Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Aslan dan Samantha


__ADS_3

Pukul tujuh pada hari Sabtu malam. Aslan berdiri di depan rumah Samantha. Membawa mawar merah merekah yang penuh percikan asmara, gelora dan pengharapan. Tak hanya seorang diri, dia membawa sekaligus orang tua dan Ardana sebagai bentuk keseriusannya menjalin hubungan dengan Samantha.


Aslan memencet bel, dia tampak fantastis dengan pakaian resmi. Raut wajah penuh kehangatan. Dia merasa melambung meski kegelisahan bertubi-tubi di dadanya. Seumur hidup baru kali ini dia menyerah pada keadaan. Menyerah pada situasi yang tidak bisa dia cegah sendiri. Samantha adalah Samira versi terbaik baginya. Versi yang bisa dia ikuti alurnya dan langkahnya. Pun tak ada celah baginya untuk mundur, dia hanya perlu menempatkan Samantha berada di sisinya. Dialah yang pertama-tama sanggup membuatnya terkesan, setelah Samira tentunya.


Risiko patah hati pun di tolak keluarganya Aslan sudah siap jiwa raga. Tidak akan sekarat lagi seperti waktu di tinggal Samira rabi sebab ada sepasang dua insan yang selalu memberikan tempat terbaik di setiap doa-doanya untuknya. Aslan hanya perlu mencoba dan tak berhenti membuka hati. Dia yakin bahwa dia bisa menemukan bahagianya secepat yang Samira lakukan.


"Cie, udah move on dari bidadari surga." celetuk Ardana di sampingnya. "Andaikan dulu kita mau tukar tempat, As. Gue yakin Samira bisa bareng kita berdua."


Cornelia berdehem-dehem dengan keras sembari menjewer telinga kedua putranya.


"Tidak akan mungkin seorang pria terhormat dari kalangan terpandang sanggup menyakiti hati bidadarinya!"


Kedua putranya meringis. "Bercanda, mam. Tapi ada bagusnya Samira jadi istriku, aku pasti jadi malas kerja dan pengennya di kamar terus." goda Ardana di telinga Aslan.


Tidak ada tampang marah dari saudara kembarnya, hanya saja sepatu hitam berkilau Aslan menginjak sepatu kets Ardana.


"Samira bukan lagi ranah pribadiku." Aslan berdeham seraya memencet bel lagi.


Perlu waktu sepuluh menit yang mendebarkan dan tidak pasti baginya sebelum pintu benar-benar terbuka. Aslan merasa dipermainkan seorang gadis yang dia pikirkan setelah perjalanan pulang dari Lombok dan pertemuan keluarga padahal sudah jelas Samantha membuatkan jadwal pertemuan dengan keluarga pukul tujuh, Sabtu malam di rumahnya. Lengkap dengan note ; jangan telat!


Samantha menyunggingkan senyum, dia sudah mengenal Cornelia dan Ardana sewaktu menghabiskan waktu di Lombok tapi belum dengan Rahardian. Dan tanpa perlu dijelaskan, ia sudah tahu siapa pria yang penuh kharisma itu.


"Maaf lama, om, Tante, kak, abang. Mama sama papa gerogi. Hampir pingsan di dalam." gurau Samantha seraya mencium punggung tangan Cornelia dan Rahardian penuh hormat.

__ADS_1


Cornelia mengelus punggung Samantha dengan rasa sayang.


"Gak masalah sayang, yang penting kamu buka pintunya. Aslan terlalu cemas kau tolak." ungkapnya dengan ceria.


Aslan mencebikkan bibir sembari mengulurkan mawar merah untuk Samantha.


"Di terima dan jangan di buang!" pintanya serius.


"Uluh-uluh-uluh..." Ardana merangkul saudaranya. "Di formalin aja, Sam. Hatinya Aslan juga nih, biar nggak inget sama yang lalu. Yang udah bunting hampir dua bulan."


Samantha menghirup aroma mawar merahnya. Puas mengisi paru-parunya dengan percikan asmara dari Aslan dia menyingkirkan dari ambang pintu.


