Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Cerah-cerah mendung


__ADS_3

Aslan beranjak, alih-alih membuka kotak kuning pemberian ibunya dia langsung pergi ke kantor setelah mengambil ponselnya kembali dari laci meja kerja Rahardian. Aslan meninggalkan kotak itu di dalam dashboard mobil sambil menghela napas panjang.


"Sorry, mam. Belum saatnya." Aslan mendorong pintu mobil, dia mengelus lengannya dan mulai melangkahkan kakinya lebih jauh ke dalam lobi kantor dengan setengah tenang setengah muram.


"Kenapa, As? Tumben telat, Samira nungguin kamu tuh di atas, bawa tas besar. Kayaknya dia mau resign tuh, berat jadi asisten pribadimu." seru Robby dari kejauhan, namun niat hati ingin menggoda sahabat dan melihat Aslan tergesa-gesa menuju lift untuk menemui Samira, Robby hanya mendapat tatapan datar Aslan yang kini berdiri lima langkah darinya.


"Kumpulan manager dari semua divisi di perusahaan ini." kata Aslan, suara sedatar garis lurus pengurangan dan napasnya semalas kukang di atas pohon.


"Aku akan mengumumkan beberapa poin penting yang sudah aku pikiran kemarin-kemarin." imbuh Aslan serius. Beberapa hari terakhir, di antara memikirkan bagaimana cara terjitu menjadi beda di mata Samira, ada hal lain yang ia pikirkan diam-diam sewaktu menjelang tidur.


Robby malas menerka-nerka kenapa tumben-tumben Alsan yang slalu rajin datang terlebih dahulu ke kantor dan slalu senyum ke segala penjuru itu langsung pergi mendahului Aslan ke ruang kerjanya untuk membuat jadwal dadakan.


"Pak Aslan belum datang juga, pak?" tanya Samira yang mengetahui Robby telah kembali ke kubikelnya.


"Sudah itu di bawah." Robby mengalihkan tatapannya dari layar komputer, "Tapi bener apa yang kamu bilang tadi, Sam. Dia lagi cerah-cerah mendung. Kenapa, kalian berantem?" tanya Robby dengan mata menyipit.


Samira meringis, kata-kata itu masing terngiang-ngiang di kepalanya sampai sekarang meski nyaris dua jam ia juga memikirkan kenapa bisa begitu. Walau Samira sadar kedekatan mereka hanya sebatas rekan kerja yang belum sedekat rekan main, Samira mengira ada sesuatu yang terjadi dengan Aslan.


Apa karena pak Ardana?


Samira mengendikkan bahu. "Mungkin pak Aslan lagi banyak pikiran, pak. Dari kemarin memang lagi gak tenang. Jadi hari ini puncak dari rasa tidak tenangnya itu pasti." pungkasnya realistis.


"Apa ya, kok tumben Aslan gak curhat sama aku. Wah parah dia." Robby bergumam sambil menggenggam tangannya sendiri, "Proyek stabil, saham oke, perusahaan dalam kondisi baik-baik aja meski sedikit inflasi, tapi job lagi meningkatkan dari biasanya. Apa Aslan punya tanggungan lain sekarang? Apa Aslan lagi ikut-ikutan pusing mikirin manajemen, finansial, sama sumber daya manusia dan perlu ada terobosan baru untuk perusahaan?"

__ADS_1


Samira mengernyit. "Berat banget omongan pak Robby."


"Tapi bener lho, Sam. Kemarin aku ikut rapat kerja dengan badan perusahaan milik negara kalo beberapa poin itu adalah poin penting yang perlu di evaluasi untuk mempertahankan perusahaan." jelas Robby.


Samira meringis lebar, dia bisa memahami bagaimana cara mengaji yang baik. Tapi urusan perusahaan? Otaknya masih terlalu rendah untuk memahami lebih jauh persoalan itu.


Samira pamit, dia berbalik dan terkejut, Aslan sudah berdiri di belakangnya dengan jarak dua meter.


"Selamat pagi menjelang siang, pak. Salam." Samira tersenyum dengan canggung.


Gawat, jangan-jangan pak Aslan dengar.


Aslan mengangguk. "Robby ada?"


Samira menyingkir dari pintu masuk, dia menunduk dan mendadak resah. Aslan berubah 180 derajat. Mendung seperti enggan pergi dari wajahnya.


"Bapak sehat?" tanya Samira tanpa bisa ia tahan. Aslan memang menyambutnya dengan hangat, tersenyum seperti biasa, tapi tetap tidak bisa menyingkirkan semua gelisah yang bisa Samira resapi.


Aslan menoleh. "Pergilah ke kantorku, Sam. Tunggu aku di sana."


"Baik, pak!" Samira meninggalkan kedua laki-laki itu dengan enggan dan lambat laun ia memahami reaksi-reaksi normal yang terjadi jika hati sedang patah.


"Pasti pak Aslan butuh waktu, pasti ini."

__ADS_1


Robby bersedekap sambil menatap Aslan lebih baik. Persahabatan mereka yang terjalin begitu lama nampaknya mulai membuat Robby paham, bukan tentang perusahaan. Tapi tentang Samira dan Aslan terlihat dari cara Aslan mengucap nama gadis itu dengan emosional.


"Semua manager sepakat untuk meeting setelah jam makan siang, As. Kamu setuju?"


"Oke, gak masalah." Aslan mengangguk, "Kenapa Samira tadi?"


"Tanya kamu datang belum, terus bahas cerah-cerah mendung. Kenapa kamu? Gak anggap aku lagi tempat curhat?" Robby mencebikkan bibir.


Aslan mengepalkan tangannya di samping tubuh. Selama ini memang cuma Robby yang menjadi tempat curhat, namun apa iya masalah Samira harus ia bicarakan dengan Robby. Dia ngeri jika belum apa-apa sudah bocor ke tangan Samira seperti kasus yang baru saja ia dengar. Cerah-cerah mendung.


"Biasa, aku habis ngumpul sama keluarga di rumah mama. Ketemu Ardana, kena sidang papa, dan aku dan Abang akan pindah pengawasan."


"Yakin?" sahut Robby tak percaya.


"Yakin!" Aslan bohong, dia lebih ingin sekali meluapkan keresahannya daripada mengatakan hal konyol seperti itu. Urusan dengan Ardana dan orang tuanya lebih mudah dari urusan hati yang tertambat pada hati yang terhalang restu illahi.


"Besok ajalah waktu aku bener-bener yakin dengan apa yang aku putuskan." jawab Aslan.


Robby akhirnya cuma bisa mengiyakan sambil tersenyum hangat. Dia berdiri, membuat Aslan mundur. "Datang ke rumah, lebih privasi dan ada istri ku yang menyajikan kopi."


Aslan berbalik dengan sikap tak acuh, "Aku sibuk!"


"Sibuk apaan?" teriak Robby.

__ADS_1


"Sibuk mikirin masa depan." Aslan tersenyum kecut seraya menemui Samira yang telah membawakan jas kerja untuk Aslan.


__ADS_2