
Samira menatap gelang yang di kembalikan Aslan di samping komputernya. Bibirnya mengerucut. Kalau di pikir-pikir lagi gelang berwarna coklat muda itu belum lama mereka pakai. Masih bagus karena pasti Aslan amat sangat menjaganya seperti menjaga dokumen penting.
Samira meraihnya lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerja. Wajahnya memikirkan dan terus memikirkan perubahan sikap Aslan yang sedih meski tak setitik pun air mata luruh di wajahnya yang tampan.
"Kenapa pak Aslan aneh ya, padahal cuma aku tinggal sehari. Tapi apa iya sehari kemarin hidup pak Aslan di terjang ombak. Ngeri juga, pantesan sedih. Nanti aku tanya dia kenapa." gumamnya panjang.
"Tapi kalau dia sedih, kenapa harus dikembaliin lagi gelangnya ke aku. Oh apa pak Aslan dimarahi kakeknya pakai barang murahan yang nggak sesuai tema jas kerjanya atau kembarannya sudah nggak ganggu lagi."
Sulit rasanya Samira menyadari bahwa Aslan sedang menaruh hati padanya tapi bukankah perasaan yang tidak pernah diungkapkan barang sedikit saja perhatian yang nyata dan pertunjukan atas sebuah pengakuan rasa tidak akan sampai pada penerimaannya. Aslan mungkin akan menjadi salah satu penganut cinta dalam diam.
Samira menutup mulut seraya menguap. Dalam beberapa menit ia terus memikirkannya, merunut satu persatu tingkah Aslan dari awal kedatangan Ardana dan kebaikan-kebaikannya yang terasa memesona dan jelas saja wanita yang tidak terlalu tertarik untuk menjalin hubungan beda agama itu tidak akan pernah tahu Aslan melakukannya demi mencuri perhatiannya.
Tapi, entah bagaimana, Samira memakai gelang itu di pergelangan tangannya. Menyatukan dengan gelangnya sendiri. Ia tersenyum. Toh sikapnya yang tidak suka membuang sesuatu yang awet dan bagus tidak berpikir jika membuangnya. Sayang sekali bekas bos besar, bila di lelang pun pasti ada yang mau.
Samira kembali memfokuskan diri pada komputernya. Keheningan bertahan selama beberapa menit sampai ia berkata ceria. "Ayo pak."
Samira berdiri sembari membereskan barang-barangnya dengan cepat ke dalam tas kerja.
"Kita mau kemana, pak?" tanya Samira di belakang Aslan.
Aslan melepas kancing jasnya satu persatu lalu melepasnya sambil berjalan. Dia mengulurkan pada Samira.
Aslan melonggarkan dasinya, lalu memencet tombol lift. "Jalan-jalan."
Buru-buru Samira melongokkan tatapannya ke depan wajah Aslan. Terkejut.
"Jalan-jalan? Nggak salah, pak? Kerjaanku banyak lho, terus kenapa tiba-tiba? Dua jam lagi kita meeting ya. Bapak jangan asal-asalan." protes Samira. Wajahnya meletupkan tanda tak setuju. Dan wajah yang terbingkai kerudung cantik berwarna hitam polos itu membuat Aslan menghela napas.
__ADS_1
Cantik, gemas, tangannya sampai gatal ingin menyentuhnya.
Pintu lift terbuka, Aslan melangkah masuk dan tamatlah nasib Samira. Belum juga menemukan jawabannya atas tingkah-tingkah Aslan. Dia sudah harus berada di dalam mobil dengan lelaki dilema. Heran dia. Bahkan sepanjang perjalanan yang entah mau di bawa ke mana dia sekarang oleh Aslan lelaki itu hanya terdiam sambil sesekali melihat yang Samira disibukkan dengan tablet yang dia amati baik-baik.
Kesibukan membawanya pada fokus dan kecemasan akan klien-klien Aslan yang sudah membuat janji dengannya hingga Samira menoleh dengan cepat ketika mobil yang dia tumpangi tak sampai-sampai ke tempat tujuan. Barangkali mal yang di pikirkan z tapi tidak, jauh dari mal, jauh dari keramaian, dan jauh dari keluar dari wilayah perbatasan kota.
"Kita mau ke mana, pak?"
"Udah aku bilang Sam, jalan-jalan!" Aslan tersenyum santai.
"Tapi ke mana?" Samira bicara dengan cepat.
"Ada deh... Nanti juga tau."
"Awas kalo macam-macam!"
"Gak akan!" Aslan menambah kecepatan mobilnya di bawah langit siang yang terang benderang dan berkurangnya jumlah kendaraan.
***
Mobil berhenti setengah jam kemudian di parkiran tempat wisata. Angin berhembus kencang, meruntuhkan dedaunan kering suara burung berkicau menemani Aslan dan Samira yang berpetualang menuju tempat air terjun. Mereka menyusuri jalan setapak.
Aslan menoleh, langkahnya yang penuh semangat menyusuri ilalang meledek Samira yang terengah-engah di belakangnya.
"Anak Abah capek?" ledeknya sembari mengusap keningnya sendiri dengan ujung kemejanya. "Capek, Sam. Kipasi dong."
Mendengar itu, Samira mempercepat langkahnya seraya mencubit lengan Aslan dengan pelan.
__ADS_1
"Sembarangan kalo ngomong!"
Keduanya bertatapan, lebih dari itu suasana yang sepi dan mendukung program pendekatan kembali membuka tingkah aneh Aslan meski ini bukan pertama kalinya mereka pergi berdua.
Aslan menghela napasnya dan mulai melanjutkan langkahnya tanpa mengucapkan sepatah kata. Sementara Samira mengendikkan bahu dan lepas dari semua pikirnya yang bercabang, Samira dengan cepat mengikuti langkah-langkah Aslan.
Tidak lama, di seberang sana, gemericik air yang sedang deras-derasnya membuat Samira dan Aslan mempercepat langkah dengan napas yang terengah-engah meski mata mereka berbinar-binar.
"Oh, bilang doang kalo bapak pengen piknik. Nanti aku buatin jadwal!"
Aslan melepas sepatunya seraya melinting tepian celana panjangnya saat membungkuk.
"Lebih dari itu, Sam." aku Aslan, perawakannya yang tegap dan mukanya yang memang ramah-ramah jutek kini menjulang didepan Samira yang duduk di kursi dari cor-coran semen.
Samira tak ambil pusing ketika Aslan bercakap pinggang sambil menatapnya.
"Kenapa bapak aneh?" tanyanya setelah mengulurkan air minum.
Aslan tergelak dan tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. Ia tak lepas memandangi sosok perempuan itu sampai keberaniannya terkumpulkan.
"Pernah pacaran, Sam?"
"Hah?"
Aslan berdeham pelan sebelum melanjutkan. "Kamu pernah pacaran, Sam?"
Samira mendadak tuli dan memalingkan wajahnya. Jantungnya deg-degan, dan yang lebih parah dari yang dia takutkan. Dia berada jauh dari bala bantuan.
__ADS_1
Gawat, Bah. Pak Aslan udah ngajak ke tempat sepi udah gitu tanya-tanya udah pacaran belum. Abah, ini gimana.
...****************...