
Tiba di studio alam yang menjadi tempat outbound tempat pendidikan Al-Qur'an masjid Salakan. Samira yang menjadi panitia disibukkan dengan kegiatan-kegiatan yang teramat penting dan sibuk. Meski begitu dia tetap terlihat senyum senang ketika teman-temannya memuji Harviza sebagai ustadz tampan dan keren.
Terserah kalian semua, mau tampan mau mapan mau keren. Bagiku kak Harviza tetap laki-laki menyebalkan nomer satu menggantikan posisi pak Aslan.
Samira mengangkat rebana dan menepuk-nepuknya. Menghibur diri sendiri yang sulit untuk sekedar menjalani hari yang seharusnya menjadi hari kebebasannya dari tugas besar Aslan.
Kehadiran kak Harviz pasti nggak cuma satu hari, dua hari. Oh rasakan aku ingin pak Aslan dinas ke luar kota biar bisa sekalian kabur.
Samira menyunggingkan senyum dengan malas ketika dibelakangnya Harviza membopong tikar gulung sembari tersenyum-senyum.
Tebar pesona terus, pulang dari luar negeri cari jodoh. Dasar. Terserah-terserah-terserah. Pokoknya kakak bukan urusanku.
Samira menatap ayahnya, cemberut. Ia memukul rebana lebih kencang ketika Mustofa mengangguk samar.
Slalu aja nak Harviz, nak Harviz. Abah kenapa, mentang-mentang pak Mustofa sahabatnya. Anaknya terus disayang-sayang. Sebel Ya Allah, tau gini aku batal ikutan outbound.
Samira dan remaja masjid Salakan mempersiapkan agenda yang akan dilakukan anak-anak TPA. Kebetulan di studio alam itu banyak kegiatan yang bisa mereka lakukan.
Terbuai suasana dan kegiatan yang mengurus energi dan konsentrasi. Samira bisa terbebas dari Harviza selama dua jam karena ia harus mengawasi bocah-bocah kecil yang masih berenergi tinggi. Sementara laki-laki itu hanya berada di pinggiran tempat bermain outbound. Mengamati kegiatan Samira yang telah lama tak ia dapati di luar negeri sembari mengabadikan momen itu dengan baik di kamera ponselnya.
"Kak, di cari Abah sama om Tama." teriak Samira sembari berkacak pinggang. Napasnya terengah. Gadis yang memakai jilbab instan warna hitam dan telah bermandikan keringat serta lumpur itu mendatangi Harviza yang berada di ayunan besi.
"Kak, di cari Abah sama om!" Samira menggoyangkan ayunan besi dengan sengaja.
Harviza menoleh, melepas headset bluetooth sembari tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa, Sam?" Harviza membungkukkan badan sebelum keluar dari ayunan besi yang mengingatkannya akan masa kecilnya berasa Samira di pondok pesantren milik keluarganya.
Samira kecil yang cengeng tapi menggemaskan. Sekarang pun masih begitu, tambah menggemaskan lagi setelah dewasa.
Harviza menyunggingkan senyum, didepan matanya Samira semakin mengingatkannya pada masa kecil mereka. Kotor, keringetan, dan harus menghadap Muh Tama dengan setumpuk kegundahan hati. Tapi itu dulu ketika keduanya mengambil waktu untuk main disela-sela jadwal kegiatan di pondok pesantren yang berjubel sekarang Harviza yakin Samira bukan lagi takut, tapi malas.
"Udah selesai mainnya?"
Samira menggaruk bagian bawah kelopak matanya yang gatal. "Di cari Abah sama om, disuruh kumpul di pendopo. Kakak juga di suruh bantuin ambil nasi box di parkiran, yang suruh om. Bukan panitia!" kata Samira sinis.
Harviza tersenyum tipis. Sungguh ia tak menyangka teman main yang kerap dia ganggu sewaktu kecil makin lama makin meresahkan setelah sekian lama tidak bertemu.
"Kalo seandainya panitia yang nyuruh aku pun tetap mau, Sam. Kamu bersih-bersih aja sana." Harviza menyimpan ponsel dan headset bluetooth di kantong celananya.
Samira berbalik tanpa mengindahkan senyuman Harviza. Ia sudah terlalu gatal setelah melakukan tarik tambang di sawah buatan dan mandi adalah tujuannya setelah Mustofa yang terhormat menyuruhnya mencari anak laki-laki kesayangannya.
"Rahasia!" Samira meringis dengan malas.
"Ya Allah, Sam. Jadi benar kata Abah kamu masih jengkel sama aku? Sama kelakuanku dulu?" Harviza mencegah langkah Samira. Di sisi lain, dari kejauhan Mustofa dan Muh Tama melihat keduanya dengan mata menjureng.
Samira berkacak pinggang, ia sedikit mengangkat dagunya dengan angkuh. Matanya menatap Harviza tanpa ada sedikitpun rasa rikuh. Pokoknya hanya pada laki-laki itu Samira tidak perlu sopan santun. Baik Samira maupun Harviza saling mengerti bagaimana mereka melewati masa kecil sampai SMP dengan penuh masalah dan kebersamaan di rumah pribadi Muh Tama di belakang pondok pesantren. Lepas memasuki masa sekolah tingkat atas, Samira yang bosan dengan pendidikan berbasis keagamaan meminta untuk pulang dan di saat itu pula Harviza patah hati.
"Jelas aku masih sebel sama kakak walaupun kakak udah minta maaf berkali-kali." ucap Samira.
Harviza mengulurkan tangannya. "Aku minta maaf lagi kalau begitu."
__ADS_1
"Kakak nggak salah, cuma aku masih sebel lihat kakak sekarang!" Samira melengos, badannya semakin gatal. Ia tergesa-gesa menuju gerombolan remaja masjid yang sedang ngerumpi.
Samira mendengus. "Awas kalo pada ngomongin aku sama tuh tamu undangan terhormat."
Semua remaja masjid Salakan cuma tersenyum lebar.
"Ati-ati kak, nanti dari sebel jadi seneng betul." seloroh remaja yang masih menunggu giliran untuk mandi.
Samira menatap Harviza yang tetap tersenyum dengan hati bingung.
"Aku nggak salah tapi dia masih sebel." Harviza geleng-geleng kepala seraya mengikutinya remaja masjid laki-laki yang sudah necis dengan peci hitam di kepalanya ke parkiran.
"Samira kerja dimana, dek?" tanya Harviza.
"Di perusahaan, kak. Jadi asisten pribadi bos besar."
Harviza mengangkat alis. "Perusahaan mana?"
"Kurang tau kak, coba tanya Abah." Remaja laki-laki itu tersenyum nggak enakan.
Harviza ikut tersenyum dan mengangguk. "Nanti aku tanya Abah, makasih lho ini sudah diizinkan ikut gabung outbound kalian."
"Sama-sama kak, lagian kalo Abah udah ngomong ini harus ini, nggak bisa itu!" aku remaja itu takut-takut, lalu meringis "Lagian kakak tadi bawa mobil sendiri jadi nggak ada alasan buat nolak."
Harviza tergelak. Dia tahu benar bagaimana perangai Mustofa selama ini. Hanya pada putri satu-satunya dia akan mengalah dan bersikap tenang, dan itu sepertinya itu tidak berlaku jika Aslan nekat mencintai Samira dan menginginkan hidup bersama.
__ADS_1
...*********...