
Tapi, otakku berpikir keras, menolaknya, dan mengatakan tidak. Itu tidak mungkin aku lakukan, karena aku menyakitinya. Aku akan bertambah menyakiti dirinya kalau aku melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan pada Nadira. Bagaimana tidak menyakitinya? Aku ini suami orang, meski aku tidak mencintai istriku, dan aku lebih mencintai Nadira daripada Vita, aku tetap tidak boleh menyakitinya. Lebih baik aku pergi meninggalkan Nadira, dan lanjut dengan Vita, karena itu sudah jelas. Jelas sakitnya, daripada aku harus meniduri dan menodai wanita yang aku cintai sebelum sah menjadi milikku.
“Mas, jangan siksa aku, jangan siksa rasa ini. Aku rela menyerahkan semua ini untukmu, Mas. Aku rela,” bisiknya.
Bukan aku tambah ingin melakukannya. Tapi, aku malah melepaskannya, dan menutup tubuh Nadira yang sudah aku buka sebagian.
“Maaf, aku tidak bisa. Aku tidak mau menyakitimu, Nad,” ucapku dengan menjauhkan diriku dari Nadira.
Jujur saja sebelum Nadira mengatakan seperti itu, mengatakan dirinya pasrah aku melakukannya, dia rela menyerahkan semua, teganganku masih tinggi, libidoku benar-benar naik. Tapi, saat Nadira mengatakan seperti itu, bahwa dia rela menyerahkan semuanya, hasratku ingin mencumbunya hilang seketika. Tidak ada lagi hasrat untuk menyentuhnya. Entah kenapa aku bisa seperti itu, apa karena aku ingin menjaganya, atau karena apa aku tidak tahu.
“Melakukannya atau tidak sama saja menyakitiku kan, Mas?” ucapnya.
“Tapi lebih tidak, Nad. Karena itu akan merenggut apa yang selama ini kamu jaga,” ucapku. “Aku memang menyentuhmu, sering. Tapi, aku tidak berani merusak apa yang selama ini kamu jaga. Itu milik suamimu kelak, Nad,” tuturku.
“Lalu untuk apa aku menjaganya, luarku sudah tidak utuh, sudah sering disentuh kamu, bukan? Kenapa tidak semua saja, kenapa tidak sekalian saja kau ambil, Dan? Supaya kita cepat bersatu, dan hidup bersama,” pikirnya.
“Tidak semudah itu. Aku tahu dan aku sadar, aku sering menyentuh bagian luarmu, iya aku akui itu salah, dan seharusnya tidak aku lakukan, tapi aku ingin menjaga mahkota yang kamu miliki, Nad. Itu hanya milik seseorang yang nantinya akan menikahimu, Nad. Bukan milikku. Aku belum menikahimu, meski aku ini kekasihmu,” jelasku.
“Jadi kamu tidak mau menyentuhnya karena kamu tidak yakin akan menikahiku?!” pekiknya pilu.
“Nadira ... aku mohon, bukan begini caranya, aku pilih cara yang terbaik. Kamu tahu selama ini Vita menjadi istriku pun aku tidak pernah menyentuhnya sedalam aku menyentuh kamu, Nad. Jangankan menyentuh, aku mencium keningnya saja kalau di depan orang tuaku, dan orang tuanya. Kalau tidak, ya hanya dia yang mencium tanganku saat akan berangkat kerja. Begitu saja setiap hari, selama sepuluh bulan.”
“Jangan samakan aku dengan Vita! Aku berbeda darinya, Dan!” tukasnya.
“Iya beda, tapi kalian sama-sama wanita! Kalian sama-sama punya mahkota berharga yang harus kalian jaga, Nadira. Maaf, jika aku menolak. Aku benar-benar tidak bisa, Nad. Maafkan aku. Aku akan cari caraku sendiri, agak kita bisa bersama tanpa aku merusak dirimu lebih dalam!” tegasku.
“Untuk apa? Kau sudah merusak luarku, Dan! Percuma dan sama saja!”
