Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Ya Salaam


__ADS_3

Tidak terasa satu Minggu berlalu, ada yang slalu tersenyum dalam setiap tarikan napasnya, ada pula yang merenung tenang di sepertiga malam.


Aslan dan Samira kini berada di jalan masing-masing meski dengan keteguhan hati meski masih menyimpan tanda tanya apakah sudah baik-baik saja?


Benih-benih resah itu terjawab kala pagi yang mendebarkan bagi Samira sebuah mobil yang terbiasa membawanya ke tempat-tempat meeting berkelas memasuki halaman rumahnya di susul mobil lelaki yang menanyakan kesiapannya taaruf bersama.


Samira beristigfar dalam hati, kenapa bisa mereka datang bersamaan. Kenapa pula takdir ini. Kenapa semendebarkan ini. Kenapa lututnya lemas walau bibirnya merekah sempurna.


Samira menyambut mereka di teras rumah, memakai kerudung coklat susu dan gamis dengan warna senada.


Aslan dan Samantha menyapa Harviza sebelum mengeluarkan peliharaan Samira dari mobil. Keduanya menaruhnya kembali pada tempat yang sama seperti terakhir mereka bertemu.


"Salam, terima kasih sudah menjaganya dengan baik pak bos dan kak aspri." Samira mencium pipi kanan dan kiri Samantha yang memeluknya lebih dulu.


"Gimana seru kemarin?" tanya Samantha setelah duduk.


Aslan memperhatikan gelagat Samira yang menatap Harviza yang memanyunkan bibir seraya mengendikkan bahu.


Berantem mereka?


Aslan berjalan ke mobil, membuka pintu penumpang seraya meraih tas belanja yang tertinggal.


"Selamat mantan aspri, ceritain dong gimana perjalanan kalian kemarin di Mekkah?" Aslan mengulurkan hadiah tanda berhasilnya Samira menyelesaikan umrahnya. Hadiah itu dipilih Samantha ketika mereka menyempatkan makan siang di mal.


Samira melongok isinya lalu tersenyum malu. "Hihi, terima kasih. Bapak masih dermawan aja, lagi dong hadiahnya!"


"Sam..." sahut Harviza. "Nggak ada minuman buat tamu gitu? Masa kita di anggurin."


"Kakak bawel." Samira beranjak. "Sebentar ya tamu-tamuku." Ia menajamkan kalimat tamu-tamuku di depan wajah Harviza sambil mendelik.


Samira berbalik, untungnya oleh-oleh untuk Aslan dan Samantha serta Robby masih tersusun rapi di meja kerjanya. Ia hanya perlu menambahkan secangkir kopi dan kue brownies untuk tamu-tamunya.

__ADS_1


Samira menyajikannya dengan lemah gemulai. Tetapi berbeda ketika dia membawa satu persatu kardus sebesar kardus mi instan keluar. "Capek banget hari ini?"


Sejenak Aslan diam berpikir, tapi Samantha tidak. Ucapan Samira seakan menyindir lelaki yang konon katanya hendak berjodoh dengannya. Harviza.


"Nggak ada orang di rumah, Sam?" tanya Samantha.


"Sepi, Abah pergi." Senyumnya mengembang.


"Pantes, cowok-cowok ini nggak ada yang berani masuk buat bantuin kamu." celetuk Samantha. Dia meringis saat Aslan menginjak kakinya.


"Ya Salaam." Samira ikut meringis, "Aku capek bukan karena angkat-angkat ini sendiri Sam, aku tanya sama kalian capek banget hari ini?" akunya dengan lembut.


"Nggak juga, nggak ada capek buat kita yang sedang berusaha. Capek boleh nyerah jangan." jawab Samantha. "Kamu sendiri yang kelihatan capek. Masih jetlag?" selidiknya.


Samira menggeleng, tangannya mempersilahkan mereka untuk mencicipi jamuannya.


"Lagi banyak begadang aku, terus nggak punya kerjaan jadi capek sendiri."


"Geli ente ya... Nggak mungkin pak, aku dalam waktu dekat ini akan menikah sama itu tuh. Teman mainku waktu kecil di pondok."


Harviza terhenyak sekaligus mendadak tenggorokannya seperti terlilit sorban. Dia sulit berkata-kata. Betapa seminggu ini ia sudah di buat penasaran dengan keputusan Samira. Ya, terutama karena gadis itu sulit di tebak. Seminggu ini saja Harviza pantang dan tidak boleh menghubunginya. Hanya sajadah dan tasbih yang menemaninya serta doa yang terus dia panjatkan kepada Allah yang maha membolak-balikkan hati manusia di sepertiga malamnya.


