
Keesokan harinya di rumah Mustofa. Samira mengemasi barang-barang yang hendak ia bawa menuju tempat outbound pagi nanti sementara sekarang adzan subuh sedang berkumandang. Suara bapak Harjono, marbot masjid, rekan kerja Mustofa.
"Abah jadi ikut?" Samira menghampiri ayahnya yang duduk di ruang tamu selepas mempersiapkan diri untuk salat subuh di rumah, namun dari raut wajah Mustofa Samira bisa menduga ayahnya sedang menunggu seseorang terlebih ponselnya tidak juga Mustofa taruh di meja seperti kebiasaannya yang sudah-sudah.
"Abah mau punya tamu?" Samira menunggu jawaban ayahnya dengan sabar, terlebih ayahnya malah menerima telepon dari seseorang dengan raut wajah sumringah.
"Pokoknya Abah tunggu sebelum jam tujuh, Harviz. Abah kangen!" kata Mustofa menggebu-gebu.
Harviz? Harviza?
Samira sontak mendengus tak suka.
Harviza anak pemilik pondok pesantren sahabat lama Mustofa yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masa kecil Samira. Bayang-bayang sikap tengil dan sombong Harviza mendadak membuat suasana hati Samira kesal.
Mustofa menaruh ponselnya di meja seraya memakai peci. Hatinya sedang berbunga-bunga akan kabar dari sahabatnya tempo hari jika anaknya ingin bertemu Samira.
"Abah nungguin kak Harviza? Mau apa?" tanya Samira penasaran.
Mustofa menyunggingkan senyum. "Nak Harviza ikut outbound, dia gantiin Abah karena bapak Muh Tama mau temu kangen sama Abah, Sam." Penjelasan itu sangat sangat membuat Samira sebal. Gadis yang masih menggunakan baju tidur itu cemberut.
"Kok Abah nggak bilang-bilang kalo mendadak Abah cancel ikutan outbound. Abah harusnya tau aku kangen main sama Abah." Samira mendesah lelah.
Mustofa meringis sampai giginya yang ompong terlihat. "Abah tau kabar juga mendadak Samira, Abah nanti ikut insyaallah jika Muh Tama mau outbound bersama kita."
Samira berbalik setelah Mustofa menyuruhnya mandi untuk siap-siap salat.
Hidupku dulu aja nggak tenang selama jadi anak pesantren gara-gara kak Harviza. Sekarang mau apa lagi laki-laki itu setelah sekian lama hilang dari hidupku.
Samira melakukan persiapan dengan malas, suatu suasana hati yang terbalik dengan cepat setelah kemarin ia bersenang-senang dengan Aslan di toko buku dan tempat makan malam sebelum dirinya mengambil jatah libur. Sehari saja tapi bagi Aslan itu sangat lama.
Aslan mengaku bakal merasa kehilangan Samira dalam sehari dan itu menggelikan bagi Samira.
"Memang kenapa pak? Saya nggak hilang kok. Saya cuma libur sehari." sahut Samira semalam.
Aslan menyesap kopinya setelah mengendorkan dasi.
"Soalnya aku ngerasa kita udah dekat."
Samira tergelak, dengan situasi yang romantis di restoran berbintang empat dia merasa Aslan hanya terbawa suasana.
__ADS_1
Ternyata ada yang lebih ngeselin banget daripada pak Aslan. Tapi mending pak Aslan, udah ngasih kerjaan, ngasih gaji. Kak Harviza? Ngejek doang.
Lepas satu jam setelah membeli makanan penyambut tamu di pasar. Samira menata jajanan pasar di dua piring keramik dengan muka sebal sampai-sampai Mustofa harus memberinya ceramah pagi.
"Aku itu sebel sama kak Harviza soalnya dia memang nyebelin Abah, apa Abah lupa waktu SD dulu kerudungku suka di tarik-tarik dia terus dia lempar di atas pohon?"
Mustofa jadi teringat istrinya. Bagaimana istrinya melerai keduanya dan bagaimana hebohnya Samira waktu menangis. Ternyata waktu tidak menghilangkan sikap kekanakan putrinya.
"Kalian sudah dewasa, Samira. Harviza apalagi, tidak mungkin dia menarik kerudungmu terus dia lempar ke atas pohon. Tidak mungkin itu!" bantah Mustofa.
