
Keesokan harinya, Aslan yang merasa sudah tidak sabar untuk menemui Samira akan melewatkan kesempatan langka sarapan bersama keluarga utuh. Dia mempercepat langkah kakinya untuk keluar rumah meski diiringi suara lengkingan tajam dari ibunya dari arah ruang makan.
"Aslan, come on. Mam tidak akan membuka pintu gerbang jika kamu tidak sarapan dulu bersama kami!" teriak Cornelia dari ambang pintu.
"Mam, come on. Apa susahnya buka pintu gerbang sendiri?" celetuk Aslan, dia muak harus menghadapi Ardana yang pasti akan tetap gembar-gembor membahas Samira. Dia muak harus mendengar bagaimana rasanya menjalani cinta beda agama.
Cornelia merogoh kantong jaketnya, ibu-ibu dengan gaya nyentrik itu dengan rambut yang di warnai itu meraih remote pintu gerbang seraya mengutak-atiknya. Mukanya langsung culas seraya melambaikan tangan ke arah Aslan yang membanting pintu mobil.
"Untuk apa jadi direktur kedua jika tidak punya anak buah yang bisa kamu andalkan, Aslan!" ejek Cornelia ketika Aslan menghampirinya dengan muka cemberut.
Ini bukan soal anak buah, mam. Ini soal Samira. Ah, percuma tapi membicarakan Samira dengan mereka. Aku tidak bisa menyangkal ucapan orang tuaku sendiri yang lebih ahli di bidang ini.
Aslan merangkul Cornelia, "Yuk, sarapan bersama, mam. Kau pasti merindukan kumpul keluarga. Kau pasti akan teringat-ingat bagaimana lima belas tahun kemarin terasa sedang indah-indahnya." kata Aslan dengan pasrah. Sementara tangan kirinya merogoh kantong celana kainnya untuk mengambil ponselnya.
"Aku telepon Samira sebentar, mam. Aku harus mengabarinya kalo aku terlambat ke kantor."
"Aslan, Aslan, harusnya asisten pribadi itu siap sedia sejak kamu bangun tidur. Bukan seperti Samira yang hanya melayani sarapanmu, makan siangmu dan mengerjakan tugasmu. Asisten pribadi tidak seperti itu, perkerjaannya jauh lebih intens dari itu. Paham?" ucap Cornelia sambil merapikan dasi Aslan.
Dimana pikiran positif mama, pikir Aslan sambil menyelipkan ponselnya kembali ke kantong celananya. Dia menatap Cornelia dengan seksama.
"Mama mengawasi ku?" tanyanya dengan nada datar. Raut wajahnya terlihat tak suka sekarang, terlebih usianya yang sudah matang sekali masih harus di jaga dengan diam-diam. Memang aku Abimanyu yang harus diberi satpam sembunyi-sembunyi. Aslan mendengus dalam hati, ia mengepalkan tangan di sisi tubuh.
"Yang harusnya mama jaga itu Ardana, bukan aku. Ardana menyimpan jalangg di apartemennya!" jelas Aslan, nadanya sudah ingin meledak seperti letupan mercon jika Cornelia tidak mengelus pipinya untuk memadankan emosinya.
__ADS_1
"Mama tau, mama urus itu nanti. Pasti, jalangg itu akan pergi dari kehidupan Ardana. Tapi sekarang mama ngurus kamu dulu, Aslan."
"Kenapa, soal Samira?" sahut Aslan jengkel. "Samira dan aku belum jadian, mam. Belum pacaran, kita cuma terikat oleh pekerjaan. Jangan mikir terlalu panjang lah..." bantah Aslan, sambil matanya tak lepas memandangi mata ibunya. Pikirannya melayang pada sosok Samira. Gadis cantik yang memiliki senyuman manis dan penampilan yang bersahaja, tetapi juga galak yang ia sukai diam-diam juga
membuat keimanannya semakin teruji dan keyakinannya semakin besar akan pilihan yang sedang ia pertimbangan. Bohong jika ia tidak memikirkan perbedaan yang amat sangat butuh pemikiran yang matang untuk dimempertimbangkannya bahkan orang tuanya semalam sudah mewanti-wanti agar tidak menyakiti diri sendiri.
