Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Perang Dingin


__ADS_3

POV Danial.


Aku tidak konnsentrasi sekali mengajar pagi ini. Dari berangkat, aku sudah tidak semangat, dan itu karena ucapan Vita. Ucapan Vita yang membuat aku seperti ini. Aku ingin sekali tahu tentang dia lagi. Perempuan yang benar-benar sulit ditebak, perempuan yang sulit ditaklukkan.


Aku tahu dia mencintaiku, tapi dia tidak semudah itu memberikan kecupan bibirnya padaku, padahal aku ini suaminya. Aku sah menyentuh dirinya. Untuk masalah aku sudah mengatakan cerai, itu bisa aku urus, aku bisa memanggil ahli agama untuk menanyakan soal ini, dan bagaimana selanjutnya. Aku siap, karena aku salah, terlalu cepat mengambil keputusan. Hingga aku sadar, Vita begitu baik padaku.


“Anak-anak, bapak kasih tugas, buka LKS Bahasa Indonesia kalian, kerjakan halaman empat puluh satu, nanti ketua kelas kumpulkan kalau sudah selesai jam pelajaran di meja bapak. Nanti siang Pak Irsya atau Pak Roni yang akan menggantikan bapak, karena bapak ada keperluan mendadak.”


“Baik, Pak Dani ....” ucap mereka serempak.


Aku tidak konsentrasi mengajar. Aku tidak tahu pikiranku pagi ini sangat kacau sekali. Apalagi Nadira tadi pagi juga mendiamiku, mungkin karena semalam aku tolak dia. Ponselnya juga tidak aktif sampai sekarang, tadi pagi aku jemput dia saja dia hanya diam, aku tanya dia jawab seperlunya.


Aku ke ruang guru. Ini sudah masuk jam ketiga. Jam ketiga aku sudah kasih anak-anak tugas, dan nanti siang jam terkahir biar dihandle oleh Pak Irsya dulu. Biasanya aku pasrahkan pada Nadira, tapi dia sedang badmood denganku, jadi aku tidak berani menitipkan anak-anak padanya.


Vita juga, aku minta dia mengabari aku, dia malah sama sekali gak chat aku atau telefon aku. Aku mau mulai menyapa dia dulu, aku tidak berani kali saja aku malah dicueki. Aku merasa ponselku bergetar di saku kemejaku. Aku lihat siapa yang menelefonku. Vita? Dia telefon aku? Ada apa? Atau dia mau kasih kabar sudah sampai kantor? Ini sudah mau jam sembilan masa baru ngasih kabar? Atau ada sesuatu yang penting? Aku menggeser icon berwarna hijau di layar ponselku.


“Iya, Vit? Gimana?”


“Maaf baru kasih tahu, aku sudah sampai. Dan, nanti aku minta tolong kalau mas ke sini, mas langsung ke ruanganku, ya? Ada yang akan aku bicarakan, soal di Anyer. Aku butuh bantuan mas, mas ikut nanti ya?”


“Iya, aku ke situ sekarangg?”


“Mau apa jam segini ke sini? Jam kerjamu di sini jam dua, Mas! Nanti saja kalau kamu sudah selesai urusanmu di sekolahan. Jangan tinggalkan tugasmu mengajar juga. Di sini fleksibel kok waktumu mas. Sudah lanjut saja kerjaanmu di situ.”


“Jadi gak usah sekarang, Vit?”

__ADS_1


“Gak usah, Mas? Lagian mau apa ke sini? Aku juga mau ada meeting nanti jam setengah sepuluh. Jam sebelas sampai selesai makan siang aku di luar, ketemu klien sama Tantri, dan papa juga sih, jadi aku gak di kantor. Mas ke sini seperti kemarin saja, jam dua.”


“Iya deh, padahal aku udah nitip anak-anak sama guru lain, dan aku suruh ngerjain LKS lalu dikumpulkan nanti.”


“Ih jangan makan gaji buta kamu, Mas! Kamu itu tanggung jawab jadi guru itu lebih besar, daripada tanggung jawab kamu di kantor papa! Sudah lanjutkan tugasmu dulu!”


“Oke deh.” Aku menuruti kata Vita.


“Ya sudah, sampai jumpa nanti, Mas.”


