Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Hati-hati cinta lokasi


__ADS_3

Acara ramah tamah dan konferensi pers dengan awak media akan di mulai. Aslan, Samira, kakek Ahmad, dan Robby keluar dari tenda yang melindungi mereka dari teriknya matahari.


Samira cemas dan karena kecemasannya itu membuatnya tersandung batu hingga membuatnya terjerembab ke tanah.


"Kau bidadari jatuh dari surga tepat di hatiku, ea!" seru Aslan, tak ada yang berani menolongnya, baik ia maupun Robby karena dua laki-laki sudah tau syarat apa yang sudah Samira ajukan untuk menjadi asisten pribadi Aslan.


Jangan sentuh-sentuh!


Samira terkekeh sekaligus sebal. Bukannya ketawa saja, Aslan malah menyanyikan lagu coboy junior yang tidak sesuai usianya.


Samira menarik tubuhnya sebelum banyak orang memperhatikannya ngenes di tengah-tengah acara penting hari ini. Ia menunjukkan senyum tidak apa-apanya meski kehilangan muka di hadapan banyak orang.


"Sakit tau, malah nyanyi." omel Samira sambil membersihkan tanah dan pasir dari gamisnya.


"Lain kali lebih hati-hati ya, Sam. Untung cuma kesandung batu, bukan kesandung hati ku." gurau Aslan.


"Aslan!" tegur kakek Ahmad, "Bukan begitu cara merayu wanita."


Aslan terkekeh, pada dasarnya memang ia cuma bercanda dan ia tahu memang bukan begitu ngerayunya.


Tapi dalam hatinya ia yakin kakek Ahmad tahu, mereka berbeda.


"Iya, kakek. Besok-besok aku ngerayunya ikut cara kakek." Aslan mengacungkan jempolnya.


"Ada yang sakit?" tanya kakek Ahmad lembut pada Samira.


Samira cuma menunjukkan telapak tangannya yang merah. "Kakek nggak perlu khawatir, ini gak apa-apa. Cuma malunya saja yang belum ilang." jawabnya lalu menyunggingkan senyum.


"Ngaku juga dia, Rob. Udah pastilah malunya nggak ilang-ilang, banyak media yang pasti jepret dia. Tapi aku berharap Abahnya jangan sampai tau, kalau sampai tau kita gawat, Rob." seloroh Aslan sampai membuat Ahmad Sastrawinata menggeleng akan kelakuan cucunya yang tak berubah.


"Sudah-sudah, kalian berhenti bercanda. Acara tidak akan mulai jika kamu–Aslan masih cengengesan." kata kakek Ahmad tegas. Tapi sepasang bibir Aslan meringis semakin lebar terlebih Samira terus menunduk malu dengan pipi merona.


"ASLAAANNN!!" teriakan bariton dari kakek Ahmad kontan membuat Aslan mengatupkan mulutnya. Sunyi senyap. Pada bengong dengan suara kakek Ahmad yang mengeluarkan seluruh tenaganya sampai urat-uratnya dilehernya nyaris putus hanya untuk membuat Aslan sadar.


Sementara itu, Samira mengambil air mineral di tenda.

__ADS_1


"Minum dulu kakek."


"Terima kasih, Samira." Kakek Ahmad tersenyum dengan mata yang tak lepas dari Aslan, "lakukan dengan baik Aslan!"


Aslan menghela napas sambil mendekati meja besar di bawah tenda yang membentang sepanjang lima meter di atas tanah yang akan di garap perusahaan mereka. Sudah tersedia nasi tumpeng dan lauk pelengkapnya sebagai tanda selamatan tanda awal pembangunan mega proyek pembangunan mal dan hotel.


Aslan mengangkat kepalanya dengan wajah serius, ia hanya akan menjadi pembuka, peresmi dan pemimpin karena kakek sendirinya lah yang akan memimpin doa hari ini.


Ahmad Sastrawinata sendiri orang lama yang bergerak di bidang properti. Kiprahnya tidak perlu dipertanyakan lagi, ia benar-benar mumpuni berkat kegigihannya mendirikan perusahaan mereka.


Aslan dan kakek Ahmad gantian memotong tumpeng. Lalu mereka tersenyum, membiarkan awak media memotret, dan memotret, mencari adegan-adegan yang menarik dalam acara tumpengan dan peletakan batu pertama.


"Semoga kerja sama kita akan menjadi kerja sama yang terikat secara kekeluargaan dan kebersamaan." kata Aslan.


