Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Neraka buatan Aslan


__ADS_3

Samira tiba di kantor satu jam setelah terjebak macet. Matanya mengedar mencari mobil Aslan di parkiran, ia mendesis lelah tatkala mendapati mobil jaguar hitam sudah berada di parkir VIP kantor.


"Sudah gak sarapan pagi, sekarang harus menghadapi ocehan bos besar. Ingin rasanya aku pura-pura pingsan!"


Samira menuju ke lantai enam menggunakan lift, dalam hati harap-harap cemas ia menaruh tasnya asal-asalan di ruang ganti.


"Tumben datengnya siang, Sam!" tanya Siti dengan sinis.


"Mimpi buruk aku, Mbak." Samira buru-buru merapikan jilbabnya dan meniti wajahnya di cermin. "Maaf, Mbak."


Siti, senior yang harus mengawasi kinerja Samira nampak menghela napas.


"Bos besar minta kopi buatan mu.x


Samira langsung menuju coffee marker dan membuatnya.


"Paling ini cuma akal-akalan pak Aslan untuk menghukumku!" eluh Samira dalam hati sambil berjalan menuju ruang kerja Aslan membawa secangkir kopi hitam less sugar dengan bubuk kayu manis.


"Pagi, Sam." sapa Robby sebelum masuk ke ruang kerjanya yang terletak di samping ruang kerja Aslan.


"Pagi, Pak. Mau kopi juga?" tanya Samira menawarkan.


"Saya sudah ngopi di rumah, Sam! Buatan istri." Robby tersenyum.


"Syukurlah, pak! Saya antar kopi dulu ke pak Aslan. Mari."


"Ti-ati, Sam. Aslan nggak mentolerir karyawan telat."


Samira tersenyum masam sambil mengetuk pintu ruang kerja Aslan. "Assalamualaikum. Selamat pagi, pak." serunya.


Aslan membuka pintu ruang kerjanya dan betapa malangnya wajah Samira kemudian mendapatkan kejutan dari Aslan.


"Jam berapa ini?" ucapnya dengan nada yang di paksa galak. "Apa kamu sudah bosan kerja?"


Samira menggeleng. Wajah teduh yang menyejukkan hati itu, mengangkat tatapannya.


"Maaf, pak. Maaf, ini yang terakhir kali saya terlambat." janjinya.


"Saya belum sarapan pagi, Sam. Tolong carikan saya sarapan sebagai hukumannya!" Aslan berbalik sambil menguap lebar-lebar tanpa suara.


Masih ngantuk banget aku. Parah, mana meeting dua jam lagi.


Samira mendesis dalam hati, "Dia punya ponsel, kenapa tidak pesan saja lewat ojek online. Manja. Bahkan aku belum kepikiran untuk sarapan pagi!"

__ADS_1


Samira menaruh secangkir kopi yang nggak banget rasanya ke meja kerja Aslan.


"Bapak mau sarapan apa?" tanya Samira sambil meraih bungkusan permen kopi.


"Apa saja yang enak." jawab Aslan ketus.


"Tapi—"


Samira menahan ucapannya, padahal sejak kemarin apa Aslan tidak sadar kalau semua makan siang dan sore ia yang membayar? Padahal juga ada layanan katering yang slalu ada. Tapi kenapa laki-laki itu tidak suka memakannya. Huh, menyusahkan orang.


Samira mengangguk pasrah. "Baiklah, bapak mau sarapan apa? Jangan yang mahal-mahal, bapak tahu kan, saya belum gajian." ucapnya dengan rikuh.


"Apa saja, Sam. Kalau perlu besok-besok kamu yang menyiapkan saya sarapan pagi!" Aslan mengulurkan secarik kertas perjanjian di atas materai. "Tanda tangan."


Samira sontak menyembunyikan tangannya ke belakang.


"Gak mau, masa harus aku yang menyiapkannya. Bapak kan orang kaya, punya pembantu, atau koki pribadi. Masa aku!" eluhnya tak terima.


"Pokoknya tanda tangan jika kamu maaih ingin kerja di sini!" Aslan menggerakkan tangannya.


"Dasar, di kasih hati minta ampela!"


Samira berlalu dengan mulut yang menggerutu kesal. Ia mengambil ponselnya dan memesan dua porsi sarapan pagi.


Samira kembali ke ruang kerja Aslan dengan kaki yang ingin menendang pintunya.


