Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Permintaan Nadira


__ADS_3

Dia begitu manis sekali, dia begitu lembut tutur katanya, sabar, cantik, sok tegar, meskipun kalau malam aku sering melihat dia menangis. Dia sempurna, dan aku baru sadar, semua yang diimpikan pria di luar sana ada pada diri Vita.  Pantas saja Arif terlihat begitu sangat mengaguminya, bahkan mencintainya.


Delapan bulan aku belajar dan terus belajar untuk bisa menerima takdir, bahwa aku sudah menikah dengan wanita yang dipilihkan kedua orang tua. Yang begitu canti dan sempurna lahir batin. Ya meski dia sedikit galak, tapi itu hanya tak-tik dia saja, supaya tidak terlalu gugup saat tadi aku pandang wajahnya.


Dan di bulan kesepuluh ini, aku sedikit jauh lebih akrab dengannya. Sering ngobrol, bahkan kadang bertukar pikir, apalagi sekarang aku juga bekerja di kantor papa. Semakin dekat aku dengan Vita, dan semakin berantung pula aku padanya, tidak di rumah saja, tapi di kantor pun aku selalu bergantung padanya.


Sikap perhatian yang penuh kesabaran membuat aku nyaman berada di dekatnya, sampai aku menolak untuk diberikan sekretaris, karena kalau ada sekretaris aku jadi jarang dengan Vita. Dan, aku sampai lupa, sore ini setelah pulang kerja aku harus ke rumah Nadira. Ini baru sehari, tapi pesona Vita mampu mengalihkan segalanya. Ya, aku malah menemani dia menemui tamu, dan menemani dia mengerjakan beberapa laporan yang sempat tertunda karena seharian aku selalu merepotkan dia.


Kalau saja Vita tidak mengingatkan aku untuk pulang, dan bilang katanya mau ke rumah Nadira, aku mungkin benar-benar melupakannya, karena saking asiknya aku menemani dia, sambil aku mempelajari perusahaan yang belum aku ketahui. Aku tersadar, saat dia mengingatkan semua bahwa aku akan ke rumah Nadira sore ini, dan dia juga mau langsung pulang menemui Firda dan Arif.


Aku sebetulnya ingin sekali ikut Vita, dan ingin tahu sedekat apa Vita dengan Arif. Tapi, aku sudah kadung janjian dengan Nadira, kalau aku mau ke rumahnya, dan aku takut saja Nadira marah lagi kalau aku membatalkannya untuk tidak datang ke rumahnya. Dan, sekarang aku sudah berada di rumah Nadira. Benar dia masih mendiami aku, dia masih marah, dan masih belum mau menatapku, duduk pun kami berjauhan, tidak seperti biasnya kita duduk bersisian, bahkan mesra-mesaraan. Aku kadang tidur di pangkuannya, dan begitu pula sebaliknya, dia tidur di pangkuanku. Tapi, sekarang Nadira sedang marah denganku, karena aku datang terlambat.


“Sebetulnya apa yang kau cari, Mas? Dengan kamu bekerja di kantor papamu?” tanya Nadira.


“Kamu tanya apa yang aku cari? Apa kamu tidak sadar kamu tanya seperti itu? Aku sudah bolak-balik menjelaskan, ini semua demi kamu, Nad!” jawabku.


“Demi aku? Kalau demi aku gak gini caranya, Dan!”


“Lalu harus bagaimana?” tanyaku bingung.


Aku melakukan semua ini, memang tujuannya supaya aku bisa denan dirinya. Dengan aku menguasai semuanya, aku bisa meluluhkan hati papa dan mama. Dan, mungkin ketika aku berpisah dengan Vita pun, mama dan papa tidak akan melarang, karena kantor sudah ada aku, yang bisa papa andalkan. Lalu aku bisa menikahi Nadira secepatnya.

__ADS_1


“Aku capek, Dan! Sampai kapan kita begini, gak ada kejelasan sama sekali, Dan. Capek tau!” ucap Nadira dengan mata berkaca-kaca.


Ya memang aku sama sekali tak memberikannya kejelasan. Aku benar-benar menarik ulur hubunganku dengan Nadira. Kami hanya mengandalkan saling mencintai, tanpa mikir bagaimana selanjutnya, dan ke mana arah hubungan ini.


“Lalu aku harus bagaimana, Nad? Kamu mau aku menikahimu? Kamu sanggup menjadi istri keduaku? Kalau kau sanggup, ayo ke rumah papa dan mama, aku kenalkan kamu, calon istri keduaku. Ayo kalau kamu mau kejalasan sekarang, Nad. Kurang jelas apa coba? Ayo kita sekarang ke sana, tanpa menunggu aku berpisah dengan Vita.”


Aku nekat bicara seperti itu, jika dia mau, oke aku tidak masalah. Aku tidak masalah tidak dianggap anak lagi oleh papa mamaku.


“Ayo, tapi kamu tahu konsekuensinya apa, kan? PNS hanya bisa memiliki satu istri, jadi kamu akan aku nikahi secara siri. Sebelum aku berpisah resmi dengan Vita, aku tidak bisa menikahi kamu secara sah,” ucapku lagi.


