Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Mau pingsan rasanya


__ADS_3

Samira dan Aslan berkacak pinggang di dalam mal setelah melakukan perdebatan panjang di dalam mobil.


"Jadi sebenarnya bapak mau apa ke sini?" tanya Samira. Tubuhnya sudah lelah bekerja seharian, tapi dia harus berada di belakang Aslan sampai laki-laki itu benar-benar pulang ke apartemennya.


"Untuk membeli sesuatu yang bisa membedakan mana aku mana Ardana. Paham?" jawab Aslan, dia menggerakkan bibirnya ke kiri dan ke kanan seperti orang gelisah dan banyak pikiran.


"Enaknya beli apa, Sam? Kasih pendapat coba sambil jalan." Aslan mengalungkan tas kerjanya ke leher Samira, "bawain, bahuku capek.


"Lagian kenapa gak di tinggal di mobil, pak?" protes Samira, padahal ia sudah membawa tas kerjanya sendiri. Tambah berat rasanya melangkahkan kaki mengikuti laki-laki itu berkeliling dan masuk ke toko pertama. Toko sepatu.


"Kalau sepatu gimana, Sam? Kamu pilih biar nanti kamu bedain aku sama Ardana gampang!" pinta Aslan, raut mukanya cerah seperti tanpa beban. Sementara seorang gadis yang jilbabnya sudah tidak rapi lagi, terpogoh-pogoh mendatangi kursi dan mendudukinya.


"Samira, kasih jawaban!" desak Aslan.


Tidak langsung menjawab Samira mengambil botol minumannya dan meneguknya.


"Terserah bapak saja orang yang punya ide bapak." jawab Samira lalu merapatkan tas kerja Aslan ke pangkuannya seperti menjaga dirinya sendiri. Bahaya kalau ilang, isinya kerjaan.


Aslan cengar-cengir, tapi sudah kepalang tanggung capek dan dongkolnya karena kedatangan Ardana. Samira wajib kerja keras, orang sudah di beri hadiah juga. Tidak boleh mengeluh.


"Itu artinya kamu yang pilih, Sam. Kamu cari yang cocok buat aku, boleh sepatu kulit, atau kets yang pantas untuk kerja kantoran." urai Aslan sambil meraih tas kerjanya dari pangkuan Samira. Ia meringis geli sebelum duduk dengan jarak cukup aman.


Samira terisak-isak tanpa suara, kakinya capek, nyut-nyutan, punggungnya sudah ingin ia rebahkan di kamar. Tapi dia tetap berdiri, dengan muka malas memilih asal-asalan sepatu yang menurutnya menarik perhatian.


"Berapa ukuran sepatu bapak?" tanya Samira sambil menaruh lima pasang macam jenis sepatu di lantai. "Apa sebagai asisten pribadi aku juga harus melepas sepatu bapak?"


"Tidak perlu." jawab Aslan jujur, tidak ada keberanian atau niat untuk menyuruh Samira melakukan hal rendahan itu. "Berdiri dan pilih mana yang paling cocok dan bisa kamu ingat slalu!"


Samira menghela napas. "Bapak coba dulu satu persatu, nanti baru kelihatan mana yang cocok!" ucapnya sedikit jengkel, "aku capek, pak. Ayo kita percepatan belanjanya. Lagian kenapa bapak khawatir aku gak bisa bedain bapak sama bapak Ardana."


"Dia itu playboy, Sam. Makanya aku minta kamu jangan sampai keliru." sahut Aslan, jengkel lagi rasanya bahas Ardana lagi.


"Tapi berarti bapak juga playboy dong, kalian kan kembar." gerutu Samira. Demi Allah, sebenarnya apa sih yang membuat bosnya itu kalang kabut. Rahasia apa yang disembunyikan Aslan kepadanya. Kenapa juga harus khawatir. Sejak tadi Samira memikirkan hal itu meski hanya sekelebatan datang dan pergi.

__ADS_1


Tak menjawab, Aslan memilih melepas sepatunya, dan meminta ukuran empat puluh dua pada karyawan toko itu.


Seperti pengamat, Samira memastikan betul-betul sepatu mana yang cocok untuk Aslan dengan teliti sebelum ada dua pasang sepatu yang Aslan bawa pulang.


