
Aslan memandangi gedung pernikahan Samira dan Harviza yang berada di desa Salakan. Gedung serbaguna yang dibangun di atas tanah desa itu sering digunakan untuk berlatihan olahraga badminton, juga senam ibu-ibu pun acara-acara formal seperti ini. Tidak mewah seperti di gedung-gedung yang biasa dia kunjungi untuk menghormati relasi bisnis tetapi di sini meriah. Aslan tak pernah mendapati pesta yang seperti ini sebelumnya. Tiga penjual balon aneka bentuk berisi gas helium laris manis di serbu tamu undangan, sebab di situ tertulis gratis untuk tamu undangan, satu anak satu.
Aslan tersenyum, meski terlambat sebab angannya sudah tumbang sampai berdiri pun melaju ke tempat itu dia masih bisa menegakkan tubuh, menyebarkan senyum ramah dan ia belum melewatkan kesempatan melihat bidadari yang turun dari motor kawasaki resmi dinikahi Harviza.
Samantha terpogoh-pogoh mendekatinya di tengah-tengah kerumunan orang yang telah menunggu kapan ikatan suci itu menjerat Samira dan Harviza dalam ikrar pernikahan di depan penghulu terucapkan.
"Kami nungguin kamu kak!" ucapnya pelan-pelan sembari menengok ke belakang sebentar.
"Samira pengen kakak jadi saksi pernikahannya." imbuh Samantha tegas.
"Kok bisa?" Aslan menatap heran Samantha yang memakai pakaian formal Samira hingga scarf membelit lehernya dengan rapi.
"Aku terpaksa pakai ini." ucap Samantha seolah mengerti tatapan Aslan ke mana arah tujuannya. "Aku lupa bawa ganti dan semalam Samira minta ditemani, dia butuh teman." imbuhnya cepat-cepat.
"Oke..." Aslan memandangi Harviza dan Mustofa yang beranjak dari bangku pergola pernikahan. "Tapi masalahnya aku bukan siapa-siapa, nggak mungkin jadi saksi, ngaco dia!" tolak Aslan lirih.
Pergola pernikahan itu dihiasi kelabu putih yang diikat di masing-masing tiang penyangganya. Dihiasi bunga-bunga yang semua serba putih dan hijau, daunnya.
Samantha menggeleng, tangannya sampai menyentuh lengan Aslan. "Kamu bagian dari hidup Samira, kak. Sungguh-sungguh, dia menganggap kamu kakaknya. Hanya itu yang bisa dia berikan kepadamu. Status sebagai kakak laki-lakinya!"
Mustofa berbaur diikuti Harviza yang tampan sekali dengan balutan pakaian pernikahan warna putih dari kepala sampai kaki.
Mustofa mengiyakan karena pasti Samantha sudah memberitahu, sebab wanita itu pula yang menghubungi Aslan berkali-kali untuk segera bangun dari mimpi buruknya.
"Saya minta tolong nak Aslan terima permintaan Samira, ini berat saya paham buat nak Aslan. Tetapi dia sudah membuat permintaan sebelum menerima lamaran nak Harviza jika nanti sewaktu ijab nak Aslan menjadi saksinya."
Aslan kebingungan, kesediaannya hanya menjadi tamu undangan bukan menjadi saksi, bukan pula menjadi bagian dari keluarga yang bisa melihat betapa gagah dan terlatih Harviza mengucapkan ikrar pernikahannya dengan Samira. Jantungnya berdenyut kenyang, hatinya tertusuk duri yang menyebabkannya susah sendiri.
Dia yakin dia terluka, tetapi mata keluarga Harviza dan Mustofa tampak lebih cemas dari miliknya.
__ADS_1
"Dimana Samira?" tanya Aslan, dia tidak mendapati calon pengantin wanita di pergola.
"Ada di kamar, Samira akan keluar setelah ijab kabul selesai." Harviza menjawab.
Aslan bersyukur, dia masih ingat jelas bagaimana mimpinya semalam, mimpi di tinggal Samira pergi menjauh. Siksaan tak kasat mata ini menggelisahinya sepanjang malam hingga ia terus-menerus mencoba tertidur pulas sampai akhirnya terlambat.
Aslan yakin, Samira pasti khawatir terkurung di dalam kamar tanpa kepastian dan sama khawatirnya dengan orang tua dan Harviza. Dia nampak berpikir sebentar, tetapi dia akui, dia butuh waktu untuk bertemu Samira sebenarnya sebelum dia resmi menjadi suami orang.