Aku mengakhiri panggilanku dengan Vita. Aku kira Vita akan senang aku mau ke kantor sekarang? Tahunya malah dia nyuruh ke kantor nanti jam dua siang. Ya sudah aku nurut sajalah, padahal aku sudah bilang Pak Cahyadi buat gantiin aku jam terakhir nanti.


Aku bergegas menemui Pak Irsya, beruntung belum kembali ke kelasnya. “Pak jam terakhir gak jadi, aku tidak jadi pergi,” ucapku.


“Hmm ... iya sudah.”


“Namanya juga dapat telefon dari istri, Bu,” jawabku.


“Sudah mulai ada bunga-bunga bersemi nih? Nadira benar mau dilepas?” ujar Pak Irsya.


“Yah mau bagaimana lagi? Sudah saya kembali ke kelas,” ucapku meninggalkan ruang guru.


Memang di sekolahan sudah banyak yang tahu hubunganku dengan Nadira. Bagaimana tidak tahu, sebelum aku menikah dengan Vita aku sudah bersama Nadira?


^^^

__ADS_1


Selesai tugasku di Sekolah, aku langsung ganti pakaianku. Ya aku ganti dari Sekolahan saja, karena aku malah jadi pusat perhatian para karyawan papa yang di depan, memandangiku semua mengenakan seragam guru. Jadi aku ganti di Sekolahan saja.


Sejak dari pagi Nadira cuek sekali denganku. Dia mendiamiku, entah karena apa, mungkin karena semalam itu, dia jadi marah begitu. Aku sudh selesai ganti pakaian. Aku pakai jas yang sudah Vita siapkan tadi pagi. Lagi-lagi aku bergantung pada Vita. Dia memang pandai memadukan warna baju, setelan jas warna Navy sudah melekat di tubuhku.


“Widiiihhh ... pak guru kok berubah jadi macam CEO gini nih ....” ucap Pak Irsya. “Bu Nadira, lihat nih kekasihmu, mau ke mana dia?”


“Kan sekarang jadi Direktur, Pak. Direktur yang berangkatnya sepulang ngajar!” jawabnya dengan nada yang tidak mengenakkan. Padahal aku seperti ini untuk dirinya, dan sedang memperjuangkan dirinya.


“Enaknya punya perusahaan besar, dan saya heran, kenapa gak mau gitu jadi pengusaha saja Pak Dani ini?” ucap Pak Roni.


“Ini juga karena saya sedang memperjuangkan sesuatu, tapi yang sedang diperjuangkan malah kelihatannya menyepelekan, ya sudah terserah!” ucapku dengan bercerimin dan memakai dasi. Aku malas sekali pakai dasinya, biar nanti saja Vita yang memakaikan.


“Ehem ... sepertinya ada yang sedang perang dingin nih?” ujar Bu Wulan, teman akrab Nadira.


“Ya biar saja, biar dingin, di luar sana juga masih banyak yang anget!” jawabku dengan menatap sinis Nadira yang dari pagi sudah tidak mau bicara denganku. “Sudah saya pulang! Mau ngantor dulu!” pamitku pada semunya.


“Dasinya di pakai dulu dong Pak? Tuh kan ada ayang, dipakaiin dong ayang dasinya calon suami?” ledek Roni.


“Ogah!” tukas Nadira.


“Di kantor ada Vita, biar dia yang memakaikan saja,” ucapku.


“Widih sana-sini yah rupanya? Satu lepas dong  Pak Dani! Bu Vita buat saya!” kelakar Pak Irsya.


“Bukan kelasnya, Pak. Aku saja minder dengan dia. Dia terlalu cerdas, dan terlalu sulit untuk ditaklukkan!”ucapku.

__ADS_1


Biar saja aku bicara begitu. Toh memang kenyataannya Vita cerdas, dan sulit sekali ditaklukkan. Dicium saja gak masu sama sekali, padahal aku suaminya? Aku biarkan Nadira yang mungkin tambah jengkel kepadaku. Aku gak menawari dia untuk pulang bareng lagi, toh dia tadi sudah menolak aku saat kuajak pulang, dan ucapannya benar-benar sangat menohok sekali.


__ADS_2