Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Selamat Tinggal


__ADS_3

Lebih baik aku yang pergi. Daripada aku bertahan dengan orang yang tidak mencintaiku sama sekali. Ya aku harus menyudahi semuanya. Aku tidak ingin usahaku untuk meyakinkan hati Mas Dani malah berujung dengan sesuatu yang menyakitkan. Aku hanya akan memperoleh sakitnya saja, tapi tidak untuk hati Mas Dani. Lebih baik aku pergi, aku tinggalkan semuanya, aku ingin bebas dari semua ini.


Selesai membereskan dapur, aku langsung bergegas ke kamarku, tapi langkahku terhenti saat melihat Nadira berdiri di depan pintu dapur.


“Vita, bisa kita bicara?” tanya Nadira.


“Ya, bisa. Silakan duduk saja di sini,” jawabku. Aku mempersilakan Nadira duduk di kursi meja makan. “Mau bicara apa?” tanyaku.


“Aku minta maaf untuk yang tadi, Vit. Kamu tahu hubungan aku dengan Mas Dani, kan? Kamu juga pastinya tahu perasaanku saat mendengar Mas Dani sakit, dan aku memang merindukannya,” ucap Nadira.


“Lalu?” tanyaku lagi.


“Aku minta maaf karena tadi sudah berlebihan, Vit.”


“Bukannya setiap hari selalu berlebihan hingga di leher dan dada Mas Dani penuh bekas kecupanmu? Tanda kepimilikan darimu,” ucapku.


Biar, biar saja aku bicara apa adanya. Biar dia sadar, dia sedang bicara dengan siapa. Biar dia juga tahu kalau yang dia lakukan salah besar.


“I—iya, kami sering mealakukannya, Vit.” Ucap Nadira dengan terisak.


“Sudah sampai dalam? Atau hanya sebatas saling sentuh, Nad?” tanyaku dengan dada yang sesak.


“Belum, belum sampai dalam. Tapi, setiap hari kami begitu, kami saling memuaskan meski tanpa melakukannya lebih dalam,” jelas Nadira.


“Sejak kapan? Dari kalian SMA? Atau kapan?”


“Sejak kami kuliah,” jawab Nadira.

__ADS_1


Dadaku sesak, sejak kuliah mereka sudah melakukan perbuatan laknat itu, meski tidak sampai ke dalam. Ciuman dengan pacar saja sudah mendekati Zina, bagaimana dengan mereka yang sudah melakukannya layaknya suami istri? Aku memang harus melepaskannya. Mereka sudah melakukannya sejak masih kuliah, tidak mungkin Mas Dani bisa melupakan Nadira dengan cepat. Kemarin bilang mau belajar mencintaiku saja hari ini sudah berubah lagi? Nadira datang ya akan kembali pada Nadira? Bagaimana kalau aku dan Mas Dani sudah bahagia saling cinta? Kalau Nadira muncul besar kemungkinan Mas Dani akan kembali lagi pada Nadira?


Aku melepas kedua cincin pemberian dari Mas Dani. Aku menyerah, tapi bukan aku kalah. Aku menyerah karena aku tidak mau menanggung resiko belakangnya jika nanti aku dan Mas Dani bersama, lalu masa lalu Mas Dani muncul lagi. Aku tidak sanggup untuk itu, apalagi Mas Dani dan Nadira pernah memadu kasih hampir setiap hari. Tidak mungkin kenangan indah itu akan menghilang begitu saja.


“Ini aku serahkan padamu, karena kamu yang pantas memakainya, bukan aku. Aku yang akan urus perceraianku, supaya Mas Dani bisa cepat-cepat menikahimu. Kalian bicara baik-baik dengan mama dan papa, juga orang tuamu, Nad.”


“Vit, jangan begini?”


