Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Abah tolonggg.


__ADS_3

Bunyi gebrakan pintu terus terdengar di ruang rahasia Aslan.


"Buka pintunya, As! Buka!" teriakan Ardana terdengar berang. Hidung nyeri dan perut nyaris memar itu membuatnya ingin segera keluar dari ruang rahasia Aslan yang hanya berisi tempat istirahat dan lemari dua pintu.


Ruangan itu sudah lama tak pernah di singgahi, karena semenjak Jessica tidak berkunjung lagi, senyap semakin mengisi kekosongan ruangan itu.


"ASLAN!" Ardana menendangi pintu itu dengan frustasi yang tak tertahankan sementara darah yang keluar dari hidungnya tak kunjung selesai. Ia merogoh ponselnya, buru-buru ia menghubungi kakeknya karena hanya beliau yang memiliki kunci cadangan.


"Kek, tolong aku!" ujar Ardana dengan nada penuh keprihatinan.


Ahmad menghela napas sambil menggelengkan kepalanya. Baru juga ia memberi izin Ardana untuk menemui Aslan, masalah sudah terjadi. Bagaimana bisa ia percaya menyerahkan pembangunan mega proyek itu jika untuk urusan wanita saja mereka tidak bisa mengalahkan ego dan persaingan.


Segera, Ahmad meraih kunci ruangan Aslan dan pergi ke lantai enam.


"Apa yang terjadi?" pekik Ahmad yang melihat tangan dan wajah Ardana berlumur darah setelah membuka pintu. "Kalian berkelahi?"


Mata Ahmad lantas mengikuti langkah cucunya yang terburu-buru melesat ke kamar mandi. Ardana langsung membasuh mukanya, dia muak dengan bau anyir yang tak hilang-hilang. Ia bahkan terus meraih tisu untuk menyumbat hidungnya. Baru setelah darah dari hidungnya mampet, Ardana keluar dari kamar mandi sambil melepas kancing kemejanya.


"Kalian bertengkar?" tanya Ahmad sambil menahan lengan Ardana. Mata tajam kakek Ahmad sekarang terlihat mengintimidasi sekaligus kesal.


"Bukan aku yang mulai kakek." Ardana melepas kemejanya, ia kembali masuk ke ruangan itu untuk mencari kemeja dan jas yang sama milik Aslan.


Cengiran di bibirnya melebar tanpa bisa Ahmad lihat. Ia berbalik setelah memastikan pakaian dan rambutnya tertata dengan gaya yang sama mirip Aslan.


Meski begitu sebagai kakek yang sudah mengerti tabiat cucunya, Ahmad hanya bisa menghela napas panjang.


"Kalian bertengkar, siapa yang mulai?" tanya Ahmad lagi meyakinkan.


"Aku kesini hanya untuk menyapanya, kakek. Tapi kemudian dia marah karena aku membahas cewek yang kerja di depan ruangannya."


"Kau?" Tangan kanan Ahmad mengepal, "jangan pernah mengganggu Samira, Ardana. Dia bukan gadis yang bisa di permainkan seperti Amara!" kata Ahmad memperingati.

__ADS_1


"Makanya itu aku tertarik untuk mengenalnya kek, kenapa Aslan tertarik padanya sampai-sampai membelikannya motor. Samira pasti berbeda." ujar Ardana dengan enteng. "Lagipula aku juga heran, apa kurangnya aku dengan Aslan?"


Semakin Ahmad gubris, semakin meradang hatinya.


"Kau akan tahu akibatnya jika menganggu mereka berdua, Ar. Kakek akan pastikan itu!"


Meski itu adalah ancaman serius, Ardana dengan santai mengikuti kakeknya keluar.


•••


Di kantin. Satu direktur utama dan satu anak buah yang membuat iri banyak wanita-wanita di perusahaan itu asyik makan siang sambil tersenyum-senyum mengejek Robby.


"Ngapain kalian berdua? Seneng liat gue sebel." celetuk Robby sambil ingin menyomot bibir Aslan dengan tangannya.


Aslan menghindar sampai hampir terjungkal dari kursi jika Samira tidak buru-buru meraih sandaran tangan di kursi itu.


"Hati-hati, pak. Nanti kepalanya benjol."


"Dia kesel gak aku beliin motor, Sam." jelas Aslan.


