Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Si paling salah tingkah


__ADS_3

Keesokan harinya di rumah Mustofa. Samira yang merasa seluruh tubuhnya telah bekerja sangat keras berjalan lunglai ke meja makan.


Tercium aroma seblak kesukaannya walaupun itu sama sekali tak membangkitkan semangatnya.


"Abah, aku capek banget." keluhnya sambil melipat kedua tangannya di atas meja seraya menjadikan bantal untuk kepalanya bersandar.


"Kemarin aku di beliin baju-baju sama bapak Aslan buat meeting dan ketemu mamanya. Abah besok malam Minggu kasih izin Samira untuk keluar rumah gak?" tanyanya sambil menatap ayahnya yang sedang berdzikir dengan tasbih digital di kursi goyang.


Mustofa yang tetap diam tak pelak membuat Samira lanjut menjawab semua rasa penasaran ayahnya kemarin. Dan bagai kotak musik yang mengalun dengan tempo cepat, Samira mengatakan semuanya tanpa sedikitpun kebohongan.


"Jadi semua itu memang hadiah dari pak Aslan, bah. Apa aku boleh memilikinya? Karena tadinya motor itu buat Abah biar gak perlu naik sepeda kalo kemana-mana, cuma pak Aslan mau aku pakai itu buat kerja." urai Samira seraya meneguk air putih.


"Terus?" tanya Mustofa.


"Abah pakai Supra-nya mau?" tanya Samira, dia meringis malu.


Mustofa ketularan meringis melihat Samira begitu salah tingkah mengutarakan maksudnya.


"Abah justru senang ada orang baik yang menolong Abah, Sam. Pakailah."


Dalam hati Samira ingin menjerit senang, tapi abahnya pasti akan segera mengutuk keras kelakuannya, jadi mendingan dilahapnya seblak yang tak begitu pedas itu sampai habis. Sementara Mustofa masih terngiang pada paras Aslan semalam. Laki-laki itu tidak mengucapkan salam baik saat datang atau pamit padahal dari CV lengkap harusnya ia sudah tahu bahwa Samira adalah seorang muslim.


"Aku siap-siap kerja dulu, Bah." Samira menoleh sambil mencuci mangkok bekasnya di wastafel. Dia mengeringkan lalu berjalan mendekati abahnya dan menggenggam tangannya.


"Samira lagi nabung buat berangkatin Abah naik haji, jadi Abah sehat-sehat ya. Jangan lupa masak walaupun Samira gak ada di rumah."


Mustofa mengangguk, "Amak pasti bangga kamu punya tekad kuat, tapi Samira juga ingat jangan lupa makan dan sholat di sela-sela jadwal kerjamu."


"Sam gak akan lupa, Bah. Tuh, Abah udah di panggil ayam-ayam Abah." gurau Samira ketika ayam-ayam ayahnya di halaman belakang berkokok ribut sambil gedubrakan di kandang. "Lapar itu, bah."

__ADS_1


"Udah Abah kasih makan, Sam. Paling-paling mereka cari perhatian Abah." Mustofa menaruh alat dzikir digitalnya di dekat rice cooker seraya berdiri.


Dua insan yang berada di rumah itu mulai sibuk sendiri-sendiri. Samira menaruh bedaknya namun matanya menangkap plastik merah muda berisi gelang-gelang yang dipilih Aslan semalam di gantungan aksesorisnya.


"Apa nanti pak Ardana ke kantor lagi? Kenapa juga kayaknya pak Aslan benci sama saudara kembarnya sendiri, ini tuh pasti ada apa-apanya." Samira menduga-duga sambil memasang satu gelang yang menurutnya cocok dengan pakaiannya. Ia menjangkau tas kerjanya, lalu pindah ke garasi rumahnya yang dulu sempat dijadikan ibunya berjualan warung kelontong.


Samira berdecak kagum dengan adanya motor keren yang semakin membuat motor jadulnya terlihat kalah tampan.


"Kamu jadi milik Abah sekarang, Supra. Baik-baik sama Abah, jangan mogok, kasian Abah sudah tua."


Samira tersenyum seraya menggeber motor barunya ke perusahaan dengan semringah. "Keren juga."


