Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Keluarga Aslan


__ADS_3

"Bidadarimu?" Ardana tergelak sambil melempari Aslan dengan bantal sofa. Meski Aslan tidak menepisnya dan membiarkan kembaran itu mencemooh. Aslan menatap garang Ardana dengan hati yang ia sabar-sabarkan. Samira, gadis itu seperti semarak bunga-bunga beraneka jenis dengan warna yang berbeda yang kini sedang bermekaran di setiap sudut hatinya.


"Ngimpi kalo elo ingin menjadikan Samira bidadari surgamu, Aslan. Mimpimu ketinggian dan jahat!" ucap Ardana dengan mantap.


Aslan menarik satu persatu bantal yang berserakan di lantai seraya melemparkannya balik ke arah Ardana.


"Aku tau, tapi namanya mimpi bisa diwujudkan bisa tidak! Bang, kamu kenapa gak punya pendirian. Labil banget mirip bocah."


Cornelia berdiri dengan wajah kesal setengah mati kepada si kembar.


"Apa kalian tidak bisa berdamai, setidaknya waktu dengan mama! Mama pening, As, Ar. Kalian saling mengejek sementara kalian ini kembar, kembar. Tidak ada bedanya! Bocah semua, tidak punya pendirian, ngimpi, jahat!" seru Cornelia berang sambil menuding anaknya satu persatu.


Aslan dan Ardana tertegun mendengar ibunya ngomel-ngomel. Kalau sudah begitu, keduanya akan bertingkah seperti anak baik-baik dengan mengembalikan bantal-bantal sofa yang ke tempat semua. Lalu karena tidak terima di anggap bocah, kedua laki-laki yang masih memakai jas kerja itu menegakkan tubuh setelah berdehem-dehem sambil merapikan jas mereka.


Pandangan kedua pemuda itu beradu, mereka menajamkan tatapan namun Cornelia langsung menyambar keduanya dengan lengkingan suara saat teringat dengan tujuannya pulang hari ini.


"Stop bikin mama pusing! Stop merebutkan wanita. Kalian memang harus kami pisah!" Cornelia memandang pintu rumahnya, Rahardian mengulum senyum. Ayah dari si kembar yang telah menjadi anggota dewan itu merentangkan tangannya.


"Boys, peluk papa." seru Rahardian disertai senyum lebar dan mata berbinar bahagia.


Bagaikan anak kecil yang merindukan seorang ayah, Aslan langsung menubruk tubuh laki-laki yang tak surut ketampanannya meski telah dimakan usia.


"Bagaimana kabarmu, pap? Sehat?" sapa Aslan menepuk-nepuk kedua bahu pria yang terpaksa terpisah darinya demi keadilan rumah tangga bagi Rahardian dan Cornelia, "Mama pasti yang merencanakan ini!"


"Mamamu memang bos event organizer terhebat yang pernah papa kenal." gurau Rahardian yang kemudian menyeret Cornelia untuk mendekat.

__ADS_1


"Kalo bukan mama siapa lagi yang paling wajib mengumpulkan anak-anak nakal ini. Kau tau, Har. Mereka kembali merebut satu gadis yang sama." urai Cornelia nampak pasrah.


Rahardian menggeleng.


"Susah payah papa membuang Jesica hanya untuk membuat kalian akur, tapi ternyata satu di antara kalian tidak ada yang bisa mengalah!"


"Masalahnya bukan itu saja, Har. Mereka–"


"Mam!" Aslan menyaut, "udah jangan bahas dia terus, nanti Abang kepikiran dia juga." ucap Aslan dengan nada suara tidak suka.


"Oh, jadi Ardana lagi yang menjadi perusuh?" sahut Rahardian, dia menuding anaknya. "Kau, harus bagaimana papa bilang untuk tidak menambah aib sendiri?" tegurnya.


Ardana beranjak, "Masalah Aslan sama Samira itu beda, pa. Aku hanya menyelamatkan adikku dari cinta yang tak berujung." katanya membela diri.


"Maksudnya?" Rahardian tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya karena tiba-tiba Cornelia menunduk sambil menghela napas. Bahkan Aslan menjauh sambil melepas jas kerjanya.


"Aslan dan Samira seperti mama dan papa!" jawab Ardana akhirnya, "udah ah, mau mandi, mau siap-siap makan malam dengan keluarga utuh!"


