Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Aslan & Ardana


__ADS_3

Terlepas dari perseteruan antara si kembar Aslan dan Ardana yang masih terus berlangsung hingga detik ini, Ardana kini seolah ingin mengetahui baik-baik tingkah polah saudara kembarnya dengan menemui Ahmad Sastrawinata di kantor di lantai tertinggi gedung perusahaan mereka.


Ahmad menyambutnya dengan senyuman lebar. Tak menampik firasatnya sebagai seorang kakek yang lebih sering bersama cucu-cucunya itu betul. Beredarnya foto-foto Aslan dan Samira beberapa Minggu yang lalu membangkitkan kembali perebutan asmara di antara kedua cucunya. Bisa jadi, meski belum kentara. Saudara kembar biasanya memiliki kekuatan batin yang kuat, nyaris sama dan tak bisa di bantah bagaimana cara hati kedua saudara kembar itu bekerja.


"Ardana, kakek kira sulit bagimu untuk datang ke sini lagi? Bagaimana usahamu?"


Kakek Ahmad mengulurkan tangannya ketika Ardana ingin menyapanya dengan sopan. Laki-laki yang memiliki tubuh lebih berisi daripada Aslan itu membungkuk, mencium punggung tangan kakeknya diiringi senyuman kemudian.


"Bagaimana kabar kakek? Habis menang banyak ini perusahaan, gak ada job lain buat perusahaan ku, kek? Masa Aslan doang yang dapat." Ardana melepas jasnya, lalu menyampirkannya pada tiang bambu yang memiliki beberapa palang untuk menyampirkan jas atau topi yang berada di dekat ruang tamu.


"Kakek slalu begini, memangnya harus bagaimana lagi, Ar? Rasa-rasanya kakek ingin pensiun, tapi papa dan mama kamu masih belum akur dengan kakek dan tidak berniat melanjutkan perusahaan ini. Apalagi untuk menyerahkan tanggung jawab besar ini untuk kalian, belum bisa kakek percayai." Ahmad mendesah, urusan perusahaan kalau tidak serius bisa gawat, bukan hanya perusahaan saja yang kolaps, tapi ia juga. Setidaknya itu yang ia khawatir setelah hubungan kedua cucunya renggang.


"Memangnya kamu bisa kerja sama dengan Aslan?" imbuh Ahmad. Karena sejarah, ia harus memastikan benar-benar bawah si kembar tidak main-main dengan proyek besar ini. Salah-salah ketika ia sudah menyetujui pembagian tanggung jawab itu mereka hanya akan terus bersaing seperti biasanya.


Ardana sejenak bingung mencari kata. Akhirnya daripada terkesan bimbang, ia mengangguk-angguk gugup. Jauh di lubuk hatinya pertanyaan itu lebih dalam dari lingkup makna yang sesungguhnya. Kakek Ahmad khawatir.


"Sudah bertemu Aslan di bawah?" tanya Ahmad, ikut bergabung dengan Ardana di ruang tamu.


"Belum sempat, tujuanku kesini untuk bertemu kakek." Ardana mendesah, "Lagipula sepertinya dia sibuk."


Dengan demikian, Ahmad hanya bisa tersenyum lebar meski matanya terlihat sinis memandangi Ardana.


"Kau pasti penasaran dengan gadis yang bersamanya." tukas Ahmad sambil bersedekap, "Jangan ganggu mereka, kau sudah punya Amara bukan?"


Ardana mendesah dengan wajah seperti langit yang sebentar lagi mengeluarkan petir.


"Amara bukan kekasihku, kakek. Dia hanya—"


"Hanya teman tidur mu?" sahut Ahmad cepat. Pria perlente yang kumisnya sudah memutih itu tersenyum jumawa. "Kakek diam bukan berarti kakek tidak peduli, Ar. Tapi kakek ingin menilai kemungkinan besar siapa yang terpilih untuk menjadi orang kepercayaan kakek. Jelas kandidat utamanya adalah Aslan karena semenjak perkelahian kalian merebutkan Jessica dia tidak pernah neko-neko, sedangkan kamu? Wanita murahan itu..."


Tangan Ardana mengepal saking gemasnya dengan si kakek yang slalu membandingkannya dengan Aslan. Baik kinerja perusahaan, maupun urusan pribadi. Baik dia maupun Aslan akan slalu berbeda, itulah mars yang mereka gaungkan semasa kecil. Padahal kata hati slalu sebelas dua belas.


