
Sepanjang sisa malam menjelang pernikahan Samira. Aslan termangu di ruang keluarga, dia merebahkan setengah tubuhnya di sandaran sofa sementara asap rokok mengepul perlahan-lahan dari mulutnya. Menguar aroma tembakau di udara perlahan-lahan seraya menghilang.
Aslan tersenyum malas. "Benar-benar nikah dia." Ia kembali memasukkan putung rokok ke mulutnya. Rasanya lumayan untuk memuaskan rasa penasarannya kepada siapa gadis itu akan berlabuh, bukan dengannya jelas bukan. Tapi kenikmatannya ada pada setiap perdebatan kata dengan Samira. Dan setiap tundukan kepalanya serta senyum malu merekah kan senyumannya.
"Mungkin aku hanya sebatas kagum kepadanya." Aslan mengusap-usap dagunya. Detail-detail perjalanan yang telah dia lewati terpentang di ingatannya dalam pejaman mata. Samira adalah wanita pertama yang menjadi asisten pribadinya. Dengan sabar pula dia mengajarinya cara berbisnis dan mengelola sumber dayanya hingga menjadi wanita yang berada di tempat terbaik di perusahaannya.
Aslan tersenyum sendiri. Dalam percakapan yang terjadi dengan gadis yang sekarang tak mampu terlelap lega dalam kamar pengantin, Aslan sempat terpukau pada rangkaian kata yang Samira berikan terakhir kali dia bekerja bersamanya.
Keadaan punya kenyataan.
Meski mereka beriringan.
Tapi disitulah mereka.
Menemukan persimpangan.
Aslan tersenyum lagi. Samira peka dengan caranya. Dan sudah ia duga, tingkahnya yang tak biasa adalah tameng yang menjauhkannya dari meski tak sempat dia memiliki kesempatan untuk dan kini dia mulai mengenal dirinya malah jauh lebih baik ketika tak dekat.
Aslan menguap. Hembusan angin malam dari jendela tinggi yang terbuka seakan mengajaknya berkencan dengan khayalan lebih lama. Dingin mendekap. Menggodanya untuk tetap mengaduk-aduk kegundahannya.
"It's my destiny and i have to go, cause i have to go."
Ini takdirku dan aku harus pergi, karena aku harus pergi.
__ADS_1
Aslan menyugar rambutnya. Malam itu dia lamunkan juga bagaimana pernikahan Samira tanpa adanya Samantha, kesan menyedihkan pasti tersemat pada dirinya. Senyum di sudut bibirnya memudar.
"Nggak enak banget jomblo." Aslan mendekap bantal sofa. Dia menganggap entah bagaimana Samantha adalah penolongnya sekarang, untunglah ada dia. Aslan tersenyum tenang hingga lama-lama wajahnya yang kusut dan kehilangan rona semangatnya berubah tenang.
Aslan terlelap dan saat-saat dia merasa hidupnya jauh lebih tenang di penghujung pagi. Samira terjaga dengan jantung yang seperti mengayuh sepeda dari bukit ke lemah. Dia menyentuh dadanya sambil menatap Samantha yang menemaninya. Gadis yang semalam memakai scarf untuk melilit kepalanya ala cover majalah fashion terkenal masih terlelap.
"Aku benar-benar akan menikah. Ya Allah. Gimana caranya biar pipiku tidak merona, napasku biasa aja. Kak Harviza pasti bisa melihat eksistensi bahagia di wajahku nanti." Kepanikan Samira luruh ketika kumandang adzan subuh terdengar, buru-buru ia melenggang ke kamar mandi setelah menyaut handuk. Ia mandi sewajarnya tak seperti pengantin yang menyiapkan diri lebih lama.
Seusai mandi, Samira sudah memikirkannya masak-masak untuk menggugah Samantha.
"Bangun, Sam. Bangun. Udah subuh."
"Hah!" Samantha tersentak dengan keras, linglung dia menatap ke kanan ke kiri seolah baru kembali dari dunia lain dan terpaksa Samira mengangkup kedua pipinya dengan tangannya yang dingin.
Samantha tergeragap, lalu matanya yang masih ngantuk menatap Samira sambil meringis.
Samantha hampir mencerocos tanpa henti sebelum bersin-bersin yang teramat lama seperti alergi saja. Dia mengibaskan tangan ketika suara Iqamah terdengar sebelum membersit hidungnya.
"Udah sana salat." suruhnya dengan suara serak.
"Ya, tapi kamu buruan mandi. Kalau butuh baju-baju baru ada di lemariku paling atas, semua masih baru dari bos besar dulu!" ucap Samira sambil berlalu.
Samantha berdiri, menuruti ucapan Samira. Dia membuka lemari paling atas dan terbelalak melihat isinya.
__ADS_1
"Gila, warna-warni semua. Bisa jadi cewek kue gue." Tapi mata dan tangannya mulai mencari pakaian yang pantas dia pakai untuk acara pernikahan nanti.
***
Cahaya matahari pagi menyusup melalui jendela yang terbuka. Sentuhan hangat di punggung Samira membuatnya jauh lebih tenang. Ada kehangatan yang menyerupai pelukan ibu setelah ia menggigil dalam kecemasan yang tak kunjung usai.
"Sambil makan, Sam. Ayo, hak!" Samantha mengulurkan bubur sum-sum yang di buat para wanita-wanita kuat yang menjadi koki dalam acara pernikahan Samira. Wanita-wanita itu adalah tetangganya sendiri, para istri dari tetangga Mustofa yang berbaik hati meluangkan waktu untuk membantu pernikahan putri kesayangannya.
"Nggak ngerepotin?" tanya Samira.
Tangannya yang sedang di lukisan dengan henna tak bisa berbuat banyak, menggaruk leher yang digigit nyamuk pun tak boleh.
"Nggak, Sam. Santailah kayak sama siapa aja kamu." Samantha tersenyum, Wajahnya tidak menunjuk kepura-puraan, dia menyuapi Samira seperti seorang sahabat lama dengan tulus dan sesekali sepasang mata penuh sayangnya menatap Samira.
"Kenapa liatnya gitu?" tanya Samira heran sembari mengulurkan segelas teh hangat, terdapat juga sedotan plastik di sana.
Samantha tersenyum lepas.
"Kamu harus bahagia nanti, senyum buat calon suami kamu."
Samira tersenyum malu, pipinya merona. "Tidak bisa, aku terlalu malu tersenyum padanya dan itu hal yang memalukan yang bisa seorang perempuan lakukan." Ia bergidik ngeri.
Samantha tertawa. Ada-ada saja batinnya, pantas sekelas Aslan jatuh hati pada sikapnya yang hangat-hangat kuku serta humor yang berbeda.
__ADS_1
"Tapi sumpah, Samira. Kamu harus tersenyum untuk Harviza!"
...*********...