan saat ini, bagaimana nanti saat dipersidangan dengan Vita. Apa Vita mau mengalah dan tidak jadi menceraikan aku, atau dia tetap pada pendiriannya untuk berpisah denganku.


^^^


Hari ini aku bersiap untuk ke pengadilan. Vita didampingi oleh kuasa hukumnya, tapi aku dengan santai melangkah sendiri, aku yakin meski aku tidak memakai pengacara aku bisa membujuk Vita kembali padaku. Aku tidak akan melepaskan Vita begitu saja. Jikalau aku kalah di persidangan, aku akan tetap mengejar Vita, karena aku sudah benar-benar mencintainya.


Vita hanya diam, dia menggenggam erat tanganku. Aku yakin dia akan berubah pikiran. Hari ini sidang pertama sekaligus mediasi. Aku pastikan, aku bisa meyakinkan Vita kembali, di depan mediator. Aku yakin aku masih bisa meneruskan rumah tangga ini. Aku janji, aku akan mencintai Vita seumur hidupku.


Kami masuk ke ruang sidang, hakim membacakan perkara, dan bertanya pada kami secara bergantian. Aku jawab apa adanya, tapi tetap saja jika aku ditanya setuju tidak dengan gugatan Vita, aku tidak setuju, dan aku tetap akan melanjutkan pernikahanku dengan Vita. Setelah itu kami ke ruang mediasi, kami kembali ditanya oleh mediator.


“Saya tetap pada pendirian saya, untuk berpisah!” tegas Vita.


“Saya tidak akan menceraikan istri saya!” ucapku di depan mediator.


Kami sama-sama kuat dengan pendirian kami. Tapi aku rasa Vita akan kalah. Dan aku akan membuat dia menyerah untuk tidak menceraikan aku. Dua minggu lagi, sidang keputusan perkara kami. Aku akan tetap pada pendirianku, kalau aku tidak akan menceraikan Vita. Aku akan tidak akan menceraikannya.


Kami pulang, aku ajak Vita untuk makan siang, dan aku juga ingin mengajak dia bicara baik-baik soal masalah perceraian.


“Makan siang dulu yuk?” ajakku.


“Mas, kamu kenapa kekeuh gitu? Mas juga kan ingin pisah? Kenapa tidak iyakan saja tadi, kan sudah kita selesai?” ucap Vita.


“Vit, aku ini ajak kamu makan, jangan bahas itu ya? Aku tidak mau membahas perceraian, karena meski kita sudah pisah, aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu lagi, Vita. Aku mencintaimu,” ucapku.


“Mas, tolong. Lepaskan aku,” pinta Vita.


“Tidak akan, Vita. Kamu yang sudah membuat hatiku jatuh cinta padamu. Kamu yang sudah membuat hatiku berpaling dari masa lalu, sekarang aku harus melepaskanmu? Apa kamu yakin setelah pisah kamu akan bisa melupakan perasaanmu padaku?”

__ADS_1


Vita hanya diam dan menundukkan kepalanya. Aku melihat, air matanya jatuh membasahi tangannya. Aku tepikan mobilku, aku usap kepala Vita, dan membawa Vita ke dalam pelukanku.


“Kalau kamu bahagia pisah dengaku, dan kamu juga sudah tidak lagi mencintaiku, aku ikhlas. Tapi, kalau dengan berpisah kamu semakin hancur, karena masih ada sisa cinta, aku tidak rela. Untuk apa berpisah, Vit? Selama kita sedang proses cerai, kita selalu bersama, kita bareng-bareng terus, kamu selalu membuatku nyaman, kamu perhatian dengaku, apa itu kamu hanya pura-pura perhatian saja? Atau cintamu padaku yang pernah kamu ungkapkan padaku hanya main-main saja? Tolong jangan egois dengan perasaanmu sendiri, Vita ... Oke aku tahu kamu takut aku kembali lagi pada masa laluku, itu wajar. Aku mau kamu tahu, aku ini sangat mencintaimu, Vita. Aku mempertahankan kamu bukan untuk main-main, Vit. Aku benar-benar mencintaimu. Kita perbaiki sama-sama, Vit. Aku mohon.”


