
Dasar lelaki! Dulu mana mau bulan madu? Mama sama papa ngasih tiket gratis bulan madu ke Paris saja aku disuruh balikin ke mama lagi? Sekarang ngajak bulan madu? Tapi, dia meralatnya sih, jadi liburan katanya. Liburan berdua saja. Oke, aku turuti apa maunya Mas Dani. Itung-itung liburan kali ini adalah awal dan akhir liburan bersama Mas Dani, hanya berdua dengan Mas Dani.
Ya ini adalah kali pertama dan pagi pertama kami saling dekat. Di dalam satu kamar dan tidur di ranjang yang sama. Biasanya kalau di rumah mama atau ibu, kami tidur satu kamar, tapi Mas Dani di Sofa, aku di ranjang. Semalam kami tidur dalam satu ranjang, dan sedikit cerita seblum tidur, sampai aku tertidur saat mendengar Mas Dani cerita, entah aku lupa apa yang Mas Dani ceritakan semalam. Tiba-tiba aku dibangunkan oleh bau harum kopi yang menyeruak ke indera penciumanku. Aku terbangun, dan langsung melihat pemandangan indah, ya indah tubuh Mas Dani yang atletis, tapi sayangnya tak pernah kujamah, hanya aku lihat sekilas saja.
Padahal status kami, sudah bukan lagi suami istri yang sah. Mas Dani semalam sudah memberiku surat gugatan cerai, tapi ada rasa bahagia saja Mas Dani ngajak bermalam di sini lagi. Gak aku tolak, karena aku ingin Mas Dani bisa melihat mana yang baik untuk dirinya, aku atau Nadira. Biar saja, aku anggap surat gugatan itu tidak ada. Aku tahu Mas Dani masih bimbang, melihat Nadira yang menangis dia langsung mengajukan surat gugatan, dan semalam melihatku menangis, tadi dia mengajak aku bermalam di sini lagi. Pagi-pagi sudah buat teh dan nyiapin cemilan. Aku tahu dia sedang cari perhatian sekaligus sedang meminta maaf padaku.
Biar saja, biar dia tahu. Biar dia mantap dengan pilihannya. Aku atau Nadira. Aku tidak menyalahkan cinta. Cinta tidak pernah salah, dia hanya singgah saja di hati seseorang. Cinta bisa berpindah, setelah tahu mana hati yang baik untuk Cinta menetap dan singgah selamanya.
“Kenapa, Vit?” tanya Mas Dani saat aku susah menaikkan resleting bajuku.
“Ehm ... eng—enggak ini, gak apa-apa. Aku ganti saja deh, susah sekali resletingnya,” jawabku.
“Sini aku bantu,” ucapnya.
“Ish ... gak usah, Mas. Sudah aku ganti pakaian lain saja. Lagian biar lebih formal, kayaknya pakai ini kurang formal,” ucapku.
“Ini bagus, sini biar aku bantu. Aku gak akan ngapa-ngapain, aku bantu saja,” ucapnya.’
Dia sudah berada di belakangku, menaikkan resleting dress ku. Lalu merapikan rambutku, “Sudah, kalau aku boleh kasih saran, rambutmu jangan digeraikan, Vit. Coba deh ditata seperti apa, ya? Kayak dicepol atau gimana gitu?”
“Ehm ... aku gak biasa, Mas. Kurang pede, dan kurang nyaman,” jawabku.
“Ya sudah, terserah kamu. Lagian aku heran rambut kamu selalu rapi meski digeraikan terus,” puji Mas Dani.
“Ya karena aku selalu merawatnya, biar rapi,” jawabku. “Sudah jangan lihatin aku gitu, sana ambil dasimu, sini aku pakaikan.”
“Oh, i—iya.” Jawabnya dengan gugup. Lalu mengambil dasinya. Aku memakaikannnya.
“Sudah yuk keluar, kita sarapan bersama, sudah ditunggu. Mama papa sudah datang juga, sama ibu dan ayah juga sih,” ucapku.
__ADS_1
“Oke, yuk kita keluar,” ajak Mas Dani.
^^^
Acara hari ini berjalan lancar. Setelah acara, semua staf pamit pulang lebih dulu, Firda dan Arif pun pulang lebih dulu, aku dan Mas Dani beralasan masih ada urusan dengan mama dan papa, juga ibu dan ayah. Kami memang berbincang-bincang dulu selesai acara, entah apa yang ingin mereka bicarakan, katanya penting.
