
Merasa tidak punya pilihan lain. Hari berikutnya. Samira sudah menjalankan tugasnya sebagai asisten pribadi Aslan.
Ia pun sudah tidak memakai baju kebesaran cleaning servis.
"Kamu sudah mempelajari semua isi map yang aku berikan untukmu, Sam?"
Samira kalang kabut, ia tak berani menatap wajah Aslan karena ia terus mencuri-curi pandang kepadanya.
Samira salah tingkah, sedangkan Aslan sekonyong-konyong memikirkan bagaimana cara mendekati Samira yang ia tahu juga seorang jomblo.
"Gimana, Sam? Udah kamu baca?"
"Sudah, pak." Samira mengangguk.
"Jadi gimana, siap?"
"Siap tidak siap, pak." Samira mengangkat tatapannya. Sorot matanya terlihat ragu, tapi ia tetap menyuarakan keresahan hatinya sejak semalam. "Boleh saya minta tolong kepada bapak?"
Aslan yang sedang membaca beberapa berkas penting perusahaan yang harus ia tanda tangani berdehem.
"Apa? Jangan minta tambah gaji!" selorohnya lalu tersenyum. "Katakan? Aku ingin kamu nyaman denganku."
Eh...
Aslan menaruh pulpennya dan menunggu Samira mengangkat wajahnya.
"Waktu adalah usaha dan uang, Sam. Buruan jawab."
"Jangan ada physical touch di antara kita."
"Sentuhan fisik?" Aslan menyandarkan tubuhnya sambil mengerutkan wajah. "Ada masalah dengan, sorry, pendirian kamu? Atau kerudung kamu?"
"Iya," Samira mengangguk, "selain itu Abah galak."
Aslan tampak terkejut dengan jawaban Samira. Walau sesungguhnya dalam hati ia ingin menanyakan seberapa galak Abah Samira ketimbang ibunya, Aslan memilih tidak bereaksi.
"Aku setuju. Lagian kenapa tidak?" Aslan tertawa geli.
Samira tampak tertegun, ia memandangi kedua mata Aslan lekat lalu dia menunduk.
"Terima kasih, pak." Secara refleks Samira kembali menatap Aslan.
"Sam, nanti jam sepuluh akan ada penempatan batu pertama di mega proyek yang dikerjakan perusahaan kita. Menurutmu apa yang harus aku lakukan saat penempatan batu pertama?" tanya Aslan polos. Entah pura-pura bodoh atau sedang mengerjai Samira. Aslan asyik melihat wajah Samira
Samira membuang napas. Kembali ke mode sebal mengingat dia harus berada di dekat Aslan sepanjang waktu di kantor. Ia pun takut gunjingan semakin merajalela di perusahaan Aslan.
"Sudah berapa lama Bapak menjadi direktur utama? Sudah berapa pula proyek yang bapak kerjakan? Masih bingung?" jawab Samira ketus, ia tidak punya pekerjaan selain hanya duduk dan membalas pertanyaan Aslan dengan pertanyaan. Sungguh ia bosan karena yang ia tahu hanya melayani Aslan dan melayani itu bersifat intens. Samira resah.
"Sudah berkali-kali, tapi baru kali ini yang begitu besar." jawab Aslan.
"Bapak Aslan yang terhormat, lebih baik saya jadi cleaning servis! Saya sudah bosan jadi asisten pribadi bapak."
"Enak saja, baru juga training udah bosan. Kacau kamu, Sam. Gak-gak, gak aku ACC." tolak Aslan.
__ADS_1
Samira mendesah lelah, ia lebih suka bekerja yang menguras tenaga atau perkejaan yang menyita waktunya.
Samira berjalan mendekati jendela, dan pandangannya beralih pada lingkungan sekitarnya.
"Sam, memang ada jarak di antara kita! Tapi biasakan kamu menghormati saya sebagai atasanmu? Tugasmu mudah dan tetap disini, tapi jika kamu bosan boleh menyanyi atau mengerjakan tugas Robby. Mintalah berkas yang bisa kamu kerjakan, kamu bisa menggunakan Microsoft office kan?" tegur Aslan. Jujur, ia tak mau buruannya keluar dari kandangnya secepat itu.
"Bisa, Pak!" jawab Samira.
"Kalau begit keluarlah, ngobrol sama Robby untuk bagi tugas."
Samira benar-benar menemui Robby.
"Maaf pak Robby, pak Aslan menyuruh saya untuk meminta sedikit pekerjaan bapak, apa ada yang bisa saya bantu? Ada ya, pak. Aku bosen diam saja." urai Samira dengan santai, Robby cukup santai untuk sekelas bos besar.
Robby mengangguk setuju. "Ada baiknya memang kamu mengambil sebagian tugasku, Sam! Untuk meringankan beban ku." Robby cengengesan.
"Ini jadwal kerja Aslan selama satu bulan ke depan, salinlah! Dan ingatkan Aslan untuk tidak mangkir dari meeting! Satu lagi, setiap malam Minggu Aslan memiliki jadwal bertemu dengan ibunya sedangkan untuk hari Minggu Aslan memiliki kegiatan dengan ayahnya. Pastikan saja Aslan memiliki waktu luang untuk bertemu orang tuanya!" Robby tersenyum hangat sambil mengulurkan flashdisk baru. Hasil olah kata dengan Aslan semalaman.
"Maaf kedua orang tuanya pak Aslan pisah?" tanya Samira sambil menerima flashdisk-nya.
Robby mengiyakan. "Tapi kamu diam saja, pura-pura gak tau. Dia sensi sama hal itu."
"Iya," Samira mengangguk, kemudian ia menghela napas perlahan.
