Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Banyak maunya


__ADS_3

"Lima ratus ribu?" Samira memegang uang itu dengan perasaan bingung di depan komputernya.


"Aku malah jadi semakin penasaran, kenapa kembar tapi musuhan. Biasanya kan kembar itu kompak, apa-apa sama. Kadang-kadang juga suka cewek yang sam—"


Samira langsung mengerti, matanya jadi berbinar-binar. Antara yakin atau tidak. Ekspresinya seolah ingin membenarkan bahwa itu alasan terbesar Aslan dan Ardana tidak akur.


"Terus apa aku sekarang jadi bagian dari permusuhan mereka? Jadi pak Aslan ribut terus pengen sesuatu biar aku mudah bedainnya? Hmmm." Samira langsung cengar-cengir.


"Nanti minta jasnya Abah, sama dasinya Abah. Sebagai pelengkap nanti aku kasih pak Aslan peci Abah. Mantap gak tuh, jadi gampang bedainnya." Samira cekikikan, terhibur akan idenya yang cemerlang sampai tak sadar ada pria berdasi kupu-kupu yang mendengarnya.


"Seneng banget, kenapa Sam?" tanya Robby sambil melongok ke dalam kubikelnya.


Samira memaksa diri mengatupkan mulutnya dan menelan ludah. Dia terlihat salah tingkah ketahuan cekikikan sendiri mana mata Robby langsung tertuju pada lembaran uang merah-merah di depan komputernya.


"Hadiah lagi dari, Aslan?" tanya Robby, siap ancang-ancang protes minta hadiah yang sama jika itu memang terjadi.


"Bukan, pak Robby. Ini itu aku di suruh pak Aslan buat cari barang yang gak mungkin pak Ardana miliki." jawab Samira, dalam hati bisa gawat kalau pak Robby tahu semalam pak Aslan membelikan kerudung dan rok panjang. Apa iya nanti pak Robby juga minta? Tanpa sadar Samira jadi cekikikan lagi.


"Kamu kenapa, Sam? Ogah lho aku dapat partner setengah gila kayak kamu ini." protes Robby.

__ADS_1


Samira berhenti tertawa dan menyimpan uang itu ke dompetnya. Lalu asumsi mengajaknya berdiri.


"Ada sesuatu yang mau saya tanyain sama bapak, bisa pak Robby?" tanya Samira. Keduanya sama-sama berjalan meninggalkan ruang kerja menuju pantry sebab Aslan baru meeting dengan enam direktur bawahannya tanpa dia atau Robby. Betapa menyenangkannya bukan makan siang tanpa Aslan, tidak ada yang membuatnya seperti calon istri yang begitu penyayang kepada calon suami.


Makan disiapkan, minum di tuangkan, belum lagi menjadi teman makan siang yang patuh. Udara bebas seperti sedang Samira nikmati sekarang tanpa adanya Aslan selama nyaris dua jam walau gantinya Robby meminta secangkir kopi buatannya.


Kata Aslan enak, coba aku mau mencicipinya sendiri.


"Pasti soal Aslan sama Ardana?" tanya Robby, menghirup secangkir aroma kopi yang berpendar di depannya.


"Mereka udah lama gak akur, kurang lebih setahun lah sama kakek Ahmad di pisah. Sering gontok-gontokan kayak kemarin kalo ketemu." jelas Robby.


Samira menarik kursi dan mendudukinya. Dia menyesap kopi seraya mengangguk. Baru juga ia akan membuka mulut untuk menanyakan perihal si kembar. Siti masuk ke pantry dengan membawa nampan berisi gelas-gelas kotor. Ia tersenyum kepada dua orang yang menguasai pantry sekarang.


Samira memejamkan mata. "Kalo lagi pengen santai begini, rasanya kenapa bukan Mbak Siti saja yang jadi asisten pribadi pak Aslan. Mbak kan lebih senior." Gadis itu pura-pura terisak-isak seraya menyesap kopinya.


"Gampang, Sam. Aku suruh dia kesini. Kamu pesan aja makan siang di kantin bawah lewat intercom. Empat sekalian, ajak Mbak Siti makan biar enaklah makan sama bos di pantry-nya. Udah lama banget Mbak kerja disini." sahut Robby, jemarinya dengan lincah mengetik huruf-huruf di layar ponselnya.


Hampir bersamaan, sekitar lima belasan menit. Aslan dan dua orang dari kantin bawah masuk ke pantry lantai enam.

__ADS_1


"Ngapain kalian berdua disini?" tanya Aslan dengan nada tak suka. "Aku suruh ke ruang meeting juga buat bahas apa aja yang penting malah ngopi. Sam, satu cangkir buat aku."


Samira mendorong mundur kursi seraya berdiri. Sudah menjadi kebiasaan, sehari Aslan bisa ngopi sampai tiga kali apalagi kalau lembur. Terlebih hari ini, setiap detik baginya terasa menyiksa dan was-was.


"Bapak kenapa senewen terus? Padahal ini masih tanggal muda." seloroh Samira. Ditaruhnya secangkir kopi di meja.


"Masih panas, pak. Jangan buru-buru di minum!" sergah Samira ketika Aslan hendak menyeruput kopinya.


Aslan membuang napas, kondisinya belum aman sampai Samira memberikan apa yang dia minta.


"Pokoknya aku minta secepatnya, Sam. Besok sudah harus kamu bawa ke kantor!"


Aslan mengepalkan tangan dan menggetok meja. Ardana punya siasat dan cerdik, akupun juga harus mengawasi gerak-geriknya


Samira yang harus tetap kelihatan sabar dan baik hati, mengiyakan. Urusan sepele kayak gitu mah, dan untuk penenang hati Aslan yang gundah gulana dan uring-uringan. Ia melepaskan gelang miliknya yang tertutup jas kerjanya.


"Bapak pakai ini dulu, habis itu jangan bikin Mbak Siti pengen kabur dari sini." protesnya, "Tuh lihat, Mbak Siti takut bapak cemberut."


Tanpa pikir panjang Aslan lalu memakainya di tangan kiri. Dilihatnya gelang itu lalu tersenyum.

__ADS_1


"Aku yang beliin, aku juga yang pakai." kata Aslan.


Langsung saja, dua pasang mata langsung melotot. Robby bersedekap sementara Samira menunduk sambil menutupi wajahnya dengan kerudungnya.


__ADS_2