
Kapal pesiar menyambut pengantin baru dengan segala fasilitas yang sudah terkenal elite di pelabuhan. Aslan dan Samantha belum pernah sebelumnya mengendarai kapal pesiar untuk sebuah perjalanan panjang. Terlebih bulan madu. Mereka sama-sama memandang takjub kapal itu setelah mimpi selama enam bulan yang penuh anugerah terselesaikan di sebuah altar di sebuah gereja kenamaan ibu kota. Mereka menikah di hari Selasa, penuh berkah dan rasa lega. Dan ini hari Rabu siang, keduanya tersenyum hangat sembari bergandengan tangan. Udara yang panas dan terik sekali hingga membakar kulit terasa lebih sejuk ketika mereka sama-sama menikmati keindahan dalam percikan asmara yang sedang berkembang meski di tangan satunya mereka sama-sama membawa koper masing-masing tanpa harus repot-repot menyewa porter pelabuhan. Mereka ingin melewati kegiatan bulan madu mereka secara biasa saja, penuh kerja sama seperti yang sudah-sudah dan tak menyerah pada keadaan.
Aslan dan Samantha berbalik. Didepannya, Ardana bergeming dengan mengenakan kaca mata hitam. Bisnis keluarga yang mengakar serta perginya kembaran berbulan madu membuatnya harus menjadi bagian paling bisa di andalkan bersama Robby tentunya.
"Titipkan salam kami kalo kalian ketemu Samira dan Harviza. Aku sudah menemukan pilihan yang terbaik tanpa menambah luka mama dan papa."
Ardana yang berjaket coklat tua tanpa disatukan resletingnya mengangguk. Itu yang sebenarnya dia harap ketika ia muncul dan mengganggu Aslan dan Samira. Perpisahan kedua orang tua mereka dengan alasan sudah tidak nyaman dalam genggaman perbedaan yang disatukan atas nama cinta mulai kembali mengambang, menjadi timbul perselisihan dan sedikit meninggalkan trauma sendiri baginya.
Ardana yakin tabiatnya yang usil ada bagusnya, baik keluarganya atau keluarga Samira tidak menjadi dingin, tidak kacau, tidak ada perdebatan seperti yang dia saksikan dulu. Hanya ada dua hati dan dua kepala yang berdebat, itu pun keduanya sama-sama sudah layak untuk membicarakannya tanpa ego diri yang berlebihan.
"Buruan kasih kakek Ahmad anak biar gue nggak di suruh buru-buru nikah! Males gue tiap ketemu kakek yang ditanyai cuma kapan punya pacar yang baik-baik."
"Buahahaha... Pacar elo sih aneh-aneh mulu. Nggak ada yang bener. Jujur gue kecewa, Ar. Sebagai sahabat Aslan, kamu beda banget sama dia." seru Robby sembari merangkulnya. "Harusnya emang yang kenal Samira itu elo, biar elo dapat hidayah dari dia. Mana setelah hamil dia tambah gemesin lagi. Samira, Samira. Pengen deh cubit pipi kamu."
"Makanya itu bro, gue mau sikat Samira. Eh Aslan teriak-teriak, nggak usah dekat-dekat bidadariku! Terus gue di tendang ke Lombok. Mana nggak ngasih kesempatan buat gue lagi. Gue terlalu hina baginya." keluh Ardana.
"Nggak ada yang hina, elo hanya cukup memperbaikinya dan memohon ampunan Tuhan." Robby menasihati dengan sikap hangat.
Ardana hanya tersenyum, tatapan kembali ke sepasang suami istri yang menatap mereka penuh suka cita.
"Udah curhatnya, bang?" tanya Samantha dengan nada gurauan. "Gue yakin sekarang Samira gelisah kalian bicarakan! Tega ya, jadi curiga di belakang gue kalian semua masih mengaguminya."
"Sorry Samantha, kapan emangnya Aslan ketemu gue cuma berdua. Yang ada tiap hari elo ada di belakangnya."
"Toilet?"
__ADS_1
"Iughh, gak level kita ngobrol di toilet. Apalagi ngobrolin gadis kita yang sudah lama milik yang lain." ucap Robby mendramatisir kepedihan Aslan di tinggal Samira.
