
Aslan bertemu Samira di persimpangan jalan. Tidak hanya ada dua arah yang sanggup membawa mereka ke arah yang berbeda, jauh, dan tidak tahu kapan bisa bertemu dengan lekat. Mereka bergerak pada keinginan dan kebiasaan batin pada tatanan kehidupan sehari-hari yang sudah melekat sejak dini. Namun Ada empat arah. Takdir Tuhan, Orangtua, Aslan dan Samira sendiri. Semua memiliki arti masing-masing dan tak tahu dimana titik temu yang pasti pun tak mungkin ketika khotbah Jumat agung menjadi khotbah jumatan bagi Aslan dan hijab tanggal dari kepala Samira. Walau lumrah terjadi dalam lapisan-lapisan masyarakat di seluruh penghuni bumi tentang cinta beda agama. Satu surat terakhir yang Aslan baca semalam membuatnya lemas.
Dia berjalan tak tenaga ke dalam kantornya hingga membuat Samira yang sudah kembali bekerja terheran-heran di balik meja penerimaan tamu tempatnya membubuhkan absen kerja.
"Cie, lemes, cie... Ditinggal sehari aja lemes, merasa kehilangan saya ya pak?" gurau Samira sembari menaik-turunkan alisnya.
Aslan mendengus sambil menerima sarapan pagi yang Samira buat khusus untuknya. Aslan membukanya dan kembali ia menyaksikan pemandangan yang menggiurkan. Dia merasa lapar, tapi sorotnya semakin sedih, Samira terlihat sempurna, calon istri yang akan membuatnya terus-menerus akan meminta meja makan di penuhi masakannya. Tapi entah calon istri siapa, Aslan tak kuasa memikirkannya walau dia mau mengajukan diri sebagai calon suaminya.
"Makasih, Sam. Tapi aku udah sarapan tadi." akunya dengan lemas, walau terngiang-ngiang dalam ingatan rasa dari omlet dan tumis kikil cabe hijau itu. Dia ingin mengunyahnya, menelannya, tapi sadar dia akan slalu mengingatkannya sebagai masakan terbaik.
Memang lebay si Aslan ini tapi jatuh cinta pada tempat yang tepat dengan syarat paling susah seperti perihal membelah bumi dengan sebilah pisau roti. Sadar, seperti lagu Tulus - Sepatu. Dia sedang sedih-sedihnya terlebih kenyataan bahwa Samira tidak memahami arti dari lemas tubuhnya sekarang. Aslan mogok makan, pun nanti pasti merembet ke mogok kerja. Payah memang, cinta kadang-kadang bikin semangat, bikin lemas, bikin obesitas juga kerempeng dan akan slalu ada kata selamat dari semua itu.
"Bohong banget pak!" bantah Samira sambil menyoret punggung tangan Aslan dengan pulpen. Aslan mencebikkan bibir, tambah panjang kenangan konyol yang tercipta dengan Samira.
Aslan menatap Samira sungkan, Samira menatap Aslan penasaran. Mendadak Samira yang tak pernah mendapati sorot mata sendu itu gelisah.
"Nggak mungkin udah sarapan masih lemes, saham aman, semua deadline masih bisa saya kendalikan, bapak baru nggak enak badan ya?" tukas Samira seraya melambaikan tangan ke arah lobby.
"Pak Robby, sini... Sini..."
Robby menggelinjang dengan cepat sambil menenteng tas kerjanya sampai-sampai membuat Aslan tambah malas bergerak.
"Good morning bidadari surga." sembur Robby di depan Samira, matanya menilai paras Aslan yang berantakan di sampingnya lalu menyunggingkan senyum.
__ADS_1
Gue komporin elo, As. Biar elo sadar jangan terus-terusan sembunyi di balik topeng bos besar.
"Happy dong kemarin habis liburan, seru?" pancing Robby.
Tiba-tiba di kepala Samira terngiang nama Harviza yang menyebalkan, iseng, dan parahnya lagi tadi pagi sudah datang ke rumah. Alasannya bertemu Abah, tapi mata lelaki tidak bisa bohong. Dia mencuri-curi pandang kepadanya sekali-kali dan membuatnya menabrak pintu saking kesalnya. Samira jelas malu dan Harviza menang lagi.
"Alhamdulillah, pak. Mirip makan kerupuk pokoknya." aku Samira.
Mirip makan kerupuk? Maksudnya rame sebentar terus hilang dalam sekejap mata? batin Aslan. Benaknya memikirkan dan terus memikirkan hari kemarin yang Samira terlewati bersama Harviza.
Samira mengamati Aslan yang berkerut sampai melamun. Disampingnya Robby meringis jengah.
Kacau juga si Aslan.
Robby memberi isyarat untuk Samira mengikutinya ke kantor. Meninggalkan Aslan yang untuk pertama kalinya menjadi tontonan pegawainya.
"Aslan, hmm..." Robby memberi jeda sampai lift mengantar mereka ke lantai paling istimewa. Keduanya keluar dan mendapatkan sambutan dari cleaning service yang baru membersihkan kaca sebelum akhirnya keduanya berhenti di pantry.
"Aslan baru banyak pikiran, Sam. Biasalah bos. Eh tapi menurutmu dia kenapa?" tanya Robby sembari membuat tiga kopi untuk menyokong sibuknya kegiatan hari ini.
"Aku tanya langsung ke pak Aslan aja, Pak! Biar di jawab."
Samira menarik kursi lalu menghubungi Aslan. Di depan meja penerima tamu, Aslan tergagap meraih ponselnya yang bergetar di dalam saku celananya dengan setengah sadar.
__ADS_1
"Eh, eh, kok nggak bisa masuk tanganku." Kepanikan Aslan membuat satu karyawan yang melihat terbahak-bahak.
"Ya kali bos, bekal makanan mana cukup di masukin ke kantong celana! Aya-aya wae lah bos ini." sahutnya lalu meraih bekal makanan dari Samira.
Aslan memijat pelipisnya dengan tangan kiri. Kesadaran membuatnya malu sekaligus mencari-cari dimana dua orang yang menjadi kaki tangannya sementara ponselnya terus bergetar.
"Sam!" sentak Aslan. "Dimana kamu!" Tangannya menyambar bekal makan dari tangan karyawannya. Kakinya kembali melangkah setelah Samira terkikik geli di lubang telepon.
Tak pikir panjang, dua orang yang tidak tahu bagaimana malunya Aslan sekarang harus segera dia hukum. Aslan menjejalkan ponselnya ke saku celana dengan rahang yang mengeras.
Andaikan aku sanggup mengurus diriku sendiri. Kalian sudah aku pecat. Kurang ajar memang kalian.
Robby dan Samira berdiri tegak di depan pintu kantor, mereka menyambut kedatangan Aslan di depan ruang kantor seraya membungkukkan badan.
"Selamat pagi bos Aslan yang melamun sendirian." seru keduanya tanpa beban.
Aslan mengamati keduanya. Benaknya campur aduk tapi yang lebih parah dia sedang bersusah hati.
"Kalian tega banget!"
Aslan mendorong kedua pintu dengan dramatis lalu bergeming di depan jendela, ia memandangi beton dan panjangnya kabel listrik sambil berharap Samira bertanya dia kenapa.
Samira memang bertanya sedetik kemudian. Tetapi mulutnya tak sanggup mengatakan kejujuran. Atau mungkin belum saatnya.
__ADS_1
Aslan mendengus. Lelah dengan harapan yang tak mungkin dia junjung, ia melepaskan gelang pemberian Samira.
...***********...