Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Bukan pilihan


__ADS_3

Sepulang dari mengantar Samira dan Mustofa ke rumah mereka. Harviza yang telah tahu dimana Samira bekerja mencari informasi siapa pemilik perusahaan itu di dalam kamarnya.


"Bapak Ahmad Sastrawinata? Samira bekerja untuk eyang ini?" Harviza sangatlah menyayangkan kenyataan bahwa Samira menjadi asisten pribadi laki-laki tua itu. Namun dia tetap senang hari ini kerinduannya pada Samira sudah terpenuhi. Untuk hari ke depan pun rasanya ia akan semakin mudah bertemu dengan Samira setelah Mustofa membuka pintu rumahnya dengan senang hati.


Berbeda dengan laki-laki yang uring-uringan di apartemen, Aslan yang menyuruh anak buahnya mengawasi Samira mendengus dingin. Kedekatan yang bisa dia lihat dari foto dan video yang dikirim membuatnya yakin, laki-laki yang terlihat teduh untuk dipandang adalah laki-laki yang menyebalkan sama sepertinya. Bedanya, dari apa yang ia terima. Laki-laki bernama Harviza memiliki satu keunggulan paling bagus untuk bersanding dengan Samira.


"Jadi menurutmu aku harus gimana, Rob? Maju terus atau mundur dan tetap tenang tanpa menunjukkan adanya perasaan ini?"


Robby meringis. Suka sekali dia melihat Aslan terlena dengan kegundahan yang belum juga sempat dia ucapkan kepada Samira.


"Menurutmu mudah untuk meluluhkan hati Samira, As? Orang tua kalian sudah menjadi contoh paling nyata kalo kamu yakin maju dan mencintainya." Robby menepuk bahunya.


"Jangan tanya saran gue apa, ranah gue hanya memberi tau. Tapi jodoh dari Tuhan siapa yang tau? Gue married sama musuh gue aja nggak tau kok bisa."

__ADS_1


"Bentar." Aslan beranjak, dia menuju ke dalam kamarnya seraya mengambil kotak pemberian Cornelia. Dia membawanya kembali pada Robby.


"Nyokap sempet ngasih ini waktu dia tau gue mau pdkt sama Samira. Keluargaku, kamu tau lah gimana. Toleransi oke, tapi setelah papa mama cerai aku pikir juga kejadian ini akan sulit diterima."


Robby membuka kotak yang Aslan ulurkan. "Yakin gue nih yang buka?"


Aslan mengangguk, dia membuka keripik kentang dan mengunyahnya. Telinganya dengan teliti mendengar semua surat cinta yang di tulis oleh kedua orang tua Aslan semasa pacaran dan masa-masa ditentang oleh keluarga mereka untuk bersama.


"Dengar dan rasakan, As. Tapi kamu berhak mengungkapkannya kok biar lega. Toh Samira anaknya seru dan gue yakin sih. Dia bakal nolak elo secara halus."


"Belum apa-apa udah bikin aku kurang percaya diri ya kamu, Rob." Aslan mendengus kesal.


"Karena gue tau Samira dan keluarganya. Pantang baginya untuk mencintai laki-laki non muslim apalagi ayahnya. Daripada capek, umur juga udah tua cari yang pasti-pasti aja As. Banyak kok yang mempunyai hati seperti Samira." Robby tersenyum dengan alangkah indahnya.

__ADS_1


Tapi tidak bagi Aslan. Dia merenung, memikirkan lalu menghela napas dengan sangat berat.


"Coba pdkt dulu aja gimana, Rob? Ntar kalo Samira udah ada tanda-tanda nggak doyan sama aku. Aku baru mundur." kata Aslan.


"Terus kalo dia doyan sama elo, elo mau apa As? Nemuin bapaknya dan bilang aku cinta sama anak Abah dah ingin mempersuntingnya? Really? My brother..." Robby menepuk-nepuk pundak Aslan.


"Kedua orang tua kalian sudah pasti nggak setuju, gue aja bayanginnya udah ribet banget. Tapi coba aja pdkt dulu tapi jangan sampai bilang suka atau cinta soalnya elo bakal malu kalo Samira tolak."


Aslan tergelak, belum apa-apa rasanya semua telah terlihat bagaimana sulitnya menghadapi seseorang yang begitu dekat namun begitu jauh baginya.


"Kamu pulang deh, Rob. Kepalaku pusing."


"Ngomong aja elo udah nggak butuh gue! Dasar..." Robby menjitak kepala Aslan seraya melengos pergi. Sementara Aslan yang masih melihat surat-surat orang tuanya berserakan di meja meraup dan membacanya sendiri.

__ADS_1


"Ada masanya pilihan yang terbaik bukanlah pilihan yang tepat."


Aslan mengusap wajahnya, terus terang rasanya di malam yang dingin dan sepi di apartemennya. Nama Samira dan kisah orang tuanya terus mengaduk-aduk isi kepala dan hatinya.


__ADS_2