"Ah Abah, dari dulu yang Abah bela kak Harviza terus, anak Abah kak Harviz apa Samira!" dengus Samira seraya mematikan kompor, ia menuangkan air panas dari cerek pada teko air untuk menyeduh teh.
Dari luar, tamu yang sejak tadi mengganggu konsentrasi Samira memencet tombol bel dengan ekspresi senang. Harviza telah lama menunggu momen bertemu Samira kembali setelah ia menamatkan pendidikannya di luar negeri.
"Assalamualaikum, kang Mustofa."
"Waalaikumsalam kang. Ya Allah."
Kedua sahabat lama bertemu, dengan hati senang Mustofa dan Muh Tama berpelukan sembari menepuk-nepuk punggung.
"Bagaimana kabarmu, Mus? Ya Allah, lihat uban mu banyak sekali." Muh Tama terkekeh-kekeh sembari menatap sahabat lamanya.
"Biasalah, udah nggak ada yang ngurus jadi begini saja anakku sudah senang." Mustofa tersenyum.
"Om..." Harviza yang baru saja menurunkan oleh-oleh dari mobil membungkukkan badan seraya mencium punggung tangan Mustofa. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Mustofa menepuk-nepuk bahu Harviza. "Kamu sudah bawa persiapan outbound nak?"
"Pasti om, Samiranya mana?" Harviza melongok ke dalam rumah dengan sikap yang di sengaja.
Mustofa dan Muh Tama saling melirik dengan ekspresi mencurigakan.
"Di dalam baru buat teh, mari masuk dulu baru ketemu Samira. Dia masih suka sebel sama kamu nak, tadi saja sudah ngomel-ngomel. Cuma yang pasti sekarang sudah tidak cengeng lagi." gurau Mustofa sembari merangkul Harviza.
Laki-laki yang menggunakan kemeja linen putih dan celana jins itu menyunggingkan senyum. Dia mengatupkan tangan selagi memasuki rumah Mustofa yang dulu sering ia sambangi bersama orang tuanya.
Duduk di ruang tamu, Mustofa memanggil Samira yang sejak tadi menarik napas dan mengembuskan berulang kali.
"Tidak ada pak Aslan, kak Harviza pun jadi. Kapan aku merdeka." Samira mengangkat nampan dari meja makan, ia menyunggingkan senyum dengan terpaksa seraya membawa jamuan tamu itu dengan langkah lemas.
__ADS_1
"Assalamualaikum om, kak." Samira menyapa, menaruh nampan di meja lalu menyajikan minuman hangat yang ia buat dengan setengah hati kepada tamu kebanggaan ayahnya.
"Silahkan di minum om, kak."
"Samira udah besar sekarang." Muh Tama mengulurkan tangannya, menyalami Samira dengan senyum hangat.
"Om kangen lho sama kamu, apalagi Harviz. Pulang dari luar negeri yang di cari kamu."
Masa?
Samira melirik Harviza dengan berat hati.
"Apa kabar, Sam?"
"Alhamdulillah baik kak."
Apalagi sebelum kakak datang.
Samira menerima oleh-oleh dari Harviza dengan senyum yang benar-benar terlihat di paksakan. Meski begitu Harviza tetap senang dengan sikap Samira yang tidak berubah. Cuek dan judes.
"Terima kasih kak, tapi nggak usah repot-repot."
"Sudahlah Samira, namanya oleh-oleh itu rezeki." pungkas Mustofa, takut putrinya makin melantur kemana-mana karena kehadiran Harviza.
"Diminum dulu, Muh. Habis ini kalau kamu tidak keberatan kita ikut outbound anak-anak, Samira kangen main sama aku. Ngambek dia dari tadi kalau aku batal ikut outbound Muh." keluh Mustofa terang-terangan.
Harviza memalingkan wajah sambil tersenyum geli.
Masih sama dia, tukang ngambekan.
"Ehmmmm..."
Harviza kontan terkaget dengan santai setelah mendengar deheman Samira dengan nyolot.
"Abah, om Tama. Aku ke kamar dulu, siap-siap. Setengah jam lagi harus ke masjid." Samira melirik sekilas Harviza yang ikut menganggukkan kepala.
Pengganggu.
...****...
__ADS_1