"Tapi sebelum itu boleh saya menemuinya? Sepuluh menit?" tawar Aslan harap-harap cemas.
"Seandainya sepuluh menit sanggup meredakan rasa yang tidak nyaman bagi nak Aslan, atau kami. Saya persilahkan, mari saya antar."
Harviza cemas ketika Mustofa benar-benar mengajak Aslan pergi ke rumah yang berjarak satu wilayah RT dengan gedung serbaguna. Hanya berdua tanpa Samantha yang menatap dua-duanya berlalu.
Samantha menunduk.
"Sekedar formalitas maksudnya?" Samantha menyaut sambil membersihkan kuku-kukunya.
Dengan sabar Harviza mengiyakan, bayang-bayang Aslan memang ada, kadang membuatnya cemas, kadang-kadang pula menyadarkan arti kata menerima. Aslan bagian dari perjalanan hidup Samira meski di persimpangan keduanya tetap akur dan melebur menjadi sahabat.
Harviza mempersilahkan tamu undangan untuk makan-makan terlebih dahulu sebelum ia menyuruh Samantha untuk ikut makan.
"Jangan sampe kegiatanmu yang lebih sibuk dari WO membuatmu pingsan, Sam. Makanlah."
Samantha terperanjat sekaligus geli. "Bener juga, wah, minta bayaran nanti saya." ucapnya dipenuhi canda.
Seiring langkah yang semakin dekat dengan rumah Samira. Tenda yang terpasang di halaman depan menyingkirkan sekejap sinar matahari.
Aslan menghela napas, dia duduk di kursi plastik yang memiliki tanda biru di punggung sandaran sebagai tanda kepemilikan dari wilayah rumah tetangga 07. Dia menunggu Mustofa memanggil Samira.
__ADS_1
Mustofa mengetuk kabar, tanpa lama, barang sedetikpun tak ada, pintunya terbuka.
Samira yang tampak seperti sang dewi bergaun putih bertanya dengan ekspresi antusias. "Pak Aslan sudah datang, Abah?"
"Sudah, kamu hanya punya waktu sepuluh menit untuk bicara. Abah tidak ikut campur, Abah hanya menunggu."
Samira mengangkat gaun pengantinnya, pelan-pelan dia memperlambat langkah sebelum melongok keluar.
"Pak Aslan." panggilnya.
Lelaki itu menoleh, takjub. Si cantik semakin cantik, bahkan Harviza pun belum melihatnya. Lancang memang Aslan, tetapi untuk yang terakhir kalinya mungkin tidak apa-apa. Tolong dimaklumi saja. Aslan sudah cukup lega, Samira tidak melemparinya sendal.
"Bukan salahku, aku nggak tau kamu ingin jadiin aku saksi di pernikahanmu." kata Aslan menjelaskan. "Waktuku cuma sepuluh menit. Sam, aku tahu ini hari bahagiamu. Bahagia dalam arti yang sebenarnya atau bahagia yang belum mencapai sepenuhnya cuma kamu yang tahu. Tapi sebagai sahabatmu dan mantan bosmu, kamu boleh melawanku tapi tidak dengan Harviza. Surgamu ada di sana."
Samira menundukkan kepala. "Itu permintaan yang terakhir, pak. Saya berjanji tidak akan merepotkan lagi. Tapi sebelumnya maaf. Di menit-menit ini saya tahu bapak suka sama saya entah apa alasannya, dan bapak pasti kecewa ini akhirnya. Saya minta maaf setulus-tulusnya. Bapak bisa usahakan sekuat tenaga nanti saya bantu doa untuk melupakan saya karena semalam Samantha mengigau, dia menyukai bapak."
Aslan tak kuasa menahan senyumnya. "Itu saja yang mau kamu sampaikan?"
"Yah, itu saja." Samira tersenyum.
"Hatimu buatku nggak ada? Sedikit gitu, masa pelit banget kamu, Sam!"
"Nggak ada!" Samira menggeleng tapi tersenyum. "Bapak ada di setiap doa saya dan kak Harviza, bapak bahagia dengan orang yang bersedia mendampingi bapak nantinya."
"Terima kasih." Aslan berdiri sembari menghela napas. "Tunggu pengantin laki-lakimu mengetuk pintu kamarmu, Sam dan bukalah dengan senyuman!"
"Iya... Dari tadi nggak bapak nggak Samantha minta aku senyum. Memangnya aku kenapa sih?" Samira berbalik sambil mengendikkan bahu.
......................
__ADS_1