
...“Jemputlah bidadarimu, sebelum Tuhan menutup pintunya.”...
^^^Asma Nadia, Jilbab Traveler — Love Sparks In Korea.^^^
.
.
Aslan menerima buket bunga pernikahan dari Samira kala perpisahan menjadi akhir pertemuan mereka. Satu dua kalimat Samira katakan dengan lembut, malu, dalam tundukan kepalanya seperti awal pertama mereka bertemu di samping Harviza yang menemani dengan sabar kepedihan dua hati yang berpisah di persimpangan.
Aslan tersenyum dan mengangguk tanpa mengeluarkan kata, bukan tak mencari kata-kata untuk disampaikan atau janji untuk bertemu kembali atau undangan pernikahan yang wajib Samira datangi nanti. Ia tidak ingin menyakiti Harviza yang sudah berlapang dada menerima kejujurannya. Semua sudah cukup jelas baginya, doa Samira akan mengalir terus untuknya.
Aslan berpamitan dengan anggukan kepala bersama Samantha. Entah Robby kemana, Aslan tak memikirkan. Sampai acara selesai bahkan sudah terlambat satu jam. Robby tak kunjung datang. Masa bodoh dengan anak buahnya yang ternyata harus bersantai-santai di tukang tambal ban bersama istrinya yang sudah memudar pesona make up-nya.
Aslan menatap keindahan Samira terakhir kalinya dari jauh. Lalu menunduk menatap buket bunga mawar putih yang sedang mekar-mekarnya. Dia menyadari bukan hal yang mudah untuk menahannya, dia terluka. Namun jauh lebih baik dia yang terluka ketimbang para orang tua yang telah lebih lama memberi nilai-nilai kehidupan.
"Buatmu, Sam." Aslan mengulurnya.
Samantha melebarkan matanya, dia menerimanya ragu-ragu seraya mendekapnya. Mencium aroma bekas pengantin dengan senang-senang saja.
"Semoga kita ketularan nikah kak. Walau kapannya belum tau, yang penting niat dulu."
Dan bila suatu hari nanti itu terjadi, Aslan yakin, itu terjadi ketika ia sudah benar-benar melepas Samira dengan ikhlas.
Aslan masuk ke mobilnya, dia mengantar Samantha ke rumah Mustofa untuk mengambil barang-barangnya sebelum melesat ke jalan raya. Melupakan rute yang slalu dia sukai sebelum sosok yang dia inginkan dalam mengisi mimpi-mimpinya menjelma menjadi kenangan. Harus dia relakan.
Lelaki itu sudah mengibarkan bendera kekalahan dan hari-harinya menjadi kelabu. Tapi cinta berada di sekitarnya, kabar itu menyebar sampai ke orang tuanya bahkan kakek Ahmad. Mereka menemani Aslan seolah lelaki itu sekarat.
***
__ADS_1
Samira memutar-mutar cincin yang belum genap sehari disematkan Harviza padanya. Selama setengah hari yang melelahkan baru saja mereka bisa istirahat. Benar-benar istirahat setelah seharian mereka melayani tamu undangan untuk mengobrol dan berjumpa.
Harviza mengetuk pintu dari luar setelah bercakap-cakap dengan Mustofa sebentar.
Harviza mendorong pintu. Sementara Samira semakin menundukkan kepalanya. Dia belum terbiasa dengan kehadiran lelaki di hidupnya sekalipun dia Harviza. Masa kuliah memisahkannya, Samira tidak tahu perjalanan apa yang Harviza lewati.
Kecanggungan terlihat dari cara mereka bersama di dalam kamar. Tetapi Harviza yang bisa mengalah dengan keadaan menarik kursi kerja Samira dan mendudukinya.
"Mau gimana sekarang?" tanya Harviza.
"Gimana apanya kak?" Samira memandangi tangannya sambil sesekali melirik Harviza.
