
Samira duduk dengan manis di tepi tempat tidur. Tidak ada indikasi bahwa dia sedang tidak bahagia. Raut wajahnya lega, bahagia. Karena oada dasarnya dia hanya ingin melihat Aslan untuk terakhir kalinya dengan status seorang gadis meski hanya sepuluh menit. Sepuluh menit penuh arti. Ya, meski penyampaiannya terkesan basa-basi dan tak peduli akan perasaan Aslan. Lelaki yang kini sudah duduk di bangku pergola, bersama dua saksi lainnya yang telah mengesahkan Aslan sebagai saksi ketiga dengan alasan yang disampaikan pemilik hajat dengan jujur. Samira yakin, Aslan sanggup mencerna kata-katanya.
Sebuah kata sederhana. Aslan hidup di doa-doanya, bukan di hatinya. Sebab nyaris ia tak pernah meninggalkan nama Aslan dari setiap sujudnya. Sebatas rangkuman doa, bukan paksaan. Memang yang ia sanggupkan hanya itu saja. Doa yang akan melindungi Aslan, menjaganya diam-diam dengan tangan Tuhan.
"Kasian pak Aslan. Tapi lebih kasian kak Harviz, dia pasti cemburu. Idih..." Samira bergidik ngeri, terbayang bagaimana ekspresi wajah Harviza yang telah resmi mempersunting Samira dalam satu tarikan napas panjang. Sadar dia belum menutup pintu karena dia dan Aslan sempat berjumpa lagi di detik terakhir sambil di saksikan Mustofa.
Samira buru-buru menutup dan menguncinya. Jantungnya berdetak kencang, kencang sekali seperti mengayuh sepeda dari atas bukit ke lembah, penuh sensasi yang memancing adrenalin.
Samira yakin, ijab kabul sudah selesai dan Harviza akan mengetuk pintu kamarnya. Menyambutnya dengan halal serta senyum jenakanya yang menyebalkan.
"Ya Allah, nggak siap." Samira menyandarkan diri di daun pintu lalu geleng-geleng kepala. Dilanda gugup, malu yang berakhir pada penjara suci Harviza.
"Nggak-nggak, belum bisa. Aku harus kabur!" Keinginan itu berapi-api di benaknya, sangat membakar nyalinya untuk bisa sembunyi dari Harviza. Sementara saja sampai dia bisa berpikir jernih sudah tiba waktunya untuk berganti status menjadi seorang istri.
Luar biasa pikirnya, bertahun-tahun lamanya dia membayangkan bukan Harviza yang akan menemani tidurnya, mewujudkan mimpinya dan mengasuh anak-anaknya. Bertahun-tahun pula sudah ia bayangkan laki-laki mana yang bisa mencuil tanggung jawab ayahnya dalam menjaganya. Nyatanya, tanpa sepengetahuannya, bertahun-tahun pula yang sia-sia baginya, Harviza yang menanggung beban atas janji yang telah dia sepakati dengan ibunya adalah jawaban.
Samira bergidik ngeri, jika dulu waktu sekolah dasar ia dan Harviza masih bisa main masak-masakan bersama, main lompat tali bergantian, atau menggiring ikan-ikan di kolam menggunakan jaring berdua lalu terpogoh-pogoh ke dapur dan meminta umi Kalsum untuk menggorengnya. Sekarang? Tidur berdua? Terbayang-bayang yang telah lalu. Antara bahagia, malu dan tak berdaya, Samira berkubang dalam situasi lama hingga tak bisa mengelak Harviza sudah melangkahkan kakinya menuju rumah Mustofa.
Ketukan demi ketukan pintu terdengar. Harviza memanggil namanya dengan lembut, bersabar dan tidak menuntut.
"Para tamu undangan ingin bertemu denganmu, Sam. Keluar gih, nggak usah malu." gurau Harviza. Dia tersenyum bahagia. Sama leganya seperti Aslan, tentu saja. Samira sudah menjadi milik seseorang, tidak ada yang bisa dia lakukan lagi selain melanjutkan perjalanan cintanya.
"Samira." panggil Harviza dengan nada seperti mengajak bermain.
Telapak tangan Samira lembap, dingin, dia kesulitan bernapas dengan lancar. Napasnya ngos-ngosan.
__ADS_1
Harviza memanggil namanya lagi tanpa ketukan pintu. Sabar dia menunggu kekasihnya tenang, sebab menikah dengan teman kecil yang sudah tahu bagaimana sifat-sifat aslinya cukup membuatnya paham, Samira gerogi bukan main.