Nadira hanya diam, mungkin dia pun sedang berpikir. Tidak mungkin dia menjadi istri kedua. Aku pahanm di dunia ini tidak ada wanita yang mau menjadi istri kedua. Di dunia ini tidak ada wanita yang ingin dimadu, kecuali ada alasan tersendiri untuk melakukan hal seperti itu.


“Nadira, aku mohon bersabarlah. Kasih waktu aku. Dua bulan lagi, atau tiga bulan. Supaya semuanya selesai, dan aku akan menceraikan Vita, mengembalikannya pada kedua orang tuanya. Dia sama sekali belum kusentuh, Nad. Aku harus mengembalikannya sebaik mungkin, seperti saat mama dan papa memintanya pada kedua orang tuanya,” ucapku.


“Aku beda bagaimana, Nadira? Aku masih sama seperti yang dulu, masih mencintaimu, menyayangimu, dan hanya kamu, Nadira?” ucapku tulus dan sungguh-sungguh.


“Sudah sana kamu pulang saja, Dan. Aku ingin sendiri. Denganmu juga tidak bisa menyelesaikan masalah, malah yang ada masalahnya semakin berlarut, dan masih tetap sama seperti ini. Jalan di tempat saja hubungan kita!”


Nadira menyuruhku untuk pulang. Baru kali ini Nadira semarah ini denganku, dan benar-benar susah untuk kubujuk. Dia sepertinya marah denganku, dan aku paham, selain itu dia juga seperti ada masalah lain.


“Kamu ada masalah apa, Nad? Semarah-marahnya kamu denganku, kamu gak seperti ini, Nad. Gak sampai kamu mengusirku seperti ini. Nad, kalau ada masalah cerita sama aku,” ucapku.

__ADS_1


“Hidupku dari dulu banyak masalah, Dan! Kamu tahu masalahnya apa, kan? Masalah terbesarku adalah hubungan kita yang menggantung tidak jelas seperti ini. Mau dibawa ke mana hubungan kita ini, Dan! Hubungan yang salah, dan seharusnya sudah aku sudahi dari dulu, setelah aku mendengar kau mengucap qobul di depan penghulu, dan nama wanita yang kau ikrarkan dalam qobulmu adalah Vita. Bukan aku.”


Ya benar, memang semuanya harus berakhri sejak aku menikahi Vita. Tapi, aku yang tidak bisa. Aku yang masih ingin  Nadira. Aku masih ingin hubunganku dengan Nadira terus berjalan, hingga aku bisa menemukan titik terang bagaimana hubunganku dengan Nadira tetap bersatu. Aku diam mendengar penuturan Nadiar tadi.


“Nadira, kita belum belum terlambat kok. Bantu aku, dua bulan lagi aku yakin aku bisa menguasai apa yang Vita ajarkan soal perusahaan padaku, Nad. Aku mohon,” pintaku.


“Lebih baik kamu pulang, Dan. Aku ingin sendiri dulu. Aku minta maaf, kali ini aku benar-benar ingin sendiri dulu,” pintanya dengan mata berkaca-kaca.


“Aku tidak mau meninggalkanmu dalam keadaan kamu seperti ini, Nad. Aku tidak mau,” tolakku.


Nadira menangis, aku rengkuh tubuhnya, aku peluk dengan hangat. Aku biarkan dia menangis di pelukanku.


“Tenangkan dulu hatimu, Nad. Menangislah, jika menangis akan mengurangi beban di hatimu,” ucapku dengan mengusap kepalanya dengan sayang.


“Aku mencintaimu, Mas. Tapi, kenapa serumit ini? Kalau aku bisa memilih, aku lebih memilih tidak mengenal dirimu dari dulu, Mas,” ucapnya.


“Jangan bicara seperti itu, Nad. Tuhan sudah menakdirkan kita bertemu, meski jalannya seperti ini. Aku percaya, jika memang ada jalan untuk kita bersatu, kita pasti bersatu, Nad. Aku harap kamu sabar, ya?” ucapku dengan menatap wajahnya.


Nadira menatapku dengan tatapan sendu. Aku mengecup keningnya, dan kukecup lembut bibirnya. Hingga semakin dalam kami terhanyut. Lidah kita saling membelit, kami benar-benar rindu dengan ini. Aku sudah melupakannya sejak aku sibuk dengan urusan kantor. Ya mungkin Nadira menginginkan seperti ini, jadi dia emosi seperti tadi. Aku tenangkan dia dalam dekapan dan kecupanku yang semakin liar menjelajahi leher hingga dadanya.


******* kecil lepas dari bibirnya. Aku semakin ingin menyentuhnya lebih dalam, tapi aku selalu tidak berani, aku tidak berani melakukan hal yang lebih dari mencumbunya.

__ADS_1


“Mas, lakukanlah, jika dengan seperti ini akan membuat kita lebih cepat untuk bersatu.” Bisiknya padaku.


Sepintas aku berpikir, ada benarnya juga ucapan Nadira, jika aku melakukannya lebih, aku akan bisa cepat-cepat menikahinya, apalagi kalau Nadira hamil, pasti semua akan mendesakku untuk menikahinya.


__ADS_2