Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Sampai Berjumpa Lagi


__ADS_3

Dua tahun berlalu. Tidak hilang harapan Aslan dan Samira untuk bertemu di surga Allah sambil membawa keluarga masing-masing. Dan semua yang belum pernah terjadi akhirnya terjadi. Lama sudah mereka tak medengar kabar satu sama lain. Mereka mulai pergi, hilang dan melupakan. Tenggelam pada kegiatan masing-masing terlebih dunia menerima kehadiran bayi mungil dari rahim seorang wanita bernama Samira penuh kehangatan dari hari ke hari.


Seorang bayi laki-laki yang memiliki mata indah seperti mata Harviza hingga pada akhirnya Samira makin mabuk kepayang pada suami dan bayinya. Tidak henti-hentinya dia memandangi mata mereka sambil mengucap syukur atas nikmat yang di balut dengan canda dan tawa.


"Apa aku harus menghapus stigma buruk kalau kakak nyebelin?" kata Samira di bawah pancaran sinar matahari yang menghangatkan mereka di belakang rumah baru. Masih di wilayah pondok pesantren keluarga Harviza. Sudah lama mereka mengosongkan rumah di desa Salakan. Rumah itu di kontrakan hingga orang suruhan Aslan tidak lagi menemukan jejak Samira.


Harviza mengendikkan bahu. Hidupnya sudah dihiasi kegembiraan, kasih sayang, anak yang tampan dan istri yang menggemaskan. Terlebih shalihah. Mimpi-mimpinya sudah terpenuhi, dia menerima apapun yang dikatakan Samira. Toh dia sudah menunggu lama untuk mewujudkannya.


"Apa kamu mulai berubah pikiran?" tanya Harviza. "Lama banget aku nyebelinnya. Nggak bosan-bosan juga ternyata aku gangguin kamu."


"Setiap hari kakak gangguin aku!" Samira menyenggol lengan suaminya. Lalu cekikikan. Memang begitulah mereka, orang-orang berdekat mereka berkomentar. Mereka senang saling menggoda, cekikikan geli penuh rahasia, atau seolah-olah bertengkar manja. Tidak heran, bayi yang baru bisa berjalan itu sudah akan memiliki adik. Di perut Samira sudah tumbuh anak kedua mereka.


"Terus maunya sekarang gimana?" Harviza membantu putranya berdiri, tertatih bayi mereka melangkah kakinya sebelum ambruk di atas rumput.


Samira menyilangkan kakinya lalu memangku putranya. Ia menengadah. "Gak gimana-gimana kak walau berat rasanya hatiku berkata kakak nggak nyebelin lagi."


Harviza tergelak, begitulah istrinya selalu ada-ada saja. Apalagi hamil membuatnya sering aneh-aneh saja omongannya. Namun dia mencoba memahami kehendak Samira meski entah sampai kapan tingkah Samira begitu. Menutupi rasa sayangnya yang berlebih kepadanya dengan canda.


"Makasih ya aku sudah nggak nyebelin, tapi itu kabar buruk." Harviza memasang ekspresi sedih yang dibuat-buat.


"Kenapa?"


"Aku jadi sulit mendekatimu, dan bukannya kamu tau, hanya itu caraku mencari perhatianmu."


Samira terdiam. Tentang realita cinta kepada Harviza, dia merasa yah mau bagaimana lagi, Harviza sudah melihatnya sejak ia baru keluar dari rahim ibunya. Cintanya bertahap, anggaplah itu seperti love hate relationship. Benci dan cinta beda tipis tetapi lama-kelamaan menjadi cinta yang bersemi penuh kejujuran dan ketulusan. Sebab keduanya saling belajar untuk memahami dengan cara berkomunikasi.


"Ya udah, aku ngalah. Kakak tetep nyebelin biar bisa dekatin aku." Samira mencium pipi Harviza. Lalu menatap awan putih yang berarak di langit biru ketika mendengar suara ketukan pintu.

__ADS_1


Keduanya menoleh ketika seorang pria bersarung memanggil keduanya dengan salam.


"Waalaikumsalam, kang. Ada apa?" Harviza beranjak.


"Ini mas Harviz, tadi ada tamu titip undangan untuk mas dan mbak. Mereka menitipkan pesan untuk segera datang ke alamat yang sudah di tuliskan di undangannya."


Harviza menerima amplop coklat yang terasa ringan dan pipih. "Terima kasih, kang."


Seseorang itu keluar, meninggalkan keluarga kecil anak pimpinan pondok untuk membaca sepucuk surat dan undangan vip dari PT cemerlang abadi Tbk. Tertera di dalam surat pemberitahuan selesainya pembangunan mega proyek yang dulu menjadikan Samira terkenal di media bisnis. Seorang gadis yang memeriahkan hati sang direktur utama hingga didapuk sebagai asisten pribadi yang cantik luar dalam.


