Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Tiga Pria


__ADS_3

Pada tanggal empat Juli, sebulan setelah resminya ucap janji Samira dan Harviza hidup bersama di depan orang tua mereka. Halaman rumah sederhana bercat hijau yang menampilkan dekorasi cahaya warna warni di desa Salakan itu membuka mata para tamu undangan lebih lama untuk mengikuti proses pengajian sebagai urutan proses pernikahan Samira dan Harviza besok pagi.


Tampak anggun seorang gadis suci bergaun gamis putih yang di desain bak ratu sehari. Samira duduk bersimpuh di dekat ayahnya sembari melantunkan doa-doa suci Al-Qur'an bersama tamu undangan yang lain.


Samira berdebar-debar, susah tidur, susah makan, selama hari-hari menjelang sesuatu yang membahagiakan juga membuatnya cemas dia sering merasa dihantui istilah malam pertama dengan Harviza pula, entah bagaimana dia membayangkannya nanti, Samira tidak sampai akal membayangkan juga tidak tahu alasan menjedanya.


Semua orang mengucapkan kata Amiin bersamaan ketika kyai yang di kirim oleh keluarga Harviza mengakhiri doa-doanya.


Samira mengucapkan syukur Alhamdulillah sambil mengusapkan kedua telapak tangannya di wajah. Satu proses berakhir, dia menyunggingkan senyum sewaktu sanak keluarganya mengerubunginya sembari mengucapkan selamat.


Samira mengikuti arus malam itu dengan penuh suka cita. Begitu pun Harviza, anak pimpinan pondok itu juga melakukan hal yang sama lebih keras malah dia berdoa. Ia sadar membangun penjara suci dengan Samira tidak semudah membalikkan telapak tangan, tidak semudah menyelami dalamnya ilmu meski dalam angan bidadari yang dia temani semasa pertumbuhannya akan menjadi kenyataan.


Samira menjadi miliknya, dan saat dia di sampingnya esok hari setelah janji ikat suci pernikahan diucapkan tulis, niat dan sungguh-sungguh. Dia bisa memastikan rumah yang telah ia siapkan untuk bidadarinya jauh lebih berharga ketimbang menjadi ruang sepi tanpa arti. Ada Samira yang menyambutnya pulang, membuatkannya kopi, dan menyiapkan pakaian meski dengan tampang permusuhan dan bibir cemberut mirip bibir angsa putih. Tapi itulah indahnya seni dalam mencintai, tak peduli kekasih kau sedang merajuk, kau mengerti memang begitulah sikap dia. Dia yang mau cintai dengan doa dan pengharapan. Maka satu yang bisa Harviza redam, mengalah. Membiarkan Samira memandunya dalam cinta yang perlahan namun tepat sasaran.


Harviza menutup Al Qur'an di tangannya seraya memberi senyum. Dari barisan para santri yang mengikutinya bersama-sama melafazkan ayat-ayat suci, duduk seorang Aslan dan Robby yang mendengarkan dalam balutan jas kerja. Mereka bersila dan tersenyum. Berbaur dengan yang lain tanpa merasa sungkan.


Harviza beranjak, dia berbicara dengan salah satu pegawai pondok agar menyimpan sajian. Selang lima menit, ia menemui mereka sembari membawa nampan, dua teh hangat serta snack box dia berikan.


"Baru pulang kerja?" tanya Harviza.


Santri-santri silih berganti meninggalkan serambi masjid hingga menyisakan tiga laki-laki dewasa yang saling berhadapan.


"Tadinya kita mau mampir ke rumah Samira, tapi biasalah, anak gadis mau nikah takutnya bikin Abahnya cemas. Jadi kita cuma nganter Samantha terus mampir ke sini." sebut Robby, "Aku minum tehnya, haus."


Harviza mempersilahkan, lalu tatapannya tertuju pada Aslan.

__ADS_1


"Maaf." katanya tulus, Harviza tahu perihal mundurnya Samira dari jabatan sebelumnya. Samira sudah cerita kala mereka harus dan wajib mencari gaun pernikahan bersama dan memberi undangan pernikahan ke kantor Aslan.


Aslan sengaja tersentak sambil menyunggingkan senyum. Wajahnya yang periang sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia menyimpan luka terpendam.