Sebab, jatuh cinta tidak pernah salah. Namun harus bisa mengontrolnya kepada siapa cinta kita berlabuh dan di antara pilihan yang terbaik slalu ada berkah atas asa yang di tahan agar tidak menyakiti lebih banyak.
Cornelia menghela napas, tadinya ia ingin berkata agar pecat saja Samira. Tapi paras tampan Aslan yang meredup dan setengah mati menahan diri untuk tidak marah membuatnya urung untuk mengatakan hal itu dan tertolong oleh sapaan Ardana dari arah anak tangga.
"Serius banget, ada apa mam?" Sekilas Ardana mencium puncak kepala ibunya dan menonjol lengan Aslan.
"Ngapain wajahmu mirip pempek basah gitu, As."
Di sana, Rahardian sudah menunggu. Ia sengaja menginap di rumahnya yang kini slalu di klaim menjadi rumah Cornelia.
Aslan tersenyum masam sambil menarik kursi seraya mendudukinya. "Pagi, pa. Berkah Dalem untukmu."
Rahardian sengaja mengacak-acak rambut Aslan yang sudah anaknya tata rapi sungguh-sungguh. Tak hanya seorang anak baginya, Aslan juga merupakan rekan kerja yang seimbang. Rahardian tersenyum ketika raut wajah Aslan semakin keruh. "Berkah untukmu juga, Aslan. Hari yang buruk?"
"Seperti biasa, rumah mama adalah ring tinju!"
Ardana terkekeh, dia merangkul bahu Aslan dari belakang. Meski terkadang jengkel karena Aslan slalu menjadi anak emas. Dia yakin sekarang Aslan sedang tenggelam dalam dilema berkepanjangan.
__ADS_1
"Biasa, pa. Gak terima dia di kasih tau mama kalo Samira beda dengan ia. Tapi Samira sama dengan kita. Jadi gimana kalo kita tukar tempat!"
"Ciuhhhh..." Aslan mengigit lengan Ardana. "Gak akan pernah Samira tertarik sama kamu, dia gadis baik-baik dan kamu brengsek, bang!"
Ardana mengibaskan tangannya, "Dari kecil elo gak berubah ya suka gigit orang! Kasian tuh Samira kalo sampai elo gigit, eh gak mungkin lah. Jalan aja pakai jarak satu meter." ledeknya sambil terkekeh, Ardana menghindar selagi Aslan mengembuskan napas kasar.
"Mam, pa. Bisa gak, gak usah bikin acara yang mempertemukan kita berdua?" kata Aslan, dia sudah benar-benar ingin lenyap dari rumah ibunya.
Cornelia dan Rahardian sepakat menghela napas bersamaan dan membicarakan tentang memisahkan keduanya setelah sarapan.
"Kita bicara setelah sarapan!" Rahardian angkat bicara. "Di ruang kerja papa."
Aslan dan Ardana saling bertatapan. Si kembar itu langsung memiliki frekuensi yang sama atas titah ayahnya. Aslan mengaduk jus jeruk untuk diminumnya sambil melirik orang tuanya yang mulai menyantap sarapan.
Gawat, pasti serius ini kayak yang udah-udah, batin keduanya tidak tenang hingga tak berselera untuk makan.
•••
Dear reader, mohon maaf kalo cerita ini belum bisa update setiap hari. Skavivi masih dalam tahap pemulihan yang berimbas dengan banyaknya jadwal istirahat daripada berkhayal. Terima kasih atas pengertiannya, dan semoga masih senantiasa dengan sabar menanti kisah si kembar dan Samira berlanjut.
Salam sayang
Salam Rahayu,
__ADS_1
Skavivi Selfish. 🙏💕