"Mulai besok aku bakal pakai sepatu ini, Sam. Ingat baik-baik!" kata Aslan sambil menunjuk-nunjuk ke bawah. Langsung dipakai sepatu kets-nya.


"Baik pak!" Samira mengangguk lemah. "Sekarang ada yang mau bapak cari lagi?" tanyanya formalitas.


"Kita lihat-lihat sambil jalan!" Aslan meringis senang sementara ada gadis yang mati-matian menarik langkah demi langkahnya mengikuti Aslan yang melihat toko aksesoris wanita dan mengajak Samira pergi ke sana.


"Mau cari apa disini, pak?" tanya Samira heran, ngeri, laki-laki itu langsung dikerubungi mata para wanita yang ada di toko itu.


Ganteng sih bener, cuma ngeselin. Gak tau kan? Jadi jangan pada naksir lah, repot orangnya. Gak betah nanti di tinggal kerja terus, terus dia punya kembaran. Ribet tau mikirin pacar yang mana, saudara yang mana. Jadi gak usah naksir.


"Gelang!" Aslan tersenyum, "Aku pilihin buat kamu."


"Terserah bapak yang penting kita cepat pulang!" sahut Samira.


"Malu. Itu kan aku beli untuk Abah."


"Itu aku beliin itu buat mobilitas kamu!"


Ribut, dua-duanya sama-sama mempunyai gagasan yang berlawan arah lalu diam malu dilihat orang.


"Pokoknya aku sebagai bos kamu menuntut mu membawa motor itu ke kantor!" pungkas Aslan sambil membawa lima gelang yang ia ambil asal-asalan dari etalase toko.


"Mau cari apalagi? Wait!" cegah Aslan sebelum Samira membuka mulut. "Kamu udah punya belum baju keren untuk ketemu mama ku?"


"Emangnya harus keren?" eluh Samira, "Yang penting sopan kan, banyak kalau itu pak."


"Sopan dan keren!"


Alhasil, karena tampang Samira tidak meyakinkan Aslan. Gadis itu ia bawa ke sebuah butik perempuan, ditambah pula dengan dalih untuk menunjang penampilan sebagai asisten pribadinya. Keluar dari butik, bertambah banyak barang bawaan yang Samira dan Aslan bawa.

__ADS_1


"Bapak berlebihan tau gak! Ntar Abah tanya-tanya barang-barang ini darimana. Halal apa enggak, ribet pak."


"Jawab aja dari bos Aslan, udah. Kamu ini bawahan yang harus patuh sama bos. Ayo makan dulu. Aku lapar, Sam."


Lelah sendiri, Samira mengikuti Aslan ke restoran. Makan berdua dengan jarak yang lumayan jauh seperti keduanya sedang marahan. Satu jam kemudian, baru Aslan membawa gadis itu pulang sampai ke depan rumah.


"Aku harus ketemu Abah kamu, Sam." kata Aslan setelah keduanya memastikan tak ada barang Samira yang tertinggal.


"Aku harus minta maaf, anaknya pulang malam-malam." imbuh Aslan.


Tak perlu Samira setujui, Mustofa keluar dari rumah seraya membuka pintu gerbang. Dengan salah tingkah, Aslan tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Mustofa.


"Selamat malam, Abah."


Abah? Samira langsung menunduk, ngapain pak bos ikut-ikutan manggil Abah.


"Waalaikumsalam." Mustofa tersenyum, lalu dengan saksama mendengar alasan Aslan membawa putrinya sampai jam sepuluh malam.


"Kalo begitu anda, bapak Aslan segera pulang saja. Terima kasih anak Abah sudah di beri pekerjaan."


Aslan mengangguk lalu sedikit membungkukkan badannya.


"Saya pamit pulang, Abah, Sam."


Mustofa dan Samira mengangguk. Baru setelah mobil yang dikemudikan Aslan pergi.


Mustofa langsung memberondong pertanyaan kepada putrinya.


"Besok aja jawabnya, Abah. Aku capek banget, mau pingsan rasanya."


"Terus motor itu dari siapa, Sam? Jawab Abah dulu, hayo!" cegah Mustofa sambil membawakan satu barang Samira yang tertinggal di aspal. "Ini apalagi?"


"Besok aja jawabnya, Abah." Dengan langkah gontai Samira ambruk di sofa tanpa mau pergi ke kamar apalagi melepas sepatunya.

__ADS_1


__ADS_2