"Semoga betah, Sam!" Robby tersenyum penuh arti. "Aku bantuin kalo kamu bingung."
"Makasih, pak." Samira mengangguk dan kembali masuk ke ruang kerja Aslan.
***
Sudah seperti membaca buku diary, Samira dengan tekun membacanya seolah tak ada satupun yang ingin ketinggalan dari kegiatan Aslan. Samira juga harus terkoneksi dengan orang-orang penting yang berhubungan dengan Aslan. Termasuk kedua orang tuanya.
Sejenak Samira teringat dengan perkataan Robby tadi.
"Kasian juga pak Aslan." Samira melirik ke arah bosnya yang sedang serius banget.
Setengah jam berlalu dalam hening dan keseriusan.
"Sudah waktunya berangkat ke proyek, Pak!" Samira mengingatkan. Aslan mengangguk, ia menutup laptop dan beranjak. Tapi Aslan haus. Samira menuangkan air putih dari galon yang tersedia di kantor Aslan.
"Silahkan di minum bapak." kata Samira riang.
Aslan meneguk air putihnya dengan tatapan yang tak lepas dari gadis yang memakai gamis kantoran.
"Bawakan berkas-berkas penting di map warna merah, dan panggilkan Robby. Oh ya... carilah seorang pemuka agama untuk mendoakan agar proyek ini berjalan lancar!" pinta Aslan lugas.
"Pemuka agama? Agama apa, pak?" Samira bingung. Baginya setiap agama pasti memiliki seorang yang disebut pemuka agama. Orang yang memiliki banyak ilmu keagamaan dan memahami sampai ke akar-akarnya.
"Terserah kamu! Yang penting orang itu tahu tujuan dari berdoa adalah keselamatan pekerja bangunan dan yang kedua, setahuku semua doa itu baik, kecuali doanya dukun santet!" seloroh Aslan.
Samira tersenyum tipis. "Bagaimana kalau Abah? Abah biasanya mengisi khotbah Jumat di masjid! Kalau hanya doa keselamatan pekerja saya yakin Abah bisa!" jelas Samira, ia mengambil map merah dan memasukan ke dalam tas ranselnya.
Aslan berpikir, memang ada baiknya ia ketemu Abah yang sudah menciptakan anak secantik Samira.
__ADS_1
"Hubungi Abah nanti saat di perjalanan! Kita bergegas sekarang, aku tidak mau terlambat!" cetus Aslan, Samira mengekori Aslan keluar dari ruang kerjanya.
Di lobi perusahaan, Robby sudah siap di dalam mobil.
"Lama banget pada ngapain dulu sih? Pacaran?" guraunya.
"Nyariin elo!" jawab Aslan ketus.
Robby terkekeh, ia menyuruh mereka berdua masuk dan bergegas ke lokasi.
Ketiga orang itu sibuk dengan pekerjaan masing-masing di dalam mobil sementara ada sopir kantor yang mengemudikan mobil jaguar hitam milik Aslan.
Samira berkali-kali menghubungi Abahnya, tapi dering ponselnya tak juga berubah menjadi suara Abah. Lengang sejenak. Aslan menyadari jika Samira tidak berhasil menghubungi Abahnya.
Samira menoleh ke arah Aslan dan mengendikkan bahu.
"Sepertinya Abah sibuk!" jelas Samira ragu.
"Kamu bukannya anak Abah, Sam? Pasti juga bisa doa-doa keselamatan. Kamu saja yang menjadi pemuka agama!" putus Aslan secara sepihak.
Samira merasa tertohok dengan permintaan Aslan. Bukannya Samira tidak bisa doa keselamatan. Ia malu, bukan juga seseorang yang memiliki kepercayaan diri tinggi.
"Kenapa tidak bapak saja? Biasanya pemuka agama itu laki-laki, karena laki-laki akan menjadi seorang pemimpin!" kata Samira. Dan seketika wajah Aslan mendadak pucat.
Robby terkekeh, di baliknya tubuh dan menyadari Aslan tak bisa berkata apa-apa.
"Dia sudah menjadi pemimpin, Sam. Tapi untuk ranah seperti ini, Aslan tidak jago." pungkas Robby.
Aslan kontan mendesah lega dan memperbaiki posisi duduknya.
"Makasih, Robb."
Sesampainya di lokasi proyek. Banyak pekerja bangunan dan mandor yang berkumpul menyambut Aslan.
Namun ia tak menduga, kakek kesayangan Aslan juga berada disana.
Aslan mempercepat langkahnya.
"Kakek!" seru Aslan senang, ia mencium punggung tangan sang kakek sebelum menanyakan kabarnya, begitu juga dengan Robby.
Samira mengamati baik-baik kejadian itu, ia bergeming di belakang Robby dan Aslan.
"Siapa wanita yang ikut dalam mobilmu?" tanya kakek Aslan.
Aslan tersenyum, dengan santai menjawabnya. "Personal Assistant!"
Si kakek tertawa. "Ada kemajuan apa, Robb?"
Robby terkekeh, entah kenapa akhir-akhir ini hobinya hanya terkekeh jika bersangkutan dengan Samira dan Aslan.
"Apa cucu kakek sedang belajar kesungguhan?" tanya kakek Ahmad.
Aslan tak menjawab, ia memilih mengambil helm keselamatan dan mengulurkannya ke Samira.
__ADS_1
"Biar kepalamu aman, Sam. Takutnya nanti Abah marah anaknya main ke proyek tanpa perlindungan." Aslan tersenyum mengejek.
"Ish..., bawa-bawa Abah lagi." Samira mendesis dan ingin sekali menggetok mulut Aslan dengan helm.