Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Ardana.


__ADS_3

"Siapa wanita ini?" tanya Ardana kepada Amara, asisten pribadinya sewaktu ia sedang membaca artikel bisnis yang memberitakan perkembangan bisnis keluarga Sastrawinata.


Terlihat wajah Samira yang ikut terpampang jelas di laman web tersebut saat ikut peletakan batu pertama tadi siang.


"Apa dia pacar baru Aslan?" tanyanya, Ardana meneliti penampilan Samira, alisnya bertaut seperti memikirkan sesuatu dengan berat. "Tidak mungkin selera Aslan seperti ini, apa dia sedang mendapat mainan baru?" sambungnya sambil menaruh tabletnya.


Mendadak sifat iseng Ardana kumat. Tiba-tiba ia mengangkat tubuhnya dari tepi meja.


"Cari identitas tentang wanita ini. Aku rasa bakal seru jika wanita ini bisa aku permainkan!"


Amara melepas kacamatanya, gadis itu mengeluh dalam.


"Jangan bertindak melebihi batas. Aku males mengurus daftar hitammu jika harus berurusan dengan pihak hukum!" cetusnya memperingati, "kau ingat, kau itu residivis."


Ardana mengembuskan napas keras-keras begitu panjang sambil mendekati Amara.


"Ini permainan cinta, bukan permainan yang berurusan dengan hukum, Amara. Kamu tenang saja, selesaikan tugasmu!" katanya sambil menyentuh dagu Amara, "Kamu cemburu?"


Ardana Persada Michael Sastrawinata. Pemuda yang meneruskan usaha kakeknya sama seperti Aslan. Sama-sama jomblo, dan pernah terlibat cinta segitiga yang berakhir permusuhan dengan saudara kembarnya sendiri, Aslan Persada Michael Sastrawinata.


Aslan dan Ardana si kembar yang terpisahkan setelah kedua orang tua mereka bercerai. Tak ada yang ikut dengan mereka setelah sama-sama dewasa.


Amara mendengus sambil memalingkan wajahnya. "Aku gak cemburu, ngapain lagi cemburu, cuma sampai kapan kamu dengan Aslan bertengkar, Ar. Kalian bukan banci, kan?"


Mulut Ardana langsung membungkam mulut Amara, mengigit bibir bawah gadis itu sampai merah.


"Tugasmu di sini hanya kerja dan menjawab pertanyaan ku, bukan protes!" Tangan Ardana menekuri wajah Amara, menuruni lehernya, gadis itu menelan ludah akan belaian si brengsek bermuka dua itu.


"Katakan kalo kamu cemburu!" desak Ardana, "Kamu mencintaiku bukan?"


Amara melepas kacamatanya, ditaruhnya kaca mata itu di meja, mata minus yang sanggup membuat pesona Ardana nge-blur itu tetap saja tidak membuatnya buta.


"Iya aku cemburu, untuk apa kamu mencari tau wanita berjilbab itu yang nyusruk ke tanah! Apa itu selera mu, Ar?"


Ardana menahan pergelangan tangan Amara setelah perempuan itu membelai dadanya dan melepas pengait ikat pinggang.

__ADS_1


"Tidak sekarang, urus dulu tugasmu!" Ardana berbalik, mengaitkan lagi tali pinggangnya meski dalam celana panjangnya kini terasa sesak.


***


Abah menutup koran pagi yang baru saja ia baca di teras rumah. Melihat gambar putrinya terpanjang di laman bisnis perusahaan besar dengan pria-pria berdasi.


"Samira," panggil Abah sambil meletakkan korannya di meja.


Samira menegakkan tubuh setelah asyik menyapu halaman dengan sapu lidi.


"Iya, Bah. Ada apa?" tanyanya sambil mendekat. Hari ini dia masuk jam sembilan pagi, setelah kemarin lembur di kantor dengan Aslan.


"Bukannya kamu jadi cleaning servis, sedangkan barusan Abah lihat kamu ada di lokasi proyek?" selidik Abah dengan hati cemas.


Samira meringis dengan gemas sambil mengeratkan genggaman tangannya di sapu lidi.


Pasti udah kemana-mana beritanya. Malu ih kalo sampe Abah tau aku jatuh kemarin, nyusruk lagi.


"Um...," Samira menaruh sapu lidinya ke tembok, "hari Kamis kemarin aku diangkat menjadi asisten pribadi, Bah! Jadi, aku harus berada di samping bos besar selama bekerja." jawab Samira jujur.