"Kamu sama aku, Samira. Kita mau gimana sekarang? Mau tidur terpisah? Tidur di ranjang pernikahan, atau katakan apa yang kamu mau." Harviza mempersilahkannya bersuara. Keputusan Samira bisa dia terima. Seperti penolakan Samira tadi sewaktu ia hendak membantunya melepas jilbab pengantinnya.
Samira meremas ujung jilbabnya. Sulit memutuskan sesuatu disaat rasa geroginya harus beriringan dengan tanggung jawab.
"Boleh. Terus terang, itu jauh lebih baik daripada aku terkesan memaksamu untuk mencintaiku."
"Aku lagi usaha kakak!" sahut Samira. "Ditunggu, yang sabar ya." pintanya dengan lemah lembut.
"Terus apa kamu nggak tanya balik tanya kapan aku mulai mencintaimu, Sam?"
"Mulai?" Samira mendengus. "Kakak jelas sudah mencintaiku dari dulu, mungkin." Ia memberanikan diri menatap suaminya yang masih menduduki kursi kerjanya dengan nyaman.
Harviza memakai celana pajamas hitam panjang dan kaos rumahan. Dalam keadaan segar sehabis mandi. Samira yakin, banyak yang menyukai Harviza akibat ketampanan wajahnya dan sikap alim yang di dambakan para gadis-gadis pecandu suami tampan dan ahli surga.
Harviza yakin tatapan Samira adalah tatapan rasa penasaran. Dia menguap, ngantuk parah, seluruh tubuhnya pegal-pegal. Matanya menatap ranjang pernikahannya. Rasanya membayangkan bisa merebahkan diri di sana enak sekali.
Tubuhnya bergerak, Harviza merenggangkan tubuhnya. Menjulang tinggi dengan jarak satu meter di depan Samira.
__ADS_1
"Boleh tiduran?"
Samira langsung mempersiapkan bantal yang digunakan Harviza, lalu karena hanya ada satu bed cover baru yang warnanya senada dengan seprainya ia berdoa besok ketika dia membuka kado-kado pernikahan yang diberikan kawan-kawan di desanya serta tamu undangan lainnya, ada selimut baru jadi tidak perlu rebutan dengan Harviza meski malam ini dia terpaksa berbagi selimut.
Harviza merebahkan tubuhnya, sudah lama dia menanti waktu yang tepat untuk berbagi cerita tentang isi hatinya. Tetapi sebelum dia bercerita, dia sudah menaruh guling di sampingnya seakan-akan itu batas sucinya.
"Tidur, Samira. Udah jam sepuluh, nunggu apa kamu. Mau tahajud?"
"Nunggu kakak tidur duluan." jawab Samira.
Harviza meringis, tidak akan pernah dia tidur duluan di malam pertama mereka. Dia ingin mengagumi keindahan pengantinnya secara leluasa di bawah lampu tidur yang membuatnya lebih intim menikmatinya.
"Aku mencintaimu sejak aku tahu, kamu yang sukanya nangis, suka bilang aku jahil dan suka nyuruh aku jauh-jauh dari kamu diam-diam sering menulis semua kelakuanku di buku diary-mu yang kecil berwarna ungu."
Samira mematung. SMP, dia ingat, ingat sekali hal-hal yang terjadi kala semua gejolak masa remajanya mulai tumbuh dan hanya pada buku diary kecil berwarna ungu itu dia bercerita tentang sosok Harviza di diary kecil yang hilang entah kemana.
Samira kehilangan daya, tidak berani menatap Harviza barang sedikitpun. Ia menyusup ke bawah bed cover perlahan-lahan seperti ulat bulu yang ingin bersembunyi.
"Malam kak." Samira berdehem. Mau tak mau Harviza terkekeh geli.
"Jangan lupa, subuh nanti kita ketemu lagi Samira."
"Iya."
"Jangan lupa keramas."
"KAKAK!"
......................
__ADS_1