
Dua hari kemudian, saat fajar menyingsing. Samira menyeret tubuh serta kopernya keluar dari kamar dengan ekspresi seolah-olah berat meninggalkan tempat persembunyiannya, tetapi ia harus tetap pergi dengan tekad baja.
Dalam benak yang berkecamuk rasa, Samira meringis. Mustofa dengan bangga menyambutnya dan mengantarnya ke depan calon besan terbaiknya. Keluarga Harviza.
Harviza tersenyum geli. Pesona dewasa dari gadis yang ia ganggu sejak kecil nyatanya sanggup menarik perhatiannya untuk kembali berada di dekatnya. Konon katanya, jodoh tak akan ke mana selagi kau berusaha mendekatinya. Dan Harviza si pemilik paket lengkap jodoh idaman bagi Samira dengan mulus berhasil meraih impiannya.
"Assalamualaikum, Samira." sapa Harviza.
Bilamana tidak ada orang tua Harviza, Samira pasti dengan getol mengomelinya panjang lebar lalu melemparinya sekepal salak yang masih tersaji di meja.
Samira menarik napas dalam-dalam dengan bibir yang masih meringis seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Waalaikumsalam." balas Samira lembut meski matanya berapi-api.
Harviza terkekeh-kekeh dalam hati, senang rasanya bisa membuat isi kepala Samira Adna Agustine berisi tentangnya. Walau tidak bagus-bagus amat karakteristiknya, Harviza tak mengapa.
"Kalau begitu kita langsung saja berangkat. Tidak usah ke pondok, kita menginap di dekat bandara saja." ucap ibu Harviza sambil menggandeng tangan Samira, beliau tersenyum hangat dan karena perangainya yang santun membuat Samira bisa meminta perlindungan padanya seperti waktu kecil dulu dari ulah Harviza yang kini menyeret kopernya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Masih ada yang ketinggalan, Sam, Abah?" tanya Harviza.
Samira tidak langsung menyahut. Sebenarnya satu-satunya alasan kakinya masih terpaku di lantai, ia sedang menunggu Samantha yang bersedia mengurusi burung dan hamsternya selama dia tinggal
"Aku lagi nunggu seseorang, boleh bersabar sebentar?" pinta Samira dengan mimik wajah kekanak-kanakkannya.
Semua orang tua mengangguk, kecuali Harviza. Dia menyipitkan mata lalu mendahului Samira ke depan pintu gerbang. Ia melongok ke kanan kiri sebelum mobil Aslan berbelok dari tikungan jalan.
Harviza tersenyum, pribadinya yang supel dan pergaulannya yang luas tidak membuatnya memandang aneh atau curiga persahabatan Samira dan Aslan.
"Salam, selamat pagi." Kedua pemuda berparas tampan itu saling berjabat tangan.
__ADS_1
Aslan tersenyum, walau di dasar hatinya yang terdalam dia bertanya-tanya inikah jodoh Samira? Pilihan yang terbaik dan gentleman, jarang sekali ada laki-laki yang berani menyambut mantan partner kerja dan sahabat dekat dengan senyum rupawan tanpa beban.
Aslan melongok ke dalam gerbang, Samira berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar. Baginya, kehadiran Aslan seperti hadiah yang sangat berarti juga manis sekali hingga niat yang mulia itu melebihi apapun, sampai senyumnya tak berhenti walau Samantha telah berdiri di samping Aslan. Mereka nampak sangat cocok dengan pasangan masing-masing. Wallahualam.
"Aku nganter Samantha buat ngambil peliharaan kamu, Sam." kata Aslan, bahagia, dia melihat Samira berada di tempat yang tepat. Di samping Harviza. Sementara dia dan Samira cuma teman, ooo, ooo, mereka tidak bisa bersama.
"Oh iya?" Samira memutar matanya, "nggak ada jadwal ngambil peliharaan ku di jadwal kerja kamu pak Aslan!" ledeknya lalu menarik mata bagian bawahnya ke bawah.
"Kenapa harus begitu, Sam?" protes Harviza.
"Biarin!" Samira mendelik. "Lagian kenapa kakak di sini, masuk sana. Tamuku ini. Kakak nggak ada kepentingan."
Anti menyentuh, Samira mematahkan dahan kecil pohon jambu air yang menjuntai ke luar pagar rumah. Lalu mendorong bahu Harviza dengan kayu berdaun lima itu.
