
Tak butuh waktu lama bagi mata-mata yang di sewa Amara untuk menemukan identitas lengkap Samira.
Di sebuah cafe yang tak banyak pengunjung, mata-mata yang berada disekitaran rumah Samira kini sedang menunggu Amara untuk membayar lunas kinerjanya.
"Semua ada di dalam amplop. Letakkan uang dan urusan kita selesai!" ucap mata-mata lewat sambungan telepon.
"Baik!" sahut Amara. Dia mendorong pintu kaca dan menghampiri sebuah bangku yang telah mata-mata itu sebutkan. Di sana tergelak amplop biru dan secangkir kopi hitam.
Amara menghenyakkan tubuhnya, pemilik kulit coklat muda yang bagus itu meraih dan membuka amplopnya setelah memastikan isinya sesuai keinginannya, Amara menaruh sejumlah uang di meja.
Amara bergerak, rambutnya yang ikal sebahu dan diwarnai coklat muda sewarna kulitnya berayun-ayun mengikuti gerakannya.
Seulas senyum sinis menghiasi wajahnya yang manis ketika masuk ke dalam mobil hingga sepanjang perjalanan menuju apartemen Ardana, Amara terus melenyapkan pikiran buruk yang akan terjadi.
"Jangan sampai Ardana kepincut cewek kampung ini, karena elo cuma punya gue."
Tiba di lahan parkir, Amara bergegas menuju lantai apartemen Ardana yang terletak di lantai sembilan.
Bunyi bel yang mengganggu aktifitasnya berolahraga, membuat Ardana menahan geram. Ia membuka pintu apartemennya dan tersenyum puas Amara yang datang.
"Ini." Amara menepukkan amplop itu ke dada Ardana yang basah oleh keringat.
"Kasih bonus aku untuk hari ini!" Amara mengusap peluh yang mengalir di dada Ardana.
Ardana tak bisa menahan gadis itu untuk menghentikan aksinya sementara ia mengeceknya dan tersenyum miring.
Samira Adna Agustine, 25 tahun. Tomat lover, pengagum senja, guru mengaji, asisten pribadi Aslan.
"Terima kasih! Pulanglah, aku akan memberimu bonus besok, di kamarmu."
Amara membuang napas kasar. Dari mukanya jelas ia tampak enggan keluar dari apartemen Ardana.
Ardana pun tak sanggup memindahkan tubuh Amara dari sofa. Terpaksa ia biarkan gadis itu melepas stoking hitam yang membungkus kakinya dan kembali merasakan pertunjukan perhatian yang menyalakan gairah.
***
Ardana mengernyit sambil berusaha mencerna informasi yang baru saja ia baca setelah mengusir Amara.
"Cewek ini cleaning servis terus diangkat jadi asisten pribadi. Menarik juga kelakuan sodara gue." Ardana menarik kesimpulan sendiri lalu tersenyum miring.
"Dia pasti punya rencana lain, dan aku akan membuat rencananya berantakan."
Ardana mengambil sebuah foto yang ikut terlampir di dalam amplop coklat saat gadis itu sedang menyapu di rumah tadi pagi.
Ardana berdecak kagum dengan tampang imut-imut yang mengenakan baju tidur panjang itu.
__ADS_1
"Lumayan juga."
***
Rumah Abah.
Samira sedang menyiapkan bekal makan siang untuk Aslan sewaktu Mustofa masuk ke dapur.
"Mau kemana, Sam?" tanya Abah.
Samira menjawab dengan santai. "Ke kantor abah, kerja."
"Kenapa bekalnya dua, kamu lembur lagi?" tukas Mustofa sambil menarik sedikit tote bag bergambar kucing milik putrinya. Ada dua kotak nasi bekal dengan warna yang berbeda, dan dua susu kotak rasa coklat dan stoberi.
"Gak lembur, bah. Biasa aja kok, cuma ini satunya buat bos Aslan."
"Bukannya tadi Abah sudah bilang, tanyakan dulu bosmu memiliki istri atau belum!" sahut Abah jengkel. "Sudah Abah bilang, tanyakan dulu statusnya, ngeyel anak amak."
Samira sedikit tertegun mendengar ucapan ayahnya. Dia meringis, di ciumnya punggung tangan sang ayah.
"Nanti Samira tanyakan, Abah aku, suami amak Ais yang galak. Lagian kalau memang sudah punya istri, aku bawa pulang lagi bekalnya atau Sam makan sendiri!" kata Samira.