Vita hanya menangis, dia tidak menjawab apa-apa. Vita semakin mengeratkan pelukannya padaku. Aku mendengar isak tangisnya semaki kencang.


“Menangislah, kalau menangis membuat hatimu lega.”


“Aku lelah, Mas. Ketika aku sudah percaya kamu akan belajar mencintaiku dan menerimaku, Nadira hadir, dan kamu melupakan semua ucapanmu.”


“Sekarang kamu harus percaya padaku, aku tidak akan seperti itu lagi, aku sayang kamu, aku mencintaimu, Vit. Aku sungguh-sungguh,” ucapku.


Aku regangkan pelukanku pada Vita, aku tatap wajahnya, aku usap air matanya dan kukecup keningnya.


“Percayalah, Vit. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, jika aku berkhianat, kamu boleh menghukumku, kamu boleh meninggalkanku. Beri aku kesempatan sekali lagi. Sekali saja, Vit. Aku akan buktikan aku akan menjadi suamimu, yang mencintaimu, dan mencintai anak-anak kita kelak. Izinkan aku menjadi pelengkap hidupmu, Vita. Aku mohon, jangan ceraikan aku.” Aku memohon serendeh-rendahnya pada Vita.


Vita masih belum menjawabnya. Aku tatap wajahnya, aku kecup keningnya lagi. “Aku mencintaimu, Revita Adriyana.” Bisikku lirih, lalu aku kecup bibir Vita. Dan, ini pertama kalinya aku mengecup bibir Vita. Perlahan aku berikan kecupan lembut di bibirnya. Vita pun membalasnya lembut.


Aku lepas tautan bibirku, aku tatap wajah istriku yang sendu, “Vit, aku mencintaimu. Tolong bertahanlah di sisiku, menjadi istriku,” ucapku.


“Aku juga mencintaimu, Mas Dani,” ucapnya dengan suara parau. Aku kecup bibirnya lagi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Begini rasanya mengecup bibir wanita yang sudah menjadi hakku. Rasanya berbeda dari wanita yang belum menjadi hakku. Aku merasa tenang hanya mengecup bibir Vita, sungguh tenang dan nyaman.


Vita melepaskan tautan bibir kami, lalu mengambil ponselnya, entah dia mau apa, seperti ingin menghubungi seseorang. “Andini, aku akan mencabut gugatanku, bagaimana?”


“Baik, aku tunggu kabar baiknya.” Ucap Vita.


Bebanku rasanya hilang mendengar Vita mencabut gugatan cerainya. Aku peluk dia, aku menangis di pelukannya karena bahagia. “Terima kasih, Vit. Terima kasih.” ucapaku di sela-sela tangisanku.


“Berjanjilah, hanya aku satu-satunya wanita yang menjadi milikmu.”


“Aku janji, Sayang.” Ucapku.


Kami kembali menautkan bibir kami, dengan penuh kelembutan dan entah perasaan apa lagi. Aku bahagia, aku mendapatkan Vita kembali. Aku janji tidak akan menyakitinya lagi, ya aku janji itu. Akan aku jadikan dia wanita satu-satunya di hidupku.


“Kita lanjut di rumah, ya?” ucapku.


“Aku lapar, Mas. Lagian kamu dulu pernah menalakku bukan? Kita harus konsultasi dengan pemuka agama, kalau urusan pengadilan sudah diurus sama Andini,” ucap Vita.


“Ya sudah kita kosultasi dulu. Sini aku peluk kamu lagi.” Aku memeluknya lagi, aku bahagia, Vita mau kembali. “Jangan pergi lagi, aku sangat mencintaimu, Vita.”


“Kalau kamu mulai menyakitiku lagi, aku akan pergi, karena ini adalah kesempatan terakhir, tidak akan ada lagi kesempatan kedua, ketiga, bahkan keempat,” ucap Vita.


“Aku akan buktikan, aku tidak akan lagi menyakitimu, Vita.”


Aku melajukan mobilku, menuju ke rumah makan, lalu setelah makan, kami berniat untuk konsultasi pada pemuka agama, karena aku sadar, aku pernah mengucapkan minta cerai pada Vita.

__ADS_1


__ADS_2