Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Destiny


__ADS_3

Aslan bergeming di pembatas balkon apartemen malam harinya. Semilir angin membelai wajahnya yang sebentar-sebentar kalut dan tersenyum sendiri mengingat Samira yang terus-terusan menanyakan kebenaran perintah Aslan tersebut.


"Apa keputusan ku terlalu memaksa individu di perusahaan untuk beribadah setiap hari, Rob?" tanyanya setelah berbalik dan ikut mendudukkan diri di kursi stool. Aslan menyesap kopinya lalu termenung.


"Aku gak tau kalo kamu bakal senekat itu bikin keputusan, As!" ucap Robby, di tangannya tergenggam bir yang mereka beli sepulang dari keputusan akhir meeting tadi siang dua jam yang lalu.


"Sebenarnya bagus menurutku, tapi apa iya semua orang harus kita ingatkan untuk beribadah, As? Anak buah kita bukan bocah lagi, malah ada yang lebih sepuh lagi dari kita." Robby menghela napas.


"Terlebih aku sama kamu bukan seseorang yang taat beribadah, malu kali bikin aturan baru tapi petinggi perusahaan sendiri tidak melakukannya dengan baik!" Robby menepuk bahu Aslan, ia tersenyum. Sahabatnya memang sedang tidak kokoh batinnya. Ada gonjang-ganjing di benaknya sekarang.


Hingga sampailah dimana Aslan menoleh kepada Robby seraya mengucapkan.


"Keimanan semestinya tidak hanya berhenti sebatas pengakuan. Keimanan juga perlu dibuktikan, caranya dengan beramal shalih dan beriman." Aslan tersenyum, "Itu Samira yang ngomong, Rbb."


Robby mengerjapkan mata, Samira? Cewek yang kerap kali nunduk dan cengar-cengir sendiri saat kebingungan dengan pekerjaan itu bisa ngomong sefasih itu kepada Aslan.


Wow... Robby bergidik ngeri, diam-diam Samira ternyata lebih dari yang ia perkirakan meski di luar urusan pekerjaan.


"Kamu pasti terinspirasi dari Samira, As?" tukas Robby, tak ada bantahan dari Aslan. Laki-laki berkemeja putih kucel itu mengangguk seraya mendongkakkan kepala.


"Emang aku terinspirasi dari siapa lagi kalo bukan Samira?" tanya Aslan. "Semenjak mama dan papa cerai, persoalan keyakinan jadi permasalahan yang sulit di keluarga ku, Rob. Susah banget rasanya waktu itu."


Aslan mendesah dengan teramat berat lalu mendudukkan kepala. Setelah berpikir cukup lama sehabis ingatan akan peristiwa-peristiwa yang terpatri dalam hatinya lebih dari sepuluh tahun silam, Aslan mengangkat tatapannya. Lalu dengan binar mata yang mulai mengalahkan rembulan yang hampir tertutup kelamnya awan malam. Dia tersenyum.


"Semua doa akan sama tujuannya, hanya itu yang aku percaya sejak dulu." kata Aslan.


Robby jelas-jelas memelihara senyumnya dengan baik. Ia berdehem dengan kuat sambil memandang penuh hangat ke arah Aslan seolah pria itu dapat merasakan pergulatan batin dan pengorbanan Aslan selama ini.


•••


Dua bulan kemudian.

__ADS_1


Tak ada yang lebih menyenangkan bagi Samira selain saat baru saja keluar dari ruang pertemuan setelah mengikuti kajian islami bersama seorang ustadzah tamu yang datang seminggu sekali ke perusahaan. Ia keluar bersama teman-teman ‘baru’ yang dia temukan ketika peraturan baru perusahaan berlangsung.


Rasanya Samira tak percaya di perusahaan ini sekarang dia semakin nyaman bekerja bahkan juga mengerjakan urusan masa depannya yang abadi dengan tenang.


Samira tersenyum sembari melambaikan tangan di depan lift, "Aku ke atas dulu, kak. Udah di tungguin bos besar."


"Bos besar. Uhuk." Perempuan berkerudung cokelat tua itu cekikikan sambil menyenggol lengan perempuan satunya. "Jangan sampai bikin bos besar marah, Sam. Nanti perusahaan jadi neraka lagi, tentunya neraka buatan bos besar. Hihihi." ujarnya setengah meledek.