"Abah marah?" Samira melepas ikatan jilbabnya di belakang tengkuk. "Samira minta maaf belum cerita, Sam lagi belajar dari kemarin."


Mustofa Amirudin menggelengkan kepala. Lebihnya rasa cemas yang ia rasakan saat ini karena Samira hanyalah gadis rumahan yang belum mencecap pahit-manisnya kehidupan di perusahaan. Sebagai ayah dan harus menggantikan peran istrinya, Mustofa tidak ingin putrinya terkena masalah besar.


"Abah tidak marah, Samira. Hanya saja Abah penasaran, apa bos besar mu sudah menikah? Apa kamu di perlakukan dengan baik?"


Samira terdiam, tidak tahu harus menjawab apa karena ia sendiri tidak tahu urusan pribadi Aslan. Abah langsung bisa menyadari kebingungan putrinya yang lama berpikir keras.


"Jika bosmu sudah memiliki istri, apa istrinya tidak curiga ia memiliki asisten pribadi seorang gadis?"


Samira cepat-cepat mengendikkan bahu.


"Aku tidak berpikir sejauh itu, Bah! Nanti coba aku tanyakan pak Aslan. Cuma itu terlalu bersifat pribadi Abah, Sam gak enak." ucapnya dengan wajah tertarik, sebenarnya ia juga penasaran dengan status Aslan. Kalau saja Aslan sudah berstatus suami, ia akan memilih untuk undur diri sebagai asisten pribadinya.


"Abah takut kamu dipandang sebelah mata oleh tetangga jika mereka tahu kamu menjadi asisten pribadi seorang laki-laki beristri, Samira. Kasian nanti anak Abah yang cantik ini tidak enteng jodoh!"

__ADS_1


Abah menyematkan senyum ketika Samira yang mendumel sebal.


"Gimana gak enteng jodoh, Abah saja lebih galak dari satpam!" protesnya. "Samira sudah besar, Abah. Bukan remaja lagi."


"Amak akan marah kalau Abah tidak menjaga putri kesayangannya dengan baik!" sahut Mustofa.


"Amak juga akan marah kalau putrinya yang cantik tidak kawin-kawin!" eluh Samira cemberut.


Mustofa jadi terhibur. "Anak Abah pengen kawin? Mana calonnya?" Ia pura-pura celingukan, dengan sadar Abah justru menangkap seseorang yang sedaritadi berhenti tak jauh dari rumah mereka.


"Sam, hati-hati dengan sekelilingmu!" kata Abah sambil beranjak. Mukanya jadi tegang.


"Ada apa, Bah? Ini masih pagi, tidak akan ada maling." sahut Samira mengikuti Abah menuju gerbang rumah. Abah menggemboknya.


"Wajahmu sekarang banyak dilihat orang-orang. Ada di koran. Abah takut kamu di culik orang, Samira. Abah khawatir." Seolah intuisi seorang ayah, Mustofa curiga dengan orang yang diam-diam mengintai rumah mereka.


Samira tertawa kecil. "Kita harus husnuzzan terhadap orang lain, bukankah itu yang Abah ajarkan padaku agar tidak berpikir buruk terhadap orang lain?"


Abah mengelus dadanya sambil mengucap kata istighfar.


"Saking khawatirnya Abah sama kamu, Sam. Kamu satu-satunya yang Abah miliki sekarang setelah amak pergi."


"Iya Samira tau, cuma siapa yang berani nyulik aku? Orang-orang pada takut duluan sama Abah."


Abah dan Samira masuk ke dalam rumah. Selagi Samira melanjutkan membersihkan rumah. Abah kembali meraih koran di atas meja, mulai mencari-cari informasi pemasangan cctv.


"Sam, pastikan kamu meminta asuransi jiwa dari perusahaan tempatmu bekerja, Sam! Untuk jaga-jaga!" seru Mustofa.


Samira meringis geli, dikumpulkannya daun-daun jatuh dan menua di satu tempat.


"Kenapa emangnya, Bah?" tanyanya heran, bisa-bisa Aslan langsung menertawakannya jika ia minta itu.


"Anak Abah sudah terkenal soalnya."


Tawa sumbang langsung keluar dari mulut Samira.

__ADS_1


Terkenal apanya, Bah. Aku itu cuma terpaksa jadi aspri perusahaan besar jadi ikut ketularan terkenal. Mana tau orang-orang aku tertekan kerja sama pak Aslan. Udah maksa, sok-sokan menguasai lagi. Dasar.


__ADS_2