Ardana menaiki anak tangga dan pergi ke kamar yang berada di samping kamar Aslan.


"Satu amin, dua iman. Mustahil kalian bisa bersama dan bahagia." gumam Ardana.


Detik-detik yang terjadi begitu canggung itu membuat Cornelia dan Rahardian hanya bisa sama-sama menghela napas seraya menghela napas.


"Siapa Samira, Lia? Kamu tahu?" Rahardian mengikuti mantan istrinya ke meja makan. Perempuan cantik yang keren dengan celana jeans dan kaos serta kemeja putih polos itu membuat kopi seraya menaruhnya di depan Rahardian. Laki-laki yang telah di cintainya dengan segala kekuatan perbedaan yang ada, namun takdir yang telah digariskan tak mengizinkan mereka menyatu bersama selama-lamanya menunggu jawaban.

__ADS_1


Cornelia melipat kedua tangannya sambil menyandarkan tubuhnya di lemari es. "Samira asisten pribadi Aslan. Gadis berjilbab anak seorang pensiunan guru agama dan sekarang menjadi ustadz di masjid di desa mereka."


Rahardian menghela napas. Semua agama pada dasarnya mengajarkan kebaikan dan kedamaian. Hanya kadang-kadang cinta menjadi sesuatu pertimbangan yang paling besar dalam menggoyahkan iman. Namun tidak ada alasan bagi manusia berbeda agama untuk saling menjatuhkan hanya karena saling mencintai.


"Memangnya mereka sudah pacaran?" tanya Rahardian lalu menyesap kopinya. Sedikit kegelisahan membuat sorot matanya tidak tenang. Jelas saja persoalan seperti itu sudah mereka hadapi dan pertimbangan nekat hingga sampai memilih menikah di luar negeri dengan restu yang gak sepenuhnya dibawa oleh keduanya membuat takut Aslan akan melakukan hal yang sama.


"Belum, belum." Cornelia mengulang seperti menegaskan. "Tidak akan pernah pacaran, Samira tergolong gadis yang taat beragama. Aslan pun begitu, aku mendapatkan laporan dari orang suruhan ku jika Samira membuat jadwal agar Aslan pergi ke gereja. Jika Aslan sampai mempertegas hal itu, bukankah keduanya saling memahami perbedaan itu?"


Rahardian mengangguk. "Jadi sekarang apa yang ingin kamu bicara dengan ku? Hanya soal itu?"


"Soal anak-anak, Har. Aku akan membawa Ardana ke Lombok untuk ngurus pembangunan resort disana sementara Aslan fokus pembangunan mega mal dan kamu sebagai walinya harus mengizinkan dan memaksanya. Aku lelah melihat keduanya bersaing demi wanita yang kamu tau sendirilah, dari segi ekonomi saja sudah tidak layak bersanding dengan keluarga kita!"


Situasi menjadi hening, Rahardian mempertimbangkan seluruh aspek yang sudah ia lewati bersama Cornelia. Tapi secuil hatinya merasa trenyuh jika Aslan tidak merasa bahagia bahkan sebelum memulainya.


"Aku akan menyetujui Ardana ikut bersamamu, biar Aslan yang aku awasi. Itung-itung kita tukar anak, dan pastikan kau membuang gadis bernama Amara!"


"Siapa Amara?" sahut Cornelia cepat.


"Sekertaris dan perempuan liar yang menjadi anak buah Ardana. Kau pastikan itu, dan aku pastikan Aslan dan Samira akan tetap berada di jalan-Nya."


Cornelia mengangguk-angguk kepala seraya melambaikan tangan kepada asisten rumah tangganya.


"Siapkan makan malam dan panggilkan papa Ahmad untuk bergabung dengan kita hari ini."


"Siap, Nyah."

__ADS_1


Cornelia menepuk bahu kiri Rahardian, "Aku harus ke kamar, Har. Kau nikmati saja waktumu disini seperti rumah sendiri."


"Memang ini rumahku, Lia!" sergah Rahardian, Cornelia terkekeh lalu pergi. Selang lima menit yang lama bagi Rahardian, ia ikut berdiri serta membawa kopinya menuju ruang keluarga dimana pernah terjadi kehangatan paling sempurna bagi dirinya dan seluruh anggota keluarganya.


__ADS_2