Samira meneguk ludahnya susah payah, dirasa kondisi sudah membaik, menurutnya. Samira memutar kunci kamarnya pelan-pelan. Dengan pelan-pelan pula dia menurunkan gagang pintu sebelum melongok keluar.
Samira memejamkan mata dengan mulut ternganga, Harviza bersandar di dinding sambil menatapnya. Tersenyum.
"Baru bangun?" seloroh Harviza.
"Kakak!" Samira menumpahkan rasa terkejutnya sambil membuang napas. "Kenapa diam aja?"
"Terus aku harus apa?" Harviza bertanya dengan mata yang menyaksikan betapa cemasnya Samira dan cantiknya dia sangat paripurna.
Pengantinku.
"Kita harus ke gedung serbaguna, aku harus menyematkan cincin di jarimu, Samira." jelasnya pelan. "Mau? Atau di sini aja kalau kamu malu."
Samira mendekat dengan hati-hati sampai membuat Harviza menegakkan tubuhnya, waspada.
Samira berusaha tersenyum dengan manis meski malu merayapi sekujur tubuhnya. Tangannya terulur dengan pelan untuk menggapai tangan kanan Harviza.
Dia memperlihatkan kemampuannya sebagai gadis suci yang tak pandai bergaul tapi sering menonton drama Korea. Samira menunduk, mencium punggung tangan Harviza dengan canggung lalu tersentak geli. Pipinya merona, tetapi Harviza adalah suaminya sekarang. Dia harus memujanya, berusaha mencintainya dan menyadari posisi yang telah dijatahkan takdir kepadanya. Harviza suaminya.
Harviza sendiri merasa kagum, juga tak bisa menyembunyikan senyum gelinya. Usaha Samira dalam menjatuhkan diri padanya berhasil membuatnya berani mengelus kerudung yang membingkai wajah istrinya. Juga Mustofa yang menyusul mereka. Dia tersenyum. Awal yang bagus, pikirnya.
Samira mengangkat tatapannya, sekilas dia tersenyum kepada Aslan lalu melengos mendekati ayahnya.
__ADS_1
"Aku malu, Abah!" Samira menyentuh lengan ayahnya, lalu menoleh. Dia memandang Harviza yang tersenyum lebar.
"Harus dibiasakan, pelan-pelan tidak apa-apa." nasihat Mustofa. Dia maklum dengan sikap putrinya yang kikuk dan gerogi.
Samira mengerucutkan bibirnya. Akunya lagi dia tambah malu saat harus berjalan berdampingan menuju gedung serbaguna dan bertemu banyak orang.
Harviza berceletuk dengan jail. "Mau pakai sendal aja atau ku gendong? Kamu mirip siput, Samira. Tamu-tamunya keburu pulang."
"Ya sabar, ini juga lagi di usahakan cepat jalannya." Samira memutar matanya. Selangkah demi selangkah dia melewati jalan beraspal diiringi Harviza yang bersiaga jika Samira kehilangan keseimbangan.
"Aku gendong aja gimana kayak waktu kamu habis kepeleset di depan warung Bu Novi." ucap Harviza.
Samira menoleh, gemas dan kesal ia mencubit lengan Harviza. "Nggak akan."
"Tapi dulu mau."
"Kepepet."
Harviza tersenyum geli. Dia meraih tangan Samira, menggenggamnya sebelum sampai di gedung serbaguna.
Para tamu undangan melihat datangnya kedua mempelai sembari tersenyum.
Di pergola, Aslan yang sudah makan-makan saking laparnya setelah melewati pergolakan batin berdiri, menyambut sang pengantin di samping Samantha sementara sang pemandu acara memberikan isyarat untuk kedua mempelai saling berhadapan, melempar tatapan mesra dan senyum tanda cinta.
Tetapi bagi Samira dan Harviza yang baru saja melakukan perdebatan tentang gendong menggendong sewaktu sekolah dasar membuat keduanya justru tersenyum geli alih-alih memberi kesan mereka telah jatuh cinta kepada para tamu undangan. Meski begitu Samira sangat menghargai Harviza. Dia mengubah pertahanan dirinya yang kaku pertunjukan cinta yang perlahan-lahan menyebar.
__ADS_1
Samira mengulur-ulur jemari tangannya yang lentik. Cincinnya tersemat. Aslan tamat.
......................