“Akan turun Tuhan kami, Allah SWT atau rahmat-Nya ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Lalu berfirman, ‘Siapakah yang berdoa kepadaku niscaya pasti Aku kabulkan, dan barang siapa yang meminta ampunan maka aku ampuni’.”


Harviza menyentuh dadanya sambil mengemas ucapan Samira dengan lafal Alhamdulillah seraya tersenyum malu.


"Harus bilang sekarang?" tanya Harviza.


Samantha meraih satu persatu kardus oleh-oleh seraya menumpuknya di paha Aslan.


"Cabut kak." Samantha menepuk-nepuk pundak Aslan. "Nggak sehat buat kamu." bisiknya pelan.

__ADS_1


"Ngaco kamu, Sam." sahut Aslan, "Justru aku bangga, Samira berani ngomong di depan kita, di depan calonnya langsung. Pasti taaruf mereka kemarin berhasil. Selamat untuk kalian berdua." Aslan menyunggingkan senyum. "Jangan lupa sebar undangan, aku pasti datang."


Samira mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku itu sebel sebenarnya, pak. Kak Harviza lebih rese daripada kamu."


Mata Aslan mendelik. Dia langsung membayangkan keharmonisan keluarga Samira dan Harviza di dalam rumah yang pantas dihuni bagi bidadari surga yang tak bisa menahan rasa kesalnya jika bersamanya dan tak bisa dia cegah untuk tertawa.


Harviza dia kenali sebagai pria muslim yang mudah bergaul dengan siapa saja dan tidak terlalu menunjukkan dia darimana berasal. Pria itu modern dan terbuka, maka hidup Samira tidak akan terkekang.


"Bagus dong, Sam. Bercanda bikin urat nggak tegang." Aslan menahan senyum, tangan kirinya menepuk pundak Harviza. "Banyak-banyak sabar bro, agak galak nih tapi pinter anaknya."


Harviza mengangguk penuh semangat. Pagi itu, ia merasa pagi yang paling indah selama ia mendatangi rumah Samira.


"Saya sudah terbiasa dengan hal itu, dari kecil makanya sering saya ganggu. Karena seperti ada yang kurang jika ia tidak begitu."


Samira hampir tak percaya mendengar penuturannya seolah dia menegaskan sudah lama mengaguminya. Samira menelan ludah, ia merasa serba di perhatikan gerak-geriknya dan membuatnya gugup. Cara Harviza menatap dan tersenyum, serta cara Aslan menahan senyum membuatnya ingin kabur. Mereka mengganggu konsentrasinya, mengganggu ketenangannya. Samira harus menyudahi pertemuan ini dengan cara mengusirnya sekarang, ia butuh waktu. Setidaknya setelah mengatakan bahwa ia siap dipersunting Harviza dia kesulitan memasang ekspresi terjeleknya. Samira malu bukan main.


Ia bersedekap. "Udah sana pada pulang aja, aku sudah menempati janjiku." ucapnya gugup.


"Cieee, yang mau nikah." Samantha memeluknya. "Bagi-bagi tipsnya dong gimana melewati malam pertamanya nanti!" bisiknya sampai membuat Samira merona.


Aslan yang mengerti situasi sudah di luar batas wajar mengangkat oleh-olehnya. "Cabut, Sam. Calon pengantin ingin diskusi kelompok tuh. Jangan sampai ganggu kita."


Samira mencebikkan bibir. "Bukan kalian aja yang pulang, tapi kak Harviza juga!"


"Belum juga setengah jam. Nasib-nasib." Harviza beranjak, baginya menuruti keinginan Samira sekarang adalah bukti bahwa dia juga cukup patuh dan bisa diajak kerjasama.


Aslan dan Samantha terkekeh. Mereka yakin Samira sengaja mengucapkan hal tadi karena tak sanggup jika berdua saja dengan Harviza wajahnya sudah tak karuan ekspresinya.


"Bye, Sam. Semoga tidurmu nyenyak!" sebut Aslan sebelum berbalik.


Samira mendengus. Tidak akan ada malam yang nyenyak sebelum hari pernikahan dan malam pertama terjadi. Samira merinding.

__ADS_1


......................


__ADS_2