Pilihan Yang Terbaik

Pilihan Yang Terbaik
Hadiah kejutan


__ADS_3

Samira menceritakan tentang status jomlo Aslan kepada Abah malam harinya. Abah mengerti dan tidak lagi mengusik tentang pekerjaan Samira yang mengharuskannya berada di dekat bos besarnya.


Bagi Mustofa, Samira sudah khatam mendengar ceramahnya mengenai menjaga jarak dengan lawan jenis. Lagipula dengan alasan Samira sudah dewasa, sudah waktunya untuk mencari dan memiliki penjaga hati. Kesimpulannya, Abah mulai berdamai dengan dirinya sendiri.


Semenjak saat itu, Samira sudah tidak keberatan untuk membawakan makan siang untuk Aslan. Ia juga benar-benar belajar menjadi asisten pribadi yang mumpuni.


Lonjakan yang begitu pesat dari kinerja Samira itu disambut baik oleh Aslan dengan menghadiahinya sebuah mobil city car.


"Ini terlalu berlebihan, pak!" tolak Samira lembut ketika keduanya berada di dealer mobil dekat kantor.


Aslan langsung geleng-geleng kepala, sama menolak perkataan Samira.


"Sam motormu sering membuatmu terlambat! Kamu tau aku tidak suka karenanya." Aslan berjeda sambil menunggu cengiran Samira menghilang.


"Pilih saja, buruan, tidak lihat dari tadi banyak orang melihat kita." Aslan menurunkan ucapnya.


"Motor saya memang sering macet, pak, maklum onderdil tua!" aku Samira dengan malu.


Aslan terkekeh-kekeh lalu berkacak pinggang. "Onderdil tua kalau sering di servis pasti jarang macet, Sam."


Karyawan dealer yang masih menjelaskan fitur-fitur di dalam mobil nyengir lebar mendengar perdebatan yang masih berlanjut.


"Pahami saya, pak! Saya baru dua bulan kerja dengan bapak. Saya tidak mau nanti dianggap menggunakan pelet untuk menjerat bapak!" ujar Samira dengan mimik memohon, dia teringat akan ucapan para pembencinya di kantor.


"Pelet?"


Aslan menggendik, tidak mengerti, baginya pelet itu makanan ikan. Bukan pelet dukun seperti yang Samira maksud.


Aslan bersedekap, menunggu Samira untuk menjelaskan sesuatu yang dianggapnya tabu. Akhirnya daripada menolak rezeki anak sholeha dan ogah mubasir ia membuat kesepakatan lain yang sama-sama menguntungkan.


"Mending bapak belikan saya motor baru. Kalau mobil terlalu mahal dan saya tidak bisa mengemudi!" ucap Samira jujur, jangankan mengemudikan mobil. Mengatur ayam Abah untuk masuk ke kandang saja ia kelabakan. Belum lagi kalau ayam betina Abah bertelur dan menetas. Bisa-bisa yang ada, Samira yang masuk ke rumah, sembunyi di kamarnya.


Aslan berpikir sejenak lantas ia mengangguk setuju.


"Baiklah, saya akan memberikan kamu mobil kalau nanti kamu sudah bekerja satu tahun dengan saya. Jadi katakan, motor apa yang kamu inginkan?"


Samira menatap Aslan kikuk. "Tidak apa-apa saya minta motor kepada Bapak?"


"Malah tanya lagi." Aslan mengangguk. Dan, disinilah mereka berada sekarang.


Dealer motor Kawasaki.


Aslan memasang wajah terpana sempat sebelum masuk ke dalam dealer.


"Jadi motor mana yang kamu mau, Sam?"


Samira menunjuk Kawasaki W175 Authentic Retro dengan desain klasik seperti motor jaman dulu.


"Seperti motor jadul abah dulu! Abah menjualnya untuk biaya pengobatan amak waktu sakit." jelas Samira dengan mata menghangat.

__ADS_1


Aslan kembali terpana dengan penuturan Samira. Ternyata keinginannya memilih motor tersebut hanya untuk membangkitkan kenangan indah bersama orang tuanya.


Aslan mengangguk tanpa pikir panjang.


"Bungkus!" ucap Aslan pada karyawan dealer sepeda motor tersebut.


Samira terharu, motor itu akan ia berikan untuk Abah sebagai bentuk keberhasilannya dalam bekerja.


"Terima kasih banyak atas kebaikan bapak! Saya akan terus belajar menjadi asisten pribadi bapak yang lebih baik dan benar!" janjinya sungguh-sungguh.


"Sebagai gantinya, malam Minggu besok temani saja untuk bertemu dengan Mama!" tuntut Aslan.


Samira menggeleng cepat. "Malam Minggu saya ada pengajian di masjid, pak! Menemani Abah."


"Ubah jadwal pertemuanku dengan Mama menjadi hari Minggu, begitu seterusnya!"


Samira mengangguk dengan dahi yang berkerut.


"Bagaimana jika nyonya besar menolaknya, pak?"