“Kalian gak pengin bulan madu? Bulan madu kalian dulu kan gagal, gara-gara Dani pelatihan, dan kamu juga sibuk Vit?” ucap mama.
“Ma, kami memang mau bulan madu, di sini, mau menginap di sini lagi. Dua atau tiga hari lagi,” jawab Mas Dani. “Iya, kan Vit?” tanya Mas Dani padaku.’
“Ehm ... iya, Ma.” Jawabku.
“Oke, kalian mau menginap di sini berapa lama, tidak masalah. Tapi ini mama dan papa, juga ibu dan ayah mau ngasih ini.” Mama memberikan aku kotak kecil, dan aku membukanya.
“Ini apa, Ma?” tanyaku.
Aku menatap Mas Dani, lalu dia tersenyum padaku, dan menganggukkan kepala. “Bulan depan kan, Ma?” tanya Mas Dani.
“Enggak, itu mama sudah pesan buat minggu depan,” jawab Mama.
“Ya sudah kami akan berangkat,” ucap Mas Dani.
Mas Dani menerimanya? Gak salah? Ini kenapa dia malah begini? Kita sudah mau cerai, dia malah menerima tiket bulan madu dari orang tua kita? Aneh sekali dia. Tapi, apa ini adalah jawaban yang aku tunggu? Aku akan berpisah sebaik-baiknya berpisah dengan Mas Dani, atau Mas Dani sudah mulai terbuka pintu hatinya?
Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih mendengar Mas Dani menerima semua ini. Aku harus tanya, aku harus cari tahu kenapa Mas Dani seperti ini.
Setelah lama berbincang dengan orang tua kami, kami kembali ke kamar. Tapi Mas Dani langsung mengajakku ke pantai, untuk menikmati senja.
“Ayo duduk di sana, Vit,” ajak Mas Dani.
__ADS_1
Mas Dani menggamit tanganku, entah dia lupa, tidak sengaja, atau tidak sadar, aku tidak tahu. Tapi hati ini senang dan bahagia sekali.
“Vit kamu suka senja?”
“Tidak, karena senja datang hanya sementara. Memberikan keindahan sementara, memberikan ketenangan, kedamaian, dan kehangatan yang sementara juga. Makanya jangan pernah menjadi Senja, meski senja itu indah, tapi dia memberikan indahnya hanya sementara. Jadilah seperti matahari selalu berusaha ada, meski tertelan mendung. Meski kadang membuat kita marah karena panasnya, nyaman karena hangatnya, teduh karena mendungnya, tapi matahari akan selalu ada, memberikan semua rasa, dalam hidup kita,” jelasku. “Kenapa mas tiba-tiba bahas senja?” tanyaku.
“Ya Cuma tanya saja,” jawabnya.
“Nanti malam makan malam di luar, ya? Aku ingin ajak makan malam kamu,” ajak Mas Dani.
“Boleh. Di mana?”
“Ada deh, rahasia,” jawabnya.
“Mas kenapa terima tiket bulan madunya?” tanyaku.
“Ya karena kita butuh jalan berdua, refreshing, liburan berdua. Meski kita ini tidak jelas statusnya sekarang,” jawabnya.
“Kamu yang membuatnya tidak jelas, Mas,” ucapku.
“Ya, aku yang membuatnya sepert itu, Vit. Lalu aku harus bagaimana, Vit?” tanya Mas Dani.
“Tanya hatimu, Mas. Mas kan tahu mana yang terbaik mana yang tidak. Aku hanya menuruti mas. Selama ini apa aku pernah membantah yang mas mau? Tidak, kan?” jawabku.
“Iya sih. Aku minta maaf ya, Vit?”
“Sudah jangan minta maaf terus. Sudah kita nikmati saja hari ini, gak usah mikir yang belum terjadi, Mas,” ucapku. “Ke sana yuk, pengin main di tepi pantai,” ajakku.
Mas Dani mengiyakan ajakanku. Kami berjalan bersisian. Sesekali Mas Dani menggamit tanganku, kita saling cerita, dan entah kali ini kami sama-sama melupakan status kami selanjutnya.
__ADS_1