Pesonamu Mengalihkan Cintaku

Pesonamu Mengalihkan Cintaku
Apa Tidak Bisa Kita Perbaiki?


__ADS_3

Dani selesai mandi, dia masih mendapati istrinya yang sedang menata lemarinya yang sangat berantakan. Sambil menggerutu kesal Vita menata pakaian Dani yang berantakan. “Baru ditinggal sehari sudah berantakan seperti ini? Coba kalau sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, atau selamanya, gimana keadaannya?” ucap Vita dengan kesal.


“Pasti berantakan sekali, Vit. Makanya jangan pergi, Vit. Temani aku, menualah bersamaku,” ucap Dani yang sudah di belakang Vita.


“Menua bersama, belum menua sudah mendua, begitu maksudnya? Apalagi ketemu mantan terindah, ya lupa sama istri di rumah?” jawab Vita.


“Kok gitu sih Vit bilangnya?”


“Ya memang kebanyakan begitu kok zaman sekarang? Mentingin mantan daripada istri,” jawab Vita.


“Bajunya mana, Vit?” tanya Dani.


“Itu di atas tempat tidur,” jawab Vita.


Vita masih melanjutkan menata pakaian Dani di lemari. Dani hanya memerhatikannya sambil duduk di sisi ranjang. “Mas, kalau ambil pakaian itu yang di atasnya diambil dulu, jangan asal narik saja. Ini harusnya lemari kamu diganti lemari gantung semua saja, Mas, jadi tinggal dipilih gak ngeberantakin lainnya!” ujar Vita kesal.


“Iya, nanti aku beli, yang gede sekalian, khusus lemari gantung, buat naruh baju-bajumu juga,” jawab Dani.


“Ngapain sama bajuku?”


“Ya karena kamu istriku,” jawab Dani.


“Istri tak dianggap maksudmu?”


Vita beralih duduk di sebelah Dani. Dia sekilas menatap wajah Dani yang masih sedikit pucat, tapi sudah mendingan tidak berantakan seperti tadi. Dani meraih tangan Vita, lalu menggenggamnya. “Apa tidak bisa kita perbaiki hubungan kita dari awal, Vit?” tanya  Dani.


“Perbaiki yang bagaimana lagi, Mas?”


“Aku janji, Vita. Aku janji tidak akan kembali dengan Nadira. Aku ingin bersama kamu, hidup tenang bersama kamu, menjalani rumah tangga kita, punya anak, kita saling mencintai,” ucap Dani.


“Aku maunya dari awal begitu, Mas. Tapi kamu tidak mau. Kamu ingat, kamu itu mengucapkan apa kepadaku setelah kamu mengucapkan qobul di depan penghulu? Kamu ingat saat itu kamu mengucapkan apa?” Tanya Vita dengan tatapan nanar di depan Dani, menyiratkan kepedihan hatinya yang ia rasakan saat itu. “Ingat tidak, Mas? Jangan diam saja! Baik aku ingatkan lagi! Kamu bilang, kamu tidak akan menyentuhku dan tidak mencintaiku? Sedangkan aku, pengantin wanita yang sedang bahagia-bahagianya setelah menikah, dan akan meneguk madu malam pengantin, telah ditikam hatinya dengan perkataanmu yang begitu menyakitkan, meruntuhkan impianku malam itu yang akan menjadi permaisuri di kerajaan cintamu. Kamu juga bilang kamu benci denganku, benci dengan pernikahan ini!”

__ADS_1


“Vita, tolong jangan bahas yang itu, aku minta maaf, Vit. Aku juga kacau saat itu harus menikah dengan perempuan yang tidak aku cintai, kamu harusnya tahu juga peraasanku!”


“Apa tidak ada kata yang lebih lembut lagi selain perkataan itu, Mas? Dan setelah itu, kita menjalani pernikahan toxic ini. Yang pura-pura bahagia di depan umum, di depan orang tua kita, saat kita berada di luar kamar kita, setelah di kamar, aku kembali masih ke dalam neraka. Kamu menyiksaku dengan bertelefonan mesra dengan Nadira, mengucapkan selamat malam dan selamat tidur, mengirimkan puisi-puisi yang indah sebelum kalian tidur, video call, saling cium jauh, dan kamu lakukan itu di depan aku, yang tak lain adalah istrimu! Kamu bisa tidak merasakan sedikit saja hatiku bagaimana saat itu? Aku berusaha jadi istri yang baik, aku berusaha ngerti kamu, aku berusaha tenang, berusaha senyum bahagia dengan mengulum luka! Kamu rasakan itu tidak, Mas! Kamu di depanku bermesaraan dengan Nadira, sedangkan aku sudah mulai jatuh cinta sama kamu!”


Ucapan Vita semakin meninggi karena sambil menangis hingga sesegukkan. Vita tidak bisa membendung lagi tangisnya, ia mengungkapkan semua kekecewaan dan sakit hatinya selama berumah tangga dengan Dani.


Dani bersimpuh di depan Vita, ia genggam tangan Vita, lalu menciumnya. “Maafkan aku, Vit. Izinkan aku menebus semua sakit hatimu. Beri aku kesempatan untuk menebus semua itu, beri aku kesempatan kedua untuk membahagiakan kamu, menjadikan satu-satunya milikku. Aku minta maaf, minta ampun untuk semua kesalahanku. Maafkan aku, Vita. Dan, berilah aku kesempatan untuk menebus semua itu,” ucap Dani dengan mencium tangan Vita, dan menangis di depan lutut Vita.


