
Satu bulan kemudian.
Kawanan burung sedang bercicit riang di depan jendela kamar Samira. Ia tersenyum, jelas sangat tahu jenis apa burung yang sering mengganggu hari-harinya selama masa berlarian. Berlari dari bayangan Aslan dan keinginan untuk pergi ke kantor itu, mengerjakan upaya dari rasa senangnya berada di sana.
"Nggak kerasa udah sebulan aja aku jadi pengangguran." keluh Samira sembari membuka tirai, secercah cahaya yang terang benderang menjadikan hari ini sebagai hari yang akan sangat panas.
Samira menarik laci meja kerjanya setelah mendudukkan dirinya. Segenap benaknya merasa geli ketika menerima slip gaji dari Aslan satu bulan yang lalu di restoran berbintang sebagai tempat terakhir mereka berkumpul sebelum ajang pamitan.
"Nggak begini juga kali pak maksud saya, ini mah enak banget. Saya nanti jadi susah jodoh kalau dapat tunjangan terus dari bapak tiap bulan." protes Samira waktu itu.
Aslan sempat mendoakan Samira susah jodoh biar hanya dia yang ada di hatinya, tapi dia buru-buru meralatnya. Dosa mendoakan orang yang sudah dia kagumi susah jodoh, nanti jadi beban diri sendiri.
"Ya bisa di anggap saja aku tidak memberimu kesempatan sesuai kontrak kerja. Aku yang salah dan slip gaji ini adalah tanda permintaan maafku."
"Hahaha." Samira tergelak dengan lepas. "Lagian saya sudah menyiapkan surat pengunduran diri pak, walau tadinya saya masih ragu buat mengajukan karena takut nanti di ungkit-ungkit soal kontrak kerja. Eh ternyata, takdir sudah bekerja untuk kita."
Kita? Aslan mengangkat bahu. Waktunya menghentikan semua ini. Jangan sampai apa yang dia pikiran terungkap.
"Bagus!" Aslan memutar bola matanya, masalahnya dia sudah meminta kepada bendahara perusahaannya untuk menggelontorkan dana untuk Samira, kalau mau di tarik malu juga. Aslan, direktur kedua PT Cemerlang Abadi tbk masa iya hitung-hitungan. Lagipula untuk Samira, cintanya yang kandas sebelum ia perjuangkan.
"Tapi jangan khawatir, anggaplah itu rezeki wanita shalihah sepertimu. Kamu bisa menggunakannya untuk apapun kebaikan yang membuatmu senang dan menuju surga yang kamu inginkan."
Sontak kehangatan langsung menghantam dada Samira. Matanya berkaca-kaca, satu detik yang sangat jungkir balik dari keadaan sebelumnya sangat menyayat hatinya. Kejujuran dan ketulusan terlihat dari mata Aslan yang menatapnya.
Samira menunduk, mengusap air matanya dengan ujung kerudungnya. Tapi bukannya reda, isak tangisnya semakin menjadi-jadi. Robby menoleh dari balik kursi tinggi tempatnya bersembunyi tanpa sepengetahuan Aslan dan Samira.
"Untung gue ikut diam-diam, kalau gini kan jadi gawat. Mana nangis di restoran berbintang waktu rame-ramenya. Berat tugas gue."
Aslan memijit pelipisnya, semakin dia memikirkannya, semakin besar rasa yakinnya bahwa Samira pun susah meninggalkannya.
"Sedih banget ya mau pisah sama aku, Sam?"
"Banget."
Aslan mengulurkan tissue. "Kasian kerudungmu kena ingus, iuhh... Jorok banget kamu jadi cewek."
__ADS_1
"Kepepet tau!"
"Mana ada? Tissue banyak di depanmu, Sam! Mau bikin aku ilfill?"
Samira membuang ingusnya di tissue kuat-kuat.
"Lihat, jorok banget kamu!" protes Aslan dengan ekspresi jijik.
"Biarin, biar bapak nggak suka sama saya."
"Eh." Aslan mengangkat kedua tangannya. "Sorry, tapi aku harap kamu tidak sungguh-sungguh mempercayai ucapan Robby."
Samira tidak menggubris, dia tahu tempat yang mereka kunjungi tidak memiliki privasi penuh dan Samira tak peduli jika ada seseorang yang melihat mereka sekarang, menggosipinya atau membuatnya harus berurusan dengan keluarga Aslan yang sudah ia ketahui dari Robby.
