Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Cornelia


__ADS_3

Aslan mempercepat langkahnya sewaktu Cornelia melambaikan tangan dari arah terminal kedatangan. Mereka berdua tersenyum lega. Diantara riuh tamu bandara lainnya anak dan ibu itu saling melepas rindu lewat pelukan.


"Mana komodonya, mam?" tanya Aslan sambil celingukan. Sontak Cornelia pun ikut celingukan, mencari-cari komodo yang Aslan katakan.


"Ketinggalan, As! Mama lupa."


Dua-duanya terkekeh, baru setelah raut wajah Aslan kembali serius. Cornelia membetulkan letak topi pantainya, dia tatap putranya yang sepanjang menaiki kapal terbang terus memikirkan benar tidak keputusan Aslan mengencani Samira. Bukan dia ingin menjustifikasi hubungan keduanya akan berakhir dengan perpisahan seperti kisahnya sendiri, cuma pahit dan manis perbedaan itu akan terus datang silih berganti.


"Asisten pribadimu tidak ikut?"


"Dia ada tugas lain, mam." dusta Aslan, Samira sudah ia suruh pulang untuk menyiapkan permintaannya. Terlebih ada Ardana nanti.


"Mama harus ketemu Samira, As." Cornelia melingkar tangannya di lengan Aslan seraya berjalan menuju parkiran. "Mam harus tau gadis seperti apa yang kamu jadikan asisten pribadi."


"Iya, mam. Aku usahakan." Aslan tersenyum penuh arti seraya membuka bagasi mobil untuk memasukkan dua koper ibunya. Sejenak, ia menghela napas ketika mengingat harus ke rumah ibunya. Bertemu Ardana dan kenangan masa kecil di rumah itu sebelum menutup pintu mobil.


"Tapi mam harus janji, hanya ada aku, mam dan Samira. Gak usah ajak-ajak Ardana." Aslan mengedip, menegakkan diri lebih tegak seraya mengeratkan genggaman di stir mobil.


Aslan merendahkan suaranya menjadi bisikan dan tersenyum begitu menggemaskan. "Samira cantik lahir dan batin, mam. Beda sekali dengan Amara."


Cornelia berbahak-bahak geli. "Yeah, kalian berdua mencampakkan Jesica setelah kakek turun tangan, apa iya besok kalian juga akan membuat kakek kalian bekerja lebih keras?"


Aslan memicingkan matanya. "Bukan aku yang mulai, mam. Bukan aku yang salah. Mam juga harus memberitahu Ardana untuk tidak mengganggu kami lagi."


"Ah, Aslan. Sebelum janur melengkung siapa saja bisa menikung artinya semua ada kesempatan untuk mendapatkan Samira, baik kamu, Ardana atau seseorang yang lebih seiman dengan dia." Cornelia menepuk bahu Aslan ketika putranya mengangguk lemah. "Mam harap kamu tidak mengulangi sejarah mama dan papa, Aslan. Ada pilihan yang terbaik dari yang terlihat baik."


"Mam, aku belum pdkt kok cuma aku perlu jagain Samira dari Ardana, Abang itu suka gangguin incaran ku. Bajingan kan dia!"


"Idih!" Cornelia memekik. "Kalian itu sama ya, cuma kamu lebih bener aja Aslan dan mama beruntung saat sidang hak asuh anak, kamu ikut mama. Tapi kalian tetap kembar, anak kesayangan mama semua jadi jangan pernah berkata yang aneh-aneh, itu sama aja tau kalo kamu itu juga sama seperti Ardana!" urai Cornelia sambil menarik tangannya.


Aslan diam sejenak sambil mengembuskan napas kesal. Setelah itu dia lebih memilih memfokuskan diri saat mengemudi di jalan tol. Tapi Aslan sedikit tahu rasanya hidup di tengah-tengah perbedaan keyakinan. Papa dan mamanya menikah di Bali, hidup rukun dengan memeluk dua agama yang berbeda dalam satu rumah sampai mereka berusia delapan belas tahun, dan ada saat-saat di mana ia melihat keduanya tak lagi sejalan. Mungkin juga sudah tak sepaham. Di waktu itu jugalah, Aslan dan Ardana juga berpisah meski masih sering bertemu di kampus.

__ADS_1


•••


Seorang pelayan rumah menghampiri mobil Aslan sewaktu mobil hitam itu berhenti meraung keras di depan rumah Cornelia.


Aslan menghela napas, "Pokoknya aku cuma sebentar, mam. Habis makan malam aku pulang dan jangan memaksaku tinggal!"


Cornelia sedikit tak setuju. Aslan, menolak langsung sesuatu yang hendak ia harapkan dari putranya itu hari ini. Tapi toh memang anak-anaknya sudah dewasa dan tak ingin ada adu jotos yang akan membuatnya menjerit takut. Cornelia mengangguk-angguk kepala.


"Yang penting jangan berantem sama Ardana, mama kangen kalian tau! Mama pengen kumpul dengan kalian berdua. Tenang dan damai." Cornelia melotot dengan satu tangan mendorong pintu mobil.


