
"Kamu yakin memberiku ini, Sam?" Aslan menjereng jas kerja Mustofa dari sebuah tas kertas warna-warni bekas tempat pembelian kerudung dan pakaian kerja Samira, Aslan ingat itu karena dia yang menerimanya lebih dahulu ketimbang Samira.
Aslan mengernyit, serat-serat kain jas itu terlihat belum luntur namun bahannya sedikit tidak necis dipakainya.
"Kamu ngeloak dimana, Sam? Lima ratus ribu kemarin kamu habisin untuk ini?" Aslan menatap tak percaya.
Samira yang wajib menghabiskan makan siangnya di depan Aslan menggeleng dengan ke dua pipi yang mengembung penuh dengan nasi Padang.
Gara-gara pak Aslan aku harus makan dua porsi nasi Padang! Mana muat lambungku yang imut-imut ini bapak. Lagipula kenapa siyyy, sok-sokan bad mood juga, jadi malas meeting, malas kerja, dan semua skedul harus di ubah. Tega sekali orang ini, kumat lagi kayaknya jadi pemeras tenaga kerja.
"Itu jas kerja Abah, pak. Uangnya masih utuh, itu di tasku. Mau bapak ambil lagi?" tanya Samira.
Aslan kembali menjereng bisa itu lebih tinggi. "Punya Abah Mustofa?"
"He'eh, jadi kan aku gak susah bedain bapak dan bapak Ardana."
"Ah, percuma, Sam! Abang bakal pergi ke Lombok, ngurus kerjaan di sana sama mama." Aslan mendesah, kejujuran itu awalnya ingin dia sembunyikan untuk membuat Samira tetap bersikap dialah yang wajib ia kenali dan ingat-ingat. Namun setelah pertemuan paling tidak dia sukai namun dia rindukan, Aslan lebih suy mengutarakann
"Jadi jas itu gak akan bapak pakai?" tanya Samira.
"Enggaklah, Sam!" sahut Aslan, tapi dia tersenyum dalam hati sambil memasukkan kembali jas coklat tua itu ke dalam tas kertas. "Tapi aku bakal membawanya pulang."
"Untuk apa?" Samira menyuapkan nasi terakhir ke mulutnya.
Aslan mengulurkan selembar tisu sambil geleng-geleng kepala. "Kamu itu cocoknya masih jadi anak SMA, Sam. Makan masih belepotan udah berani-beraninya jadi asisten pribadi. Makan tuh yang bener." candanya dengan kikuk.
Samira meraih tisunya dan terbersit sedikit rasa lega saat Aslan sudah tersenyum seperti biasanya.
"Itu kan karena bapak yang maksa, aku kemarin cuma berminat jadi tukang bersih-bersih." balas Samira tergesa-gesa seakan ingin menyanggah pendapat Aslan.
"Tapi kamu terlalu cantik untuk jadi cleaning servis, Sam!" sergah Aslan.
__ADS_1
Samira mengerjapkan mata.
Itu pujian atau apa?
Samira menundukkan kepalanya kemudian setelah Aslan berdehem-dehem, membuyarkan imaji yang terbentuk dengan cepat dan hilang juga sama cepatnya.
Samira membereskan makan siangnya, lalu seperti sedang di tatap pemangsa gadis belia dengan mata genit, kepalanya enggan mendongkak. Dia menganggukkan kepala sambil mengangkat nampan.
"Saya permisi sebentar, pak."
Aslan melayangkan tatapan geli ke arah gadis yang berbalik dan mempercepat langkahnya untuk hilang dari ruangan kerjanya.
"Lagipula, cantik kok gak sadar, Sam... Jadi perlu aku jelaskan. Mana ngasih jas bekas lagi, ampun Samira, Mama pasti ngomel-ngomel terus ini!" Aslan memasang wajah bete dan menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangannya.
Di koridor kantor yang sepi, Samira sesekali menoleh ke belakang dengan raut wajah was-was.
"Abah, pak Aslan mulai bilang aku cantik, hiyyy, Abah kalo tau pasti ketar-ketir sekarang. Gak mungkin enggak."