"Tidak akan! Weekend adalah waktuku dengan orang tuaku, jadi kamu hanya perlu menghubungi papa dan mama untuk meminta persetujuan pergantian jadwal bertemu." jawab Aslan.


Samira mengangguk lagi, ia menepi untuk menghubungi orang tua Aslan. Tak heran, jika kini Samira memiliki dua ponsel keluaran terbaru. Satu ponsel pribadi, dan satu ponsel untuk urusan pekerjaan.


Gajinya juga tidak sedikit, cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sedikit memberikan santunan untuk anak yatim-piatu yang tinggal di pondok pesantren yang tak jauh dari kediaman Samira.


"Nyonya beaar sudah setuju, pak."


"Kamu pilih helmnya yang mana?" tanya Aslan menunjuk etalase kaca.


"Ini saja, pak!" Samira menunjuk helm full face.


"Pilihan yang tepat!"


***


Aslan dan Samira kembali ke kantor ketika jam istirahat kerja sudah selesai.


Mereka menyapa Robby yang dipusingkan dengan kerjaan yang menumpuk akibat ditinggal oleh direktur utama dan sang asisten pribadinya untuk berkencan.


"Jangan makan gaji buta, Sam!" sindir Robby.


Samira yang duduk tak jauh dari meja Robby tersenyum lebar.


"Pak Robby sudah berapa lama kerja dengan pak Aslan?" tanya Samira.


"Memangnya kenapa?" tanya Robby sambil memberinya lembar pekerjaan yang harus di kerjakan.


"Jawab saja, pak! Kan, tidak susah."

__ADS_1


"Memang tidak susah, yang susah itu arah pembicaraanmu, Sam!" sungut Robby.


Samira cekikikan, ia membuka laptopnya dan mulai mengetik pekerjaannya dengan teliti.


"Dua jam keluar kantor, kamu darimana saja dengan Aslan?" tanya Robby penasaran.


"Sam tidak mau jawab kalau Bapak juga tidak jawab pertanyaanku tadi!" jawab Samira sengaja.


Robby langsung menggeram kesal. Untung gebetan Aslan, kalo bukan udah gue pecat.


Robby duduk di tepi meja sambil membetulkan dasi kupu-kupunya.


"Ribet buanget kamu, Sam. Aku dan Aslan sudah lama temenan, sejak SMA. Jadi kami kerjasama setelah lulus kuliah!"


"Wihh.... sahabat sejati!" puji Samira sambil tepuk tangan.


"Giliranmu jawab pertanyaanku!" tuntut Robby.


"Beli motor, kata pak Aslan untuk hadiah karena saya rajin bekerja!" ucap Samira dengan riang gembira.


Robby yang mendengarnya kontan muram durja, ia langsung mendorong pintu dan masuk ke dalam ruang kerja Aslan. Di depan Aslan yang sedang senyum-senyum sendiri, ia berkacak pinggang.


"Kamu gak adil, bro!" katanya menggebu-gebu karena Samira yang baru kerja satu bulan sudah di beri hadiah. Sementara ia sedih, bertahun-tahun ia bertahan di samping Aslan dan jatuh bangun bersama dalam suka duka. Baru sekali Aslan memberinya rumah sebagai hadiah pernikahannya.


Aslan mengusap bahu Robby, menenangkannya hingga hampir tergelak karena Robby benar-benar iri seperti bocah.


"Kalau kamu mau jadi salah satu wanita yang aku dekati ganti dulu bajumu dengan blouse dan rok span, Rob. Ganti dasi kupu-kupu mu ini dengan scraft." cibir Aslan lalu mendengus. "Gitu saja iri!"


Robby langsung melengos pergi dengan gaya kenes dan menyandarkan tubuhnya di sofa ruang tamu dengan kesal.


"Motor apa yang kamu belikan?" tanya Robby penasaran.


Aslan terbahak-bahak. "Besok kamu bakal tahu, dan dia akan menjadi pusat perhatian karyawan lainnya!" Aslan kembali duduk memandangi layar laptopnya.


Robby membuang napas kasar. Kesal sekali rasanya tidak diberi hadiah, ditambah harus dibuat penasaran.


"Lama-lama ngeselin banget kamu, Bro. Ketularan Samira!"


Aslan terkekeh saat Robby akhirnya memilih keluar sambil membanting pintu dengan keras.


"Pak Robbyyyy!" bentak Samira, "Jantung saya hampir copot tau ngaget-ngagetin." omelnya sebal.


Robby berkacak pinggang sambil berjalan ke ruangannya.


"Emang enak, rasain deh elo kaget. Emang cuma gue aja."


Samira mendesis dengan kening berkerut.


"Kenapa pak Robby tiba-tiba sewot gitu. Kerasukan apa dia?" Samira mengendikkan bahu, "paling-paling kerjaan numpuk, jadi sensi banget. Ih sama kalo gitu, pak. Mana masih berat di saya, ngurus orang dewasa. Huh."

__ADS_1


__ADS_2