Aslan lega, dan ia mengangkat ponselnya di dalam saku jas yang bergetar terus menerus.


"Mam masuk dulu aja, aku terima telepon dulu dari Samira." ucap Aslan seraya keluar dari mobil, ia bergeming sambil menyandarkan diri di badan mobilnya.


"Sore, Sam. Ada apa?"


Dalam khayalan Samira, Aslan yang dinobatkan sebagai pria tertampan dan ternecis yang ia kenal adalah laki-laki nakal yang tidak begitu paham agama karena setiap kali ia mengucap salam atau mengajaknya ke mushola perusahaan, Aslan hanya akan cengar-cengir. Tapi di luar dugaan, Aslan dan ia tak sama.


"Selamat sore, pak. Umm, maaf soal kemarin-kemarin, saya gak tau kalo bapak perginya ke gereja. Maaf ya, pak. Gak enak udah nyuruh-nyuruh bapak sholat kemarin-kemarin, pasti bapak gak nyaman." ucap Samira dengan nada menyesal. "Ini salahku karena aku tidak membaca biodata lengkap bapak terlebih dulu dengan baik."


Aslan tersenyum sambil menghela napas. "Gak apa-apa, Sam. Aku doang yang terlalu pengecut untuk bilang. Tapi bagimu gak masalah kan?"


"Gak-gak, pak!" sahut Samira buru-buru, "Saya tau kok, jadi kalo gini kan enak. Jadi lebih terbuka dan bertoleransi."


Samira tersenyum sejenak, entah kenapa justru ada yang lega dalam hatinya setelah mengetahui hal itu.


"Apa bapak berminat untuk dibuatkan jadwal kunjungan ke gereja?" tanya Samira hati-hati. "Bapak belum ada jadwal untuk kunjungan itu."


"Terserah kamu, Sam. Sabtu Minggu biasanya, tapi untuk jamnya aku sesuai sendiri dengan jadwal kerja."


"Siap, pak." Samira mengangguk, dia mengembuskan napas, "Soal hari ini, saya mau tanya ukuran kemeja bapak berapa ya? Saya lupa."

__ADS_1


Aslan langsung menoleh, was-was. Takut Ardana nguping karena laki-laki itu sudah ada di rumah Cornelia lebih awal. Dan demi keamanan lebih aman, dia menjauh. Bergeming di dekat gerbang masuk yang tinggi menjulang.


"Apa itu untukku?"


"Jawab saja pak, semakin cepat semakin bagus."


"Really?" Aslan menyunggingkan senyum lega. "Ukuran XL slim fit."


"Terima kasih, bapak. Saya tutup teleponnya dan mulai memenuhi keinginan bapak, sampai bertemu besok pagi di kantor semoga bapak menyukai pilihan saya."


Aslan berbahak, meski enggan dia masukan ponselnya kembali ke saku jas bagian dalam. "Apa iya, Sam. Aku tidak boleh jatuh cinta hanya karena kita beda keyakinan?"


Aslan menghentakkan kakinya, walau begitu, walau ia tidak mengakui secara terang-terangan sulit untuk tidak merasa tergoda dengan keberadaan Samira. Meski beberapa kali separuh hatinya sadar, risiko-risiko besar untuk mencintai Samira adalah mengkhianati kepercayaannya sendiri. Begitu juga Samira jika mereka memiliki satu tujuan yang sama.


Aslan mengayunkan pintu, dia menyentakkan dagunya sedikit untuk menyapa Ardana. Dia juga tersenyum, tersenyum kecil, mulutnya tertarik ke satu sisi.


"Aku harap mama beli oleh-oleh yang berbeda untuk kita, Bang! Karena aku muak memakai baju yang sama denganmu!" seru Aslan sinis, dan tak bersahabat.


Ardana melempar sebuah kaos tie dye ke arah Aslan dan berhasil dia tangkap.


"Emang kamu doang yang muak dibeliin baju mama kembaran?" balas Ardana, "Aku juga muak kali, As."


Cornelia menghela napas dan batal beristirahat di kamar ketika mendengar anaknya mulai berdebat tentang semua hal-hal yang berbau sama dan tentunya Samira.


"Pokoknya berhenti memata-mataiku dan Samira, sialan. Kamu cukup tiduri saja Amara sampai dia hamil!" kata Aslan.


Ardana menjulurkan lidahnya, tak sampai lima detik, Aslan sudah langsung berdiri menjulang di depannya sambil berkacak pinggang.


"Mam, harus aku apakan Abang? Aku bener-bener tidak rela Abang dekat-dekat Samira! Dia bidadari ku, mam."


Cornelia menarik rambutnya yang terurai bebas ke belakang seraya menunduk. Sadar malam ini rasanya pasti lebih menyenangkan dan tenang jika tidak mempertemukan anak kembarnya yang sedang tergila-gila dengan Samira. Tapi sejak pembicaraan pentingnya dengan kakek Ahmad atas perkelahian anaknya yang terulang kembali, Cornelia tak bisa diam.

__ADS_1


__ADS_2