"Masuk, pak, Sam. Ada keluarga kami di dalam." sebut Samira. Harviza mengangguk cepat. "Keluarga kami, aku mau batuk-batuk boleh Sam?"
Aslan dan Samantha hanya tersenyum sambil mengikuti si empunya rumah. Keduanya berkenalan dengan orang tua Samira dan Harviza yang menyambut baik keduanya meski dengan jelas di leher Samantha tergantung kalung salib rosegold.
"Terima kasih sudah memberi rezeki bagi anak saya, sehingga kita sama-sama bisa saling memberi dukungan walaupun saya nantinya hanya bisa mendoakan nak Aslan dan keluarga slalu di berikan rezeki dan kesehatan yang akan terus mengalir sampai maut menjemput nak Aslan ke surganya Allah."
"Amin." Aslan tersenyum hangat. Doa itu sejuk di dengar dan meski nantinya ia akan melanjutkan hidupnya sendiri, begitu pun Samira. Rasa-rasanya kekeluargaan mereka akan slalu terjalin dengan matang. Walau nantinya senyum Samira dan sifat jahilnya akan slalu terkenang.
"Kalau begitu, karena saya juga masih ada pekerjaan. Saya segera pamit, sekalian kandangnya buruan masukin ke mobil, Sam!"
Samira dan Samantha sontak berdiri berbarengan seakan nada suara Aslan terdengar sama ketika memanggil dua gadis itu.
Aslan meringis tapi dua-duanya tak peduli, mereka langsung saja menurunkan dua sangkar burung yang tergantung di sela-sela kayu penyangga genting.
Samira dan Samantha memasang sarung penutup sangkar agar burung tidak stres selama perjalanan. Aslan mengurut hidungnya, ia yang tidak menyangka dua gadis itu dengan fasih melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Nanti di mandiinnya tiga hari sekali aja, burungnya nggak suka mandi. Sukanya makan, jagung manis atau sawi hijau buat camilan, kalau setiap waktu biji-bijian." urai Samira ketika ia dan Samantha memasukan sangkar burung ke dalam mobil seraya membebatnya dengan seat belt.
"Santai Sam, bokap saya suka burung, ntar biar diurus papa." Samantha menenangkan, "Lagian kenapa harus dua pasang love bird? Mau ternak?" tanya Samantha heran.
Samira tersenyum sambil menunduk.
"Itu..." Samira menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Dia yang tak tahan dengan tatapan menyelidik Samantha berbalik.
"Aku ambil hamsternya dulu." akunya buru-buru.
Samantha tersenyum. Rona wajah Samira sudah cukup baginya. Beberapa kali Samantha mendapat Samira tersenyum bangga membicarakan bagaimana sepak terjang Aslan ketika menjadi atasannya. Walau kini di depan matanya langsung tanpa ada yang ditutupi, sudah sangat jelas jawabannya.
Samira dan seluruh orang yang ada di teras rumahnya berdiri. Berjalan menuju Samantha yang menunggu mereka di tengah-tengah jalan pintu gerbang.
Samantha menerima akuarium tempat lima hamster hidup makmur. Makanan terjamin serta mainan penghibur.
"Titip ya, Sam. Kalau persediaannya habis, minta pak Aslan, dia sangat dermawan." puji Samira ceria.
Aslan memandang Samira heran. Matahari yang sedang cerah-cerahnya sulit membuatnya mengalihkan pandangan dari mata gadis yang menyejukkan. Aslan menghela napas lalu tersenyum, ia mengulurkan tangan, berjabat dengan Mustofa dan ayah Harviza, pun dengan Harviza sendiri sebelum mereka masuk ke mobil.
"Jangan lupa oleh-olehnya dari Mekkah. Aku tunggu di perusahaan!" ucap Aslan sebelum pintu mobil yang dikendarai Harviza tertutup..
"Pasti!" Harviza mengangguk cepat. Dia menoleh ke belakang, tempat Samira duduk terdiam sambil menatap Aslan.
"Semoga kau berjodoh dengan asisten pribadimu yang baru. Aku doakan di sepertiga malam ku!" janji Harviza kepada Aslan.
Samantha yang mendengar lalu memalingkan wajah.
Aslan menyentuh dadanya. "Doakan saja yang terbaik bagi kita semua. Terima kasih." Aslan menyingkir dari dekat mobil yang mulai menderu dan bergerak meninggalkan Aslan yang melambaikan tangan. Mengiringi perjalanan dua keluarga yang akan menyatu dalam waktu proses ta'aruf rasa.
__ADS_1
......................