Tertera pula permintaan Aslan untuk menjadikan Harviza sebagai pemimpin jalannya proses tasyukuran atas selesainya mega proyek perusahaan yang sebagian benefitnya masuk ke dompet Samira. Kerja keras mereka tidak akan sia-sia. Kerja keras yang didasari doa tulus, tentunya. Namun Samira mempertimbangkan gagasan itu lama sekali. Dia khawatir pertemuannya dengan Aslan akan membuat pria yang kini menjadi superstar di kerajaan bisnis mengingatnya lagi meski dia sudah berdamai dengan hatinya, dengan batinnya dan dirinya sendiri. Mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing, dunia masing-masing dan hanya pada Harviza dia merasa telah dicintai seutuhnya dan apa adanya. Hanya pada Harviza pula dia lebih dekat dengan ibunya. Janji itu nyata. Lewat tangan Harviza, Samira merasa beruntung memilikinya.


"Kakak mau datang?"


"Mungkin menyenangkan bertemu mereka lagi, Samira. Lagian undangan tanpa niat tidak akan tersampaikan dengan baik. Mereka ingin merayakan keberhasilan itu dengan kita. Bersama-sama."


Keesokan harinya pukul delapan pagi, mereka berangkat menuju alamat yang tertera di undangan. Diundangan itu sudah tergambar betapa gagah dan keren proyek Aslan yang mengingatkan Samira akan pertama kalinya dia mengikuti kegiatan besar dan penting.


"Kakak nggak cemburu aku ketemu pak Aslan lagi?"


Harviza yang memakai setelan jas dengan kemeja batik serta peci hitam itu menggeleng.


"Kalian sudah sepakat untuk melepas dengan bebas. Tapi jauh di dasar hati. Aku menyadari bahwa aku dan Samantha telah membebaskan hati kalian dari perasaan terbelenggu."


Samira mengetatkan rangkulannya di lengan Harviza lebih erat. Harviza adalah pelanginya, tidak ada dia, harinya mendung, penuh aturan, sepi dan monoton. Harviza yang mengajarinya bandel dan selamanya meskipun bandel dia tidak pernah di hukum. Mewah memang hak istimewa anak pimpinan pondok itu. Tetapi Samira dan Harviza sudah membuktikan bahwa mereka juga pintar.


"Aku bener-bener cinta sekali padamu kak!" kata Samira di samping wajah Harviza sembari memperhatikan wajahnya dengan hati-hati.

__ADS_1


Harviza mencium pelipis Samira. "Sudah ku duga!"


Tiba di sebuah gedung baru bertingkat dua puluh yang padat dengan karangan bunga ucapan selamat di area lobi. Harviza menggendong Abrizam seraya mengikuti seorang petugas yang telah Aslan tugaskan untuk menjemput tamu kehormatannya.


Samira tertegun. Dua ratus lima belas anak yatim piatu dari yayasan Sastrawinata memadati ballroom. Mereka menanti dengan sabar acara di mulai.


Aslan melambaikan tangan, dia menyingkir sejenak dari para pemikir dan pemilik gedung tersebut untuk menyambut tamu spesialnya.


"Gemes." Aslan mencubit pipi gembul Abrizam yang langsung merengek.


"Bapak nih bukannya salam main cubit-cubit aja." celetuk Samira sambil mengambil alih putranya dari Harviza. "Aku gabung sama Samantha dan nyonya Cornelia ya kak."


Aslan sengaja mengangguk.


"Kak Harviza, bukan kak Aslan!" sergah Samira seraya melengos pergi.


"Masih sama bro?" tanya Aslan ketika Samira sudah berlalu. Dia terkekeh akan tingkah Samira yang masih tetap judes.


"Parah. Saya hampir gila di buatnya." Harviza tersenyum lebar, "Bercanda, perkembangannya sudah jauh lebih baik dan cukup untuk saya. Bagaimana denganmu? Semua baik-baik saja? Samantha sudah isi?"


"Kembar."


Kedua pria itu berpelukan. Tak lama acara tasyukuran di mulai oleh si pembawa acara. Harviza pergi ke mimbar yang di sediakan untuk mengisi acara tersebut dengan ilmu yang diketahuinya serta doa yang dilantunkan dengan merdu. Aslan, Samantha dan ratusan orang lainnya tertegun. Hanya Samira yang merasa sekali lagi jatuh hati pada suaminya sendiri. Dan saat acara telah selesai, Aslan dan Samantha memandang mobil putih yang ditumpangi keluarga kecil yang berlinang kebaikan itu dengan senyuman lega. Semua sudah baik-baik saja. Akhirnya. Tinggal kitanya saja yang mensyukurinya.


...TAMAT ...


......................

__ADS_1


Terima kasih atas kesabaran kalian menanti cerita ini sampai selesai. Salam sayang, Skavivi.


__ADS_2