Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Pokoknya harus bisa


__ADS_3

"Ngadu sama kakek?" cibir Aslan, senyumnya sangat-sangat mengejak saudara kembarnya yang lebih tua sepuluh menit darinya itu lalu mendengus melihat penampilan Ardana yang menyerupai dirinya.


"Pengen kelihatan sama, bang? Gak punya pendirian?" ejeknya lagi, memutus jarak hingga sorot mata keduanya saling memancarkan permusuhaan.


"Apa salahnya? Kita kembar, kita punya banyak kesamaan, Aslan." elak Ardana, dengan mudahnya ia merapikan dasi Aslan setelah mencengkeram kerah kemeja adik kembarnya . "Mau meeting kan? Yang rapi dong, jangan bikin perusahaan malu punya bos kayak kamu."


Aslan tertawa sinis sambil menepis tangan Ardana. Berhubung waktu sudah mepet sekali untuk melakukan meeting dengan pak Gandi, ia langsung melesat pergi menuju ruang meeting dan tanpa bisa di prediksi Aslan dan Samira, tubuh keduanya saling bertabrakan sewaktu hendak keluar dan masuk ruangan itu.


Buru-buru Samira memundurkan tubuhnya sambil menyilangkan tangan di depan dada.


Aslan pun hendak menjangkau Samira, namun rasanya sentuhan tak sengaja tadi telah membuat Samira menunduk malu.


"Gak sengaja aku, Sam. Oke, tolong dimaafkan." ucap Aslan pelan. "Aku minta maaf, buru-buru, lagian kamu juga nyelonong keluar tanpa suara."


"Aku buru-buru mau panggil bapak tadi, maaf juga sudah nabrak." balas Samira takut-takut.


Aslan menyunggingkan senyum, ia berbalik, menuju kursi seraya memasang wajah serius. Samira yang melihatnya pun dari kejauhan hanya sesekali tersenyum sewaktu laki-laki itu memandanginya sambil mendengar penjelasan bapak Gandi mengenai proyek pembangunan mega mall itu.


***


"Selamat siang. Spadaaa..."


Seseorang dari dealer motor Kawasaki mengetuk-ngetukkan gembok gerbang rumah Mustofa.


"Selamat siang."


"Waalaikumsalam," Mustofa keluar dari dalam rumah dengan kening mengkerut ketika mobil dealer motor berhenti di depan rumahnya. "Maaf, cari siapa?"


"Maaf bapak, apakah benar ini rumah Samira Adna Agustine?"


"Ya betul." Mustofa mengangguk. "Bagaimana, ada apa?"


Seseorang dari dealer tadi langsung tersenyum lega.


"Kami mengantar motor untuk kakak Samira, mohon maaf bapak bisa buka pintu gerbangnya."

__ADS_1


Mustofa malah menggeleng cepat. Tidak mau, dan sontak membuat orang dealer tadi mengernyit. "Loh kenapa bapak? Ini benar datanya, Samira Adna Agustine dengan alamat Salakan RT 05 kelurahan—"


"Samira tidak mungkin membeli motor ini!" sergah Mustofa, "Dia tidak punya uang banyak!"


"Maaf bapak, tapi ini pembayarannya sudah lunas."


"Kok bisa?" Masih dengan kernyitan yang terlihat kentara, Mustofa kontan membuka gembok pintu gerbangnya dan melebarkan dua pintu besi itu.


"Silahkan nanti bapak menanyakannya kepada putri bapak, tugas kami hanya mengantarnya." Buru-buru orang dealer tadi di bantu rekan kerjanya yang keluar dari mobil menurunkan motor keren yang bikin Mustofa geleng-geleng kepala.


"Untuk apa Samira beli motor seperti ini."


Mustofa menerima tanda jadi dari orang dealer dan terduduk di teras. Antara rasa syukur dan rasa penasaran, dia hanya bisa menunggu penjelasan dari putrinya yang masih di rundung rasa cemas akan si kembar.