“Jelas berbeda Nadira” tegasku lagi. “Kau tahu sebuah pigura? Jika pigura itu pecah, rusak, dan tak berbentuk, apa akan merusak foto di dalamnya? Apa foto itu akan sobek? Masih utuh, kan? Hanya terkena serpihan kaca piguranya saja, bukan? Seperti itulah kamu sekarang, Nad. Aku sudah merusak piguramu, tapi fotomu masih utuh, karena foto itu bisa dimiliki oleh orang yang berhak memilikinya, setelah sah nantinya,” jelasku. “Maafkan aku, Nad. Aku tidak bisa melakukannya lebih.”
Nadira diam, tertegun mendengar penuturanku. Di membetulkan bajunya, setelah aku bicara seperti itu.
“Aku pamit pulang, baik-baik di rumah. Tenangkan pikiranmu. Jangan berpikiran macam-macam. Apa pun akan aku perjuangkan kamu, Nadira. Tapi, tidak dengan cara yang seperti kamu inginkan tadi. Tidak akan Nadira!” ucapku.
Nadira mengangguk, aku kecup keningnya dan aku peluk dia. Aku tahu mungkin dia sudah lelah dengan semua ini. Tapi, aku tidak mau melakukan hal semacam itu, yang nantinya akan merugikan diriku dan Nadira.
__ADS_1
“Sudah, tenangkan pikiranmu. Bersih-bersih, lalu tidurlah. Aku pulang, sudah jam sembilan lebih,” pamitku.
Nadira mengangguk lalu mengantarnya aku ke depan saat aku akan pulang. Ia melambaikan tangannya saat aku akan melajukan mobilku.
Sepanjang perjalanan, aku masih memikirkan permintaan Nadira itu. Aku tidak menyangka Nadira meminta hal yang tak pernah aku duga. Harusnya aku sebagai laki-laki yang memintanya, tapi kenapa justru Nadira yang pasrah? Aku benar-benar keget dengan permintannya. Aku jadi semakin takut Nadira nekat berbuat semau dia saat dekat denganku.
Aku memang mencintainya, sangat mencintainya, tapi kalau untuk masalah itu, aku tidak mau melakukannya, meskipun aku sangat mencintainya dan ingin memiliki dia seutuhnya. Tidak! Pantang bagiku untuk menyentuh dia lebih dari biasanya. Aku belum sah memilikinya, tidak mungkin aku menyentuh lebih dalam. Sedangkan Vita yang sudah sah aku sentuh, aku belum menyentuhnya sama sekali, jangankan menyentuh, tidur saja kamarnya terpisah?
Aku harus bisa menahan diri. Aku tidak mau merugikan diriku sendiri dan orang lain. Aku memang sudah berdosa melakukan hal itu dengan Nadira. Tapi, aku tak mau menambahi dosa dalam hidupku lagi. Dosaku juga sudah banyak pada Vita, aku selalu menyakitinya, tapi dia begitu baik padaku. Apalagi dia yang sah untukku.
Aku menyusuri jalan untuk pulang. Aku lihat masih banyak pedagang kaki lima menjajakan dagangannya di emperan trotoar jalan. Masih rame sekali, dan banyak pembeli. Ada juga angkringan yang penuh, berjejalan orang di sana. Sepintas aku melihat perempuan mirip dengan Vita duduk di lesehan sate ayam madura. Ya benar itu Vita dengan temannya yang bernama Firda, lalu dengan laki-laki yang aku kenal, dan satu perempuan lagi yang aku kenal juga. Dia Tantri, dan laki-laki di sebelah Vita, itu Arif. Mereka masih berkumpul di sana, padahal sudah jam sembilan lebih.
Aku turunkan kecepatan mobilku, dan menepikan mobilku, lalu aku turun menghampirinya. Entah kenapa aku tidak suka melihat Vita dekat dengan Arif. Aku berjalan mendelati Vita yang sedang asik mengobrol dengan mereka.
“Vita?” panggilku.
“Mas Dani? Kok di sini?” tanyanya.
“Sudah pulang menemui .....”
“Gimana tadi, sudah menemui papanya?” Vita menukas ucapan Firda. Mungkin karena ada Tantri, jadi dia tidak mau Tantri tahu. Kalau Arif, mungkin Arif sudah tahu masalah rumah tanggaku, toh dia dekat, dan Arif sepertinya selalu menunjukkan perhatian pada Vita.
“Pak Dani, sudah makan. Kalau belum pesan saja. Di sini bukan sembarang sate ayam lho pak. Yuk sini gabung, biar aku tidak cantik sendiri di sini,” ajak Arif sok akrab padaku.
