Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Lebih Baik Terdiam


__ADS_3

Langit menghitam, menenggelamkan cahaya-cahaya yang meredup menjadi remang-remang kenangan yang tak terlupakan bagi dua insan yang terpukul tanpa bisa melakukan gerakan-gerakan masif yang kondusif.


Yang ditakutkan benar-benar terjadi, mungkin bagi sebagian orang menjadi penganut cinta dalam diam adalah keputusan yang tepat. Menyembunyikan rasa tanpa perlu mengusik hati yang dituju demi ketentramannya walau hati tak mampu tentram sendiri.


Bagi Samira keputusan itu memang tepat adanya karena semua jauh akan lebih sulit ketika ia harus mengusik Aslan dengan kekagumannya atas hal-hal yang dia sembunyikan dengan rapi di balik topeng anak Abah yang sederhana. Tak mungkin pula bagi ia yang hanya tinggal bersama ayahnya harus tercerai berai karena rasa kagumnya pada bos yang telah memberinya kesempatan melalui banyak sesuatu yang baru yang menyenangkan dan rezeki yang bagus. Rezeki yang bisa membuatnya menyisihkan sedikit demi sedikit uang gajinya untuk memberangkatkan ayahnya naik haji.


Aslan tetaplah yang terkeren baginya, diam-diam memang, karena ia tahu, jikalau ia mengungkapkan dengan gamblang dan bahasa tubuh yang kentara Aslan akan sekuat tenaga mencari jalan keluar termasuk meninggalkan agamanya. Itu tidak mungkin terjadi, Samira tidak akan membiarkannya hanya karena cinta. Cinta yang melemahkan juga menguatkan, juga membuat banyak hal-hal yang waras dan kurang waras terjadi. Dia lebih suka Aslan yang tersenyum sambil menggenggam tangannya ketimbang harus kembali seperti bayi yang baru lahir dan tak ada seorang pun yang bisa memaksanya berpindah ke arahnya kecuali dirinya sendiri. Dengan begitu bukan karena cinta, bukan karena Samira, tapi karena dia dan keyakinan.


Samira mengusap wajahnya, sudah berlinang-linang air matanya. Dia memejamkan karena pada akhirnya hari sudah ia putuskan sendiri tidak membuka hati.


***


Subuh sudah berkumandang. Halaman rumah yang diterangi lampu-lampu dekorasi warna warni perlahan padam. Samira menghela napas seraya menghenyakkan diri di tepi tempat tidur masih menggunakan mukena yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


"Apa iya aku masih pergi ke kantor setelah kemarin semua terbongkar?"


Samira mendesah lelah, tak ada apapun yang dapat ia lakukan untuk membunuh waktu dan mendistraksi pikirannya sekarang. Yang ada hanya Aslan, setumpuk laporan dan pekerjaan yang masih terikat padanya.


"Tapi mau sampai kapan, walaupun tanpa cinta yang tak diungkapkan, perihal tanggung jawab aku juga masih tahu diri. Ya Allah." Ia mengusap wajahnya. "Capek. Aku seperti melempar ikan untuk dimakan, tapi sampai kapanpun tidak bisa dimakan. Perangaiku hanyalah batas. Dan pak Aslan. Ya Allah..."


Samira melepas mukenanya seraya melipat dan menaruhnya di atas nakas setelahnya dia tidak tahu bereaksi seperti apa selain kembali tiduran namun pintu tiba-tiba terbuka.


Di hadapannya, Mustofa


Mustofa yang melihat mata putrinya bengkak dan tak membuat bekal sarapan untuk Aslan mengajaknya bicara.


"Tumben anak Abah sedih? Kenapa?" tanya Mustofa.


"Kalau seumpama Samira punya pacar yang beda agama sama Sam, abah gimana?"

__ADS_1


Mustofa berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan topeng yang sama seperti Samira. Topeng kasih sayang yang tulus dan besar dan polos. Lalu mulai mengajak Samira untuk mengobrol.


"Kiranya apa Samira sudah lupa pesan amak dan Abah?"


Takdir manusia memang tidak bisa diprediksi dan kenyataan tidak selalu indah. Hanya mengingat satu wejangan dari orang tuanya, Samira sudah kalah. Kalah telak dan berakhir sudah. Benar-benar berakhir Samira tidak mungkin lagi memberi tahu Mustofa apa yang dimaksudnya.