Sayangnya pintu lift langsung tertutup jadi kedua sahabat dekat Samira, Keira dan Zaskia tidak bisa melihat wajahnya yang mendadak tersipu.


"Udah?" tanya Aslan, ia tersenyum lebar kala Samira menganggukkan kepalanya lalu menunduk.


"Come on, Samira anak Abah Mustofa. Kita udah touring bareng, kerja bareng, nongkrong bareng, bahkan aku juga udah pakai jas kerja Abah kamu. Kurang dekat apa kita? Kenapa masih malu-malu sama aku?" cecar Aslan, ia merasa gemas dengan alasan yang jelas-jelas dia pahami. Dia menyukai Samira, dan ia mau Samira sanggup mengartikan perhatiannya dan apapun yang sudah mereka lewati dua bulan kemarin.


Pagi ini mentari bersinar cerah, namun cerahnya tak secerah senyuman tulus dan penuh keyakinan gadis berkerudung merah muda dengan bunga-bunga kecil berwarna putih itu.


Samira mengangkat tatapannya, "Kerja yuk, pak!" ajaknya untuk mengurangi tatapan takjub Aslan dan pipinya yang sewarna buah persik.


"Kayaknya kamu harus nyiapin jas baru dan celana kerjaku, Sam?" jawabnya disertai cengiran lebar, ia menarik kotak tisu dan membersihkan dagunya dari ceceran air kopi.


Samira ternganga tak percaya. Tetapi ia menuruti Aslan mencari semua yang bos besar itu minta.


"Jangan bercanda lagi bapak Aslan!" cecar Samira sambil memelototinya.


Aslan beranjak, ia melepas jas kerjanya seraya mengulurkannya pada Samira, gadis itu mendengus dan menyingkirkan jas abu-abu Aslan dari kepalanya. Samira menyampirkannya di lengan. Lalu memalingkan wajah ketika Aslan juga berbalik untuk melepas pengait ikat pinggangnya.


"Jangan ngintip, Sam. Jangan ngintip!" ujar Aslan mengingatkan dengan buru-buru.


Kuping Samira mendadak panas, jantungnya berdetak-detak. Mukanya jengkel juga salah tingkah, ia mengatur napasnya yang agak tersengal-sengal.


"Apa susahnya ke kamar mandi pak!" ucapnya galak.

__ADS_1


Hihihi.


Aslan menarik resleting celananya seraya memakai ikat pinggangnya lagi dengan muka cengengesan.


"Kalo ke kamar mandi ribet, harus copot sepatu dan kaos kaki. Aduh malasnya aku Samira. Ini juga udah kelat. Bawa ke laundry, Sam. Sekalian celananya."


Tanpa perlu berbalik badan Samira menerima celana panjang kain Aslan yang hanya terkena air kopi sebesar bola pingpong.


Samira memejamkan matanya, kesal, kesal, tapi Aslan sudah membuat suasana di perusahaan menjadi lebih indah dengan perbedaan yang ada. Termasuk di antara mereka berdua.


"Iya, pak." jawab Samira kemudian dengan terpaksa, dia melipat jas milik Abahnya yang pindah kepemilikan dan celana Aslan di meja kerja seraya membawanya lagi.


Samira menyunggingkan senyum manisnya di depan Aslan yang berkacak pinggang.


"Kenapa?" tanya Aslan curiga.


"Besok saya jadi dapat libur kan?" sahut Samira.


"Libur?" Aslan mencureng, "Kok bisa, kapan aku ACC?"


"Kemarin bapak, waktu aku izin mau outbound sama anak-anak TPA masjid." balas Samira menggebu-gebu.


‘TPA : Tempat pendidikan Al-Qur'an ’


Mulut Aslan membentuk huruf O besar yang dibunyikan dengan teramat lama.


"Oke deh aku ACC." Aslan menyunggingkan senyum lebar saking senangnya melihat Samira menjerit-jerit kecil seperti bocah kegirangan bisa kembali bermain.


"Tapi sekarang lembur, tuh, kerjaan mu numpuk di mejaku." Aslan menunjuk setumpuk dokumen di mejanya.


"Bapak mah gak seru!" keluh Samira, dia mengangkat semuanya lalu cemberut. Gadis itu berjalan menjauhi Aslan lantas duduk di ruang kerjanya tanpa bisa mencegah terjadinya senyum yang entah-entah apa maksudnya.

__ADS_1


__ADS_2