Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Glimpse of Samira.


__ADS_3

Kantor cemerlang abadi Tbk.


Kamis pagi yang cerah. Aslan merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Kepergian Samira di kehidupan kantornya entah kenapa membuatnya masih kesulitan menyingkirkan sosok manis dan menggemaskan yang bisa lebih galak darinya kapan saja. Aslan menyukai sosok seperti itu hingga dia lebih sanggup berbaur dan bekerja sama hingga tercipta musyawarah yang di ambil tidak hanya dari sudut pandangnya sebagai bos dan pencetak uang, namun ia juga bisa melihat sudut pandang dari seorang bawahan yang unik dan berani. Oh, Aslan rindu dengan gadis yang menyajikan kopi di siang hari waktu ia sedang ngantuk-ngantuknya sebelum ruangannya di isi dengan lantunan ayat suci Al-Quran yang menyejukkan telinga.


Toleransi itu kadangkala membuatnya mengharu biru, tersenyum-senyum, merasa yakin perasaannya tidak salah sebelum pada hari ini lima orang perempuan yang ditemukan Robby di acara job fair yang diikuti perusahaan Aslan di sebuah gedung expo center menjadi kandidat nomer satu. Tentu pilihan-pilihan Robby sudah ia jaring sesuai dengan kebutuhan Aslan. Satu arah, manis, berpakaian sopan dan pintar.


Robby menyunggingkan senyum, jelas otaknya harus bekerja lebih cerdik untuk membuat Aslan hidup kembali. Dia kasian di usia yang harusnya telah memiliki sandaran hidup, Aslan masih terombang-ambing dalam kenangan dan ketidakpastian, sayang sekali jikalau Aslan jomblo abadi.


"Namanya Cindy, lulusan manajemen bisnis universitas ternama. Prospek kerjanya cukup bagus di perusahaan sebelumnya. Dia resign untuk cari pengalaman kerja yang lain." Robby menjelaskan wanita yang memakai gaun selutut dan jas putih sebelum pindah ke wanita yang memakai span panjang dengan belahan tinggi dan kemeja satin yang dimasukkan ke dalamnya.


"Namanya Kathy, mantan model, dua kali jadi manager, lima kali jadi asisten pribadi."


Aslan tertegun lalu tersenyum aneh. Dia kapok berkencan dengan model dan sekarang bukan kriterianya. Kriterianya adalah gadis yang mau sama-sama memiliki tujuan yang sama, pergi ke surga bersamanya dan bertemu Samira. Berbahagia bersama dengan pasangan hidup masing-masing. Indah sekali Aslan membayangkannya dan wanita yang beruntung menjadi asisten pribadi adalah wanita yang terakhir kali masuk ke ruangannya dengan napas yang terengah-engah. Wanita terakhir yang ditunggu-tunggu Robby.


"Selamat pagi, mohon maaf, saya terlambat. Motor saya bocor di depan perusahaan. Jadi..." Samantha menatap Aslan dan Robby sembari tersenyum lebar.


"Masih bisa ikutan training kerja?"


Aslan mengusir wanita-wanita yang tak beruntung di depannya dengan kibasan tangan. Robby mengangguk seraya menarik kursi kerja yang kerap Samira duduki.


"Silahkan duduk Samantha, selamat berdiskusi dengan bos Aslan." seru Robby dengan ceria.


Samantha meraih air mineral yang tersedia di meja. "Haus pak, boleh saya minum dulu sebentar?" Ekspresinya menunjukkan harapan.


Aslan menyunggingkan senyum lalu mengiyakan. "Silakan."


Buru-buru Samantha langsung meneguk air dalam botol seraya tersenyum lega. "Enak banget, terima kasih."


Aslan langsung memberikan jadwal kerjanya yang sudah Samira tata dalam satu tabel panjang di sebuah pendrive.


"Pelajari itu secepatnya dan kalau kamu bingung hubungi nomer yang tertera di sana, dia mantan asisten pribadiku yang mengatur jadwal-jadwalku dan akan membantumu beradaptasi di sini." kata Aslan serius.


"Namanya Samira, anak Abah! Bilang aku yang menyuruhmu ke sana. Dia tidak akan menolakmu."


Samantha langsung memasukkan pendrive ke tasnya. "Saya tidak perlu mengenalkan diri saya dulu, bapak?" tanyanya kemudian.


"Aku bisa membaca CV kamu dan jangan panggil aku bapak, aku bujang, belum beranak!" protes Aslan, mencoba bergurau dan melihat reaksi dari calon asisten pribadinya.


Samantha meringis. "Maaf jika begitu, kak Aslan."

__ADS_1


Kakak?


Aslan meringis.


Parah, tapi mendinglah daripada di panggil bapak. Makin kelihatan tua aja aku.


"Oke, boleh banget panggil aku kakak Aslan, biar kita akrab."


Akrab?


Samantha meringis dan mengangguk ragu.


"Jadi sekarang saya harus bagaimana, kak? Lalu untuk penampilan? Oh iya itu, saya berbeda dengan cewek-cewek tadi."


Aslan menguap sambil mengetuk-ngetuk mejanya.