"Jadi bapak marah-marah ngambek daritadi karena iri aku dibeliin motor sementara bapak enggak?" seru Samira


Kalimat penekanan dari Samira membuat Robby semakin sakit hati dan jengkel. Robby pun ingat sekali, dari SMA sampai dia punya anak satu mana pernah Aslan ngasih dia hadiah cuma-cuma kecuali succes fee.


"Sepuluh tahun Sam kita bareng-bareng, tapi dia gak pernah tuh ngasih hadiah cuma-cuma dan penuh kejutan gitu. Sedih gue jadi sahabat berasa hubungan pertemanan ini tuh hanya kepentingan bisnis." Robby menepuk-nepuk dadanya, tanpa malu, sampai-sampai sejumlah pasang mata yang sedang makan siang di kantin kantor ikut nimbrung ke satu sudut paling ujung. Penasaran dengan kehebohan apa yang terjadi.


Aslan terbahak-bahak sambil menarik panjang dasi kupu-kupu Robby. Karet dasi itu sontak mecelat cepat ke leher Robby hingga membuatnya memejamkan mata saat Aslan melepasnya.


Aslan dan Samira terkekeh geli bersamaan. Suara mereka terdengar menyenangkan tanpa beban dan sekeping perhatian langsung Aslan sematkan pada gadis yang terlihat masih seperti bau kencur itu. Tubuh mungil, pipi bersih dan bibir yang sering mengomelinya. Terlebih motor Supra dan rambut yang slalu terbingkai jilbab modis kesayangannya itu menjadi fenomena berbeda di hari-hari Aslan. Tak heran, ia tak hanya mencecap keindahan duniawi, tapi lebih dari itu.


"Gue beliin motor nanti. Gue beliin, Rob. Gue janji." aku Aslan sambil mengaduk jus jambunya. Ia menyeruputnya cepat-cepat sambil mengangkat tangan kirinya.

__ADS_1


Jam istirahat sudah hampir berakhir, Aslan berdiri.


"Balik ke atas, gue ada meeting room sama pak Gandi lima belas menit lagi!" Aslan mengembalikan kursinya ke tempat semula yang ia ambil dari meja sebelah. "Kamu udah nyiapin datanya Rob?"


"Udah, As. Tapi bentar, aku belum makan." Robby meringis, lega banget hatinya Aslan sudah janji akan membelikan motor.


Aslan tertawa. "Makanya gak usah pake acara marah! Dimana filenya biar Samira ambil. Gue harus siap-siap ini."


"Data meeting revisi 3 bapak Gandi tanggal ini!" Robby menusuk sosis bakar di depannya lalu melahapnya. "Udah sono jangan liatin gue makan, gue malu."


"Emang kamu malu-maluin, Rob. Lagi nyadar?" cibir Aslan, mereka langsung berbalik meninggalkan Robby yang tetap cengengesan.


"Enaknya beliin dia motor apa, Sam?" tanya Aslan sambil memasang senyum formal kepada bawahannya.


"Yang penting motor pak, kan pak Robby gak bilang mau tipe apa." Samira menjawab lalu menundukkan kepala. Ia malu, kantin yang menjadi ruang temu banyak divisi dan antar karyawan itu membuatnya menjadi sasaran empuk pembicaraan gosip atas kedekatannya dengan Aslan.


Padahal gak dekat, cuma urusan kerja.


Keduanya keluar dari kantin, dengan langkah cepat mereka menuju lift tanpa mengeluarkan sepatah kata, baru ketika pintu lift itu terbuka dengan cepat, mata kedua orang itu sama-sama mencuat.


"Bapak punya kembaran?" Samira menatap bergantian wajah kembar di depannya dengan setelan baju yang sama.


"Jadi bapak tadi bukan keluar tanpa sepengetahuan ku, terus darah tadi?"


Samira langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Hidung Ardana terlihat memar, sisi bibir kirinya juga.


Aslan mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja pertemuan itu menjelma menjadi semacam rapat holding company di mana ia harus membuat keputusan yang berbeda bagi Ardana maupun Samira.


"Kamu pergi ke ruangan Robby, Sam. Ambil data meeting tadi!" kata Aslan, Samira yang patuh langsung pergi meski sesekali kepalanya menoleh ke belakang.


Dua orang yang sama, Abah tolonggg!!!

__ADS_1


__ADS_2