***


"Bapak pulang jam berapa?" eluh Samira di penghujung sore.


"Kenapa? Kamu capek?" tanya Aslan sambil menikmati secangkir kopi baru, kopi karamel. "Atau kamu penasaran sama motor kamu udah datang belum?"


godanya lalu cekikikan.


"Emang bapak bayarnya lunas?" imbuh Samira.


Situasi di kantor Aslan langsung di penuhi suara tawa laki-laki itu. Dia berjalan, memandangi gumpalan awan yang berarak di atas langit.


"Masa iya Sam, aku ngasih hadiah ke kamu tapi nyicil! Lucu kamu tuh."


Samira jadi salah tingkah. Dia ikut berjalan ke arah yang sama dengan Aslan, meski masih merentang jarak.


"Makasih, bapak sudah baik." ucap Samira dengan tulus.


Aslan menyesap kopinya sambil mengangguk. Benaknya yang sejak tadi masih keruh karena Ardana tanpa sabar membuatnya mendesah lelah.


"Namanya Ardana, dia abang dan aku adik." Aslan tersenyum masam, "Kalo kamu penasaran kenapa tanganku berdarah emang karena berantem sama dia. Hobi kami kalo ketemu!"

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Samira dengan spontan.


Kembali, Aslan tersenyum masam. Alasannya sudah jelas karena Jesica, gadis yang ia taksir waktu kuliah, tapi namanya kembar kadang dimana ada Aslan disitu ada Ardana, maka tak pelak membuat Jesica kadang juga akur dengan Ardana. Mula-mula Aslan terbiasa, lalu rasanya semua jadi salah kaprah.


"Bapak jangan ngelamun magrib-magrib." oceh Samira sambil menepuk pundak Aslan dengan kemoceng.


"Ah kamu, Sam." Aslan menghela napas, "Pulang yuk, aku udah gak ada jadwal kan di kantor?"


"Tidak ada!" Samira menggeleng.


Aslan menaruh cangkir kopinya seraya memakai jas kerjanya. Samira pun juga membereskan kertas-kertas tak guna yang Aslan gunakan untuk mencoret-coret perihal percakapan penting tadi dengan pak Gandi.


Sejenak, Aslan menatap Samira yang begitu tekun dan sabar menghadapinya. Hingga sebersit rasa takut akan kehadiran Ardana membuatnya meloloskan nama gadis itu.


"Samira Adna Agustine."


Samira yang baru mematikan AC menoleh dengan muka tak percaya. Baru kali ini Aslan si bos pemeras tenaga kerja itu memanggilnya dengan nama lengkap. Seakan-akan ada sesuatu yang janggal terjadi pada laki-laki itu.


"Kenapa, pak?" tanyanya dengan nada yang dipaksa terdengar biasa.


"Tolong kamu bisa membedakan aku dan Ardana." kata Aslan serius.


"Caranya?" Samira meringis bingung, "Bukannya aku gak bisa, bapak Aslan dan Ardana kelihatan sama persis kan kembar."


"Kita beda, Samira!" ucap Ardana jengkel, "Aku sama Ardana beda."


"Iya." jawab Samira, tapi dia meringis sambil menunduk.


Aslan menarik napas lalu menghembuskannya kuat-kuat.


"Pokoknya kamu harus bisa membedakan aku dan Ardana, gimana pun caranya!" pungkas Aslan sambil meraih tas kerjanya.


"Kita jalan sebentar!"


Dari ringisan geli terus berubah menjadi waspada. Samira mengikuti Aslan dengan langkah terburu-buru keluar kantor.

__ADS_1


"Kemana, pak? Kan aku mau pulang, Abah udah gak tenang ini pasti nungguin aku pulang." Samira meraih tas kerjanya di dalam kubikel tempatnya bekerja.


"Cuma sebentar, Samira! Udah ayo, buruan." desak Aslan yang membuat Samira batal merapikan jilbabnya.


__ADS_2