
Rahardian mendorong pintu ruang kerjanya yang selama bercerai dengan Cornelia tetap menjadi ruang kerja terbaiknya. Nuansa hitam langsung terlihat elegan dan mengkilap dengan satu pigura besar di dinding ruang tamu menjadi sajian paling khas di ruangan itu. Potret masa kecil ketika Aslan dan Ardana baru bisa duduk. Si kembar itu tampak menggemaskan dengan pipi tembam sambil memakai baju natal dan membawa lonceng emas sendiri-sendiri.
Aslan dan Ardana saling beradu pandang. Rasa cemas menjalar di sekujur tubuh keduanya ketika hendak memasuki ruangan itu. Selain memiliki kesan angkuh dengan suasana hitam dan dingin, ruangan itu kedap suara.
Hal-hal yang akan terjadi dan dibicarakan di dalam sana akan bersifat rahasia.
Pernah kasus yang melibatkan cinta segitiga antara si kembar dan Jesica membuat ketiganya harus menghadapi kemarahan Rahardian di ruangan itu, belum lagi pertengkaran-pertengkaran sepele yang setiap kali terjadi, Rahardian sendiri yang harus turun tangan.
"Abang duluan!" Aslan mengerakkan rahangnya ke arah ruang kerja ayahnya. "Abang lebih tua dariku!"
"Kita cuma beda lima menit usianya, As. Jadi gak ada bedanya. Elo sama gue seumuran!" elak Ardana, dia sedang ingin memastikan keinginan ayahnya mengajak keduanya ke ruangan seperti ruang sidang skripsi itu tidak berkaitan dengan tindakannya beberapa Minggu ini. Debar jantungnya tak karuan, telapak tangan basah dan sekali ia lihat wajah ayahnya, rontok semua kestabilan jiwanya.
"Kalian masuk bersama, pintu ini muat jika kalian ingin tahu dan tidak perlu meributkan siapa dulu yang harus masuk ke ruangan papa." kata Rahardian di tengah ambang pintu.
"Ada apaan, pa? Ada yang penting?" tanya Ardana, dengan langkah yang seperti tertahan jangkar dia masuk terlebih dahulu, diikuti Aslan satu menit kemudian.
Aslan dan Ardana memilih tempat duduk yang berbeda, satu di sofa besar nan empuk, satu bersandar di lemari pajangan. Aslan merogoh ponselnya seraya mengetuk sesuatu untuk Samira.
‘Pagi, Sam. Tolong pandangi langit sekarang!’
Di rumah Mustofa Samira yang terburu-buru mengenakan sepatu wedges meraih ponselnya yang bergetar-getar dengan cepat.
__ADS_1
Samira mendesis. "Miss call aja, iseng banget hidup kamu, pak!" omelnya lalu memeriksa isi chat yang di kirim Aslan. Samira mengernyit, "Emangnya langit kenapa?"
Dengan situasi yang dipaksa kelam, Samira melangkah beberapa meter keluar rumah seraya mendongkak. Awan hitam terlihat berkumpul, entah mau menghujani bumi bagian mana. Matahari nampak malu-malu memperlihatkan sinarnya.
Samira menunduk. Dengan cekatan dia membalas pesan untuk Aslan.
‘Langitnya sedikit mendung, pak. Kenapa? Bapak alergi hujan?’
Aslan mengulum senyum, dengan sibuk dan tak tahu diri Rahardian sedang menunggu anak-anaknya siap berdiskusi dan berdialog. Aslan membalas pesan Samira sambil senyum-senyum sendiri.
‘Tidak apa-apa, itu sama seperti hatiku sekarang! Cerah-cerah, mendung.’
‘Yang penting bapak tidak meriang ’
"Meriang?" respon Aslan sambil mengernyit, "Apa hubungannya cerah-cerah mendung sama meriang?"
"Itu artinya kamu jangan hujan-hujanan, Aslan." Rahardian menyaut ponsel anaknya, lalu menyimpannya di laci.
"Pa!" Merengek, Aslan mengikuti ayahnya untuk meraih kunci laci di meja kerjanya. "Hp ku penting, pa."
"Duduk dulu dan dengar papa bicara!" Rahardian mendorong bahu Aslan untuk duduk di dekat Ardana.
__ADS_1
"Udah kali, As. Ntar juga ketemu Samira, masa jam segini udah—" Tiga orang laki-laki di sana berbarengan menghadap pintu masuk yang terbuka. Cornelia datang sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna kuning telur.
"Belum dimulai, Har?" tanya Cornelia, dia duduk di sebrang Aslan. "Untuk kamu, As."
"Untuk aku mana, mam?" sahut Ardana. "Masa cuma Aslan doang." Ardana hendak meraih kotak itu untuk memeriksa apa isinya namun oleh ibunya langsung di tepis. Cornelia melotot, ia mencondongkan tubuhnya untuk menaruh langsung ke tangan Aslan.
"Untuk kamu nanti waktu kita ke Lombok, Ar. Habis ini kamu ikut mama ke sana untuk ngurus hotel dan resort disana, biar perusahaan mu yang di sini papa yang handle."
"Kok gitu, mam! Ayolah, semua teman-teman ku ada disini." Ardana berdeham, berusaha mengontrol emosinya yang meningkat, "Mama dan papa udah sekongkol pasti. Udah kan?" tukasnya seraya menatap orang tuanya bergantian.
"Mama dan papa hanya ingin kalian mempunyai tujuan hidup masing-masing, kami tahu kesukaan kalian hampir sama. Namun tidak dengan satu perempuan, mama dan papa tidak akan pernah setuju jika kalian mengulangi masalah Jesica lagi. Mama akan jujur, mulai hari ini kalian pindah pengawasan alias tukar tempat untuk sesuatu yang lebih baik. Mama berjanji atas nama Tuhan."
Rahardian menimpali dengan anggukan.
Sementara itu, setegas-tegasnya Rahardian bagi Ardana dan kesibukan yang membuatnya terlampau bebas kadangkala membuat Cornelia mampir ke hatinya. Ardana jadi bertanya-tanya, benarkan keputusan mereka saat ini?
Aslan diam-diam tersenyum dalam hati, Ardana pergi ke Lombok, jauh dari Samira. Keputusan itu sedikit mengurangi rasa was-was nya tapi kotak kuningnya yang berada di pangkuannya dan spesial hanya untuknya malah menggerogoti kewarasannya.
Aslan dan Ardana saling bertatapan, lagi-lagi kata hati yang sefrekuensi bicara. Ardana lebih dulu mengiyakan. "Aku setuju, anggap aja sekalian liburan." katanya santai.
Cornelia dan Rahardian sontak saling pandang. Ada yang salah sepertinya, tapi tidak apa-apa. Urusan itu bisa dicari belakangan sementara Aslan yang sedang memikirkan meriang dan keputusan Ardana sama sekali tidak bahagia.
__ADS_1