"Abah tunggu penjelasannya!"
"Iya," Samira mengangguk, "Pergi dulu, Abah."
Gadis yang memakai scarft, gamis yang di padu padankan dengan jaket jeans itu bergegas menuju ruang kerja Aslan. l
"Pak Aslan." seru Samira sambil mengetuk pintu.
Dok–Dok–Dok.
"Pak, bapak di dalam tidak?" sahut Samira saat Aslan tak kunjung membuka pintu.
"Pak!" teriak Samira berang. "Buka pintunya dongggg!"
Dok–Dok–Dok.
Suara itu terdengar lebih keras dan berani.
Aslan tersentak kaget, ia menguap lebar-lebar. Dengan sempoyongan ia membuka pintu. Mata Aslan mengerjap-erjap sambil meneliti wanita di depannya.
"Ngapain ke sini?" tanya Aslan linglung.
"Bapak tidur di kantor?" tanya Samira heran saat mendapati pakaian Aslan masih sama seperti hari kemarin.
__ADS_1
"Iya... Ada apa?" Aslan bersandar di gawang pintu. Samira jadi berdecak kesal sambil mengibaskan tangannya. Aslan bau alkohol.
"Kemarin bapak nyuruh saya untuk bawa makan siang ke kantor! Ini di dalam tas!" Samira mengangkat totebagnya, "Bapak mandi dulu terus makan!"
"Kamu perhatian sama aku?" Aslan mendekati Samira sambil mengendus parfum yang menusuk indra penciumannya.
Samira melangkah mundur, waspada. Ia gugup. Kantor memang tidak sepi, hanya saja pekerja keras berada di lantai bawah.
"Saya hanya peduli, bukan perhatian!" jawab Samira gagu.
"Hati-hati... Bisa jadi dari peduli berubah jadi perhatian!" Aslan tergelak sambil meraih totebag yang Samira angsurkan.
"Makasih makan siangnya Samira, asistenku, aku bahkan lupa dengan permintaanku kemarin. Pulanglah!" pinta Aslan, bermaksud menampik bahwa ia bukan bos pemeras yang Samira katakan.
Samira mengintip ruang kerja Aslan, lalu mendesis.
"Sepertinya bapak perlu menambah uang lemburku!"
Samira mulai memunguti kertas-kertas yang berserakan dan gelas kopi yang masih berada di atas meja kerja. Ia juga memungut botol whisky sembari membuang napas kasar.
"Nanti malam bapak ada jadwal makan malam dengan ibu di Saffron Resto!" katanya mengingatkan.
Aslan mengangguk dan suasana menjadi lengang.
Aslan asyik menyantap makanan yang di buatan Samira tanpa gosok gigi dulu. Sedangkan Samira yang merangkap sebagai cleaning servis asyik menyapu ruang kerja Aslan.
Aslan tersenyum saat perutnya merasa kenyang sambil bersendawa. Samira mendengus.
"Sudah beres!" Samira tersenyum puas melihat ruang kerja Aslan yang sudah rapi dan bersih.
"Kamu yang masak ini, Sam?" Aslan menunjuk bekal makan siangnya yang sudah kosong seperti bocah yang sudah menghabiskan bekal dari emak.
"Iya, pak!" jawab Samira, mendadak ia mengingat permintaan Abah tadi mengenai bekal makanan.
"Ehm.. Saya boleh bertanya sesuatu, Pak?" ucap Samira ragu-ragu.
Aslan menyipitkan mata dan mengangguk. "Apa?"
"Bapak sudah menikah?" Samira lalu menunduk, takut Aslan tidak terima dengan pertanyaannya.
"Kenapa memangnya tanya-tanya aku sudah nikah belum? Apa kamu mau daftar jadi istriku? Kebetulan sekali, Sam. Aku emang butuh istri, jadi langsung saya ACC kalau kamu mau." goda Aslan sambil mendekat. Secepat mungkin Samira keluar dari ruang kerja Aslan.
"Kaburrr..."
Aslan ikut berlari keluar. "Aku jomblo, Sam!" teriak Aslan dengan percaya diri.
__ADS_1
Samira menoleh dengan mulut mencibir.
"Bapak gila, jomblo kok bangga! Mana nawarinya kayak nawari kerjaan, dasar bos aneh!" gerutu Samira seraya masuk ke dalam lift. "Sembunyi dulu sampai bos sadar."