“Waduh, aku sudah makan tadi, di rumah mama. Nanti deh kapan-kapan lagi Pak Arif,” jawabku sopan, karena dia juga sopan menawariku, meksi dia basa-basi.
“Wah sayang sekali, padahal enak lho satenya,” ucap Arif.
“Iya, sayangnya aku sudah makan, Pak Arif,” jawabku. “Ehm ... kalian sudah selesai belum? Kalau sudah boleh Vita aku ajak pulang?” tanyaku.
“Sudah mas, aku sudah selesai, tapi sebentar, aku mau bungkus sate dulu, ya?” jawab Vita.
“Jadi kita gak usah ngantar kamu, Vit?” tanya Firda.
“Iyalah, gak usah. Aku sama Mas Dani saja,” jawab Vita. “Bentar ya mas, nunggu dulu, aku mau pesan sate lagi, buat di rumah,” ucapnya padaku.
__ADS_1
“Iya, aku tungguin, Vit,” jawabku.
“Kamu mau makan lagi, Vita?” tanya Firda.
“Yups, aku pengin lagi,” jawab Vita.
“Wah ... bau-baunya kita mau dapat keponakan nih, Fir,” ucap Arif dengan wajah yang menunjukkan bahagia.
“Gimana dia hamil, orang dia saja belum .....”
“Belum selesai haid maksudmu? Aku baru selesai haid kemarin, tadi kan kamu lihat aku sholat maghrib, kan? Lagian mana ada baru selesai haid beberapa hari langsung hamil?” potong Vita seolah dia menutupi dari Arif, kalau dia belum disentuhku. Aku yakin Firda mau bilang kalau Vita belum disentuhku.
“Lagian ini sudah malam, kamu mau makan lagi, apa gak takut berat badanmu nambah, Vit?” tanyaku.
“Enggak, gak takut,” jawab Vita.
“Gak ada rumusnya dia naik berat badannya, mau makan apa pun dan jam berapa pun badan dia dari SMA segitu mulu, bikin iri orang tahu!” ujar Firda. “Padahal jaga pola makan enggak? Kok masih begini dari dulu? Oh aku tahu kau terlalu membatin kali ya, Vit?”
“Sembarangan kalau bilang!” tukas Vita. “Mas sini duduk dulu sambil nunggu sate yang aku pesan mau buat bawa pulang,” ucap Vita padaku.
Akhirnya aku duduk di sebelah Vita. Baru kali ini aku duduk di pedagang emperan kaki lima. Dengan Nadira pun aku tidak pernah. Vita yang berpakaian rapi, Firda, Arif, dan Tantri, mereka tidak risih makan di tempat seperti ini. Padahal mereka memiliki jabatan yan tinggi di kantor.
Saat pesanan sate milik Vita sudah selesai, aku dan Vita langsung pulang. Vita duduk di sebelahku. Wajah cerianya yang tadi terlihat saat dengan teman-temannya berubah menjadi sendu. Dia diam saja, sebelum aku mengajak dia bicara.
“Kamu sering makan di tempat seperti itu, Vit?” tanyaku.
“Iya sering. Itu sate ayam madura langganan kami,” jawab Vita.
“Oh ....” ucapku.
“Kamu harus mencobanya, Mas. Ini aku belikan. Kamu pasti belum makan, kan?” ucapnya.
Dia tahu saja aku belum makan. Dia seperti tahu sekali soal aku? Tapi aku tidak pernah tahu tentang dirinya.
“Ya memang belum makan sih. Nadira marah, gak mau diajak keluar, makanya aku pulang cepat, eh lihat kamu lagi makan diemperan?” jawabku.
__ADS_1
“Ya sudah, ini aku kan beli buat kamu, nanti makan, ya? Kamu harus cobain, pasti nanti ketagihan,” ucapnya dengan menyunggingkan senyumananya.
Pantas saja Arif suka dengannya? Dia begitu manis saat tersenyum. Dia anggun sekali, penampilannya sederhana, meski seorang CEO dia selalu menunjukkan rendah diri di depan staf dan karyawannya di kantor. Itu yang tadi aku lihat, saat Vita mengajakku keliling perusahaan, supaya aku tahu tempat, dan bagian di dalam perusahaan.