Memasuki halaman perusahaan,


kedatangannya menggunakan motor pria diarea kantor membuat siapapun yang melihatnya berdecak kagum.


Mereka terpana melihat tampilan Samira yang menggunakan jaket kulit dan helm full face. Bukan tampilan seperti pekerjaan kantor pada umumnya, yang lebih suka menggunakan sesuatu yang menarik perhatian lawan jenis. Samira justru menggebrak situasional dengan menunjukkan sesuatu yang berbeda.


"Aku bukan tontonan!" Tiba di dalam kantor Samira semakin menjadi pusat perhatian karyawan lainnya. Mereka menatap Samira dengan tawa yang hampir meledak tatkala Samira belum melepas helm yang ia pakai.


Samira kebingungan, pun dengan kepolosannya ia ikut mencari sumber tawa yang membuat karyawan-karyawan lain tergelak bersama-sama.


Di teras perusahaan, jaguar hitam berhenti meraung keras. Aslan keluar dari mobil dengan percaya diri, ia pun yang baru saja tiba di kantor ikut mengarahkan pandangannya ke pusat perhatian seluruh satpam yang biasa menyapanya dengan senyum sopan tidak tahu kehadirannya.


Tibalah, di tengah ballroom perusahaan di bawah lampu kristal. Aslan terbahak sebentar Ada-ada saja dia.


Aslan mendekati Samira sambil memberi peringatan kepada pegawainya untuk membubarkan diri.


"Sam..." panggil Aslan. Samira berbalik, ia mengangguk sopan, "Iya, pak!" jawabnya.

__ADS_1


"Sudah sarapan?" tanya Aslan dengan senyum yang mengembang sempurna di kedua sudut bibirnya.


"Udah pak, tadi pakai seblak."


"Seblak, bukan nasi?"


Samira mengangguk dan tetap mencari informasi apa yang terjadi dengan sorot matanya. Aslan tersenyum maklum seraya melepas pengait helm Samira melepaskannya dari kepalanya. Kejadian itu membuat Samira ingin sekali menepis tangan Aslan tapi.


"Nih, bikin semua orang ngakak karena ulahmu sendiri. Gimana bisa, Sam?" Aslan mengulurkan helm Samira.


"Saya gerogi, pak! Jadi lupa kalau helm ini masih di kepala saya." ujar Samira malu banget, helm full face bisa-bisanya sampai lupa, atensi apa yang mengambil alih isi kepalanya, ia menunduk. Bibirnya masih senyum-senyum sendiri sambil mengutuki kebodohannya sendiri.


Aslan tersenyum lebar. "Sudah sampai motornya? Ayo ke atas!"


Mereka pergi ke lift. "Sudah, pak. Terima kasih, motornya bagus banget!" puji Samira, luapan rasa bahagia ikut menyebar ke bagian lain di tubuh Aslan.


"Abah bilang kalau saya keren menungganginya, menurut Bapak bagaimana?" tanya Samira.


"Aku belum melihatmu menunggangi motor barunya, Sam. Jadi kapan-kapan kita bisa touring bersama. Kamu mau?" tawar Aslan, iapun juga membeli motor dengan tipe yang lebih laki banget tanpa sepengetahuan Samira.


Samira berpikir sejenak. "Senin sampai Jum'at kita kerja, pasti lembur. Sabtu dan Minggu bapak quality time dengan keluarga. Saya rasa kita tidak ada waktu untuk touring bersama!" urainya realistis, belum lagi kadang-kadang Sabtu Minggu tetap kerja.


"Lagipula, bulan ini bapak sibuk meeting dan meninjau lokasi pembangunan." lanjut Samira mengingatkan.


"Nanti kita re-schedul jadwal, ambil satu hari yang cukup longgar dimana kita bisa touring bareng!"


"Nanti saya urus, pak!" pungkas Samira.


Mereka keluar dari lift. Samira pergi ke pantry untuk menyiapkan sarapan pagi yang ia bawa untuk Aslan, seblak buatan Abah dan membuatkan kopi untuk Aslan. Sementara laki-laki itu duduk di kursi lalu menangkap secarik kertas bertuliskan.

__ADS_1


Sepatu baru kamu bagus juga, As. Beli dimana? :D


"Ardana!!!!"


__ADS_2