"Lama-lama jadi istrinya Aslan kamu, Sam!" sahut Robby yang sedang berada di ruangan Aslan. Dari gelagat atasannya itu jelas. Lagaknya saja Aslan menggunakan jabatannya untuk menyuruh Samira sesuka hatinya, padahal ada maksud terselubung di balik semua itu.


"Lama-lama tugas saya bukan jadi cleaning servis, Pak! Tapi berubah menjadi baby sitter pria dewasa!" sahut Samira dengan sinis, seraya menuangkan air putih untuk Aslan.


"Silahkan bapak." Samira tersenyum kecut.


Robby terbahak. Raut muka Samira terlihat tertelan tapi harus tersenyum.


"Maklumlah, Sam. Bos besar memang butuh perhatian. Oh iya, besok kamu mau ikut ke lokasi proyek? Ada perletakan batu pertama disana." ajak Robby setelah kongkalikong dengan Aslan.


Samira mengangkat bahunya. "Tidak bisa, Pak. Saya hanya cleaning servis disini. Tugas saya hanya bersih-bersih kantor!" tolak Samira realistis dan memutuskan melakukan rutinitasnya di dalam ruang kerja Aslan.


Meski kecewa Aslan masih punya cara. Ya masih, contohnya saya meminta Samira untuk pergi ke divisi sumber daya manusia di lantai dua.


Sambil kebingungan mencari ketua divisi sumber daya manusia yang dimaksud oleh Aslan. Samira celingukan ke sana ke mari dengan rikuh.


"Cari siapa?" tanya seorang laki-laki yang menyadari kebingungan Samira.

__ADS_1


"HRD, mas Pras." jawab Samira sambil menunjukkan map biru dari Aslan.


"Ikut saya!"


Samira mengekorinya. Tiba di ruangan divisi sumber daya manusia itu, ia terkejut ternyata HRD-nya adalah orang itu sendiri.


"Maaf, pak, saya pegawai baru jadi belum hafal dengan wajah-wajah orang yang bekerja disini!" aku Samira dengan rikuh.


"Tidak masalah! Kemarikan berkasnya biar saya tanda tangani." ucap laki-laki bernama Prasetyo.


Samira mengangsurkan map biru darinya.


Prasetyo dengan teliti membaca satu persatu berkas yang ia ketahui adalah surat pemindahan Samira menjadi asisten pribadi Aslan.


Prasetyo menggeleng samar.


Cari ribet kamu, As.


Prasetyo menandatanganinya lalu menutup map itu dan mengembalikannya ke tangan Samira.


"Selamat. Tanggung jawabmu bukan menjadi cleaning servis lagi Samira Adna Agustine, kamu akan menjadi asisten pribadi bapak Aslan." Prasetyo tersenyum.


Mata Samira membulat, ini di luar pembahasannya kemarin untuk menembus kesalahannya. Dengan panik dia menyuarakan penolakannya.


"Tapi, pak! Saya tidak mau! Pak Aslan sudah memiliki pak Robby sebagai asisten pribadinya."


"Pak Robby memang asisten pribadinya dalam urusan pekerjaan yang menjadi sekertaris pribadi dan tangan kanannya. Sedangkan kamu mengurus pak Aslan dalam ranah pribadi seperti memastikan semua hal yang menunjang kegiatan pak Aslan terlaksana dengan baik. Termasuk urusan sarapan dan makan siang!" jelas Prasetyo gamblang.


Samira menghela napas panjang sebelum beranjak. "Kalau begitu saja permisi, pak. Terima kasih atas waktunya."


Samira keluar dari ruangan Prasetyo yang berbau harum.


"Kalau bukan gaji yang besar, aku tidak mau menjadi asisten pribadinya. Apalagi dengan laki-laki yang seenaknya saja menyuruhku menjadi asisten pribadinya!"


Samira kesal, ia masuk ke ruang kerja Aslan dan ngomel-ngomel.


"Kenapa bapak melakukan keputusan sepihak?" serunya lantang.


Aslan berdiri dan mengelus jasnya yang masih rapi.


"Karena saya pemegang kendali atas karyawanku sendiri? Gak suka? Mau resign?" tanya Aslan dengan jumawa.


"Gaji menjadi asisten pribadiku bisa untuk naik haji Abah kamu. Masih gak minat?"

__ADS_1


Samira berdecak kesal sambil menaruh map biru di meja, ia berbalik dan benar-benar menendang pintu sebelum keluar dari neraka buatan Aslan.


"Bapak jahatttttt..."


__ADS_2