"Untuk penampilan aku tidak keberatan dengan sepatu boot kamu, tapi usahakan untuk memakai jas kerja, semi formal bagus. Rambut rapi, parfum jangan berlebihan. Make up terserah kamu, yang penting sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Lalu, gunakan ruangan di depan untuk ruang kerjamu sekarang!"


"Siap, kak!" Samantha memandang Aslan sekilas sebelum beranjak. "Saya keluar dulu kak, tapi nanti kalau saya bingung langsung ke rumah Samira. Boleh?"


"Silakan." Aslan menunjuk pintu.


Samantha tersenyum, wanita yang memiliki tubuh jangkung dan nampak keren seperti koboi wanita itu berhasil keluar dari ruangan Aslan. Dia mengurut dadanya, lalu menoleh.


Samantha melambaikan tangannya. "Pak Robby..." panggilnya antusias.


"Hei, hei, Sam." Aduh, Robby meringis sembari memutus jarak dengan Samantha yang menghampirinya.


Berasa manggil Samira. Ah, kangen anak itu.


"Kenapa, Sam? Aslan protes?" tanya Robby sambil menyipitkan mata.


"All good, pak." Samantha tersenyum, "Saya tadi di suruh ke tempat Samira. Bisa beri tahu saya lokasinya?"


"Untuk?" Robby mengernyit.


"Untuk tanya-tanya mengenai kak Aslan."


"Kak Aslan?" Robby menarik napas dalam-dalam seraya mengangguk. "Aku kirim ke nomer kamu aja dan pastikan kerja sesuai dengan yang Aslan katakan."

__ADS_1


"Siap, oh ya pak." Samantha celingukan dengan was-was. "Memangnya kenapa Samira resign? Nggak betah kerja sama kak Aslan? Kak Aslan galak ya?"


"Lebih dari itu, Sam." Robby mengajak Samantha untuk menaiki lift. "Susah aku menyebutnya, tapi mereka berteman baik. Mereka bersahabat dan berjanji untuk bertemu di surga. Cukup berat sih, makanya gue nggak heran Aslan milih kamu karena gue yakin, Aslan mungkin berpikir kamu tidak akan menggodanya. Bonusnya malah lebih keren dari gaji besar, mungkin kalian bisa jatuh cinta. Haha."


Samantha ikut tergelak. "Jadi..." Ia menarik ponselnya yang bergetar.


"Itu alamatnya Samira, dia anak buah gue paling imut-imut dan keren. Dan ngomong-ngomong soal motormu yang bocor, tinggal aja di kantor. Kamu bisa pinjem motor satpam."


Samantha melangkah keluar lebih dahulu, yakin Samira yang dibicarakan oleh dua atasan itu sangat baik dan benar saja, gadis shalihah yang masih mengurusi burung dan hamster-hamster itu sebelum pergi ke tanah suci untuk umrah menyambut kedatangan dengan terbuka. Tetapi sewaktu Samantha menatapnya, ada yang sama seperti mata Aslan. Galau.


"Kalian habis putus?" tanyanya langsung.


Samira terbahak di balik kerudungnya. "Mohon maaf kak, saya jomblo dari lahir."


Sayangnya Samantha tidak percaya, lima belas menit kemudian Harviza datang untuk menanyakan kesiapan Samira dalam berangkat umroh bersama keluarganya lalu mengajaknya menginap di rumahnya.


Samira mendengus. Slalu ada kata, tak ada Aslan, Harviza pun jadi.


"Kan bisa telepon ke rumah. Susah-susah amat datang ke sini jauh-jauh. Ganggu lagi, sana pulang aku baru ada tamu penting!"


"Aku sabar menunggumu selesai." Harviza meringis lalu pergi ke depan jendela kamar Samira. Laki-laki itu membunyikan jempol tangan dan jari tengahnya di depan sarang burung yang kontan berkicau senang.


Samantha meringis, perdebatan keduanya terasa seru. "Itu siapa?" tanyanya pelan-pelan.


"Teman."


"Dusta. Abah kita sudah bilang kalau kita ta'aruf saja biar kamu tidak menjadi perawan tua." timpal Harviza, membuat Samira dan Samantha bareng-bareng melempar biji salak kepadanya.


"Sembarangan bener kalau ngomong. Aku bilang Abah kamu kurang ajar!" sembur Samira.


"Nggak takut." Harviza meringis.


Samira merengek lalu mengajak Samantha masuk ke dalam rumah.


"Awas kalau masuk!" ancam Samira, mengunci pintu rumahnya, lalu pintu kamarnya. Tetapi Harviza yang masih di depan jendela kamarnya tetap saja mengganggunya dengan mengetuk-ngetuk kacanya.


Samira hendak marah, tetapi pergelangan tangannya di tahan oleh Samantha ketika dia ingin mendorong pintu dan mengomel-omel.


"Udah biarin aja! Dia lagi caper dan cewek harus jual mahal."

__ADS_1


Samira membalas senyuman Samantha. Samantha benar, ia tak mungkin membalas Harviza tapi dia juga tidak merasa damai dengan ta'aruf yang menghantuinya sekarang.


......................


__ADS_2