"Mari om, Tante. Masuk." Dia mempersilahkan tamu kehormatannya masuk tanpa mempedulikan ucapan Ardana. Baginya Samira tetap menjadi sahabat Aslan dan sahabatnya sendiri. Tak peduli masa lalu apa yang telah terlewati keduanya, Samantha yakin batasan nyata yang di bangun Samira cukup kuat untuk tidak meluluhkan hati Aslan lebih dalam.


Tak lama kedua orang tua Samantha hadir, masing-masing membawa nampan perak berisi teh hijau hangat dan kue nastar, kue kacang dan kue lidah kucing di dalam toples kaca.


"Selamat malam." Ayah Samantha dan ibunya menjura, memperkenalkan diri secara formal sebelum larut pada obrolan tentang bisnis dan persoalan utama.


"Kenapa buru-buru menikah nak Aslan? Apakah..." tatapan Larry, ayah Samantha tertuju pada perut anaknya.


"Apakah Samantha sudah hamil?"


Semua mata langsung tertuju pada Aslan. Memasang ekspresi harap-harap cemas dan kecewa jika itu benar terjadi. Mula-mula memang pembicaraan sudah cukup bagus untuk awal pendekatan, pihak Aslan tidak mempermasalahkan bibit dan bobot, mereka hanya mempermasalahkan kesetiaan dan kerjasama di perusahaan, toh Aslan bukan mencari pacar, dia mencari istri yang sanggup menemani Aslan dalam suka duka membangun perusahaan. Kakek Ahmad pun sudah mewanti-wanti cucunya untuk segera menikah.

__ADS_1


Aslan mengangkat kedua tangannya. Selama ini mereka berpergian dengan aturan ketat yang Aslan buat. Tidur di kamar terpisah dan bersama ketika harus bekerja, itupun mereka sangat profesional. Tidak ada skandal atau sedikit saja mencuri kesempatan untuk bermesraan. Aslan dan Samantha terlalu malas melakukan hal yang membuat mereka tidak nyaman. Sentuhan fisik pun terjadi hanya saat mereka melakukan adrenalin yang mengharuskan bekerja sama, seperti ketika mereka memutuskan mendaki gunung Rinjani demi menaklukkan mimpi Samantha.


"Aku sudah berjanji kepada seseorang untuk membawa pendampingku nanti ke surga, tidak mungkin bagiku menyentuh Samantha sebelum pernikahan. Dia masih suci." kata Aslan.


Dan kini semua tatapan beralih ke Samantha. Gadis itu ikut mengangkat tangannya.


"Seseorang itu sahabat kami, Samira. Jika kak Aslan menepati janjinya berarti aku benar-benar masih suci. Lagian, pa, ma, om, Tante, abang. Kita nggak pacaran. Kita hanya sering bersama!"


"Lalu kenapa tiba-tiba kalian ingin menikah? Kalian saling mencintai? Pelarian?" Rahardian bertanya serius. Ayah dari si kembar itu memajukan badan.


"Pernikahan bukan soal kalian sepakat untuk hidup bersama, tapi komitmen seumur hidup dan janji kalian kepada Tuhan."


"Ini soal pelarian yang berujung kebaikan, papa. Dan kami tidak perlu membuktikan apa-apa sekarang karena kami menikmati setiap hari sebagai momen penuh anugerah."


Rahardian sepakat, tapi perlu waktu setengah tahun untuk mewujudkan pernikahan anaknya sampai dia benar-benar yakin putranya dan Samantha sanggup bertahan dengan waktu yang dia berikan.


Aslan mengulurkan tangannya, keduanya berjabat tangan seakan-akan itu perjalanan bisnis.


"Apa perlu saya buatkan surat di atas materai?" timpal Samantha di tengah-tengah suasana serius.


Semuanya terbahak dengan merdu. Seiring waktu sikap formal yang mengawali perkenalan mereka berlanjut dengan luwes, penuh canda, obrolan bisnis keluarga dan rencana pernikahan Aslan dan Samantha. Sementara, ketika para orang tua sibuk berkelana ke mana-mana perjalanan bisnis yang sudah uzur, dua calon pengantin itu memasang harness. Mereka mengajak Mochi dan Mocca berjalan-jalan di sekitar kompleks di bawah kelap-kelip bintang-bintang sembari membicarakan mimpi yang mereka dambakan nanti setelah pernikahan.


Bulan madu di kapal pesiar.

__ADS_1


......................


__ADS_2