Tepuk tangan meriah dan gemuruh suara yang diciptakan oleh para pekerja bangunan dan beberapa awak media, suasana menjadi menghangat apalagi saat peletakan batu pertama selesai dilakukan oleh Ahmad Sastrawinata dan Aslan secara bersamaan.


Samira tersenyum lega ketika acara benar-benar selesai tanpa kendala dan berakhir dengan makan bersama.


Samira memberikan botol air mineral saat Aslan menyentuh lehernya seolah bahasa tubuh yang mengatakan bahwa ia haus.


Samira yang duduk berjarak dengan Aslan mengangkat kedua telapak tangannya di depan muka Aslan.


"Biasa aja ternyata." Senyum Aslan terlihat mengejek, "Untung gak nangis tadi."


"Kalo nangis Aslan bingung Sam gimana menghapus air matamu." sahut Robby, pria perlente yang mengenakan jas biru dengan dasi kupu-kupu itu meringis. Tak terelakkan, Aslan mengiyakan.


"Bapak udah janji kok tadi." protesnya, "masa udah lupa, atau mau aku bikin tambah lupa?" ancam Samira sambil meraih batu.


"Makanya, Sam. Tolong di ingat bapak Aslan ini biar nggak nyentuh kamu." sahut Robby hingga Samira nyaris mengeluarkan komentar balasan.


"Padahal sebagai asisten pribadi dan lagi masa training, lihat aku keringat gini harusnya Samira udah siaga satu, buru-buru cari tisu terus usap-usap keringatku. Ini malah ngambil batu. Emang Rob, anak Abah nggak ada lawan."


Dan tanggapan Aslan membuat Samira mencampakkan batunya kembali ke tanah. Bapak mau sekali-kali dimarahi Abah?" sunggutnya kesal.


"Boleh deh kapan-kapan, biar aku tau gimana rasanya jadi kamu." sahut Aslan tenang, dilihatnya muka Samira yang tercengang.

__ADS_1


Tau Abah galak, ini malah nantangin.


"Deal, apa kita perlu tanda tangan di atas materai?" tanya Samira dengan muka menantang.


Aslan dan Robby kontan merasa mempunyai lawan main yang seru. Mereka terbahak-bahak bersamaan dengan datangnya kakek Ahmad.


"Robby, ikut kakek untuk melakukan koordinasi dan konsultasi dengan arsitektur bangunan hari ini di kantornya."


"Siap, kek." Robby berdiri, "kalian berdua baik-baik, terserah kalo mau cinta lokasi, tapi tanggung sendiri risikonya." ujarnya sambil menatap Aslan.


Aslan menggaruk pipinya dengan muka geli. "Gak usah di dengar, Sam. Robby bercanda."


Samira mengulurkan lima lembar tisu untuk Aslan. "Harusnya memang begitu, tapi siapa yang bisa melarang cinta lokasi? Bahkan konon katanya Nabi Adam dan Siti Hawa pun bertemu di tempat yang sama setelah 500 tahun berpisah atas izin Allah. Itu bisa di sebut cinta lokasi kan?"


"Tapi apa hubungannya dengan kita, Sam? Jangan bilang kamu udah ada percikan asmara denganku." tukas Aslan sambil menguap wajah dan lehernya.


Cuaca semakin siang, semakin terik dan menyengat.


Samira mengendikkan bahu, "Aku cuma cerita."


Keberadaan mereka pun terus terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang marahan. Samira yang acuh tak acuh tapi menuruti keinginan Aslan. Aslan yang mulai ketergantungan dengan keberadaan Samira.


"Ikut aku cari kepala mandor, Sam. Habis itu kita ke kantor."


"Baik, pak. Nanti jam dua ada meeting dengan bapak Wahyudi mengenai pengadaan alat berat dan infrastruktur politik. Bapak membutuhkan sesuatu? Baju ganti misalnya atau pertemuan dengan bawahan bapak di kantor untuk koordinasi lagi?"


"Semuanya saya butuhkan."


Keduanya berdiri. Menghampiri mandor bangunan yang sedang mengamati cetak biru atau kerangka kerja terperinci sebagai landasan rancangan bangunan baru bersama asisten arsitek.


Keberadaan mereka pun tak terelakkan dari kamera para pewarta hingga membuat seseorang yang jauh disana terbetik hatinya untuk mengganggu.


•••


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2