Semuanya tergelak dan tanpa sepengetahuan pengantin baru Robby sudah mengabari Samira jika mereka akan segera berlayar.
Dari arah belakangnya, Samira yang memakai topi pantai untuk menyembunyikan parasnya berdehem-dehem dengan keras.
"Bicarain saya ya?"
Sontak Aslan dan Samantha berbalik. Mereka terpukau melihat wanita yang memakai gamis putih dengan jilbab warna kuning cerah tersenyum sembari menggandeng tangan suaminya. Harviza mengucapkan salam, dan ia berani bersumpah Aslan telah bahagia.
"Pergi naik kapal pesiar nggak ngajak-ngajak. Nikah nggak undang-undang, pergi ke luar negeri nggak pernah bawa oleh-oleh. Sahabat macam apa kalian!" omel Samira sebelum kedua bibir yang sudah ingin bercumbu itu membuka mulut.
"Satu lagi, sebagai sahabat baik harusnya kalian terima ini. Hadiah pernikahan kalian, jangan di buka sekarang. Malu."
Samantha menerima paper bag yang di sodorkan Samira.
Samantha ternganga perlahan-lahan. "Kenapa nggak boleh? Suamimu marah? Atau ada ultimatum keras?"
"Kenapa ya..." Samira menunduk, pipinya merona. "Nanti kamu tahu sendiri."
Samantha terbahak sendiri dan para lelaki yang mendengarnya di hantui rasa penasaran. "Oke, tapi aman kan?" tanyanya penasaran.
"Aman dong." Samira mengacungkan jempolnya. Lalu wajahnya yang berbinar-binar mulai terlihat tidak nyaman. "Udah ya, di sini panas, bau solar. Tapi kami ikut berbahagia dengan pernikahan kalian, till jannah Samantha, pak Aslan. Akhirnya" aku tenang.
Samira dan Samantha saling berpelukan. Dengan khidmat, mereka terhanyut dalam doa-doa yang dilantunkan Harviza ketika peluit panjang dibunyikan dari atas kapal. Aslan dan Samantha harus menaiki kapal.
__ADS_1
Para lelaki mengamini seraya memeluk Aslan dengan bergantian.
"Cie yang mau bulan madu. Guys, bakal ada yang begadang sepanjang malam ini mah." celetuk Robby, dia menepuk-nepuk pundak Aslan dengan bangga. "Hati-hati."
Aslan mencebikkan bibir seraya memeluk Robby lebih erat. "Titip perusahaan seminggu." Dalam dekapan persahabatan itu, ia sempat menatap Samira yang kembali menggandeng tangan Harviza lengkap dengan senyum sempurnanya yang kian hari kian semakin berseri-seri.
"Sudah berlabuh."
Aslan menarik diri, ia pun juga menggandeng tangan Samantha.
Sama-sama saling menghormati setiap kenangan-kenangan atas perpisahan yang terjadi dan kebahagiaan yang sedang melingkupi. Mereka saling memberikan senyuman manis sebelum membungkuk hormat. Tanda berpisah secara hormat.
"Kami harus pergi."
Para pengantar pengantin baru itu melambaikan tangan sementara Aslan dan Samantha kesusahan menaiki satu persatu anak tangga dengan koper besar yang mereka bawa.
Tiba di atas dek kapal dengan napas yang terengah-engah. Aslan merangkul bahu Samantha. Mereka tersenyum sambil melempar pandang ke bawah. Mereka balik melambaikan tangan cukup lama selama peluit panjang dibunyikan untuk terakhir kali sebelum komponen paling penting sebuah kapal perlahan-lahan berputar seperti roda kehidupan.
Kita bisa tenang di tempat yang seharusnya dan kita bisa menjadi putaran penuh semangat dan berbahaya di tempat yang seharusnya pula.
Kapal pesiar perlahan-lahan mulai bergerak meninggalkan dermaga. Aslan mengecup pelipis Samantha.
"Hadiah apa yang kamu berikan untuk Samira, Sam?"
"Lingerie!"
__ADS_1
Belum sempat Aslan terbahak dengan lega, tangannya sudah di tarik Samantha untuk menjelajah kapal pesiar yang menjadi tempat terjadinya percintaan yang canggung penuh atraksi.
......................