
"Mau apa lagi dia?" desis Aslan sambil meremas sobekan kertas di tangannya.
"Aku yakin dia nyuruh orang buat ngikutin aku semalam." Tersadar sepatunya sudah diamati Ardana. Aslan berdiri, berkacak pinggang sambil merogoh saku celananya.
"Sam, beli sesuatu yang baru. Apapun tapi di pasar saja, jangan di mal." serunya ketika pintu terbuka. Gadis berkerudung satin itu mengernyit bingung.
"Kenapa, pak?" tanya Samira sambil menaruh nampan di meja.
"Ardana tau aku beli sepatu, jadi plis kamu beli sesuatu yang rahasia. Yang gak akan mungkin dia tahu!" kata Aslan sambil mengeluarkan uang pecahan sebesar lima ratus ribu.
"Apa saja, dan rahasia!"
Apa saja dan rahasia. Mendadak pundak Samira langsung terasa berat.
"Gimana, Sam? Kamu setuju kan?"
"Apa saja? Gak ada pilihan khusus gitu, pak?" tanya Samira sambil menyimpan uang-uang itu ke dalam saku jas kerjanya.
"Tidak apa-apa, syaratnya cuma mudah kamu ingat bahwa itu aku. A-S-L-A-N!"
Samira mengangguk. Apa saja dan rahasia. Senyumnya melebar bagai di datangi hidayah Allah.
Abah dulu kan guru, jadi jas kerjanya banyak. Hihi, nanti aku spill yang cocok buat bapak A-S-L-A-N.
Aslan membuka surat yang terlampir dalam amplop coklat bertuliskan nama perusahaan milik Ardana. Ia mengeluarkan selembar kertas kalau
menghela napas kasar.
"Yang benar saja perusahaannya mau menawarkan ikut proyek pembangunan mega mal ini. Bukannya mau berprasangka buruk, bang. Perusahaan kita bersaing!" gerutu Aslan dalam hati.
Tau ada cewek baik-baik disini, dia pasti bakal ninggalin Amara.
"Kenapa, pak?" tanya Samira, wajah Aslan yang mengandung pertanyaan. Dia sedikit curiga kalau wajah itu lagi memikirkan yang tidak-tidak dan menyusahkan.
"Atur pertemuanku dengan Ardana, hubungi nomor yang tertera di amplop ini, Sam. Gunakan nomer kantor!" titah Aslan sambil mengangsurkan amplop ke arah Samira.
__ADS_1
"Baik, pak. Saya akan menghubunginya sekarang! Tapi–bukannya kalian saudara kembar. Bapak gak akur ya sama bapak Ardana?"
Aslan mengangguk, belum juga Samira keluar dari ruang kerjanya. Aslan mengingatkan agar dibuatkan jadwal khusus untuk touring bersama.
"Baik, saya segerakan!" Samira menutup pintu lalu menggerutu dalam hati.
Gak sabaran, baru juga mau buka laptop. Lagian ada-ada saja minta touring berdua. Bos pikir Abah gampang ngasih izin untuk pergi bersama yang ada cuma di kasih nasihat dulu sampai kuping panas. Mana malam Minggu aku pengajian, hari Minggunya harus bersih-bersih rumah. Orang kaya mah bebas nyuruh-nyuruh.
Samira menekan tuts-tuts telepon.
"Hallo, Assalamualaikum. Betul, saya asisten pribadi bapak Aslan. Ya... ya, saya harus membuat jadwal pertemuan dengan bapak Ardana. Bisa? Kapan? Baik. Terima kasih!"
Samira menghela napas lega sambil menaruh gagang telepon. Ia membuka catatan pengingat dan menulis jadwal pertemuan Aslan dan Ardana. Setelahnya Samira melanjutkan lagi pekerjaannya untuk mengubah jadwal pekerjaan Aslan yang sama sekali tidak mudah. Beberapa harus di majukan jadwalnya, beberapa harus di mundurkan. Bukan main, rasanya kepala Samira pening dan tidak semudah maju-mundur cantik.
***
Jam makan siang tiba, Samira bergeming di teras perusahaan untuk menunggu ojek online yang membawakan pesanan makan siangnya.
"Ini dia asisten pribadi somplak, bisa-bisanya bos Aslan milih dia jadi asisten pribadi! Buta kali ya bos. Gak lihat ada yang seksi dan menarik apa!" gerutu salah satu karyawati yang iri dengan kedekatan Samira dan Aslan.
Samira tak acuh, ia masih menunggu dengan santai. Tapi mendadak kepalanya mendongak secara paksa.