***


Sedang fokus-fokusnya kerja sampingan disela-sela waktu istirahat, Samira yang sedang menyapu lantai terkaget-kaget melihat—Ardana—menghampirnya.

__ADS_1


"Loh bapak kapan keluar kantornya, kok aku gak lihat?" tanyanya terheran-heran, mengira itu adalah Aslan.


Ardana meringis, menyaksikan langsung bagaimana wajah si imut-imut yang terbingkai jilbab warna buah persik itu menatapnya dari atas ke bawah.


"Bapak punya pintu rahasia di kantor?" tanyanya lagi.


Tak ingin menjawab pertanyaan Samira dan hanya ingin membuatnya terus penasaran. Ardana mendorong pintu kantor Aslan seraya menguncinya.


Aslan yang mengira itu Samira langsung mengumpatkan nama peliharaannya di rumah kakek.


"Dapat darimana kamu cewek imut di luar?" tanya Ardana.


"Gak akan pernah aku kasih tau!" sentak Aslan. "Ngapain elo kesini? Mau bikin rusuh atau elo mau ganggu cewek di depan?" Aslan berdiri, rahangnya mengeras menatap wajah yang sama sepertinya.


Ardana langsung tersenyum culas. Keduanya berdiri berhadapan, sama-sama memancarkan aura mencekam.


"Aku tau, Samira." Ardana meringis jahat.


Aslan langsung mencengkeram erat kerah kemeja Ardana. "Gak akan aku biarkan elo rebut apa yang udah jadi milik aku, Bang!" ucapnya serius. Ia mendorong tubuh Ardana hingga membuat saudara kembarnya tersentak.


"Takut kalah lagi seperti Jessica dulu?" Ardana tersenyum meremehkan, "Memang dia sudah jadi pacar kamu?" tanyanya.


Aslan mendekat, saking dongkolnya dia langsung menghajar Ardana.


"Sekalipun dia bukan cewek gue, gue gak akan ngasih sedikitpun celah buat elo deketin dia, bang!"


Ardana mengusap darah yang keluar dari hidungnya. Ia tersenyum, walau rasanya ingin sekali menonjok balik adiknya itu.


"Will see?"


Ardana menghilang ke balik pintu yang berada di kantor Aslan, pintu rahasia yang hanya mereka tau. Di luar, Samira yang masih penasaran terus mengetuk pintu.


"Bapak ayolah buka pintunya. Samira khawatir ini."


Aslan langsung membuka kunci pintunya,

__ADS_1


Samira mendorong pintu kantor Aslan dan langsung menanyakan perihal darimana bapak, lalu darah yang berada di punggung tangannya.


"Bapak darimana? Dan ini kenapa?" Karena panik, tangan lembut yang slalu menghindar untuk bersentuhan itu memegang tangan Aslan.


"Kamu yang larang persyaratan kerja sama, Sam. Bukan aku." goda Aslan, cepat-cepat bagai tersadarkan, Samira langsung melepas tangan Aslan.


"Maaf, maaf. Tapi itu darah siapa, pak?" tanyanya.


"Gak usah dipikirkan." Aslan berbalik, ia menuju kamar mandi dan mencuci darah saudara kembarnya.


Rahangnya mengeras, dan ingin sekali meninju lagi kaca di depannya karena wajahnya kenapa harus sama dengan Ardana.


"Bapak buruan keluar." ujar Samira lagi, bersyukur karena itu Aslan pikiran jelek Aslan langsung hilang.


"Bapak beneran gak apa-apa, coba lihat?" tanya Samira sambil menunjuk tangan Aslan.


Bersih? Gak ada luka, terus itu darah siapa? Kenapa rasanya aneh sekali ya.


Wajah Samira kemudian terlihat bingung. Mikir berat dan Aslan terkekeh melihatnya.


"Gak usah gitu sih wajahmu, Sam. Gemes tau gak." seru Aslan.


Samira masih bergeming, mikir dan kali ini dia melihat sekeliling.


"Bapak punya pintu rahasia?"


Jlebbb, Aslan langsung terdiam.


Jangan sampai kamu ketemu Ardana, Sam.


"Lebih baik kita keluar, Sam. Makan siang, aku lapar." ajak Aslan.


"Sama, pak." Samira mengangguk, dia berjalan terlebih dahulu. "Kita ajak pak Robby ya, tadi dia marah-marah."


"Iya." Aslan mengambil kunci di lacinya, dia bergerak dengan cepat untuk mengunci ruang rahasianya.

__ADS_1


"Rasain kamu, bang!"


__ADS_2