Samira menghela napas dan dengan air mata yang sedih dia memberanikan diri menatap Aslan lebih lama dan dalam.
"Saya berharap, meski harus berada di arah masing-masing. Kita nanti bisa bertemu lagi dan berbahagia di surganya Allah. Bapak harus berjanji sama saya, saya tunggu di sana karena surganya Allah hanya satu."
Robby menutup wajahnya.
Aslan terpana.
Sebulan sudah rasa itu Samira nikmati dan kini melihat jumlah uang yang diberikan Aslan sudah menipis, Samira di landa kecemasan, cemas tidak punya uang.
"Cari kerja, bikin lamaran sambil nunggu di lamar orang. Hihi, mimpi." Samira mengikat rambutnya sebelum memakai jilbab instan. Dia keluar dari kamar untuk memberi makan burung-burungnya. Ada pula hamster-hamster kecil di bawahnya.
Gadis yang telah disibukkan dengan kegiatan pelariannya tak sadar dari dalam mobil di pinggir jalan Aslan mengawasinya sambil tersenyum.
"Balik lagi jadi anak rumahan dia, Rob. Dan aku yakin burung-burungnya dia marahin setiap hari."
"Udahlah, As. Samira sudah berada di tempat yang tepat, nanti gue carikan asisten pribadi yang mirip-mirip dia tapi yang satu arah denganmu. Udah capek gue kerja sendiri." Robby menurunkan kaca mobil, tetapi sebelum dia berteriak keras memanggil Samira, Aslan menarik jasnya kuat-kuat.
"Nggak usah ngaco kamu, Rob! Sialan." dengus Aslan.
"Aku cuma mau menyapa mantan rekan kerjaku kok salah, As. Salahnya dimana?"
__ADS_1
Terlambat, Mustofa yang baru saja pulang dari memberi pakan ayam memperhatikan mobil yang sering nongkrong di depan rumahnya akhir-akhir ini. Dia mendatangi mereka dengan hati-hati dari arah yang berlawanan sebelum mengejutkan Robby dan Aslan yang baru berdebat.
"Assalamualaikum."
Aslan dan Robby menyunggingkan senyum penuh keterkejutan. Terlebih Mustofa langsung memandangi Aslan sembari mikir-mikir.
"Sepertinya pernah ketemu." Mustofa langsung memperhatikan arah pandang kedua laki-laki itu dan mendadak ingin mengetahui segala hal tentangnya.
"Bapak ini temannya Samira kan, itu siapa namanya bapak Aslan?"
"Betul, pak, betul." sahut Robby, "Ini bapak Aslan, saya bapak Robby. Kami mohon maaf sekiranya bapak mengira kami mengintip Samira. Kami cuma memastikan bahwa rumah Samira belum pindah."
Mustofa menyunggingkan senyum lalu menggelengkan kepala.
"Samira tidak akan pindah rumah kecuali jika dia sudah menikah. Mari masuk saja ke rumah kami, Samira pasti senang itu teman-temannya datang."
Aslan langsung keluar dari mobil. Bukan untuk menemui Samira, tapi dia mengatupkan tangan dan memohon maaf atas kelancangannya berada di tempat itu diam-diam.
"Saya tidak bisa, pak. Saya dan Samira sudah berjanji untuk bertemu di surga. Kalau ketemunya lagi di sini, beda ceritanya." aku Aslan dengan tenang.
Mustofa menghela napas sambil menepuk-nepuk bahu Aslan.
"Maka dari itu mengintip adalah perbuatan tidak baik dan akan menjauhkanmu dari Samira nanti di surganya Allah. Maka bersilaturahmi saja dengan terbuka." ucapnya menasihati.
"Terima kasih." Aslan menyempatkan diri melongok ke arah Samira dengan terang-terangan. "Saya mungkin tidak bisa berkunjung hari ini bapak. Tetapi, kalau boleh saya meminta, sampaikan salam saya untuk Samira." kata Aslan serius.
Mustofa mengiyakan. Detik berikutnya dia mendengar suara langkah kaki dan pintu gerbang yang terbuka ketika mobil Aslan menderu panjang dan menghilang di tikungan jalan.
Samira melongok ke sana kemari dan hanya menemukan ayahnya yang sedang berjalan ke arahnya.
"Cari siapa, Sam?"
"Nggak ada, Bah." Samira mengendikkan bahu.
"Oh, tadi Abah ketemu seseorang. Dia menitipkan salam untukmu."
__ADS_1
Samira tersenyum.
......................