"Pak Aslan gak mendung lagi, cuma aku sekarang yang gantian mendung." gerutu Samira, dia berbelok ke dalam pantry. Namun di samping itu semua, Samira benar-benar lega. Aslan sudah bisa tersenyum dan perlu ia garis bawahi, menyebalkan lagi.
•••
Robby menarik gagang pintu lebih kuat ketika direktur utama kedua pt cemerlang abadi TBK itu melangkahkan kakinya dengan ekspresi sekaku paku beton dan parasnya sepadat cor-coran semen di amabng pintu ruang pertemuan.
Di belakang, seorang gadis yang memakai blazer tunik dan dipadupadankan dengan rok A line mengikutinya dengan langkah lebar-lebar dan ekspresi mengemaskan. Samara ikut memasang wajah serius, hanya saja dia masih bisa tersenyum manis ketika menyapa Robby di ambang pintu.
Robby memutar bola matanya akan tingkah kedua orang itu seraya menutup pintu. Rapat di mulai, seperti yang sudah-sudah, Samira mendapat tempat di samping Aslan, gadis berkerudung hitam yang kini sudah memasang telinga baik-baik dan pulpen ditangannya siap untuk mencatat poin penting yang Aslan bicarakan.
"Selamat siang, salam sejahtera bagi perusahaan yang kita kembangkan bersama-sama." Aslan menyapa kepala manager dari semua divisi yang telah menunggunya lebih dari setengah jam sambil berdiri, ia menatap satu beri wajah-wajah tegang sekaligus ya udahlah ya, meeting adalah makanan keseharian kita.
Aslan mendudukkan tubuhnya, dalam ketenangan yang menegangkan. Dia melirik gadis yang khidmat menundukkan kepala. Seulas senyum hangat langsung terlihat di sudut bibirnya terang-terangan seakan memperdalam gosip yang sudah beredar di perusahaan tentang kedekatannya dengan Samira yang kini tak ada yang berani mengganggunya.
__ADS_1
"Nah, nah, nah. Mau apa Aslan!" batin Robby. Dia gelisah di tempat duduknya seperti sedang terkena ambien. "Apa jangan-jangan dia mau ngasih pengumuman kalo dia jadian sama Samira? Wah."
Mata Robby langsung melebar sekali sambil geleng-geleng kepala dari kursi paling ujung untuk merespon pengakuan Aslan. Tangannya bahkan dadahhh-dadahhh.
"Ada apa bapak Robby?" tanya Aslan.
Robby menyunggingkan senyum kikuk ketika semua orang menatapnya lekat-lekat. Dia beranjak seraya berbisik di telinga Aslan.
Aslan mengusap telinganya, sumpah, punya sahabat yang sudah tahu baik dan buruknya kualitas diri memang tidak perlu ada jarak lagi.
"Elo mau apa, As?" tanya Robby.
"Meeting, Rob. Apalagi?" kening Aslan berkerut, "Sebaiknya kamu kembali ke kursimu."
"Tentang apa dulu?" bisik Robby.
"Makanya dengar, jangan malah dadahhh-dadahhh!" sahut Aslan sambil menginjak sepatu Robby tanpa kentara.
Robby mendelikkan mata yang terlihat seperti hendak marah-marah tapi dia tahan. Dia kembali duduk, tangan kirinya terulur ke bawah meja untuk mengusap sepatunya yang penyok.
"Aku bakal minta ganti rugi!" batin Robby.
Aslan yang melihat muka sahabatnya seperti rasa buah kedondong menyunggingkan senyum.
"Meeting hari ini bukan soal pekerjaan bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, melainkan saya ingin mengumumkan bahwa mulai besok jam istirahat akan di tambah setengah jam untuk melakukan ketertiban rutin beribadah. Umumkan hasil meeting hari ini untuk anak buah kalian setuju ataupun tidak."
Manager dari bagian pemasaran mengangkat tangannya. "Maaf intrupsi pak Aslan, bisa di jelaskan lebih spesifik."
Aslan mengangguk, dia menjelaskan dari detail prosedur operasional perusahaan untuk suatu ketentuan baru dan alasan di balik ia memutuskan hal itu.
Tangan Samira bergetar dan ia tak kuasa menahan diri untuk tidak menatap Aslan dengan perasaan terkesima.
__ADS_1