
"Kenapa bapak bilang-bilang sama pak Robby kalo gelang itu bapak yang beliin." omel Samira ketika mereka sudah ada di dalam kantor Aslan.
Sekelebat peristiwa makan siang tadi justru seperti menjalani meeting panas dengan kompetitor handal yang tidak serta-merta mudah percaya dengan penuturan keduanya.
"Apa bapak lupa masalah motor kemarin gimana endingnya. Bapak Robby minta motor yang sama kan jadinya?"
Aslan nyengir sebentar lalu duduk. Dia membuka laptop, baru setelah layar itu menyala ia menghela napas.
"Aku lupa, Sam. Aku pikir Robby udah gak cemburuan lagi sama kamu." urainya jujur. "Tapi bener-bener kacau sih dia, kenapa lagi kayak tadi harus di permasalahkan dan di bicarakan. Udah kayak emak-emak komplek dia. Gak ngerti aku sama sikapnya akhir-akhir ini." keluh Aslan, sedikit ngeri-ngeri sedap oleh ulah Robby.
"Lagian bapak sih, punya sahabat bukannya di sayang-sayang malah cuma di kasih kerjaan terus. Bapak Robby itu iri karena aku yang baru udah bapak kasih hadiah, sementara bapak Robby tidak!"
"Itu aku lakukan biar kamu betah kerja sama aku, Sam. Bedalah sama dia, gajinya udah besar, rumah yang ia pakai sekarang harganya lebih dari 500 juta. Kurang baik apa aku ngasih dia hadiah itu, masa iya sekarang cuma ngasih geleng kamu aja dia juga pengen." urai Aslan seraya mendengus kesal. "Harusnya tadi kamu juga bilang aku beliin kamu jilbab sama rok panjang, Sam. Biar dia juga pengen!"
Biar dia sadar aku ini lagi usaha bukan cuma ngasih hadiah-hadiah doang. Gak ngerti banget kamu, Rob! Bukannya dukung tapi nambah beban kerja.
Aslan membetulkan posisi duduknya, dasi hitam yang mengekang lehernya dia longgarkan. Ia yang sudah menghabiskan berjam-jam dengan Samira kemarin menyuruh gadis itu untuk pulang.
"Beneran pak boleh pulang sekarang?" tanya Samira tak percaya.
Aslan mengangguk. "Hari ini aku cuma ada di kantor, Sam. Gampanglah, ada Robby untuk urusan kerjaan. Cuma ingat pesan aku tadi!"
Alhamdulillah. Samira langsung mengangguk kesenangan. Dia lalu menyiapkan segelas air putih ke meja Aslan.
"Ada yang bapak butuhkan lagi?" tanya Samira.
__ADS_1
"Ada, Sam. Ada." Aslan mengangguk-angguk kepala. Terbersit lirik lagu yang sudah mengungkapkan segalanya.
‘Tuhan memang satu, kita yang tak sama. Haruskah aku lantas pergi meski cinta tak kan bisa pergi’
Meski itu masih dalam angan saja. Sepertinya Aslan sudah mempertimbangkan risiko apa jika ia tak mengerem laju reaksi alami dalam dirinya.
Aslan berdiri, ia menggiring Samira ke ruang tamu. Dari cara duduk, cara menatap, dan tegaknya tulang punggung Aslan. Samira yakin, Aslan yang tadinya santai saja dan cenderung senang sekarang jadi serius.
"Ada apa, pak?"
"Gak ada, Sam. Cuma sebentar. Apa kamu yakin aku tidak perlu bertindak atas kasus tadi pagi? Rasa-rasanya baru kali ada kasus seperti ini di perusahaan." kata Aslan.
Itu karena bapak jadiin aku asisten pribadi dari jalur kilat, jalur dalam dan upnormal. Makanya jadi masalah, bapak. Apalagi kalo mereka tau motor itu dari anda, hubungan pekerjaan ini semakin di pertanyakan.
Samira tercenung, untung kemudian ponselnya berbunyi dan sanggup memutuskan sejenak pemikiran tidak jelas. Dilihatnya nama ibu Aslan tertera di layar.
"Ibu besar, pak."
"Angkat, angkat, loud speaker!" seru Aslan sambil mencondongkan tubuhnya dan memasang telinga lekat-lekat.
"Assalamualaikum, nyonya besar. Ada yang bisa Samira bantu?"
Cornelia, ibunda Aslan yang sedang menunggu jadwal penerbangan dari Lombok menuju ibu kota menghela napas. Bukan tak ingin menjawab salam keselamatan itu, bukan pula tak punya toleransi rasa. Cuma kadang-kadang ia mikir apakah Aslan tidak mengatakan bahwa mereka berbeda.
"Salam damai, Samira. Apa kamu masih bersama Aslan?" tanya Cornelia.
__ADS_1
Samira langsung mendelik. Ia langsung yakin bahwasanya Cornelia dan Aslan yang tak pernah menjawab salamnya bukan karena mereka malas, tapi memang mereka berbeda keyakinan. Kenapa aku bodoh ya, kenapa nggak cari tau identitas bapak Aslan dulu biar gak salah paham.
"Masih, nyonya. Silahkan, pak." Samira mengulurkan ponselnya.
Aslan meraihnya dan berdiri. Ia menjangkau mimik wajah Samira sebentar sebelum menjauh dan bergeming di dekat jendela besar.
Aslan memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana seraya menghela napas.
"Yes, mam. Ada apa?" tanya Aslan.
"Kamu bilanglah sama Samira kalo kita itu Kristen, As. Mama enggak enak, gak bisa jawab salamnya." omel Cornelia.
"Yes, mam. Nanti aku bilang. Terus kenapa tumben telepon duluan? Udah selesai liburannya?"
Cornelia mengangguk-angguk. "Jemput mama di bandara, sekalian ambil oleh-oleh."
Aslan tak kuasa mencegah munculnya respon spontan yang jujur. "Pasti ada Ardana."
"Terus kenapa kalo ada Ardana, As. Ah, Jesica lagi Jesica lagi. Udah kenapa, mama jengkel lihat kalian berantem terus."
"Gak, mam. Masalahnya bukan itu sekarang. Tapi... Mam, please. Aku udah muak sama Abang. Mama kasih tau dialah, berhenti ganggu inceran Aslan."
"Inceran, Samira maksudmu?" seru Cornelia penuh keterkejutan. Untung Aslan sudah mengubah mode suara dari loud speaker ke suara yang biasa saja.
"Iya dong, mam. Udah, ntar aku jemput. Safe flight, mam. Bye!"
__ADS_1
Cornelia menatap layar ponselnya yang terputus tiba-tiba.
"Cari masalah Aslan, apa dia mau mengulang kembali sejarah orang tuanya? Payah."