
Menghilangnya mobil Harviza, menambah rasa malu di benak Samantha. Gadis yang masih berpakaian ala koboi wanita itu masuk ke dalam mobil seraya menghela napas. Ia sungguh tak menyangka Harviza yang dia pukul kemarin dengan gagang sapu karena saking ganggunya mengatakan hal yang mengejutkan.
Tidak bisa ia bayangkan laki-laki sholeh yang bersifat tengil-tengil nyebelin seperti yang di ungkap Samira benar-benar mendoakannya berjodoh dengan Aslan.
Samantha menelan ludah. Mendadak ia merasa cemas. Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika Aslan yang puas memandangi rumah Samira masuk ke dalam mobil.
"Langsung ke rumahmu, Sam?" Aslan memandangnya.
Samantha mengangguk, dalam benak dia berpikir jauh. Entah apa yang direncanakan Robby padanya kemarin di tengah riuhnya acara job fair, janji-janji manis mendapat pekerjaan bagus, gaji fantastis dan bos baik hati hingga akhirnya dia mengerti maksudnya. Robby berusaha menjadikannya opsi dan solusi terbaik untuk Aslan. Menghadirkannya sebagai pengganti Samira yang ternyata gadis shalihah yang tidak mungkin akan bersanding dengan Samira sebab tak ada konsep berpacaran dalam Islam. Ia tahu. Maka jelas sudah perginya dua keluarga tadi sangat besar peluangnya untuk mendekatkan Samira dan Harviza lebih baik di rumah Allah, tempat suci, tempat memanjatkan doa paling ampuh dan tenang.
Samantha mengusap kedua telapak tangannya yang lembab. Dia percaya doa orang yang tulus bisa dikabulkan dengan mudah, dia gugup jika harus jatuh cinta dengan Aslan. Dia ingin lenyap sekarang, atau sekedar meminjam sarung penutup sangkar burung untuk menyembunyikan kepalanya. Samantha gerogi, menatap wajah Aslan pun dia tidak mampu.
Aslan meliriknya, lalu meringis. Omongan Harviza nampaknya sanggup membuat asisten pribadinya salah tingkah. Nggak biasanya Samantha yang biasa memutar lagu lalu mengikuti iramanya terdiam seribu bahasa di mobilnya.
"Kepikiran?" tanya Aslan.
"A..." Samantha kesulitan menemukan kata-kata yang pas untuk menjawab sedangkan rumahnya yang masih jauh sekali dari rumah Samira membuatnya jauh lebih sulit berkata-kata.
Aslan berdeham keras, menyentakkan lamunan Samantha.
"Saya cuma anu, takut ganggu imajinasi kak Aslan." kata Samantha buru-buru.
"Imajinasi apaan? Ngaco kamu, Sam!" sergah Aslan cepat. Kedua matanya membelalak. "Emang mikirin apa aku?"
"He." Samantha membuang wajahnya ke pemandangan luar. Kendaraan silih berganti menyalip mobil Aslan saat keheningan membekukan suasana selama beberapa saat.
Aslan menikmati perjalanan hingga ia mengerti jika tidak di jelaskan bisa menjadi buah simalakama.
__ADS_1
"Kelihatannya doa Harviza tadi cukup mengguncangmu?" pancing Aslan.
Samantha menoleh. "Doanya terlampau jauh!" jelasnya padat.
Aslan mengangguk. "Aku setuju, cuma tidak ada yang lebih berharga dari sebuah doa yang baik dari orang baik. Kata Samira, doa adalah penyokong dari berbagai hal. Kehidupan kita. Doa adalah harapan. Bisa terkabulkan bisa tidak, waktu yang menjawabnya."
Samantha takjub. Kisah mereka sangat indah dan berani. Percayalah ketika orang sanggup mengalahkan ego dan melepas sesuatu yang jelas-jelas tampan dan cantik demi kedamaian sebuah keluarga, mereka telah mengetahui logika dan kenyataan yang berbenturan tidak menguasai mereka terlebih atas nama cinta. Mereka tidak egois. Dan jalan itu lah yang terpilih. Menjadi yang berjarak, tetapi slalu dekat di doa.