"Inget, Abah. Samira cuma ngetes Abah lupa nggak sama aku karena sering aku tinggal kerja." elak Samira.


Mustofa mengerjap pelan kemudian mengusap wajahnya dengan gusar. Sejujurnya dia bertanya-tanya arti kedekatan Samira dan Aslan yang dia ketahui dari kawan-kawannya. Dan hari ini secuil rasa penasarannya terbayarkan.


Mustofa tersenyum maklum. "Hatimu tidak mati, Sam. Kamu dan bosmu punya hidup masing-masing sebelum kalian bertemu! Abah bilang jangan."


Samira mengangguk singkat, dia meringis walau hatinya sedang bermain hujan yang membuatnya dingin.


"Tapi Samira masih bisa tetap kerja kan, Bah?" tanyanya setelah turun dari tempat tidur.


"Setahun masa uji coba, Bah. Kalau Sam betah dan kerjanya bagus bisa lanjut lagi, tapi." Samira mengendikkan bahu sebelum pagi yang sama kelabunya dengan hati Samira. Robby menyerahkan selembar surat untuk Aslan dengan kehati-hatian dua Minggu setelah pertumpahan hati mereka di ruang kerja Aslan.


"Yakin mau pecat Samira, As? Berlebihan banget sih elo." Robby bersedekap, wajahnya terkesan tidak terima. Sikap Aslan seolah tidak menunjukkan profesionalnya sebagai bos yang harusnya sanggup menampik urusan pribadi.


Aslan memandang nama Samira Adna Agustine yang dicetak tebal di kertas yang berisi informasi pemberhentian Samira sebagai asisten pribadinya. Ia tersenyum ceria dan ingatannya kembali pada awal pertemuan yang sederhana dan penuh kejutan.


Aslan mengelus lehernya. "Tali kita sudah terlalu dekat, Rob. Nggak baik buat kita berdua yang nggak mungkin bisa menyatu terus-terusan bareng."


"Anjritt, korban telenovela elo As!" maki Robby lalu terbahak. "Elo nggak coba dulu buat ngatain perasaanmu ke Samira, As?"


"Gak lah, berat." Aslan mengencangkan dasinya.


"Ya Tuhan." sahut Robby sambil menyeringai. "Tapi gue salut, elo sadar diri dan nggak menuruti nafsu elo, As. Samira gue juga percaya, tanpa harus dijelaskan kenapa elo ngasih dia surat pemberhentian kerja. Soalnya, kapan hari itu waktu meeting sama dia, gue bilang elo naksir dia!"

__ADS_1


"Anjrit." Aslan berdiri sambil menggeleng, percuma dia menggerutu, menghadapi Samira yang baru saja keluar dari lift dan berjalan menuju kantornya sudah memberikan efek paling drama di hidupnya. Jantungnya deg-degan parah dan keberadaan Robby cukup membantu.


"Selamat pagi, pak." Samira menyapa setelah mengetuk pintu dan membukanya.


Robby mengamati tatapan Aslan dan Samira seraya mengangkat kedua tangannya.


"Gue ke ruangan gue ya. Banyak kerjaan." akunya, tak sanggup melihat drama di depannya walau itu bagus. Bagus untuk meledek Aslan nanti dan sebelum Aslan sempat menjawab, pintu sudah kembali terbuka dan tertutup.


Aslan menghela napas. "Duduk, Sam."


Samira menatap selembar kertas di meja kerja Aslan seraya mengangguk. Dia menyunggingkan senyum.


"Pak Aslan udah sarapan belum?"


"Udah, Sam. Santai lah, tinggal di rumah papa wajib sarapan sebelum kerja."


"Bagus dong pak, tapi saya bawain bekal makanan untuk terakhir kalinya, saya rasa." Samira mengangsurkan bekal makanannya di samping kertas pemberhentiannya. Dia meliriknya sekilas lalu meraihnya perlahan-lahan sambil menatap Aslan.


"Ada nama saya di sini pak, jadi ini untuk saya kan?"


"Pura-pura polos, pura-pura nggak tau!" sahut Aslan gemas. "Sorry, Sam. Ini keputusan terakhir dan semoga ini yang terbaik. Bagiku, atau bagi kamu sendiri." Aslan tersenyum.


"Tapi yang aku ingat dari kamu, carilah kebahagiaan sejauh mana pun dan kamu tidak akan dilema lagi."


"Terus mana pesangonnya?"


"Ya Tuhan, Sam!"


......................

__ADS_1


__ADS_2