
Aslan bergerak sebelum Samira benar-benar sanggup menjawabnya. Dia berjalan menuju tepi air terjun seraya mencelupkan kakinya ke dalam air. Titik-titik air yang diembuskan angin dari jatuhnya air terjun yang berada sepuluh meter didepannya menerpa wajahnya.
"Udah ngerti asisten pribadimu agak-agak, As. Masih tanya begituan. Jelas kagak bakal dijawab bodoh!" rutuk Aslan dalam hati. Kakinya menyentuh bebatuan dan air mulai merembes membasahi celananya.
Samira tercenung, jantungnya yang berdetak kencang perlahan mulai kembali tenang. Dirasakannya kesejukan yang menerpa wajahnya serta bunyi kecipak air yang menyadarkannya dari lamunan. Samira mengerjap. Sejujurnya, ia tahu ke mana arah pembicaraan Aslan dan mungkin ada kaitannya dengan persoalan muramnya tingkah aneh
Aslan menoleh, tangannya mengayuh air lalu mencipratkannya ke arah Samira.
"Nggak usah di jawab Sam, ntar jadi beban malah." hibur Aslan.
Samira menaruh smartphone-nya yang sejak tadi dia perhatikan untuk menunggu sinyal datang dan menghubungi Robby. Dia melepas sepatu dan kaus kakinya sebelum bergabung dengan Aslan.
"Kenapa tiba-tiba mau ke sini, pak?" tanya Samira. Kakinya bergerak di dalam air hingga membuat ikan-ikan kecil yang berenang bergerak cepat menghindar.
"Refreshing... Sekali-kali, lagian aku sudah kaya, kalau kerja terus nanti aku tambah kaya." gurau Aslan dengan sengaja.
"Sombong banget!" Samira mangayuh air lalu tersenyum hangat, pandangannya menuju air terjun lalu ke wajah Aslan. "Bapak lagi patah hati?"
Eh... Oh... Aslan mengulum bibirnya lalu menarik kedua sudut bibirnya. Samira mulai paham dengan situasi hatinya, dan itu menyenangkan untuk membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Bukan patah hati, tapi dilema Sam." kata Aslan lembah.
"Dilema? Oh bapak harus banyak-banyak cari solusi dan masukan dari teman-teman bapak, udah coba?"
"Udah, dan semua membuatku tambah dilema."
"Memang apa sih?"
"Menyukai seseorang yang memiliki keyakinan berbeda." Aslan menghela napas, dia meraih daun yang terombang-ambing di atas air dan menyerahkannya kepada Samira.
"Menurutmu bagaimana?"
"Saya nggak pernah pacaran, pak. Abah larang, terus kalau ada yang dekat-dekat saya Abah suka jadi satpam. Contohnya anak pak lurah, sama kepala desa. Abah larang karena satu desa dan..."
Samira lamat-lamat memperhatikan Aslan yang memperhatikannya dengan baik.
"Abah hanya setuju dengan yang bisa membawa Samira ke surga." Samira tersenyum walau dalam hati ada rasa sakit dan rasa tidak enak ketika raut wajah Aslan kembali keruh.
"Aku pikir itu jawaban yang bagus dari seorang ayah, Sam. Siapa yang tidak ingin ke surga, toh ketika kamu menikah nanti pasanganmu lah yang membawamu ke surga, dengan doa ayah tentunya." Aslan menyunggingkan senyum yang terpaksa dia berikan dengan ceria.
__ADS_1
Lalu riuhnya angin yang berembus kencang, menggugurkan dedaunan yang menimpa tubuh mereka dalam diam dengan pikiran yang berkecamuk.
Aslan menunduk, air semakin membasahi celananya namun tak sebasah hatinya yang sedang dihujani derasnya dilema rasa.
Di dalam usia ini, apa masih ada waktu untuk bermain-main dengan cinta dan mempermainkan apa yang sedang aku dalami untuk masa depan yang mungkin tidak akan dalam genggamanku. Samira sudah memberi jawabannya dan selama nafasnya berhembus dia tidak akan pernah memilih cinta yang salah.
Samira menarik kakinya dari dalam air setelah ia lebih tenang.
"Carilah kebahagiaan bapak sejauh manapun karena takdir tidak akan slalu pasti. Tapi saya yakin bapak tidak akan dilema lagi."
Samira tersenyum, lalu melepas kedua gelang di pergelangan tangannya. Sejenak dia melihatnya, perih menyayat dadanya. Samira melemparnya ke arah grojogan air terjun, gelang itu terombang-ambing mengikuti arus lalu perlahan-lahan tenggelam ke dalam dasar. Berkumpul dengan bebatuan, pasir, dan ikan-ikan air tawar, tenggelam dalam kenangan yang akan abadi di sana.
Samira tersenyum. "Pulang yuk, pak. Tapi lebih dari kurangnya pendapat saya tadi bapak bisa menerimanya karena lawan bapak adalah hati bapak sendiri."
Aslan mengangguk. Dia menatap Samira laku tersenyum.
"Aku terima, Sam."
Keduanya bergerak, menyusuri jalan setapak lagi tanpa mengeluarkan kata meski terengah, meski resah bahkan ketika mobil sudah Aslan kemudikan kembali ke kota dan sampainya Samira ke depan rumah Mustofa. Keduanya masih terdiam seribu bahasa. Keduanya berpisah sebelum Samira menjatuhkan diri di kasur lalu menangis sejadi-jadinya.
__ADS_1
...**********...