"Keren ya kalian. Aku salut banget. Tapi setuju sih karena satu hal yang aku tahu dari pepatah klasik. Ketika kamu mencintai seseorang, biarkan dia pergi. Jika dia kembali, dia akan menjadi milikmu. Jika tidak kembali, dia bukan milikmu."
Aslan menjawabnya dengan senyuman penuh arti.
"Terus kalau boleh tau kak, kakak sendiri terima enggak doanya kak Harviza tadi?" imbuh Samantha.
"Nah itu dia." Aslan menyeringai lebar. "Aku sudah menjawabnya, tidak baik menolak doa baik. Yah, itung-itung kalau nggak terkabul, kita bisa jadi partner kerja dan sahabat. Itu jauh lebih baik daripada tidak menjadi apa-apa."
"Yakin kak?" tanya Samantha.
"Aku hampir putus asa, dan terlalu malas mencari perempuan di luar sana." Aslan tergelak. "Takut banget? Santai aja kali, Sam. Kamu aja belum tentu lolos training kerja."
"Ah kakak." Samantha mendengus. "Pakai di bahas lagi, lagi usaha juga."
"Tapi aku serius, Sam." sahut Aslan, "Usahamu dalam meraih gelar asisten pribadi seorang Aslan juga bisa termasuk usahamu dalam berdekatan denganku!"
"Ya Tuhan!" Samantha menurunkan kaca mobil, udara di luar yang cukup panas menghangatkan suasana. Dia menurunkan topi koboi wanita dari kepalanya lalu menarik polusi kendaraan ke dalam paru-parunya. Sungguh konyol tingkahnya sekarang bak lupa daratan.
Samantha melayang-layang pada entah ketiban rezeki nomplok atau nasib ajaib yang dia jalani sekarang.
__ADS_1
"Saya belum tahu sih kak harus jawab apa, tapi untuk kerjaanku saya usahakan yang terbaik. Tentunya, saya berbeda dengan Samira."
Samantha tersenyum manis. "Saya bisa menemani kakak ibadah bersama."
Aslan menarik rem tangan. Untuk seorang bos besar yang kadang kala tak peduli dengan alamat karyawan, hari ini dan kemarin situasi sudah berbeda. Dia terlalu tahu seluk beluk Samantha tanpa perlu dijabarkan darimana asalnya.
"Atur aja jadwalnya." Aslan sependapat. "Kalau bisa pagi aku lebih suka."
"Oke."
Keduanya menurunkan sangkar burung dengan hati-hati. Aslan yang mendapat jatah membawanya mendengus sementara Samantha membawa hamsternya.
"Nggak ngerti, dari sekian banyak jenis hewan kenapa dia milih beli burung daripada kucing atau kelinci yang imut-imut gitu." protes Aslan. "Burung biasanya jadi hobby laki-laki."
"Love bird termasuk spesies burung beo. Burung yang aktif, ingin tahu, dan suka bercanda. Lambang cinta sejati dan kasih sayang. Kalau saya simpulkan dari masalah yang terjadi akhir-akhir ini, kenapa Samira memelihara dua pasang sekaligus, mungkin maksudnya dia berusaha menggambarkan bahwa pasangan yang tepat akan membuat suasana indah. Seperti suara burung ini." sahut Samantha. Dia menaruh kandang hamster di meja, lalu mengulurkan tangannya ke atas untuk menggantung cantolan sangkar.
"Papa masih di luar kak, cuma aku udah ngasih kabar kalau hewan titipan teman udah datang."
"Lagian kenapa kamu mau terima permintaan Samira, Sam? Ada-ada aja!" Aslan duduk, matanya memandang taman yang asri dan tertata rapi.
"Dia percaya sama saya, dia juga bantuin saya dengan senang. Jadi apa salahnya bantu Samira. Asyik anaknya, dan mungkin kita bisa menjadi bestie."
Oh no.
Aslan menggaruk kupingnya. Merasa was-was jika kedua sam-sam menjadi sahabat. Tetapi terserah keduanya asalkan semua baik-baik saja dan nyatanya memang semua akan baik-baik saja ketika mereka berpikir bahwa semua sudah sesuai batasan dan tidak membuat tikungan tajam.
......................
__ADS_1