Samira menoleh, ia melinting jas yang ia kenakan. Wajahnya sudah memerah menahan amarah, ia yang tak pernah bertindak kekerasan mencengkram bahu karyawati yang menyebutkan 'perempuan murahan'.
Samira mendorongnya sampai membentur tembok.
"Katakan siapa yang murahan? Saya atau anda? Kalau saya? Coba lihat pakaian ada seperti perempuan malam yang menjajakan badannya untuk laki-laki hidung belang. Bukankah Anda bekerja di kantoran? Seperti tidak tahu saja adab berdandan sebagai wanita terhormat!" serunya marah, meski suaranya masih terdengar imut-imut.
Dengan sedikit dorongan, Samira menghempaskan tubuh wanita di depannya dengan sedikit tekanan. Sedangkan wanita tadi terperangah, Samira yang biasanya santun dan lembut kini berubah menjadi wanita tegas dan tak segan-segan mengeluarkan suara yang menusuk relung jiwa karyawati tersebut.
"Jangan ganggu aku, kalo Abah marah. Kamu tau sendiri doa orang teraniaya seperti apa!"
Samira meninggalkan lobi saat pesanannya sudah berada di genggaman tangannya. Sesaat kejadian yang menggemparkan itu terdengar hingga ke tempat Aslan bekerja.
"Samira lagi, Samira lagi..."
__ADS_1
Aslan menggelengkan kepala, ia menutup berkas di mejanya sambil menunggu Samira masuk ke ruang kerjanya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Samira masuk ke ruang kerjanya.
"Maaf, pak. Lama..." ujar Samira, menaruh nampan berisi nasi Padang dan air putih.
"Sam..." panggil Aslan lirih. Samira berdehem. Tahu arah pembicaraan mereka.
"Maaf, pak. Saya buat kegaduhan lagi di bawah. Tapi saya punya alasan logis kenapa saya melakukannya!"
"Katakan." pinta Aslan lembut, ia pun sebenarnya jengkel jika Samira sering dipandang sebagai wanita murahan yang menggodanya. Padahal, jika di telisik lebih dalam Samira sama sekali tidak pernah menggodanya justru ialah penggoda sebenarnya.
"Seperti biasanya, karyawan bapak yang perempuan tidak terima saya menjadi asisten pribadi bapak. Ehm... apa saya resign aja ya, pak?" tanya Samira ragu-ragu, ia belum rela keluar dari perusahaan itu. Selain dia senang sekali dengan gaji yang Aslan berikan, ia suka dengan sikap Aslan yang penuh toleransi.
Aslan tak akan pernah meng-acc-nya, tak akan pernah!
"Habis dapat motor baru terus resign. Sam, cicilan motormu belum lunas. Enak saja sudah minta resign!" gurau Aslan. Bohong dia sampai Samira mendelikkan mata.
"Jadi kemarin hutang? Kata Abah, dosa besar melakukan praktek riba. Mending bapak segera lunasi motor saya karena saya tidak mau bapak menanggung dosa diatas kesenangan saya!" ujar Samira menggebu-gebu.
"Lugu sekali asisten pribadiku. Mana percaya lagi aku kibulin. Bahaya dia kalo ketemu Ardana." batin Aslan seraya menggeleng.
"Sam..., lebih baik kamu istirahat dan menjalankan kewajibanmu dengan Tuhanmu!" Aslan tersenyum.
"Kenapa bapak tidak?" sahut Samira.
"Aku—" Aslan terdiam sejenak. "Motormu sudah lunas dan aku tidak memberi izin jika kamu minta resign. Biarkan manager mereka yang mengurus karyawati yang mengganggumu!" kata Aslan sambil menarik gagang telepon. .
"Bapak mau memecatnya? Jangan..." sergah Samira. "Jangan menghambat rezeki orang. Biarkan saja!" Samira mengatupkan kedua tangannya, menunjukkan mimik penuh harap.
"Jangan ya, pak. Aku yakin dia gak akan nyerang aku lagi."
"Emang tadi kamu apain? Percaya diri banget kamu gak akan dia serang."
Samira menunjukkan giginya yang rapi. "Aku dorong!"
__ADS_1
Sedikit kaget, Aslan cuma bisa tersenyum lebar menanggapi hal itu.
"Kamu memang bidadari turun dari Kawasaki W175, Sam! Tidak salah kalo aku... Aku... Hehe." Aslan salah tingkah sendiri dan menutup wajahnya dengan map biru.