“Kalau tidak begini, kamu dan Mas Dania akan berbuat zina terus, Nad! Dengan aku yang sah dia tidak mau menyentuhku sama sekali, dia hanya mau dan bisa nyentuh kamu! Pegang cincin itu, aku sudah tidak pantas memakainya, Nad. Selamat berjuang, berjuang mempertahankan suami orang!”


Aku sekuat tenaga menahan air mataku. Aku langsung berlari ke kamar. Aku tidak mau, aku tidak mau lagi melanjutkan semua ini dengan Mas Dani. Aku yakin aku bisa. Aku memang sudah mencintai Mas Dani, tapi secinta apa pun aku pada Mas Dani, tatap saja batinku akan tersiksa, karena Mas Dani tidak mencintaiku dengan tulus.


Aku mengemasi semua bajuku, aku taruh ke dalam koper. Aku yakinkan diriku untuk meninggalkan Mas Dani. Aku tidak mau bertahan dalam hubungan yang serumit ini. Hubungan yang benar-benar membuatku tidak berarti. Aku ini seorang istri, tapi tidak dicintai suamiku sendiri. Suamiku lebih memilih mempertahankan hubungan dengan kekasih masa lalunya. Apa pantas aku mempertahankan suamiku? Merebut hatinya pun akan sangat sulit.


Apalagi aku mendengar Nadira bilang di depan teman-temannya kalau dia sangat mencintai Mas Dani, dan cinta mereka memang tidak disetujui oleh keluarga Mas Dani. Aku tahu perasaan mereka bagaimana kalau berpisah. Nadira akan hidup dengan laki-laki yang tidak dicintainya, dan Mas Dani pun sama.  Mesk mereka sama-sama belajar saling mencinti pasangan mereka masing-masing, aku yakin suatu hari jika mereka dipertemukan lagi, hubungan mereka akan terjalin lagi, dengan diam-diam. Apalagi Mas Dani plin-plan sekali orangnya.


Aku mendekati Mas Dani. Aku tatap wajahnya yang masih sedikit pucat, karena dia belum sehat sekali. Aku usap pipinya, dan aku memeluknya. “Maaf, Mas. Aku harus pergi. Aku yang harusnya sadar, kalau cinta tidak bisa dipaksakan. Mas lanjutkan hubungan Mas dengan Nadira. Mas bicara baik-baik sama mama dan papa soal ini. Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita. Cincin itu tidak pantas aku pakai, Mas.”


“Vit, jangan begini, kita bicarakan baik-baik.”


“Kita sudah membicarakan baik-baik dari jauh hari. Memang jalan yang kita pilih berpisah kan, Mas? Ya sudah memang ini saatnya. Dan, aku tahu betapa kuatnya cinta kamu dan Nadira.”


Aku melepaskan pelukanku pada Mas Dani. Aku mengambil koperku lalu aku langkahkan kakiku untuk pergi dari rumah Mas Dani. “Aku pergi, Mas,” ucapku.


“Vita ... Vita ... tunggu Vita, kita bicarakan baik-baik. Jangan begini, Vit!”


Aku kira semua tamu Mas Dani sudah pulang, ternyata di ruang tamu masih ada mereka, dan masih ada Nadira juga.

__ADS_1


“Lapasin, Mas! Aku butuh waktu, aku butuh sendiri, dan aku butuh untuk melupakan kejadian satu tahun ini. Satu tahun hidup denganmu.”


“Kamu ngomong apa sih, Vit? Kita bicarakan baik-baik, Vit. Aku mohon jangan gini, Vita?”


“Vit, kamu jangan pergi, biar aku yang pergi,” ucap Nadira.


“Kalau kamu pergi apa akan menjamin Mas Dani tidak akan kembali padamu? Apa bisa menjamin Mas Dani melupakanmu selama-lamanya, melupakan semua kenangan bersama kamu sejak SMA? Kalau kamu bisa menjamin itu aku akan bertahan,” cetusku. “Tapi, aku rasa tidak. Biar saja aku yang pergi melupakan semuanya, karena tidak mungkin Mas  Dani akan mencintaiku dan memberikan hatinya seutuhnya padaku. Kalau kamu anggap aku ini serakah, iya aku serakah, karena aku sebagai seorang istri, hanya aku seorang yang bisa memiliki hati suami seutuhnya!”