“Sudah terlambat, Mas. Aku sudah merasa diombang-ambingkan dengan sikapmu yang labil. Aku tidak mau nantinya aku sakit hati lagi. Aku ingin suami yang hanya mencintaiku, dan tidak akan menduakanku. Aku tidak percaya, jika Nadira kembali hadir, kamu akan tetap tenang berada di sisiku, aku belum percaya untuk itu, Mas,” ucap Vita.


“Aku mohon, beri aku kesempatan, Vita ....” Dani terus menundukkan kepalanya di pangkuan Vita, ia terus meminta Vita supaya diberikan kesmpatan kedua.


“Aku pulang ya, Mas. Kita bertemu di sidang pertama kita. Satu minggu lagi,” ucap Vita.


“Aku belum menandatangani surat itu, Vit,” ucap Dani.


“Ditandatangani atau tidak, itu tidak pengaruh, karena aku sudah meminta langsung untuk dipercepat prosesnya. Aku ingin bebas dari penjara hati ini, Mas. Aku sudah lelah dengan semua ini. Sebelum aku sakit, sebelum aku makin gila, lebih baik aku sudahi semua, Mas,” ucap Vita.


“Ingat, Mas, kamu juga pernah meminta cerai, kamu juga sudah pernah menggugatku, aku masih menyimpan surat itu untuk aku jadikan sebagai bukti. Maaf, aku harus pergi, aku pulang.” Vita langsung beranjak dari tempat duduknya, tapi Dani memegangi kedua kaki Vita.


“Jangan pergi, Vita ... aku mohon, aku mencintaimu, Vit. Aku akan buktikan itu. Jangan pergi, Vit,” Dani menangis dengan memegang kedua kaki Vita.


“Jangan seperti ini, Mas. Aku ini hanya mengabulkan permintaan mas. Sekarang aku akan kabulkan semuanya,” ucap Vita. “Tolong lepaskan, Mas!” Vita memaksa Dani melepaskan kakinya, tapi tetap saja Dani tidak mau melepaskannya. “Mas sudah janji kan mau menerima perpisahan ini? Kenapa jadi gini?”


“Aku gak mau, Vita ... aku mohon beri aku kesempatan. Jangan tinggalkan aku.”


“Aku masih tetap di sini, kita masih bertemu di kantor, hanya status saja yang akan berubah, Mas.”


“Aku masih ingin menjadi suamimu, Vita!”


“Aku sudah tidak mau lagi menjadi istrimu, yang tidak dianggap, Mas! Yang sama sekali tidak dicintai kamu. Aku tahu kamu tadi bilang mencintaiku, tapi hati kamu masih belum bisa mencintaiku. Buktikan dulu kamu benar-benar mencintaiku, jangan asal bicara!”

__ADS_1


“Akan aku buktikan!”


“Ya sudah lepaskan aku, aku mau pulang!”


“Kamu tidak mau tinggal di sini lagi, Vit?”


“Kita mau cerai, Mas!”


“Aku pastikan kita tidak akan bercerai Vita!”


“Kita lihat saja nanti,  Mas!”


“Kamu mau ke mana, Vita?”


“Aku masih ada urusan di kantor, Mas. Tanggung jawabku masih banyak di sana. Aku tidak bisa meninggalkan kantor begitu saja, karena masih banyak sekali yang belum aku selesaikan sebelum aku memberikan jabatan ini padamu atau papa.”


“Nanti kamu ke sini kan, Vit?” tanya Dani.


“Iya nanti sore, kamu juga harus terus belajar soal perusahaan, Mas. Aku minta tolong ya, Mas? Kamu kan anak satu-satunya, kasihan mama dan papa.”


“Iya, aku akan belajar lagi, ajari aku ya, Vit?”


“Kamu boleh belajar sama siapa saja, Tantri, papa, atau Firda, kali saja aku sibuk,” jawab Vita.


Vita pulang dari rumah Dani, tidak mungkin dia akan menemani Dani di rumah, hanya berdua saja dengan Dani, yang ada pertahanannya akan runtuh, hatinya akan berubah lagi. Dia sudah memantapkan hatinya untuk berpisah dengan Dani, dia tidak mau sakit hati lagi, ketika sudah memberikan kesempatan Dani, tapi nanti Dani berulah lagi saat bertemu kembali dengan Nadira.


“Biar saja, lebih baik memang berpisah dengan Mas Dani, daripada aku terus menanggung sakit hati. Aku ingin bebas, aku tidak mau lagi menyiksa batinku lagi,” gumam Vita.


Dani membiarkan Vita pulang, karena Vita akan ke kantor lagi. Dani mengambil surat gugatan yang Vita berikan tadi. Ia membacanya, dengan detail, lalu ia mengambil pena untuk menandatanganinya.


“Gak! Aku gak akan mengabulkan permintaan cerai ini! Biar saja, aku akan terus menolaknya di persidangan nanti! Aku mencintai Vita, aku tidak akan menyakitinya lagi, aku akan buktikan itu, aku juga yakin Vita masih memiliki perasaan yang sama, dia masih mencintaiku! Maafkan aku, Vita. Aku akan terus menolak perceraian ini, meski di dalam persidangan nanti! Aku akan buktikan semuanya, kalau aku sangat mencintaimu, Vita. Aku jatuh cinta denganmu, kamu begitu mempesona, kamu wanita yang mampu mengalihkan rasa cintaku pada Nadira. Biar kisahku dengan Nadira menjadi rekah masa lalu, yang tidak akan aku jamah lagi, dan aku akan buang semuanya. Kamu adalah masa depanku, Vita! Aku akan buktikan itu!” batin Dani, lalu melipat surat itu lagi dan memasukkan dalam amplopnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2