"Maaf untuk apa nih bro? Udah mau nikah besok. Janganlah di bahas, kita sudah cukup tahu alasannya dan inilah memang jawabnya. Tidak akan mungkin ku gadaikan imanku hanya demi cinta. Sejak awal Samira sudah mempersiapkannya, membuatku lebih rajin beribadah demi diriku sendiri yang belum menemukan ketenangan saat itu. Dan inilah aku yang sekarang, ya memang tidak aku pungkiri pernah suka dengan calon istrimu."


Ganti Harviza yang sengaja tersentak kaget. "Saya sudah tau, terus bagaimana dengan Samantha? Sudah sampai ke level mana?"


"Dia sih parah, Viz." sahut Robby, "Udah nggak butuh gue lagi dia waktu meeting, semua di handle Samantha. Kalau bisa gue bilang ya, mereka pdkt sambil kerja. Jago dia, parah, udah ada basic unggul dari keluarganya jadi sekarang gue bener-bener lega mecat Samira. Makan tuh anak, Viz!"


Harviza terkekeh pelan. "Terima kasih. Besok tentu saya makan, kalau Samira mau."


Ketiganya sontak terbahak bersamaan sampai-sampai harus ditegur ayah Harviza.


"Kalau sudah berkeluarga lebih baik pulang, temui istri kalian. Ibadah yang enak. Lebih hangat mereka to daripada teh ini."


"Jelas pak kyai. Tapi istriku sedang menstruasi. Galak mirip macan, saya jadi takut deket-deket, takut di cakar." sahut Robby.


Aslan tertawa di balik telapak tangannya yang membekap mulut.


"Wanita memang begitu. Besok datang saja ke waktu akad nikah di rumah Samira, jam sembilan. Datang jangan nggak datang, bawa istrimu yang seperti macan itu biar nanti saya yang ngasih tau. Suami itu surganya istri."


"Betolllll." Robby mengacungkan jempolnya, lalu sadar dia sedang di usir secara halus. "Maaf pak kyai, kami sebagai sahabat dari kota mampir sebentar untuk menengok sahabat kami di sini. Tapi sebelumnya saya akan menjawab, teman saya ini belum mempunyai istri jadi masih nunggu jodoh." Robby merangkul bahu Aslan sewaktu menjelaskan.


Aslan menghela napas. "Mohon di bantu doa ya pak kyai."

__ADS_1


"Siap mas." Ayah Harviza mengangguk, "Ini di makan-makan dulu sebelum pulang, tapi kalau memang rumahnya jauh bisa menginap di sini. Banyak kamar."


"Gimana, As? Mau balik sekarang apa besok?" tanya Robby lirih.


"Lah kita gak bawa baju ganti, kamu pikir enak pake segitiga kemarin?" balas Aslan lirih.


Robby meringis seraya menggeleng. "Kami pulang saja pak kyai. Tapi setelah makan-makan ya." tawarnya nggak punya malu.


Harviza dan ayahnya tersenyum lebar. "Jangan malam-malam ya, nak."


"Iya, Abah." kata Harviza patuh, dia membiarkan ayahnya berlalu sebelum melepas peci hitamnya.


"Dari dulu abah saya dan Abah Mustofa sering menjodoh-jodohkan kami berdua bahkan sejak kami baligh. Awalnya saya kira itu cuma bercanda orang tua saja yang begitu akur sampai anak-anaknya juga harus akur tapi ternyata bablas sampai kita dewasa." Harviza menerawang jauh ke masa lalu. Dia menunduk sambil meremas pecinya.


"Samira tidak pernah jatuh cinta sama saya, apa yang dilakukannya sekarang hanya untuk membuat orang-orang yang menyayanginya tenang."


Tahu bakso yang baru saja Robby lahap buru-buru dia kunyah dengan cepat.


"Cuma masalah waktu, Viz. Maklumlah Samira nggak pernah punya nyali untuk menentang ayahnya apalagi pacaran diam-diam." Robby mengelus lengan Harviza yang memakai baju koko putih panjang dengan simpati. "Samira bakal jatuh cinta sama kamu setelah kalian nikah. Dia yang aku lihat selama kerja sama kami. Dia cuma butuh rasa nyaman sebelum asik banget diajak sharing banyak hal. Cewek gitu loh, maunya dingertiin."


"Bener, Viz." Aslan mengangguk. "Semangat bro, tapi lucu juga juga sih jatuh cinta setelah nikah. Ada manis-manisnya gitu kali ya?"


"Halah jomblo kebanyakan ngayal, lo. Tidur sono biar mimpi indah!" seloroh Robby sambil terbahak terus.


......................

__ADS_1


__ADS_2