“Aku lebih baik pergi. Aku ini masih utuh, hanya hatiku saja yang mungkin sudah tidak utuh, sudah hancur karena aku mencintai sendiri. Tapi tubuku masih utuh, belum terjamah oleh suamiku. Aku belum pernah membuka bagian tubuhku untuk dinikmati suamiku. Jika aku pergi, aku hanya perlu menata hatiku yang kacau, yang sudah rusak, dan menghapus cintaku yang sendirian. Bagiku itu mudah, daripada melupakan orang yang pernah menyentuh tubuh kita. Apa kamu akan mudah melupakan Nadira, Mas? Dan kamu juga, Nadira, apa kamu akan mudah melupakan Mas Dani? Tentu jawabannya tidak. Kalian sudah berhubungan dari SMA, dari kuliah kalian sering melakukannya meski belum sampai dalam. Apa kalian akan mudah melupakan orang yang pernah menjamah tubuh kalian dengan penuh cinta? Aku rasa tidak bisa.”


“Kamu itu ngomong apa, Vit?”


“Memang kenyataannya begitu kan, Mas? Kamu hanya bicara di mulut saja. Kamu bilang akan belajar mencintaiku, tapi dalam tidurmu yang kamu sebut Nadira. Aku sudah cukup menderita batin selama ini, Mas. Menderita karena aku sudah mencintaimu, karena aku harus bisa menerimamu, aku harus bisa melayani kamu, mengabdikan hidupku pada orang yang tidak mencintaiku sama sekali, bahkan kamu membenciku!”


“Kalian lanjutkan saja hubungan kalian, bicara baik-baik dengan mama dan papa, juga orang tua Nadira. Cukup sampai di sini saja, Mas. Aku pergi. Aku titip kantor ya, Mas?”


Aku menarik koperku, dan aku keluar, aku pergi. Benar-benar akan pergi. Aku sudah lega bisa bicara seperti itu di depan Mas Dani dan Nadira. Tinggal aku bicara dengan mama dan papa, juga ibu dan ayah. Mereka harus tahu, karena aku ini masih diberi amanah untuk mengurus perusahaan papa.


“Vita ... tunggu jangan pergi!” Mas Dani menarik tanganku menghentikan langkahku.


“Bu Vita, Pak Dani, Bu Nadira, kalian selesaikan ini secara baik-baik. Jangan seperti ini, saling ingin pergi. Bicarakan dulu baik-baik, bagaimana jalan keluar yang baik,” ucap Pak Irsya.


“Maaf, aku dan Mas Dani memang sudah sepakat sejak Mas Dani mulai bekerja di kantor.  Aku akan mengajari Mas Dani soal perusahaan, karena Mas Dani akan membuktikan pada mama dan papa bahwa dirinya bisa, dan setelah itu aku akan menyerahkan semuanya pada Mas Dani, lalu Mas Dani akan menceraikankan aku. Jadi apa yang harus dibicarakan lagi, Pak? Sudah jelas kan, tujuan Mas Dani ingin tahu soal perusahaan supaya dia dipercaya papa, lalu dia melepaskan aku, dan menikahi Nadira?” jelasku. “Sudah aku pergi. Toh Mas Dani sudah bisa soal perusahaan?” pamitku.


Aku hubungi mereka, supaya ke rumahku. Ya, rumahku. Aku memang sudah memiliki rumah sendiri, tapi tidak aku tempati. Hanya ada pembantu yang mengurusnya. Aku akan membicarakannya dengan mereka. Mama dan papa juga harus bisa merestui Mas Dani dan Nadira.


“Selamat tinggal Mas Dani.”

__ADS_1


__ADS_2